Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Suahasil Nazara menjawab pertanyaan media soal kelanjutan layanan Lapor Pak Purbaya.

"Masih bisa lapor tidak ke Kementerian Keuangan? Bisa, berbagai macam channel laporan terbuka," ujar Menkeu Suahasil saat konferensi pers APBN KiTa pada Jumat (18/9/2026).

"Karena saya tahu ini jadi concern, kalau perlu kita buatkan daftar channel untuk melaporkan segala sesuatu, dan kita akan kerjakan itu secara institusional," lanjutnya.

Menkeu Suahasil juga sempat menjawab media soal maksud kredibilitas APBN hingga sinergitas.

Baca Juga FULL! Perdana Menkeu Suahasil Pimpin Konpers APBN KiTA, Bahas Pajak, MBG hingga Belanja Negara di https://www.kompas.tv/nasional/691366/full-perdana-menkeu-suahasil-pimpin-konpers-apbn-kita-bahas-pajak-mbg-hingga-belanja-negara

#menkeu #suahasilnazara #apbn2026 #breakingnews #ekonomi #rupiah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/691416/full-menkeu-suahasil-jawab-soal-layanan-lapor-pak-purbaya-hingga-kredibilitas-apbn
Transkrip
00:00Silahkan, kita kumpulin dulu ya, 6 pertanyaan.
00:08Mas, apa? Buildan?
00:10Apa?
00:12Oh, terus?
00:15Ya, oke.
00:17Yang tengah, dari, apa ini mas?
00:22Dari ini ya, dari router ya?
00:25Router, terus?
00:27Nah, ini Grace.
00:28Terus? Kanan?
00:30Tidak ada.
00:33AV dari kumparan.
00:37Terus?
00:39Mbak siapa?
00:42Ontan.
00:44Oke ya.
00:49Terima kasih Pak Yuda atas kesempatannya.
00:53Mungkin untuk pertanyaan yang di luar slido gitu Pak,
00:56ini saya mau mengklarifikasi data yang ada di paparan tadi Pak yang terkait pajak.
01:03Di paparan slide pajak yang pertama itu kan dimensin bahwa PBB dan pajak lainnya itu sudah mencapai 56 triliun.
01:10Lalu, kalau di slide berikutnya itu justru muncul bahwa pajak lainnya itu mencapai 190 triliun.
01:17Nah, ini komposisinya bisa berbeda gitu.
01:21Maksudnya seperti apa Pak?
01:23Apakah untuk yang slide berikutnya itu adalah untuk jenis-jenis pajak yang tidak dimensin di atas-atasnya atau seperti apa
01:31Pak?
01:32Terima kasih Pak.
01:32Sekedar mengklarifikasi itu aja Pak.
01:36Oke, lanjut dulu.
01:38Terus.
01:39Zahwa Pak dari Kompas TV.
01:42Pak mau nanya kelanjutan dari kebijakan sal yang ditempatkan ke Himbara.
01:48Kan ada 400 triliun ya sekarang.
01:51Nah, ini keberlanjutannya seperti apa ya Pak?
01:54Apakah akan dilanjutkan atau akan dikembalikan seperti sebelumnya gitu.
02:01Nah, kalau misalnya dikembalikan uang yang sudah masuk ke perbankan ini, penarikannya nanti mekanismenya akan seperti apa ya Pak?
02:12Sekian, terima kasih.
02:16Selamat siang Pak. Stefano dari Reuters, Pak.
02:20Ada dua pertanyaan Pak, kalau boleh.
02:22Yang pertama mengenai risiko jatuh tempo pinjaman kooperasi, Pak.
02:28Apakah pemerintah sudah melunasi Pak Cicilan pertamanya untuk pembangunan KDKMP?
02:33Mungkin dari Himbara sudah mengajukan jika ia nilainya berapa, kalau belum kenapa juga Pak?
02:39Dan apakah KMG sudah melakukan asesmen Pak jika pembayaran ini tertunda gitu Pak?
02:48Impactnya ke Himbara seperti apa, likiditasnya.
02:51Kemudian yang kedua Pak, mengenai wacana penarikan keuntungan dana antara Pak yang 120 triliun.
02:58Itu keputusannya jadinya seperti apa Pak? Akan tetap dilakukan atau tidak?
03:03Kalau tidak jadi dilakukan, defisit APBN tahun ini jadi berapa ya Pak?
03:07Terima kasih. Maksudnya apakah akan terdampak gitu Pak?
03:11Oke, lanjut.
03:15Terima kasih Pak kesempatannya. Saya Grace dari Bloomberg.
03:21Beberapa pertanyaan Pak.
03:23Mungkin untuk Pak Mankiw terlebih dahulu secara umum ya Pak.
03:28Kemarin Bapak kan mengatakan bahwa akan mengembalikan kredibilitas APBN.
03:34Tadi Bapak juga sebutkan sih.
03:35Sebetulnya apa sih Pak yang dimaksud dengan kredibilitas tersebut dan apa wujud konkretnya yang Bapak ingin investor dan publik lihat.
03:45Yang kedua Pak, keberlanjut.
03:48Bapak juga kemarin bilang bahwa ini Bapak akan melakukan keberlanjutan, bukan perubahan arah kebijakan.
03:56Kalau boleh tahu Pak apa saja sih Pak area atau kebijakan yang akan dilanjutkan dan apa yang akan ditinjau ulang
04:03atau diubah dalam waktu dekat.
04:05Mungkin tadi beberapa teman-teman sudah sampaikan misalnya terkait sal atau pernyataan-pernyataan kebijakan sebelumnya mungkin ingin Bapak klarifikasi atau
04:13jelaskan lebih lanjut.
