Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan buka suara mengenai wacana pemakzulan Gibran.

Syahganda menyatakan setiap pihak memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi.

Namun, ia mengingatkan bahwa Gibran masih menjabat sebagai wakil presiden selama proses tersebut berlangsung.

"Sebagai eksekutif, kita menghormati yudikatif. Untuk kekuasaan yudikatif sudah jelas bahwa tidak bisa meng-impeach pasangan Bapak Presiden maupun Bapak Wakil Presiden," kata Syahganda, Sabtu (10/10/2026).

Sementara itu, mengenai penanganan karhutla dan kabut asap, Syahganda mengatakan Presiden Prabowo Subianto serius menghadapi berbagai bencana yang terjadi di Indonesia.

"Kita sedih dengan kasus ini karena saya sendiri melihat di Pontianak, kemudian di beberapa daerah lain, masyarakat mulai sesak napas, asma, dan lain-lain. Kita mendoakan agar segera turun hujan," kata Syahganda.

Ia berharap hujan segera turun sehingga kondisi udara kembali membaik dan aktivitas masyarakat dapat berlangsung normal.

Syahganda juga menyinggung komunikasi Indonesia dengan Malaysia terkait kabut asap lintas batas.

"Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengirim Menteri Luar Negerinya untuk bersama Menteri Luar Negeri kita membahas secara terperinci agar bisa bersama-sama mengatasi keadaan ini," ujarnya.

