00:02Ya jadi Pak Soleh, menurut Anda polisi sudah berhasil menenangkan masalah 27 Agustus, satu sisi ada korban jiwa.
00:13Kemenaskan mesti berangkat dari peristiwa yang terjadi, bukan berangkat dari apa yang kita bayangkan terjadi.
00:20Seperti yang kita diskusikan ini banyak yang kita bayangkan terjadi.
00:23Kita berangkat dari cara seperti itu, sehingga cara kami adalah berangkat paling awal adalah untuk melihat korban.
00:35Jadi itu sebabnya kita menyebar tim juga di rumah sakit-rumah sakit.
00:39Tapi kalau menganalisa tindakan yang sudah ada?
00:42Menurut kami, korban ini jauh lebih penting untuk kita perhatikan.
00:46Dan oleh karena itu, fokus pertama kami saat peristiwa 27 Agustus terjadi adalah memperhatikan korban.
00:55Kita tahu banyak hal terjadi kalau seorang seperti Bambang harus meninggal, bukan karena kesalahannya.
01:05Dan itu menimbulkan keluarganya juga kehilangan pencarian.
01:08Pencarian dan kami fokus untuk memulihkan situasi beliau saat ini.
01:15Hasilnya apa, Pak Sorlin?
01:17Temuan Anda apa yang signifikan?
01:19Setidaknya kami pastikan bahwa dia bukan bagian dari demonstrasi.
01:22Bukan bagian dari demonstrasi itu saja poinnya.
01:24Menurut Anda sudah?
01:25Menurut kami penangkapan 300 lebih orang itu dan kemudian dibebaskan hampir seluruhnya,
01:30menunjukkan ada masalah di sana.
01:31Apakah orang-orang ini ditangkap secara random bahwa hak mereka untuk melakukan demonstrasi itu dilanggar oleh aparat?
01:38Jadi ada istilah preventive strike yang sebenarnya tidak ada dasar hukum di dalam acara hukum pindahan kita.
01:45Bukan berarti mereka orang yang berdemonstrasi, karena mereka yang ditangkap itu adalah yang melakukan tindakan anarkis.
01:53Kan sudah dikatakan beda yang demo sama yang anarkis.
01:56Ada yang ditangkap di stasiun, dan ketika kita melisik satu persatu dari 300 orang ini,
02:02ada sebenarnya orang yang tidak terkait sama demonstrasi yang juga ikut diamankan dan dibebaskan pada polisi.
02:07Apa kaitinya?
02:08Terjadi pelanggaran oleh kepolisian.
02:10Itulah setelah itu mereka dilepaskan setelah tidak ada barang bukti.
02:11Apa yang terjadi tahun ini sebenarnya tidak lebih bagus dari apa yang terjadi pada tahun lalu.
02:16Buktinya adalah tidak adanya upaya untuk menggaungkan kembali pembentukan tim gabungan pencari fakta.
02:25Bahwa kegagalan membentuk tim gabungan pencari fakta tahun lalu itu terulang kembali sekarang.
02:32Ada satu orang korban, Pak Bambang, penjual cermin.
02:35Dan ini sampai hingga hari ini kita melihat ada dua proses di kepolisian.
02:40Proses untuk menangkap mereka-mereka yang ditudup rusuh,
02:43dan proses hukum terhadap kematian Bambang.
02:47Sangat cepat polisi menangkap lebih dari 300 orang ketika mengusut apa yang mereka sebut dugaan kerusuhan di aksi demonstrasi.
02:57Tapi untuk Bambang, lima hari baru menghasilkan sketsa.
03:01Orang lempar molotov, tangkep.
03:03Ya gampang.
03:04Lebih gampang daripada membuktikan siapa yang bunuh ini.
03:08Justru komitmen polisi itu kita pertanyaan, kenapa tidak cepat dalam mengusut kasus Bambang?
03:13Kalau main tangkep kasus Bambang, sulit membuktikan kaitan orang ini yang mukul,
03:20tapi kalau orang yang lempar batu ditangkep kan jelas.
03:25Apakah yang 300 tadi itu tidak ada main tangkap juga?
03:27Loh?
03:28Gimana sih?
03:28Buktinya dibibaskan tidak ada terbuhan.
03:30Yang ada barang buktinya saja, molotov, anak panah, airsoft gun, itu baru ditangkep, mas.
03:38Iya, itu kan ada 300 dan kemudian dibebaskan hampir seluruhnya.
03:42Polisi kan punya waktu penangkapan satu kali di luar.
03:44Karena tangkapnya itu gampang, karena mereka tangkap tangan lah istilahnya.
03:49Apakah benar semua tangkap tangan itu harus dibuktikan oleh kepolisian?
03:53Makanya ketika tidak terbukti, dilepasin.
03:56Justru itu boleh, apakah itu?
04:00Apakah boleh menangkap buku?
04:04Menangkap orang sebelum ada tudungan pidananya?
04:06Polisi punya waktu satu kali 24 jam untuk membuktikan.
04:09Tapi mayoritas yang dilepaskan kembali?