04:15Terakhir Pak, harga minyak dunia kembali melonjak dan di saat yang sama US Treasury Yields juga makin tinggi seperti yang
04:24tadi sudah Bapak paparkan.
04:26Ini antisipasinya bagaimana ya Pak?
04:29Dan apakah outlook defisit kita yang sekarang 2,85% itu masih bisa mengakomodasi?
04:34Serta strategi pembiayaan kita apakah akan ada perubahan untuk menyesuaikan kenaikan yield?
04:39Terima kasih Pak.
04:41Terima kasih.
04:50Terima kasih atas kesempatannya.
04:53Ada beberapa pertanyaan kepada Pak Subwa.
04:56Mungkin sebe penegasan saja Pak terkait dengan program Bapak ke depan ini seperti apa?
05:04Apakah apa yang dievaluasi dari kebijakan papur bayi sebelumnya dan apa yang akan dilanjutkan gitu Pak.
05:14Nah selanjutnya Pak ingin bertanya terkait dengan utang agrinas ke Hibara Pak.
05:21Itu jatuh temponya kan tanggal 12 September ya.
05:24Apakah itu akan ditalangi oleh KemenQ dan jika iya berapa yang sudah dibayarkan ya Pak?
05:32Nah selanjutnya Pak untuk penegasan lagi Pak terkait dengan kelanjutan SAL ini Pak.
05:36Apakah sudah ada koordinasi ke Bank Indonesia atau seperti apa?
05:41Apakah akan dilanjutkan perpanjangan tenornya di Hibara atau dikebalikan ke Bank Indonesia
05:48dan dampaknya nanti kelikuditas perbankan seperti apa Pak?
05:52Selanjutnya Pak terkait dengan mungkin ingin update saja Pak terkait realisasi dan utlup pembayaran bunga utang sampai saat ini sudah
06:02berapa Pak pembayaran bunga utang.
06:05Dan terakhir Pak ingin bertanya terkait dengan program efisiensi gitu Pak.
06:16Bapak kan tadi sempat mention terkait dengan memaksimalkan belanja untuk kepentingan masyarakat gitu Pak.
06:22Apakah bakal ada yang bakalan dihemat lagi gitu Pak selain dari sebelumnya kan MBG ada efisiensi.
06:30Apakah bakalan mengevaluasi lagi belanja KL?
06:35Terima kasih Pak.
06:35Terima kasih.
06:37Pak Air?
06:37Selamat pagi Pak.
06:40Perkenalkan saya Afe dari Kumparan.
06:42Ada beberapa pertanyaan Pak.
06:44Yang pertama mungkin bisa dijelaskan soal kelanjutan dari utang WUSH ini akan seperti apa Pak?
06:51Karena kemarin terakhir kan tanggal 15 September itu mau diserahkan ke MenQ ya.
06:57Kalau pas Pak Purbaya itu kelanjutannya seperti apa sekarang?
07:01Apakah sudah diserahkan atau bagaimana?
07:04Lalu untuk mau tanya juga soal kemarin Pak Misbakun itu sempat mention kalau ke MenQ itu bisa mengusulkan supaya ke
07:18MenQ menaikkan defisitnya Pak jadi 3% lalu untuk mengkaji lagi rasio utang 60%.
07:26Sebenarnya apa memungkinkan Pak kalau misalkan defisit kita lebih dari 3% gitu Pak?
07:33Itu katanya supaya kita keluar dari negara yang middle income trap itu Pak.
07:40Lalu untuk kemarin kan sempat ada lapor Pak Purbaya ya Pak.
07:50Apakah ini akan dilanjutkan di era pasuh hasil ini?
07:53Karena lumayan kan itu Pak banyak laporan-laporan dari yang dalam-dalamnya biaya cukai, pajak, dan lain-lain.
08:02Dan terakhir untuk perkembangan pajak toko online gimana Pak?
08:06Terima kasih.
08:08Terima kasih.
08:11Untuk nomor satu mengenai pajak, saya minta Pak Bimo untuk menjawab.
08:18Kemudian terkait penempatan sal di Himbara, ini sudah setiap bulan itu dikomunikasikan dengan Bank Indonesia.
08:32Ya, intinya dan juga dikomunikasikan pada perbankan.
08:36Intinya akhir tahun tetap sampai dengan 200 dan diperpanjang sampai dengan Juli tahun depan.
08:44Jadi ini masih konsisten dengan apa yang sudah kita komunikasikan baik kepada Bank Indonesia maupun kepada perbankan.
08:52Saya minta Pak Bimo dulu untuk menjawab nomor satu. Silahkan Pak Bimo.
08:57Terima kasih Pak Uwamen. Terima kasih Mas Wildan.
09:00Jadi di slide satu itu pajak lainnya itu kalau didetailkan gitu ya, itu memang ada deposit biaya materi sanksi penagihan
09:11selain PPP.
09:13Nah di slide yang kedua yang lebih besar angkanya, yang belum tercantum di slide satu, yang kita cantum kan di
09:19slide kedua itu,
09:22deposit, biaya materi, kemudian ada juga PPNBM, PPH Migas, PPH 23.
09:28Kan secara besaran yang gede-gede, yang major kita highlight, yang minor-minor kita jadikan satu di pajak lainnya ketika
09:37tadi Pak Menteri memberikan penjelasan tentang kinerja per jenis pajak.
09:42Jadi mudah-mudahan itu bisa menjawab. Terima kasih Pak Uwamen.
09:47Terima kasih Pak Bimo.
09:50Terima kasih Pak Bimo.
09:52Yang ketiga terkait dengan KDMP dan juga penarikan dan antara barangkali yang KDMP saya minta Pak Darto dulu untuk menjawab.
