Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
SAMARINDA, KOMPAS.TV - Seorang pria di Samarinda, Kalimantan Timur, diduga menjadi korban malapraktik. Sepotong kawat sekitar 2 cm diduga tertinggal di pembuluh jantung setelah menjalani operasi di RSUD Abdul Wahab Sjahrani.

Temuan tersebut diungkap pihak keluarga, Ediyanto Wong, pada Sabtu, (26/09/2026) kemarin. Temuan ini terungkap setelah Ediyanto dibawa keluarganya ke rumah sakit di Singapura beberapa hari setelah menjalani penanganan jantung di Samarinda.

Hasil pemeriksaan di Singapura menemukan kawat berukuran dua sentimeter tertinggal di jantung korban. Kawat tersebut tidak dapat diambil karena sudah menyatu dengan pembuluh darah. Kondisi korban hingga kini belum membaik.

Pihak RSUD Abdul Wahab Sjahrani membantah adanya malapraktik. Rumah sakit menyebut kawat yang tertinggal merupakan tindakan sengaja untuk menyelamatkan pasien.

Dinas Kesehatan Kalimantan Timur akan mendalami kasus ini melalui pemantauan dan evaluasi. Mediasi keluarga dengan dokter yang menangani korban telah dilakukan, tetapi belum menemui kesepakatan. Keluarga kini menempuh jalur hukum dan berharap ada tanggung jawab dari dokter serta rumah sakit.

#malapraktik #jantung #kalimantan

Baca Juga Dugaan Malapraktik Dokter di Pasaman Barat, Bayi 8 Bulan Meninggal Usai Usus Terpotong di https://www.kompas.tv/regional/693113/dugaan-malapraktik-dokter-di-pasaman-barat-bayi-8-bulan-meninggal-usai-usus-terpotong

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/693376/pria-di-samarinda-diduga-jadi-korban-malapraktik-kawat-2-cm-tertinggal-di-jantung-sapa-pagi
Transkrip
00:00Saudara seorang pria di Samarinda, Kalimantan Timur diduga jadi korban malapraktik.
00:06Sepotong kawat sekitar 2 cm diduga tertinggal di pembuluh jantung
00:11usai menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Samarinda.
00:18Temuan kawat sekitar 2 cm diungkap pihak keluarga Edianto Wong Sabtu 26 September kemarin.
00:25Temuan ini terkuak usai Edianto dibawa keluarganya ke rumah sakit di Singapura.
00:29beberapa hari setelah penanganan jantung di RSUD Abdul Wahab Syiharani.
00:33Setelah dipriksa di rumah sakit di Singapura,
00:36ditemukan kawat berukuran 2 cm tertinggal di jantung korban.
00:40Kawat tersebut tak bisa diambil karena sudah menyatu dengan pembuluh darah.
00:44Kondisi korban hingga kini belum membaik.
00:46Pilih Singapura memutuskan untuk tidak diambil karena ini adalah nadi utama di jantung.
00:53Jadi kawat itu dibiarkan secara natural membuntu.
00:56Namun ternyata setelah operasi besar bypass,
01:02Bapak masih mengalami kesulitan.
01:04Terakhir Bapak ini tensinya juga masih drog terus.
01:08Jadi kami berharap adalah keadilan buat kami dan itikat baik untuk kami keluarga.
01:15Pihak RSUD Abdul Wahab Syiharani membantah adanya malpraktik.
01:19Pihak rumah sakit menyebut,
01:21kawat yang tertinggal merupakan tindakan sengaja untuk menyelamatkan pasien.
01:25Apakah cincin yang dipasang oleh Dr. Purkon itu yang menyebabkan dia kesakitan?
01:29Kan ada tiga pembuluh darah.
01:31Kita tidak bisa pastikan bahwa yang satu itu,
01:34yang dipasang itu yang membuat dia sakit.
01:36Belum tentu kan bisa saja yang lain.
01:39Siapa yang bisa buktikan?
01:40Kan tidak bisa.
01:41Bahwa itu menurut Dr. Purkon bahwa itu salah satu untuk menyelamatkan nyawa.
01:49Bagaimana ceritanya Pak?
01:50Bahwa itu secara medis.
01:52Saya tidak berhak menjelaskan.
01:53Dinas Kesehatan Kalimantan Timur akan mendalami kasus ini.
01:57Saat ini pihaknya tengah melakukan pemantauan dan evaluasi.
02:01Saat ini Dinas Kesehatan sedang berproses untuk melakukan penampingan
02:06maupun juga menurutkan evaluasi terhadap perjadian tersebut.
02:09Jadi proses ini juga menjadi perhatian dari pemerintah provinsi dan juga DPRD.
02:16Dan insya Allah siang ini kami akan bertumpul untuk melakukan tapat dengan pendapat.
02:23Mediasi antara keluarga korban serta dokter yang menangani korban sudah dilakukan.
02:27Namun masih belum menemui kesepakatan.
02:30Pihak keluarga kini menempu jalur hukum.
02:32Keluarga berharap tanggung jawab dari dokter dan rumah sakit.
02:36Rijal Mustafa, Jasmine Jafar, Kompas TV, Samarinda, Kalimantan Timur.

Dianjurkan