Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyebut ia tak tahu kapan dan bakal seperti apa akhir konflik Iran dan Amerika Serikat. Vance juga menyoroti serangan Iran terhadap kapal di Hormuz yang dinilai masih berdampak pada pasar energi global.

Lalu, bagaimana penyelesaian perang di Timur Tengah? Kita bahas bersama pengamat Timur Tengah, Mahfuz Sidik.

#IRAN #AS #PERANG #KONFLIK

Baca Juga 230 Siswa Diduga Keracunan MBG di Agam, Pemkab Tunggu Hasil Uji Lab | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/689066/230-siswa-diduga-keracunan-mbg-di-agam-pemkab-tunggu-hasil-uji-lab-sapa-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/689070/full-pengamat-timur-tengah-soroti-serangan-iran-terhadap-kapal-hormuz-sapa-malam
Transkrip
00:00Dua hari usai serangan Amerika Serikat situasi di Teluk Persia dan kota pelabuhan Bandar Abbas kembali tenang.
00:10Konflik antara Amerika Serikat dan Iran sempat memanas pekan ini setelah militer Amerika menyerang peluncur roket Iran di sebuah pulau
00:18di Selat Hormuz.
00:20Sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz berada di bawah level sebelum perang.
00:25Karena risiko serangan Iran terhadap kapal-kapal yang tidak mematuhi sistem pemeriksaan mereka.
00:31Namun pasokan minyak dalam jumlah besar tetap mengalir melalui Selat Hormuz, melalui perdagangan shuttle.
00:40Di mana operator kapal tanker mengambil risiko menggunakan rute selatan dekat pantai Oman di bawah bimbingan pasukan AS.
00:57Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menyebut akhir konflik Iran dan Amerika Serikat bergantung pada situasi Selat Hormuz.
01:08Ia menyoroti serangan Iran terhadap kapal komersial yang dinilai masih berdampak pada pasar energi global.
01:16Vance juga menyebut operasi tempur utama AS telah menghancurkan fasilitas nuklir serta militer Iran.
01:25Terima kasih telah menonton!
02:07Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menyebut ia tak tahu kapan dan bakal seperti apa akhir konflik Iran dan
02:14Amerika Serikat.
02:15Vance juga menyoroti serangan Iran terhadap kapal di Hormuz yang dinilai pasti berdampak pada pasar energi global.
02:23Lalu bagaimana penyelesaian perang di Timur Tengah? Kita bahas bersama pengamat Timur Tengah, Mahfuz Siddiq.
02:30Selamat malam Pak Mahfuz, terima kasih sudah hadir. Jumpa lagi.
02:34Selamat malam Pak Mahfuz, terima kasih banyak mengundang saya.
02:37Pak Mahfuz, kalau J.D. Vance ini seolah menyeratkan akhir perang ditentukan oleh sikap Iran.
02:44Tapi kalau dengan kondisi sekarang, apalagi setelah serangan Amerika Serikat di pekan ini dengan berbalas serangan dari Iran, tampaknya ini
02:52masih jauh ya?
02:54Ya, saya kira apa yang disampaikan oleh Wapres Amerika Serikat menggambarkan bagaimana situasi psikopolitik di Amerika Serikat
03:04yang mereka tidak tahu bagaimana mengakhiri perang yang sudah pasti tidak bisa mereka menangkan.
03:09Dan kalau kita lihat misalnya serangan militer Amerika pada sepekan terakhir ini, yang kemudian menyasar korban masyarakat sipil,
03:18ini semakin membuat resistensi di dalam negeri Amerika menguat, meluas, dan juga tekanan isolasi terhadap Amerika dari berbagai dunia,
03:29termasuk sekutu mereka di Eropa misalnya, ini juga akan semakin memuat.
03:35Jadi langkah ini memang langkah yang ternyata tidak membuahkan hasil positif, tapi justru semakin menambah tekanan.
03:41Dan yang kedua, ketika kemudian Trump melalui Menteri Keuangannya mengumumkan tekanan ekonomi total terhadap Iran,
03:49kan pertanyaan pentingnya adalah apakah ini akan diikuti oleh negara-negara di dunia untuk kemudian tidak lagi berhubungan secara ekonomi
03:57dengan Iran.