Syahganda juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya berpotensi memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Video Editor: Aqshal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/695284/full-kepala-bakom-buka-suara-soal-polemik-ijazah-gibran-hingga-masalah-karhutla
Transkrip
00:03Ya, pertama yang kita jelaskan bahwa dalam rangka dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran,
00:15kita ingin memastikan bahwa semua pikiran-pikiran Bapak Presiden dan program-programnya
00:23itu bisa dijelaskan kepada teman-teman dari Kadin.
00:30Alhamdulillah, pada hari ini saya dan beliau dari Ketua Umum Kadin, Pak Nindia,
00:37berusaha untuk mendengar keluhan-keluhan apa yang terjadi dalam dunia usaha,
00:44kepastian ekonomi ke depan karena ada bencana, kebakaran hutan, dan lain-lain itu muncul dalam satu diskusi tadi.
00:51Dan saya sebagai Kepala Bakom berusaha mendengar untuk menyampaikan kepada seluruh stakeholder di pemerintahan,
00:57KL-KL dan lain-lain, dan saya senang sekali karena Kadin adalah kelompok-kelompok terdepan,
01:04pengusaha-pengusaha sampai ke daerah-daerah yang bisa menjadi kekuatan pemerintah menyampaikan yang benar.
01:11Yang seperti tadi, tolong dicatat oleh media, beliau sendiri, Ketua Kadin sebagai pelaku usaha menyatakan bahwa
01:19MBG itu yang disebut selama ini buruk, ternyata menurut beliau dari pengalamannya sangat baik sekali dampaknya kepada kesejahteraan masyarakat.
01:28Itu mungkin yang penting dari saya.
01:30Kalau tadi Pak pengusaha menyampaikan, masih Pak kan ada kakitlah, apakah pengusaha juga mengalami kesulitan dengan keadaan bencana-bencana itu?
01:39Ya kan tadi sudah dijelaskan bahwa Pak Presiden itu sungguh-sungguh ingin menghadapi bencana, apapun bencana termasuk karutlah.
01:47Nah kemudian tadi kan kita melihat bahwa sama seperti Pak Anin tadi mengatakan ini memang kita, negara kita adalah negara
01:58ring of fire.
01:59Ini negara penuh bencana.
02:01Tapi kita harus yakin bahwa dengan ini kita akan menjadi lebih kuat, resilensi terhadap semua kemungkinan-kemungkinan.
02:10Dan kita alhamdulillah kita melihat bahwa dari segi growth, pertumbuhan ekonomi, ekonomi pemerhatan dan lain-lain tidak ada berhenti gitu.
02:18Nah memang kita sedih dengan kasus karutlah karena saya sendiri lihat di Pontianak ya, kemudian di beberapa daerah lain, di
02:25Riau,
02:25rakyat kita lagi sesak nafas, asma dan lain-lain.
02:29Kita mendoakan agar ini bisa segera turun hujan ya.
02:32Kita harus sebagai masyarakat beragama kan penting ya untuk mendoakan ya.
02:36Kalau turun hujan itu datang, benar-benar sebentar lagi ya itu akan kembali normal udaranya.
02:43Termasuk terakhir kan kesupatan ada Malaysia dan Singapura juga melayarkan proses darah-darah akan bimbas karutlah itu sampai ke mereka.
02:50Kami juga dapat info, PM Anwar dan lain-lain juga sudah berkomunikasi telpon kepada Pak Prabowo juga untuk menanggarkan karutlah
02:57ini.
02:58Sejauh mana konsennya itu bisa mengurangi kadar tanggungan biar tidak ada proses lagi dari negara-negara?
03:01Kan kita hubungan dengan Malaysia itu kan cukup baik ya.
03:05Yang kita ini kan juga berusaha menjelaskan kepada mereka.
03:10Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya nggak ada, kita mengirim oksigen.
03:17Ya kan oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita.
03:21Jadi kita juga minta kepada semua tetangga kita untuk mengerti ini adalah di luar beyond human, beyond our human error.
03:32Ini betul-betul alam.
03:34Kemudian Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Anwar Ibrahim mengirim Menteri Luar Negerinya
03:42untuk dengan Menteri Luar Negerinya kita mendetailkan pembicaraan agar bisa bersama-sama mengatasi karutlah tersebut.
03:50Nah ini kan baru kemarin ya, satu hari, dua hari lalu. Nanti saya lihat ya, saya masih akan cari.
03:55Pak, tadi kan Bapak juga sempat diambil dalam arahannya yang menjelang dua tahun ini.
03:59Kalau Bapak sendiri kan ini baru ya Pak, Bapak sendiri melihatnya gimana sih pemerintahan Presiden Prabowo dan Pak Prabowo selama
04:07dua tahun ini secara keseluruhan?
04:08Kalau saya ini kan semua teman-teman tahu, saya ini kan aktivis ya.
04:12Dari saya mimpin pergerakan mahasiswa ITB tahun 80-an sampai sekarang.
04:16Dan saya nggak mau di pemerintahan.
04:20Jadi yang bisa saya mau itu yang saya yakin benar gitu loh.
04:23Dan saya yakin Pak Prabowo benar gitu loh.
04:25Jadi Pak Prabowo ini udah benar semua, makanya saya mau bergabung gitu loh.
04:29Terima kasih dua program Pak yang selalu menjadi sorotan MBG dan KDNV.
04:34Bapak sendiri melihatnya setiap apa-apa kan memang sudah sesuai jauh dan sekarang ada dengan pemimpin baru di MBG?
04:41Ini konsepnya ini ada ininya.
04:44Konsep ini ada filosofisnya yang banyak orang tidak tahu.
04:48Selain soal data praktisnya, misalkan data praktis apa?
04:52Asian Development Bank mencatat 2018 itu 20 juta orang stunting.
04:57Ya kan, itu kan fakta dari sebuah lembaga yang kredibel, EDB.