10:06Eh Pak Frans, sorry. Pak Frans.
10:09Silahkan Pak Pak.
10:10Terima kasih Pak Uwamen.
10:13Terkait dengan pembayaran untuk KDMP, sesuai dengan Pemperatur Menteri Keuangan nomor 15 tahun 2026,
10:20nanti KMNQ akan membayar setelah adanya tagihan dari Himbara.
10:24Nah sesuai dengan PMK tersebut juga, Himbara nanti akan menerima serah terima dari PT Agrinas ke KMNKOP yang juga melabirkan
10:36berita acara serah terima yang sudah direview oleh BPKP atau APIP dari masing-masing PMDanya.
10:43Sehingga dengan demikian sampai saat ini kita belum menerima tagihan dari Himbara tersebut, jadi belum bisa kita bayarkan.
10:52Namun anggarannya sudah kami siapkan.
10:55Kemudian juga terkait dengan hal ini, kami senantiasa bekerja sama juga dengan kementerian dan lembaga terkait,
11:00hingga nanti pada saat pembayarannya akan terus terjaga transparansi dan juga akuntabilitasnya.
11:07Berikan Bapak, terima kasih.
11:09Terima kasih.
11:11Ini beberapa pertanyaan langsung ke Pak Menteri ini, saya terkait dengan kredibilitas,
11:18kemudian juga terkait dengan divisi 3 persen, rasio utang 60 persen dan sebagainya.
11:28Saya kira ini mungkin Pak Menteri bisa nambah.
11:35Oh Pak Sal, yang ini, yang Sal, oh iya.
11:41Untuk Sal, untuk detailnya Pak Prima bisa menambahkan?
11:46Baik, makasih Pak Menteri, Pak Wamen, rekan-rekan semua, rekan-rekan media.
11:53Jadi untuk Sal, tadi sebagaimana disampaikan oleh Pak Yuda,
11:59sekarang penempatannya posisinya adalah Rp299 triliun.
12:04Jadi nyaris Rp300 triliun.
12:08Dan untuk kebijakannya ke depan, ini akan tetap dijaga yang Rp200 triliun,
12:17sebagaimana tadi sudah disampaikan, untuk terus ditempatkan di perbankan sampai dengan bulan Juli tahun depan.
12:26Nah tapi yang patut diingat, ini adalah dana yang sifatnya penempatan sementara.
12:39Jadi nanti pada saat belanja, ya tentunya ini adalah dana yang akan digunakan.
12:47Tapi kami terus melakukan komunikasi dengan perbankan, ya sehingga yang di atas Rp200 tadi dan yang Rp200 ini,
12:57ini pada saat nanti akan dilakukan penarikan, ini kita akan sampaikan dan juga koordinasikan
13:07supaya tidak terjadi gap atau lag, ya antara dana yang tersedia di bank dengan apa yang kita tarik.
13:17Demikian, terima kasih Pak Uwamen.
13:19Terima kasih Pak Rima.
13:22Saya juga undang Pak Darto ya, untuk beberapa hal terkait dengan anggaran,
13:31termasuk juga di slido saya lihat ada beberapa pertanyaan terkait dengan anggaran.
13:37Pak Darto, silakan.
13:43Terima kasih Pak.
13:45Yang kemudian Pak Menteri, Pak Uwamen.
13:47Ada beberapa pertanyaan di slido Pak untuk DGIA.
13:51Pertama terkait dengan tanggapan kemenku atas putusan MK
13:57yang mewajibkan pemerintah harus mendapat persediaan DPR dalam mengubah anggaran ABPN termasuk MBG
14:04dari media Indonesia, INSI, kemudian harga minyak global meningkat,
14:09berapa besar sub-sidi kompensasi untuk energi, dan hampir sama yang ketiga dari Reuter ya,
14:14Siptevano, kemudian juga dari Malana Investor Trust.
14:19Terkait dengan putusan MK, tentu kami baru saja menerima kemarin.
14:25Kami pelajari dan kami menghormati, dan tentunya itu pastilah untuk perbaikan tata kulah ke depan.
14:36Kemudian terkait dengan subsidi kompensasi, tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri ya,
14:45Realisasi sampai dengan tahun ini, sampai dengan bulan Agustus,
14:50meningkat lebih tinggi dibandingkan tahun yang lalu,
14:54dan tentunya kami terus mengantisipasi realisasi sampai dengan akhir tahun nanti.
15:03Dan tentu ABPN, kami sampaikan, masih sangat kuat untuk bisa mengabsorb resiko dari proyek terasarga minyak dunia tersebut.
15:20Dan terakhir mungkin ada-ada yang terkait dengan penajaman ya,
15:28untuk sebenarnya bukan efisensi ya,
15:30jadi kita terus melakukan penajaman terhadap belanja negara,
15:34sehingga semakin produktif dan mencapai target-target yang sudah ditetapkan.
15:41Yang lebih penting lagi, sampai dengan 3 bulan ke depan,
15:45tentu kami akan terus memonitor kecepatan dari realisasi anggaran tersebut.
15:56Tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri,
15:58sampai dengan bulan Agustus, penyerapan jauh lebih bagus daripada tahun lalu.
16:04Kemudian juga, tentu, kami akan melihat kalau ada hal-hal yang perlu kami bantu di kemudian lembaga,
16:12sehingga capaian, tidak hanya capaian dalam bentuk realisasi,
16:17tetapi juga output bisa dicapai dengan lebih baik.
16:20Mungkin itu Pak Momen kembalikan. Terima kasih.
16:23Terima kasih Pak Darto.
16:26Berikutnya dari DCC Pak Ferry,
16:30ada banyak pertanyaan di slido maupun di pertanyaan langsung tadi,
16:34terkait dengan outlook.