03:59Kalau kita lihat fakta yang terjadi misalnya, kan dalam satu pekan ini masih ada sekitar 5 sampai 13 kapal yang
04:07keluar masuk Selat Hormuz,
04:09dan ternyata itu atas koordinasi dengan Iran.
04:12Artinya masih ada negara, misalnya oke lah kita batasi misalnya Irak, itu masih punya kesepakatan, punya koordinasi dengan Iran
04:21untuk pengiriman minyak lewat kapal di Selat Hormuz.
04:26Dan itu mengindikasikan bahwa Iran misalnya dalam kasus ini itu tidak mematuhi apa yang diperintahkan oleh Amerika Serikat.
04:34Jadi saya kira Amerika dengan tekanan-tekanannya baik secara ekonomi ataupun militer terakhir ini,
04:39itu tidak menghentikan perang dan tidak juga mampu menekan perlawanan pihak Iran,
04:46termasuk juga tidak bisa membuka Selat Hormuz.
04:49Jadi kalau ditanya kira-kira akan seperti apa, ini akan menjadi konflik yang berkepanjangan
04:55walaupun tidak akan terjadi pertempuran dalam skala yang besar.
04:59Dan Amerika Serikat, terutama Presiden AS Donald Trump bilang juga bahwa
05:04sudah habis angkatan perangnya Iran, tidak tersisa apa-apa.
05:08Tapi kalau lihat faktanya, Iran masih tetap bisa melawan ya?
05:12Ya, retaliasi yang dilakukan Iran terhadap pangkalan Amerika Serikat di Jordan dan di Kuwait,
05:20ini kan lagi-lagi membuktikan bahwa kapasitas militer Iran masih tetap mumpuni
05:26dan mereka bahkan mengembangkan teknologi baru untuk persiapan atau antisipasi serangan militer gabungan Amerika
05:34dengan Israel terhadap Iran.
05:37Jadi saya kira semua klaim yang disampaikan oleh baik Hexed, Menteri Pertanian Amerika,
05:43ini di lapangan kemudian terbukti kebalik liru dan ini semakin menekan Amerika secara politik
05:50baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
05:53Jadi saya kira Iran juga terus dalam posisi tangan di atas ya untuk memberikan ke kanan
05:59termasuk di dalam memberikan lampu hijau bagi lalu lintas kapal-kapal di Selat Hormuz.
06:05Walaupun kalau kita lihat ya, Presiden Trump itu kan menklaim bahwa kapal-kapal yang bisa lalu-lalang di Selat Hormuz
06:12walaupun jumlah sangat terbatas, ini karena keberhasilan kontrol dari Amerika melalui Senkom.
06:18Tapi nyatanya kalau kita lihat ini adalah hasil koordinasi pihak IRGC Iran dengan negara-negara terkait
06:25yang diantaranya mereka justru membawa keluar minyak Iran lewat kapal-kapal negara lain khususnya Iran.
06:32Tapi bicara soal eskalasi sekarang kan ada di beberapa fase pertarungan adanya di Selat Hormuz saja fokusnya.
06:41Tapi sekarang misalnya menyasar rumah warga yang sedang mengadakan pesta pernikahan,
06:47ada warga sipil yang jadi korban.
06:49Ini apakah bukan bisa memantik konflik lebih besar lagi?
06:52Karena seakan-akan kembali ke fase awal perang ini terjadi Pak Mahfuz?
06:57Ya, kita masih ingat ketika serangan militer Amerika, serangan udara militer Amerika
07:03menyasar sekolah yang menewaskan 165 siswi sekolah tingkat dasar,
07:13ini kan terjadi reaksi yang sangat luas di berbagai negara termasuk di dalam negeri Amerika Serikat sendiri.
07:20Nah, peristiwa berikutnya yang baru saja terjadi ketika sasaran militer ini menyasar
07:26satu acara pesta perkawinan dan menewaskan cukup banyak warga sipil,
07:31ini juga menambah kembali reaksi dan resistensi masyarakat di berbagai kalangan.
07:37Karena mereka melihat bahwa Amerika sudah tidak lagi mampu melakukan serangan militer secara presisi
07:44terhadap target-target militer Iran.
07:46Dan kalau kita lihat bisa saja diharapkan ada reaksi balik yang kuat dari Iran.
