Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALEMBANG, KOMPAS.TV - Seorang warga Kota Palembang meninggal diduga karena terpapar kabut asap.

Pihak keluarga mengungkapkan, sebelum meninggal, korban yang mengidap asma mengaku sesak napas karena menghirup kabut asap yang saat ini melanda Kota Palembang.

Kesedihan masih menyelimuti keluarga Hardiyansah. Sang istri, Rika Yunita Sari, mengatakan selama Palembang dilanda kabut asap, suaminya kerap mengalami sesak napas.

Hingga Jumat lalu, korban sempat dibawa ke IGD rumah sakit. Korban mengalami sesak napas dan langsung dibawa ke RSUD Palembang BARI. Namun, nyawa Hardiyansah tidak tertolong.

Pihak RSUD Palembang BARI juga belum sempat mendiagnosis penyebab kematian almarhum Hardiyansah karena korban sudah meninggal.

#kabutasap #palembang #meninggal

Baca Juga Selama 2 Bulan! Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Ganggu Kesehatan Warga | SAPA SIANG di https://www.kompas.tv/regional/693883/selama-2-bulan-kabut-asap-karhutla-selimuti-palembang-ganggu-kesehatan-warga-sapa-siang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/694440/satu-warga-meninggal-dunia-diduga-gegara-kabut-asap-di-palembang-kompas-siang
Transkrip
00:00Masih lainnya saudara, seorang warga kota Palembang meninggal dunia diduga karena terpapar kabut asap.
00:05Pihak keluarga mengungkapkan sebelum meninggal, korban yang mengidap asma mengaku sesak nafas
00:11karena menghirup kabut asap yang saat ini tengah melanda kota Palembang.
00:18Sedihan masih menyelimuti keluarga Hardian Syah.
00:22Sang istri Rika Yunita Sari bilang,
00:24selama Palembang dilanda kabut asap, suaminya, Almarhum Hardian Syah, kerap mengalami sesak nafas.
00:31Hingga pada Jumat lalu, korban sempat dibawa ke IGD rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
00:38Sang suami mengalami sesak nafas dan langsung dibawa ke RSUD Palembang, Bari.
00:44Namun sayang, nyawa sang suami tidak terselamatkan lagi.
00:48Pihak RSUD Palembang, Bari, juga belum sempat mendiagnosa penyebab kematian Almarhum Hardian Syah
00:54karena sudah meninggal.
01:15Dan saudara, untuk mengetahui informasi terkini kabut asap, dampak kebakaran hutan dan lahan,
01:21kita sudah terhubung dengan jurnalis Kompas TV Purwantoro di Palembang, Sumatera Selatan.
01:26Selamat siang, Purwantoro. Bagaimana dengan kondisi kabut asap di sana hari ini?
01:33Selamat siang, Imbron. Untuk hari ini memang kepekatannya, itu seperti bisa di lihat di belakang saya,
01:41memang tidak kepekat tiga hari atau empat hari sebelumnya.
01:45Namun, kondisi indeks pencemaran udara di Palembang pada pukul 10 pagi itu masih bertahan pada level berbahaya
01:59dengan konsentrasi partikulat 2,5, itu sebesar 471 mikrogram per meter kubik.
02:08Namun, pada pukul 11 tadi sudah berubah kondisinya saat ini berada pada level tidak sehat.
02:16Fluktuasi udara yang ada di Palembang berada pada kondisi yang tidak sehat,
02:24kemudian sangat tidak sehat dan berbahaya, ini sudah dirasakan oleh warga Palembang.
02:30Itu hampir dua bulan, semenjak terjadinya kebakaran lahan dan hutan yang ada di sejumlah wilayah,
02:39terutama yang ada di Kabupaten, Ogan, Komeri, Ilir.
02:43Karena yang saat ini terbakar adalah lahan-lahan gambut dalam.
02:48Dampak kabut asap yang ada di Palembang, yang menyelingkuti Palembang hingga saat ini,
02:57itu sudah meningkatkan jumlah kasus-kasus, terutama keluhan kesehatan yang mengeluhkan,
03:08warga mengeluhkan adanya gangguan pada penamatan, kemudian mata.
03:16Dan sejumlah sekolah saat ini sudah kembali melanjutkan untuk pembelajaran jarak jauh,
03:26yang sebelumnya memang dengan kondisi yang fluktuasi udara di Palembang ini,
03:32itu sebelumnya dilakukan pembelajaran dengan terbatas.
03:38Namun karena konsentrasi, kemudian peningkatan udara yang kian memburuk,
03:45membuat pembelajaran dilakukan secara jarak jauh.
03:52Indeks pencemaran udara di wilayah Palembang masih menunjukkan atau berada pada level berbahaya dan tidak sehat.
03:58Terima kasih atas laporan Anda, jurnalis Kompas TV, Purwantoro, yang melaporkan dari Palembang, Sumatera Selatan.

Dianjurkan