16:36Harga minyak, implikasinya kepada outlook, APBN, dan sebagainya.
16:42Silakan Pak Ferry.
16:46Terima kasih Pak Menteri, Pak Wamen.
16:49Ijinan kami menjawab terkait dengan memastikan pertumbuhan kuartal 3,
16:552006 dirasakan semua lapisan masyarakat.
16:58Jadi, pemerintah tidak ingin pertumbuhan hanya terlihat di dalam angka PDB,
17:05tetapi tidak dirasakan dalam pendapatan, kesempatan kerja, dan daya beli masyarakat.
17:10Oleh karena itu, kita melihat kualitas pertumbuhan melalui beberapa indikator,
17:16misalnya penyerapan tenaga kerja, kemudian konsumsi masyarakat,
17:21pendapatan real, kemiskinan, ketimpangan, dan perkembangan sektor UMKM dan ekonomi daerah.
17:29Dalam hal ini, APBN diarahkan untuk memperkuat transmisi pertumbuhan
17:35melalui belajar yang langsung menyentuh masyarakat,
17:38termasuk perlinsos atau perlindungan sosial,
17:42kemudian program padat karya,
17:44kemudian pembangunan infrastruktur, pendidikan,
17:47kesehatan, dan dukungan terhadap UMKM.
17:49Jadi ukuran keberhasilan bukan hanya dari berapa persen pertumbuhan ekonomi kita,
17:54tetapi seberapa luas masyarakat yang memperoleh manfaat dari pertumbuhan tersebut.
18:01Kemudian terkait dengan minyak dunia yang memenuhi onjak,
18:05dan US Treasury yields yang tinggi,
18:08apakah outlook defisi 2,85 masih visible?
18:14Tadi diselaskan oleh Pak Menteri bahwa
18:17memang ada peningkatan risiko dari sisi eksternal,
18:21baik harga komunitas, energi, maupun yield global,
18:25namun APBN memang dirancang untuk menghadapi dinamika seperti ini.
18:30Tadi jelaskan juga oleh Pak Menteri bahwa kita memiliki buffer yang kuat
18:33untuk mitigasi terhadap gejolak geokonomi dan geopolitik ini.
18:41Jadi outlook defisi 2,85 persen dari PDP ini masih menjadi baseline pemerintah,
18:49namun tentu kita juga melakukan stress testing terhadap berbagai skenario termasuk
18:53kenaikan harga minyak, kemudian perubahan nilai tukar, perubahan yield SPN.
18:58Jadi yang paling penting adalah kita memiliki buffer yang sampai saat ini masih kuat,
19:04termasuk pengelolaan belanja, kemudian optimasi pendapat negara,
19:09strategi pembiayaan, dan penggunaan instrumen fiskal yang prudent.
19:14Terima kasih Pak Menteri.
19:15Terima kasih Pak Ferry.
19:18Berikutnya Pak Menteri terkait dengan pinjaman utang.
19:25Terima kasih.
19:26Strategi pengelolaan utang.
19:28Pak Wamen, pertanyaan tadi dari Chris dan juga dari AFE di Seraito
19:34terkait dengan strategi pembiayaan hingga akhir tahun anggaran dalam konteks
19:41menghadapi tadi peningkatan risiko fiskal karena global termasuk
19:46stance monetary policy dari negara-negara maju.
19:51Di saat ini strategi pembiayaan kami masih ditujukan untuk memenuhi outlook defisit
19:59APBN 2026 sebesar 2,85 persen.
20:05dari sisi realisasi sampai hari ini masih on track dan tadi juga disampaikan oleh Pak Menteri
20:14untuk realisasi sampai 31 Kustus.
20:19Nah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan hingga akhir tahun
20:23dari sisi instrumen mix kami masih sesuai dengan strategi
20:29di Lelang Sun dan SBSN setiap hari Selasa tetap seperti biasa, satu.
20:36Kedua masih akan ada dua seri SPN retail yang diterbitkan,
20:41yakni sukup tabungan dan SPR yang konvensional.
20:45Yang ketiga kami masih punya space untuk penerbitan SPN falas,
20:51subject to market condition.
20:54Kemudian yang keempat kami juga sudah memiliki pinjaman aktif
21:00dalam bentuk pinjaman program dari Bank Dunia, ADB, dan AIB yang siap untuk di disperse.
21:08Jadi kami ingin pastikan bahwa supply risk penerbitan SPN domestik akan tetap kami jaga.
21:17Artinya tidak akan ada tambahan penerbitan malu lelang yang lebih besar
21:25yang menambah risiko supply SPN yang tentu akan potensial meningkatkan yield.
21:35Jadi dengan strategi yang on track kami harapkan kami tetap dapat menjaga level
21:44timbal hasil dari SPN kita.
21:47Dan itu juga kita bisa lihat kalau kita melakukan risk event tadi lah.
21:53Misalnya dari kemarin Fed Fund Rate menaikkan suku bunga kebijakan US 25 basis point.
22:02Pada hari berikutnya sun 10 tahun dan seri yang lain justru timbal hasilnya turun ya tidak mengalami kenaikan.
22:14Mening bahwa satu dari sisi investor sudah price in,
22:18yang kedua dari sisi ketahanan pasar SPN kita cukup baik.
22:26Tadi pasar domestik supportif, investor domestik supportif dan investor asing juga supportif,
22:35inflow masuk itu mendukung pasar SPN kita.
22:41Sehingga sekali lagi kita optimis pemenuhan kebutuhan pembina hingga akhir tahun
22:48dapat dipenuhi dengan baik pada cost dan risk yang acceptable.
22:54Kemudian tadi ada pertanyaan mengenai realisasi belanja bunga.