04:11Setelah ada barang bukti, saat jam, anak panah, bom molotov, dengan airsoft gun, baru cuma 41.
04:20Dan selebihnya itu tidak ada yang dipukuli, dianiaya.
04:24Kalau tidak ada yang dipukuli, kami menemukan juga banyak fakta mereka anak-anak.
04:28Yang dipukuli, baru yang merusak CCTV juga ditangkap.
04:33Ada yang ada mukanya lebam.
04:35Tolonglah, kompol nas, tolong.
04:36Jadi ini tugas kompol nas sebenarnya untuk mengusut dugaan-dugaan tersebut.
04:40Jadi beneran ada datanya, ada yang melihat, ada yang dipukuli.
04:43Ada, ada laporan yang kami terima.
04:44Kalau begitu, silakan. Silakan itu kalau punya data, kami berterima kasih.
04:49Nah itu di sini tugas kompolnya sebenarnya untuk mengusut ya.
04:52Jadi sebaiknya memang dipilah antara kerusuhannya itu sendiri, riot-nya, dengan kematian Pak Bambang ini.
05:00Nah kematian Pak Bambang ini sebaiknya kita bikin tim pencari fakta.
05:05Kita ketuanya Rai Rangkuti, gitu.
05:08Karena saya sudah bosen.
05:10Tapi kira-kira, Prof. Kiki, tahun lalu pun TGVF tidak dibentuk.
05:13Tahun ini bagaimana menurut Anda optimis akan dibentuk?
05:15Saya di luar kota, saya nggak tahu.
05:17Eh itu kewajibannya Rai itu, kenapa nggak bisa dibikin?
05:21Karena Rai tidak menuntut.
05:23Mas Kiki, di sini masih ada kompol nas, masih ada komnas HAM.
05:27Kan kita semua, kan kita semua tidak percaya.
05:30Jangan terlalu banyak kita buat tim-tim.
05:32Bukan, kita kan tidak percaya kompol nas, tidak percaya komnas HAM.
05:37Kita percaya Rai Rangkuti.
05:38Kenapa, ya?
05:39Silahkan bentuk.
05:40Saya nanti pengawas, karena saya lebih pengalaman.
05:43Oke, baik.
05:44Mas Nova, dari sejumlah sentimen masyarakat tadi, ada yang menangis, ada yang marah.
05:52Nah, jadi apa yang ekspektasi masyarakat setelah mereka mencurahkan emosional mereka di media sosial?
06:01Apa harapan mereka dalam kasus kematian Pak Bambang?
06:04Jelas sebenarnya apa yang diinginkan publik ialah pengusutan yang jelas, yang lengkap dan tuntas tentang siapa dalang yang membuat kematian
06:16Pak Bambang ini.
06:17Jadi bukan cuma perator lapangannya saja, tetapi juga siapa yang memberikan ide, yang mengumpulkan dan sebagainya.
06:27Tapi selain itu juga, publik juga sebenarnya, atau sebelum ini ya, tadi banyak sekali dikatakan banyak ada kesamaan-kesamaan.
06:36Sebenarnya di media sosial terlihat jelas, pola-pola untuk membuat kerusuhan itu terjadi.
06:44Ini terjadi sepanjang Agustus dan ada pada hari-hari tertentu, dia ada spike, ada percakapan-percakapan yang sangat tinggi, sekitar
06:5314 sampai 18 Agustus misalnya.
06:55Ada kenaikan percakapan yang sangat tinggi untuk mengompori keramaian Agustus.
07:00Lalu ada lagi percakapan yang tinggi juga pada tanggal 24 sampai tanggal 26 Agustus.
07:07Dan di situ narasinya itu sudah berbeda.
07:10Kalau tanggal 18 Agustus narasinya adalah mungkin ada kerusuhan, tanggal 25 Agustus itu narasinya sudah mempersiapkan untuk ini pasti akan
07:20ada kerusuhan.
07:21Tanggal 25-26.
07:23Jadi publik itu sudah disuguhi dengan berbagai macam ketakutan-ketakutan.
07:27Sehingga pada tanggal 27 siang ketika teman-teman dari MPB pulang, saya kira kemudian bertanya-tanya tuh, loh ini kok
07:37jadinya gak ada kerusuhan kayak gitu kan.
07:39Kemudian baru soalnya terjadi kerusuhan dan ya begitulah.
07:43Nah dari serangkaian ini kemudian kita belajar juga dari 2025 Agustus kemarin, polanya tuh mirip, sama betul di media sosial.
07:53Kalau polanya sama, bisa, seharusnya bisa diantisipasi kayak gitu.
07:58Kalau antisipasinya ternyata gagal, ya kenapa bisa gagal?
08:02Nah pertanyaan-pertanyaan ini yang banyak disampaikan oleh publik.
08:05Jadi tidak berhenti pada Bambang, tetapi juga kenapa ini bisa berulang?
08:10Jadi perlu dibentuk tim independen atau serahkan saja ke lembaga-lembaga terkait?
08:14Nanti dijawab segera bersama kami di Bola Liar, saudara.
08:17Terima kasih.
Komentar