05:00Ya kan, nah tapi Presiden juga punya konsep yang namanya bagaimana memperbesar welfare.
05:08Jadi dalam teori-teori welfare, welfare teori itu extended daripada welfare seperti MBG ini memang diharuskan untuk seperti bangsa Indonesia.
05:20Nah yang kedua, KDMP.
05:22KDMP ini memang yang tadi belum terceritakan di Kadin, jadi kan ada ketimpangan antara swasta yang menguasai 90% perekonomian
05:32Indonesia,
05:34BUMN yang menguasai 1.001 triliun dolar mungkin sekarang setelah di restruktur di antara,
05:40dan kooperasi yang merupakan sokoguru kita yang didatakan di dalam pasal 33.
05:45Asetnya cuma 300 triliun.
05:49Jadi wajar dong Bapak Presiden kemudian melakukan pemihakan,
05:52memperkuat kooperasi itu sebagai agen-agen konstitusi.
05:58Jadi itu memang luar biasa Presiden, kita lihat aja dalam berapa tahun ke depan,
06:03apakah kooperasi bisa menjadi pelaku usaha yang saiznya lebih besar.
06:07Jadi sampai 2 tahun ini progres untuk program MBG dan KDMP,
06:12kalau Bapak sendiri melihatnya apakah sudah sesuai dengan progres atau dengan target yang ingin dicapai ke depannya?
06:17Ya Pak Presiden sudah bagus dia, ketika targetnya itu 300 triliun untuk MBG,
06:25kemudian ada kegoncangan dalam tata kelola, kemudian refleksi,
06:28kan semua organisasi kan begitu kan, organisasi teorinya gitu, ada refleksinya,
06:32refleksi beliau dia turunin sekarang jadi 200-an.
06:35Ya kan? Begitu juga KDMP yang tadinya mau dipaksakan 81 ribu kooperasi,
06:42tapi kemudian dikoreksi sekarang 26.600 ya Pak Deputi ya.
06:4526.600. Jadi saya pikir dari teori organisasi Presiden sangat benar,
06:51jadi dia akan mengejas kembali gitu.
06:53Kalau untuk pemijakan politik luar negeri sendiri, gimana melihatnya asal lama 2 tahun?
06:57Ya saya pikir Bapak Presiden bagus dalam konteks mengarung di 2 karang,
07:03antara Amerika yang tetap ingin menghegemoni dengan kekuatan selatan-selatan yang tadi beliau sampaikan,
07:10itu yang sekarang dikenal dengan teman-teman BRICS itu,
07:13ini kan makin seimbang ke depan.
07:15Ada harapan buat Indonesia menjadi negara-negara yang berpendapatan keluar dari middle income trap,
07:24dan kemudian bisa juga kita itu menjadi pemilik power middle up.
07:32Memang tidak nomor satu ya.
07:34Presiden berharap kita udah keluar dari tengah aja tapi ke atas, tengah middle up.
07:39Pak Genda, soalnya Mbak Genda ini, soalnya Mbak Genda ini, soalnya Mbak Genda ini, masalah putusan MK kemarin.
07:45Oke, Mbak-Mbak Genda ini kepada saya menyampaikan bahwa menghormati putusan itu dan masih akan mempelajari.
07:49Cuman sudah ada yang melakukan aksi tumpukan foto wang kerja.
07:53Ini dilakukan waktu kedua DPRP, Kota Sukabumi, Raja Asyari waktu itu,
07:58dengan alasannya bertujung pada putusan MK itu tadi.
08:01Sejauh mana pemerintah melihat sikap itu dan membaca putusan MK kemarin?
08:04Ya, yang paling penting kan kita menghormati, sebagai eksekutif menghormati yudikatif ya.
08:09Dan itu kekuasaan yudikatif sudah jelas bahwa tidak bisa di-impeach, ya kan, dari pasangan Bapak Presiden maupun Bapak Wakil
08:21Presiden.
08:22Nah, terkait tadi kemana alurnya, ini kan kita masih melihat kan, itu alurnya kan bisa ke politik, bisa kemudian ke
08:29hukum lainnya dan lain-lain.
08:30Yang kita memang melihat ini, kalau memang ada instabilitas yang diciptakan oleh ketidakkuasaan,
08:36ya itu jangan di luar jalur-jalur hukum.
08:39Seperti tadi misalkan penurunan foto, ya itu kan kurang baik lah ya,
08:44karena kan beliau bagaimanapun masih tetap sebagai Wakil Presiden gitu.
08:49Karena dia kan, kalau yang nurin foto misalkan tukang beca di pinggir jalan sih gak ada masalah ya kan.
08:54Tapi kalau anggota DPRD kan dia kan makan dari gaji negara, itu aja.
08:58Ya, mungkin kita berharap rakyat harus bersabar karena ini masih berproses gitu.
09:02Ada yang mencoba untuk melakukan impeachment juga dari Bini Indrena yang mengantukkan ke MK itu,
09:06mencoba untuk ke DPRD meminta agar proses itu...
09:08Ya itu silakan aja, kan itu rakyat kan, semua rakyat punya suara.
09:12Kan jadi pemerintah itu pengen rakyat itu melihat apa yang dilakukan oleh pemerintah,
09:18kita tidak mengintervensi, tidak ada cawe-cawe ngumpulin orang MK dan lain-lain, gak ada.
09:24Jadi Presiden dalam urusan MK, seperti Undang-Undang Omnibus Law ketika digugat oleh setikat-setikat buruh,
09:30Presiden juga tidak ikut.
09:33Dia menghormati, ya, dia kemerdekaan pengadilan lah.
09:36Tidak ada yang ini jadi tujian buat negatif masih Mas Gita sebagai presiden?
09:40Wah, itu saya gak tahu. Nanti saya tanya sama Pak Gibran ya.
09:43Saya pikir itu ya. Terima kasih ya.
09:45Saya pikir nanti kita lanjut lagi nanti ya. Terima kasih ya.
09:54Cara baru nonton di Smart TV.
09:57Nonton live streaming dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
10:03Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
10:08Cari Kompas TV melalui pencarian.
10:10Pilih aplikasi, lalu install.
10:13Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
10:18Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.

Dianjurkan