23:00In line dengan pemenuhan pembiayaan yang on track dan juga masih sesuai dengan strategi dan desain APBN tadi.
23:12Alokasi belanja bunga APBN 2026 kami yakini sangat memadai dan bahkan kami meyakini bisa melakukan saving
23:23atau penghematan.
23:25Jadi kondisi pasar keuangan yang memiliki implikasi pada pasar SPN tidak akan menyebabkan
23:35kenaikan kebutuhan belanja bunga yang melebihi alokasi dalam APBN
23:42dan sekali lagi kami optimis bahkan masih akan bisa melakukan penghematan.
23:46Tidak menambah risiko fiskal dari sisi kebutuhan belanja bunga utang.
23:54Hingga akhir Agustus belanja bunga utang yang sudah direalisasikan 394,2 triliun.
24:03Di mana 366,4 triliun diantaranya adalah dalam negeri.
24:12Sementara luar negerinya hanya 27,8 triliun.
24:17Artinya belanja bunga yang kita realisasikan itu beredar di dalam negeri
24:24dan menjadi likuiditas dan sumber daya ekonomi untuk mendukung aktivitas ekonomi dalam negeri.
24:32Terima kasih Pak Wamen, terima kasih.
24:34Terima kasih Pak Minto.
24:37Berikutnya terkait dengan pengalihan KCIC, Pak Bus.
24:44Saya minta Bu Evita. Silahkan Bu Evita.
24:51Terima kasih Pak Wamen.
24:53Teman-teman media, pengalihan saham PT PSBI ke pemerintah melalui Kementerian Keuangan.
25:00Saat ini masih dalam proses finalisasi, skema telah ditetapkan, telah dibahas secara detail
25:08dan tentunya ini sesuai dengan harapan tidak dengan melibatkan APBN secara langsung
25:14dalam pemenuhan kewajiban PT PSBI.
25:17Dan untuk itu kita saat ini juga supaya pengalihan nanti berjalan dengan terencana tepat
25:24dan juga bisa operasional tentu diperlukan untuk pemetaan beberapa aspek
25:30antara lain finansial, aspek bisnis, operasional dan tentu hukumnya.
25:35Saat ini di Kementerian Keuangan sedang berjalan yaitu due diligence oleh Kementerian Keuangan
25:41dan juga evaluasi nilai saham terhadap saham PSBI yang akan dialihkan
25:47dan secara paralel penyusunan R-PRES juga sedang kami lakukan
25:52dan yang paling penting adalah koordinasi dengan BP-BUMN dan BPI dan antara terus dilakukan.
26:00Terima kasih.
26:01Terima kasih Ibu Evita.
26:04Berikutnya untuk BACUK ini terkait dengan skema pertukaran data antara KMNQ
26:13dan antara sumber daya Indonesia.
26:18DSI terkait dengan pengawasan under invoicing dan transfer price.
26:24Pak Jaka, silakan Pak Jaka.
26:26Terima kasih Pak Komen, izin Pak Menteri, izin menjawab.
26:31Terkait dengan kerjasama pertukaran data antara Kementerian Keuangan
26:36dan antara sumber daya Indonesia,
26:41ini sudah dilakukan kerjasama ataupun kerjasama secara terus-menerus
26:50sebagai tindak lanjut dari PP nomor 24 tahun 2026
26:57telah membangun mekanisme yang dalam berbagi data
27:02dalam rangka penguatan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis
27:07yang meliputi batu bara, CPO, dan vero aloi.
27:12Dalam implementasinya,
27:15BACUK telah menyiapkan mekanisme agar eksportir dapat menyampaikan data
27:19kepada DSI pada saat penyampaian pemberitahuan ekspor barang atau PEB melalui CEISA.
27:28Data tersebut selanjutnya diolah dan dianalisis oleh DSI.
27:33Data tersebut ulangi, kemudian hasil analisisnya disampaikan
27:37serta dibahas secara periodik bersama Kementerian Keuangan.
27:41Mungkin itu Bapak yang bisa kami sampaikan.
27:44Terima kasih Pak Jaka.
27:48Berikutnya untuk Pak Sekjen,
27:52terkait dengan pengalihan pengadilan pajak ke MA pada akhir tahun ini.
27:57Apa yang sudah disiapkan?
28:01Pak Sekjen silahkan.
28:09Baik, terima kasih Pak Wamen.
28:11Terkait yang ini kami sudah lakukan ada tiga hal.
28:16Ada tiga hal.
28:17Yang pertama terkait dengan peraturan,
28:19itu sedang dibicarakan, nanti ada peraturan yang terkait untuk pengalihannya.
28:23Dan ini sudah dibicarakan baik dengan
28:29Kementerian yang terkait dan juga dengan MA.
28:32Yang kedua yang dilakukan adalah terkait dengan organisasi.
28:35Dan ini sudah, organisasi dan ketiga adalah SDM.
28:39Dan kami sudah, kita sudah bicarakan juga dengan Kementerian terkait.
28:43Dan terakhir dengan Menseknek,
28:45dan juga dengan, eh sorry, dengan Menpan-RB,
28:48dan juga dengan NPA.
28:49Jadi nanti akan ada tengkat waktu untuk peralihan.
28:53Jadi nggak langsung mungkin ada peralihan dari Kementerian Keuangan,
28:57tetap akan membantu,
28:58baik dari si pegawai maupun saran dan perasaan.
29:02Yang terakhir, kami juga,
29:04kita juga sudah bantu dan koordinasi yang terkait dengan dukungan IT-nya.
29:09Mungkin itu Pak Menteri, Pak Wahmen. Terima kasih.
29:12Terima kasih Pak Roma.
29:36Teman-teman media semua.