07:52Tapi kalau kita lihat apa yang dilakukan oleh Iran, mereka justru mampu menahan diri
07:58untuk tidak melakukan retaliasi secara berlebihan, retaliasi yang terukur
08:03dengan menyasar instalasi militer di Jordan dan di Kuwait.
08:08Tapi pada yang sama, kalau kita lihat, mereka terus melakukan propaganda
08:14untuk mengeksploitasi isu pemboman prosesi pernikahan warga sipil ini.
08:21Jadi saya kira ini tambahan tekanan bagi pihak Amerika.
08:24Dan kalau dalam kondisi sekarang, perlindungan untuk keluarga sipil,
08:28apa yang bisa dilakukan ya?
08:29Karena serangan itu kan acak, tidak ada tanda-tanda.
08:33Apa yang bisa diwanti-wanti dalam hal ini, Pak Mahfuz?
08:39Ya, kalau kita lihat apa yang dilakukan oleh pemerintah Iran,
08:43ini kan sekarang mulai melakukan mobilisasi umum
08:47untuk mengantisipasi jika terjadi serangan darat dalam waktu dekat.
08:54Dan di antara cara untuk melakukan mobilisasi warga sipil ini,
08:58selain wajib militer, adalah dengan membangun satu doktrin, satu dogma,
09:04bahwa setiap warga sipil yang jadi korban,
09:08ini akan menjadi bahan bakar untuk menguatkan semangat juang mereka
09:13dan semangat perlawanan mereka.
09:14Jadi saya kira terlepas bahwa korban rakyat sipil di Iran ini
09:19sesuatu yang sangat memprihatinkan,
09:21tetapi bagi pemerintah Iran sendiri,
09:24ini menjadi bahan bakar tambahan bagi semangat juang mereka,
09:27bagi semangat perlawanan mereka.
09:30Artinya semakin acak sasaran serangan dari militer Amerika
09:34dan lebih banyak menyasar warga sipil,
09:36itu justru akan berdampak positif bagi masyarakat dan pemerintah Iran,
09:41tapi justru menjadi pukulan balik bagi militer Amerika dan pemerintahnya.
09:45Dan Amerika Serikat tapi tidak punya opsi untuk mundur sejauh ini ya,
09:49tapi klaim kemenangan sepihak,
09:52misalnya Donald Trump yang memuji Pete Hexed,
09:54lalu juga Trump yang memuji bagaimana Amerika Serikat bisa mengalahkan Iran,
09:59itulah yang kita lihat perkembangan narasinya beberapa waktu ini ya.
10:02Saya kira kacamata Presiden Donald Trump adalah pada pemilu selah di November.
10:09Kacamatanya akan fokus ke sana.
10:11Sehingga semua langkah yang harus dilakukan,
10:14termasuk semua klaim yang harus dilakukan,
10:17ini diarahkan untuk bisa menjaga probabilitas kemenangan
10:22atau daya tahan mereka di dalam pemilu selah.
10:25Karena kalau misalnya dalam pemilu selah,
10:28yang terjadi justru kontra narasi,
10:30dan kemudian mengakibatkan gugurnya perolehan kursi dan suara Republik,
10:37saya kira itu akan menjadi titik balik yang serius bagi pemerintahan Trump.
10:43Dan sangat mungkin akan ada perlawanan yang semakin kuat dari Kongres
10:47dan juga dari Senat yang memungkinkan mereka kemudian memerintahkan penghantian perang,
10:52yang itu artinya kekalahan total bagi Trump.
10:55Jadi saya kira mulai dari klaim kemenangan dan klaim kontrol Serat Hormuz,
11:02lalu kemudian serangan militer yang terakhir ini,
11:04sampai kemudian tekanan ekonomi terhadap Iran,
11:07saya kira itu adalah ikhtiar atau upaya terakhir dalam keputusasaan mereka
11:12untuk memastikan pemilu selah November yang akan datang,
11:15Republikan ini masih bisa bertahan.
11:18Lagi-lagi tidak terpisahkan dari faktor pemilu selah bagi Amerika Serikat.
11:23Terima kasih.
11:23Tapi itu juga terjadi di Israel, karena Oktober ini kan ada pemilih juga.
11:28Terima kasih Pak Mahfuz, Mahfuz Sidik, pengamati Murtengah,
11:31sudah dari Sapa Indonesia Malam. Terima kasih Pak.
Komentar

Dianjurkan