Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mendesak KPK segera memeriksa Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi yang tengah diusut.

Samad menyoroti delapan tersangka yang telah ditetapkan dalam perkara tersebut.

Menurutnya, lima dari delapan tersangka merupakan orang kepercayaan Menteri ATR/BPN.

"Dari 8 tersangka itu, 5 orang kepercayaan Menteri dan 1 pejabat eselon 1 yaitu Dirjen, dan kemudian kalau kita lihat duit yang disita itu 100 miliar lebih," kata Abraham, Sabtu (19/9/2026).

Samad menilai kondisi tersebut perlu didalami lebih jauh oleh KPK, termasuk kemungkinan adanya keterkaitan dengan pejabat yang memiliki profil tinggi.

"Kalau KPK berani atau KPK bisa lebih progresif, maka sebenarnya yang harus dilakukan, dia harus melakukan juga penggeledahan di ruangan Menteri. Itu yang harus dilakukan," katanya.

Video Editor: Vila

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/691705/alasan-abraham-samad-desak-kpk-segera-periksa-menteri-nusron-wahid
Transkrip
00:00Menteri Nusron ini paling tidak, menurut saya paling tidak sesegera mungkin untuk dipanggil, diperiksa sebagai saksi.
00:08Dari delapan tersangka itu lima orang kepercayaan menteri dan satu pejabat eselon satu yaitu dirjen.
00:17Dan kemudian kalau kita lihat duit yang disita itu seratus miliar lebih.
00:23Apa yang ingin saya katakan terhadap yang saya sampaikan tadi bahwa ada lima orang kepercayaan menteri,
00:30satu pejabat eselon satu, ada duit seratus miliar lebih, ini sudah bisa dipastikan bahwa sebenarnya ada keterkaitan dengan pejabat yang
00:42sifatnya high profile.
00:44Dalam hal ini menteri. Oleh karena itu sebenarnya kalau KPK berani atau KPK bisa lebih progresif,
00:53maka sebenarnya yang harus dilakukan, dia harus melakukan juga penggeledahan di ruangan menteri.
01:01Itu yang harus dilakukan. Kemudian yang kedua, harus ditingkatkan dan dikembangkan lagi agar supaya menteri Nusron ini paling tidak,
01:10menurut saya paling tidak, sesegera mungkin untuk dipanggil, diperiksa sebagai saksi.
01:15Paling tidak. Sehingga kita tahu betul apa perannya.
01:19Dan kemudian yang menarik juga sebenarnya harus dilihat tuh, follow the money-nya ya,
01:25aliran dana itu kemana saja. Karena menurut saya dari 8 tersangka kemudian 5 orang,
01:32bayangkan 8-5 orang itu orang kepercayaan menteri.
01:36Mungkin kita akan mengatakan impossible ya, impossible bahwa kasus ini tidak punya keterkaitan dengan menteri.
01:45Itu nggak mungkin sama sekali menurut saya.
01:47Kalau kemudian Anda menitik beratkan masalah berani bagi penyidik untuk melakukan pemeriksaan terhadap menteri,
01:53maka sampai sekarang belum diperiksa menteri itu karena apa? Ada tekanankah menurut Anda Pak Samad?
01:57Seharusnya KPK tidak boleh menghadapi situasi seperti itu ya,
02:01karena KPK ini kan walaupun undang-undangnya sudah berubah tidak lagi seperti dulu ya,
02:06dia berada di bawah rumpun eksekutif, tapi dalam menjalankan tuh voksinya dia tetap independen.
02:12Oleh karena itu menurut saya KPK tidak boleh menghadapi kendala-kendala psikologis
02:18atau kendala-kendala intervensi dari manapun juga.
02:21Karena menurut saya ini adalah ujian.
02:24Kenapa saya katakan ujian?
02:25Selama ini KPK periode yang dipimpin komisioner yang baru ini menurut saya,
02:32belum pernah ya, sepengetahuan saya belum pernah menjaring kategori high profile.
02:39Padahal kan sebenarnya kasus korupsi yang harus ditangani KPK itu sifatnya yang grand corruption.
02:45Grand corruption itu pengertiannya bukan sekedar uang korupsi besar,
02:50tapi salah satu indikatornya adalah orang itu adalah orang yang punya profil tinggi ya,
02:57high profile, misalnya kalau dia punya negara-negara, minimal dia menteri atau dirjen dan lain-lain sebagainya.
03:03Itu sebenarnya pengertian dari grand corruption, jadi bukan saja duit yang besar di korupsi,
03:09tapi tersangkanya orang yang melakukan.
03:12Oleh karena itu menurut saya, KPK harus membuktikan ini bahwa KPK harus kembali ke jati dirinya yang sebenarnya.
03:20Itu yang pertama.
03:21Kemudian yang kedua ada yang paling penting, Buntifal.
03:23Dari teman-teman saya di KPK dulu, memang kementerian ATR dan BPN ini punya banyak masalah sebenarnya ya,
03:31dari segi tata kelola.
03:33Di sana banyak hal-hal yang bisa dikategorikan itu lubang terjadinya fraud.
03:40Paling tidak bisa juga terjadi tindakan-tindakan korupsi.
03:44Mulai dari tingkat bawah di level bawah, sampai ke atas, itu rata-rata orang di sana susah lah.
03:51Kita membedakan mana orang yang benar, mana orang yang nggak benar.
03:55Kalau Anda mau lihat di sana keluyuran para calo, ini untuk tingkat bawahnya ya.
04:00Oke, poinnya?
04:01Itu banyak pemandangan seperti itu di kantor-kantor pertanahan.
04:05Belum lagi kalau kita lihat pengalaman di masa lalu ya.
04:08Sebenarnya Nusran ini sudah ada masalah menurut saya.
04:11Ketika kasus pagar laut, pagar laut ya, yang melibatkan PIK 2.
04:17Itu kan sudah pernah disampaikan bahwa pagar laut itu ada orang ya, ada korporasi yang memberi batasan ya.
04:26Konteksnya dalam kasus ini menurut Anda apa, Pak?
04:28Kenapa, Mas Tifal?
04:30Konteksnya dalam kasus yang sedang diungkap HGB itu apa berarti kalau begitu?
04:33Ya, sama konteksnya di pagar laut kan.
04:35Ini kan masalah perubahan atau perpanjangan hak guna bangunan.
04:41Kemudian juga perubahan atau peningkatan status dari hak guna HGB ke hak milik.
04:47Kan seperti ini nih.
04:48Jadi ada dua ya.
04:49Perpanjangan HGB dan kemudian peningkatan HGB menjadi hak milik.
04:54Padahal kalau kita lihat pengalaman ini kan sudah diblokir.
04:57Kan di situ sebenarnya diblokir.
04:58Tapi bisa dibuka karena ada suap.
05:01Dan ini kejadian seperti ini selalu terjadi di Kementerian ATR BPN.
05:07Jadi bukan pertama kali saja.
05:41Sampai jumpa.
05:41Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
05:46Cari Kompas TV melalui pencarian.
05:49Pilih aplikasi lalu install.
05:52Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
05:57Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.
Komentar

Dianjurkan