29:39Jadi sambil juga saya ingin merekap ya,
29:42Anda bisa lihat bahwa
29:46yang namanya Kementerian Keuangan itu
29:49bekerja secara sinergi.
29:53Nggak bisa satu unit hanya bekerja melihat
29:57bidang tugasnya sendiri saja.
30:00Karena ketika DJPPR itu menjadi Debt Management Office,
30:09bayar bunga utangnya itu dari Direktur General Anggaran,
30:12ada dari, itu alokasinya alokasi anggaran.
30:14sehingga harus sinergi.
30:17Ketika Direkturat Jenderal Anggaran itu memberikan alokasi untuk OIP,
30:25bulog.
30:27Bulog sebagai OIP itu di,
30:31apa ya, pembinaannya adalah oleh Direkturat Jenderal Perbendaraan.
30:35Ketika Direkturat Jenderal Perbendaraan
30:38menaruh penempatan dana di Himbara,
30:44maka kecukupan kas pemerintah itu harus dilihat secara komprehensif
30:51dengan mempertimbangkan berapa pajak yang masuk,
30:57berapa kepabenan dan cukai yang masuk,
30:59berapa PNBP yang masuk,
31:01dan berapa utang yang diperlukan.
31:02Dan ini adalah sesuatu yang dinamis.
31:05Karena itu Kementerian Keuangan harus bekerja bersama.
31:09Tadi ada yang nanyakan,
31:11Pak, yang Bapak maksud kredibilitas itu apa?
31:16Kredibilitas itu ya itu tadi,
31:18menunjukkan mengelola APBN sebagai suatu sinergi.
31:23Itu saja nggak cukup sebenarnya.
31:25Kalaupun sudah dilakukan sinergi di dalam Kementerian Keuangan,
31:28harus kemudian dilakukan juga sinergi dengan
31:31beberapa lembaga yang lain,
31:35kementerian yang lain,
31:36lembaga yang lain,
31:37pengelola sektor keuangan,
31:39BI, OJK, LPS dalam konteks KSSK,
31:42dengan danantara sebagai sovereign wealth fund kita,
31:49sovereign wealth asset kita.
31:50Jadi adalah kredibilitas dari pengelolaan Republik ini
31:54dibangun di atas fondasi-fondasi yang harus cukup kokoh.
32:00Keseluruhannya adalah dimaksudkan seperti yang slide terakhir saya tadi,
32:05di penutup saya tadi,
32:07APBN yang menumbuhkan,
32:11APBN yang melindungi.
32:13Ini khusus APBN-nya.
32:15APBN yang harus tetap sehat,
32:18harus tetap kredibel,
32:19dikelola dengan baik,
32:22pendapatannya diperkuat,
32:23belanjanya diefisienkan,
32:25dan
32:25defisiennya dikelola secara hati-hati.
32:28Dan teman-teman media tadi telah mendengarkan jawaban dari
32:31para penjabat Kementerian Keuangan
32:33yang berusaha meletakkan
32:35kredibilitas ini.
32:38Karena itu saya ingin
32:42melanjutkan dengan
32:44kalau kita bikin preskon APBN kita kan
32:47bulanan ya.
32:49Nanti di antara bulan demi bulan,
32:52saya akan minta kepada
32:54teman-teman penjabat
32:55Eslon 1
32:56untuk juga menindaklanjuti dengan
32:59detail-detail response.
33:03Kenapa hari ini tetap saya minta dibuka slidonya?
33:06Karena saya ingin kolek
33:09pertanyaan itu.
33:10Dan pertanyaan itu nanti di respons oleh
33:12bisa saya respons,
33:14bisa Pak Wamen Yudha Agung respons,
33:16bisa di respons oleh teman-teman di
33:18unit masing-masing.
33:20Biasanya sih yang paling banyak nanya itu ke
33:22pajak.
33:23Tapi hari ini pajak?
33:25Hah?
33:27Enggak maksudnya
33:28enggak banyak pertanyaan ya.
33:30Banyak ya?
33:30Wah kalau banyak
33:31kita bersyukur
33:32supaya nanti diterangkan
33:34lebih lanjut oleh Pak Bimo.
33:35Setuju enggak semuanya?
33:36Ya? Setuju.
33:38Pak Bimo aja
33:39duluan setuju.
33:40Kalau Pak Bimo setujunya
33:41udah dari dua hari yang lalu ke saya.
33:43Ya kan?
33:44Karena ya jadi artinya
33:45silahkan.
33:47Tetapi ketika kita
33:50menguraikan itu
33:50saya
33:51yakin bahwa seluruh pejabat
33:53Kementerian Keuangan itu
33:54akan menguraikannya
33:55di dalam koridor ini.
33:57Bagaimana kebijakan ini
33:59melindungi?
34:00Bagaimana kebijakan ini
34:01menumbuhkan?
34:02Bagaimana kebijakan ini
34:03menjaga stabilitas?
34:04Karena yang namanya
34:06fungsi kebijakan fiskal itu
34:07adalah
34:08fungsi alokasi
34:09fungsi distribusi
34:12dan fungsi stabilisasi.
34:14Dan ini yang kita
34:15kita detilkan
34:16niat
34:17dari fungsi kebijakan fiskal itu
34:19kita
34:20kita detilkan.
34:21Nah nanti
34:22dia masuk kepada
34:23angka-angka
34:24narasi-narasi
34:26yang
34:26kemudian
34:27harus
34:30dikomunikasikan
34:31dengan baik.
34:32Ini kredibilitas juga.
34:34kami komit
34:35untuk
34:37mengkomunikasikan
34:38ini.
34:40Karena itu tadi
34:41saya katakan
34:41karena bulan lalu
34:42kita belum sempat
34:43melakukan
34:44APBN kita
34:45maka data Juli
34:46saya sampaikan juga.
34:48Saya minta
34:48dikeluarkan.
34:50Tapi cerita kita
34:51adalah lebih banyak
34:51tentang cerita
34:52akhir Agustus.
34:54Karena itu adalah
34:54kondisi yang
34:55terakhir.
34:56Jadi tapi
34:58kalau datanya
34:59tidak ditampilkan
34:59nanti
35:01tidak tuntas
35:03komunikasi kita.
35:04Jadi kita
35:05kami silakan
35:05para analis
35:06bisa mulai melihat
35:07para
35:08teman-teman
35:09pelaku
35:10di media
35:11bisa melihat
35:12media bisa melaporkan
35:13dan seterusnya.
35:15Nah
35:15kalau tentang
35:16topik-topik
35:17tadi saya rasa
35:17sudah dilakukan
35:18tapi saya ingin
35:19membuat
35:20tiga
35:20atau tiga
35:21beberapa
35:22poin
35:23penegasan saja.
35:24Pertama
35:24Pak Prima tadi
35:26sudah menyampaikan
35:26tentang
35:28penempatan
35:29dana pemerintah
35:30dihimbara
35:32prinsipnya
35:33dana pemerintah
35:34yang dihimbara
35:34adalah uang belanja.
35:37Karena itu
35:38Pak Prima
35:39mesti siap
35:40dirjen pembendaraan
35:42harus siap
35:42menaruh
35:43dan menarik
35:44in out
35:45tapi
35:46dilakukan
35:48sedemikian rupa
35:49sehingga
35:49tidak boleh
35:50sampai
35:50mengganggu
35:51stabilitas
35:52ekonomi.
35:54stabilitas
35:54sektor
35:55keuangan
35:55stabilitas
35:56perbankan
35:57karena itu
35:58dibutuhkan
35:59diskusi yang
36:00intens
36:00dengan
36:02timbara kita
36:03dengan dunia
36:04perbankan kita.
36:05Ini yang dikerjakan oleh
36:06Direkturat
36:07Jenderal
36:07Perbendaraan
36:08dan
36:10tadi Pak Prima
36:11telah mengatakan
36:12angkanya
36:13sedikit
36:14299,
36:16sekian
36:16sedikit
36:16di bawah 300.
36:17Ini adalah
36:18bentuk
36:19in out
36:19in out
36:20karena
36:20kita memang
36:21ingin memastikan
36:22ada dampaknya
36:24tetapi
36:25kemudian
36:25prinsipnya
36:26itu adalah
36:27tetap
36:27uang belanja.
36:29Saya ingin
36:30menyampaikan itu.
36:31Kedua
36:32mengenai
36:33penajaman
36:35belanja negara.
36:36Pak
36:37Dirjan Anggaran
36:38tadi telah menyampaikan
36:39dan saya
36:40itu adalah
36:41posisi kita.
36:43Penajaman
36:44belanja negara
36:45itu dilakukan
36:45sepanjang
36:47tahun.
36:48Bukan
36:49hanya di
36:50satu titik
36:51lalu
36:51sudah itu
36:51tidak ada
36:52penajaman lagi.
36:53penajaman itu
36:54bukan berarti
36:55potong
36:56anggaran.
36:57Bukan.
36:58Penajaman
36:59itulah memastikan
37:00bahwa
37:01alokasi yang ada
37:02digunakan
37:03alokasi yang ada
37:04digunakan
37:05dan menghasilkan
37:06output sesuai
37:07dengan rencananya.
37:09Nah jadi
37:09kita
37:11sejak
37:12bulan
37:13September ini
37:14saya sudah
37:15meminta kepada
37:16seluruh
37:17Kementerian Keuangan
37:17terutama
37:18Direkturat
37:18Jenderal Anggaran
37:19mulai lihat
37:21belanja KL
37:24masih ada
37:25itu belanja KL
37:26yang kontraknya
37:27belum
37:28tuntas.
37:29Lihat lagi.
37:31Tapi bukan
37:32berarti kemudian
37:32langsung main
37:33potong
37:34bicara dengan
37:35KL-nya.
37:36Bangun
37:37komunikasi.
37:38Jadi kalau tadi
37:39saya bilang
37:39komunikasi adalah
37:40kredibilitas
37:41bukan hanya
37:41komunikasi
37:42menteri
37:42dengan
37:43setiap
37:44sebulan
37:45sekali.
37:45di dalam
37:47APBN kita
37:48bukan komunikasi
37:49menteri saja
37:49tapi komunikasi
37:51dari setiap
37:52unit
37:52eselon 1
37:53di Kementerian Keuangan
37:54dengan mitra-mitra
37:55kerjanya.
37:57Ini yang saya
37:57maksudkan tadi.
37:59Jadi penajaman
37:59belanja negara
38:00akan kita
38:00lakukan terus.
38:02Tapi jangan
38:03diartikan sebagai
38:04sekedar potong-potong
38:05anggaran.
38:05Bukan.
38:07Bukan.
38:09Karena itu
38:09perlu
38:10kemampuan
38:11bekerjasama
38:12berkomunikasi
38:13yang rapi.
38:14kemudian
38:15saya juga ingin
38:16membuat penekanan
38:17mengenai
38:18Kementerian Keuangan
38:20masih bisa
38:22lapor enggak Pak
38:22ke Kementerian Keuangan?
38:24Bisa.
38:25Berbagai
38:26macam channel
38:27laporan
38:28terbuka.
38:29Laporan pajak
38:31terbuka.
38:32Laporan
38:33kepabianan dan cukai
38:33terbuka.
38:34Biasanya dua ini
38:34yang seru ya.
38:36Laporan
38:37Kementerian Keuangan
38:38secara umum
38:38juga terbuka.
38:40Nanti
38:41karena
38:41kalau saya
38:43tahu ini jadi
38:43concern
38:44kalau perlu kita
38:45buatkan
38:46daftar
38:47channel
38:48untuk
38:49melaporkan
38:50segala sesuatu.
38:51Dan kita akan
38:52kerjakan itu
38:53secara
38:53institusional.
38:55Dan tentu
38:57akan ada yang
38:58nanya nih
38:59Pak
38:59lapor
38:59tapi enggak
39:00ditindaklanjuti.
39:01Saya
39:01punya
39:02inspektur
39:02jeneral
39:03yang saya
39:04minta untuk
39:05melihat secara
39:06keseluruhan.
39:07Kalau
39:08ada
39:08laporan
39:09itu artinya
39:10apa?
39:10dan kemudian
39:12nanti
39:12tentu kita
39:13tindaklanjuti
39:14sesuai ketentuan
39:15yang
39:15ketentuan yang
39:16berlaku.
39:17Channel
39:18laporan
39:18di setiap
39:19unit
39:20eselon 1
39:20dan di
39:21Kementerian Keuangan
39:21Cara Keseluruhan
39:22kita tetap
39:24buka
39:25dan kita
39:26undang untuk
39:27melaporkan
39:28lewat
39:28jalur-jalur
39:29tersebut.
39:30Terakhir
39:31pertanyaan
39:33mengenai
39:33diskusi yang
39:34berkembang
39:35sekarang
39:35mengenai
39:373%.
39:38Saya ingin
39:39membuat
39:40menyampaikan
39:41seperti ini.
39:43Saat ini
39:43kita bekerja
39:44dengan undang-undang
39:45yang ada.
39:46Undang-undang
39:47Keuangan
39:47Negara
39:48Undang-undang
39:4917
39:50tahun
39:502003.
39:52Kita
39:53mempedomani
39:54itu.
39:55Bahwa
39:56wacana
39:58selalu
39:59ada dari
39:59zaman
39:59lalu
40:01selalu
40:01ada.
40:02Namun kami
40:03Kementerian Keuangan
40:03terlaku
40:05pengelola
40:05fiskal
40:06akan tetap
40:06bekerja
40:07dengan undang-undang
40:08yang ada.
40:08Kita
40:09menggunakan
40:103%
40:12sebagai maksimum
40:13defisit
40:14APBN.
40:15Dan
40:15saya
40:16komit
40:16untuk itu.
40:18Karena itu
40:18ketika
40:19mengajukan
40:192027
40:21kita
40:22menggunakan
40:23defisit
40:24estimasi
40:252,4%
40:27dari
40:27produk
40:28domestik
40:28bruto.
40:29Dan inilah
40:30yang disampaikan
40:31oleh Bapak
40:31Presiden kita
40:32di dalam
40:33pidato
40:34ketika
40:36mengantarkan
40:36APBN
40:37dan nota
40:37beserta
40:38nota
40:38keuangannya.
40:39Kami
40:39bekerja
40:40dengan itu.
40:40Karena itu
40:41saya
40:42ingin
40:44memastikan
40:45Kementerian
40:46Keuangan
40:47taat undang-undang
40:48dan kemudian
40:49kalau ada
40:50diskusi
40:51wacana
40:51seperti itu
40:52kami
40:52mohon
40:53itu kemudian
40:54bisa dilakukan
40:55dengan secara
40:56konstruktif
40:57karena
40:58biasanya
40:59sektor
41:00keuangan
41:01ini
41:01punya
41:03cara kerja
41:04yang berbasiskan
41:05bukan hanya
41:06angka-angka
41:07yang ada
41:08di atas
41:08kertas
41:09tapi kadang-kadang
41:10dia bekerja
41:11berdasarkan
41:11ekspektasi
41:14harapan
41:15ekspektasi
41:16nah kita
41:17gak ingin
41:17memberikan
41:17ekspektasi-ekspektasi
41:18yang
41:19kemudian
41:20menyulitkan
41:21pengelolaan
41:22dari fiskal
41:23kita sendiri
41:23jadi saya
41:24ingin
41:26menutup
41:27sekali lagi
41:29acara
41:30APBN
41:30kita pada
41:31hari ini
41:33ini ya
41:33tanggal berapa nih
41:3418 ya
41:3418 September
41:362026
41:38sekali lagi
41:39saya ingin
41:39tutup dengan
41:40saya sengaja
41:41minta ditayangkan
41:42lagi nih
41:42slide penutup ini
41:45ekonomi
41:45Indonesia
41:46resilient
41:46kebijakan fiskal
41:48akan terus
41:50bekerja
41:50menjaga
41:51supaya bisa
41:52menghasilkan
41:53APBN
41:54yang menumbuhkan
41:55APBN
41:56yang melindungi
41:57dan APBN
41:58yang
41:58credible
41:59saya rasa demikian
42:01teman-teman media
42:02terima kasih
42:03untuk teman-teman media
42:04yang sudah
42:05dengan sabar
42:06selama ini
42:07terus
42:07menjalin
42:09dan mendengarkan
42:10seluruh
42:11paparan dari
42:12Kementerian Keuangan
42:12bukan hanya hari ini
42:13tapi yang selama ini juga
42:14dan moga-moga
42:15kita lanjutkan
42:16pekerjaan kita
42:17mengelola ekonomi
42:18Indonesia ke depan
42:19dengan menjadi
42:20ekonomi yang lebih baik
42:21saya langsung tutup
42:22Wassalamualaikum
42:23Warahmatullahi Wabarakatuh
Komentar

Dianjurkan