Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyampaikan pesan melalui filosofi Jawa saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyampaikan filosofi Jawa "lamun siro sekti ojo mateni" yang berarti meskipun memiliki kesaktian atau kekuasaan, seseorang tidak boleh menjatuhkan atau membunuh orang lain.

Jokowi menekankan, kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menjatuhkan pihak lain. Menurutnya, menggunakan kekuasaan yang besar untuk kepentingan tersebut merupakan tindakan yang tidak baik.

Pesan tersebut disampaikan Jokowi sebagai bagian dari refleksi nilai kehidupan dan kepemimpinan yang terkandung dalam filosofi Jawa.

#jokowi #filosofijawa #kebumen #maulidnabi #politik #kepemimpinan

Baca Juga Momen Akrab Jokowi-PM Timor Leste Bertemu di Solo, Makan Bersama hingga Xanana Beri Pujian di https://www.kompas.tv/nasional/689033/momen-akrab-jokowi-pm-timor-leste-bertemu-di-solo-makan-bersama-hingga-xanana-beri-pujian

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/689037/jokowi-singgung-kekuasaan-tak-boleh-menjatuhkan-siapa-yang-ia-maksud-parosot
Transkrip
00:00Yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang boten, itu hal yang tidak baik.
00:08Yang pertama, lamun siro sakti ojo mateni.
00:16Meskipun kamu sakti jangan suka menjatuhkan atau membunuh.
00:27Tidak boleh mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang boten, itu hal yang tidak
00:39baik.
00:45Termasuk Bapak Ibu semuanya juga jangan seperti itu, mentang-mentang jadi lurah kemudian ke rakyatnya, bakbuk-bakbuk-bakbuk.
00:59Sering mengendikok banter, sering mengendikok kasar ke rakyat, tidak boleh.
01:06Karena kekuasaan itu hanya sementara, kekuasaan itu hanya sampiran, jabatan itu hanya sampiran.
01:16Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan.
01:21Kan katanya harus membatasi kekuasaan itu sementara.
01:26Sementara ini publik juga melihat bahwa Jokowi itu punya agenda-agenda politik.
01:34Artinya tidak berhenti yang katanya mau pulang ke Solo, tapi tetap melakukan safari politik.
01:43Jokowi punya kepentingan, seperti saya bilang, Jokowi punya kepentingan karena anaknya Wapres, karena anaknya Ketua Umum Partai, karena menantunya Gubernur
01:56Sumatera Utara.
01:57Jadi orang melihat ada agenda-agenda politik, sehingga ini tidak bisa dikatakan hanya pidato moral dan keagaman semata.
02:08Nuansa politiknya sangat kental, dia makhluk politik.
02:12Bukan makhluk moral.
02:14Ini kan bicara tentang budaya Jawa.
02:18Budaya Jawa itu seperti ketika menunjuk jari itu ke depan, kemudian empat jari ke dalam.
02:28Artinya sesungguhnya ini adalah refleksi dari dirinya sendiri.
02:33Jadi kalau kita mengeritik orang, kita harus juga melihat siapa diri kita.
02:40Ini bicara tentang kekuasaan.
02:43Jokowi ini bukan makhluk moral, tapi dia adalah makhluk politik.
02:49Tentu ini ada pesan-pesan yang disampaikan.
02:52Pertama kalau kita lihat dari perspektif ilmu politik, maka harus dipahami dulu bahwa ketika bicara mengenai kekuasaan, ketika bicara mengenai
03:05pengaruh kekuasaan, ketika dia bicara tentang perilaku orang, ini dia sudah bicara tentang politik.
03:15Maka di dalam politik jelas, ini bukan semata-mata ketika dia tampil bicara soal moral semata.
03:26Bukan bicara soal keagamaan semata.
03:29Walaupun itu dilakukan di sebuah pesantren di Kebumen.
03:34Di acara Maulun Nabi.
03:36Ini ada pesan yang disampaikan kepada kekuasaan.
03:41Kekuasaan itu bisa saja artinya lembaga, kelembagaan ya.
03:46Kelembagaan itu dari mana dia memberikan contoh itu lurah.
03:51Kalau ingat nggak dulu siapa sih yang sering disebut lurah, Pak Lurah?
03:56Ya dirinya sendiri juga.
03:58Artinya sang penguasa.
04:00Maka bisa juga ini pesan kepada lembaga-lembaga penegak hukum, kepada eksekutif, kepada parlemen, dan juga jangan salah, kepada presiden.
04:15Artinya ini dia sedang berbicara, ada pesan politik yang ingin disampaikan.
04:22Ini kan bukan semata-mata pada tanggal 29 Agustus saja.
04:28Kita harus tarik mundur.
04:3227 sebelum 27 Agustus ada pembicaraan apa?
04:38Maka kalau saya lihat, dia bicara kekuasaan padahal dia sendiri baru lengser dari kekuasaan.
04:47Dia sedang menarasikan bahwa dia sesungguhnya masih punya pengaruh politik.
04:54Saya sepenuhnya barangkali tidak setuju dengan Bung Selamet ya.
04:58Pertama adalah saya tidak pernah menganggap mahluk politik itu negatif.
05:01Saya sendiri adalah seorang pelaku politik.
05:03Walaupun saya sudah keluar dari Partai PSI ya, tapi saya adalah seorang pemain politik.
05:08Apakah itu buruk? Apakah itu jahat? Enggak.
05:11Enggak mesti dong, enggak dengan sendirinya.
05:13Tapi kembali ke apa yang tadi Anda katakan.
05:17Saya tidak ingat ya, tidak ingat sepenuhnya tentang apa yang Anda gunakan sebagai contoh-contoh tadi ya.
05:24Tapi bahwa misalnya Anda menggunakan contoh hadis asar.
05:26Hadis asar itu yang melaporkan ke polisi bukan Pak Jokowi.
05:31Pak Jokowi tidak pernah melaporkan siapapun yang mengkritik dia.
05:36Ya, tapi kan pakai atas nama relawan atau pakai nama yang lain.
05:39Itu kan gampang.
05:40Bukan.
05:40Tinggal laporan masyarakat.
05:42Bukan. Anda tanya, ya kebetulan saya cukup kenal Pak Jokowi.
05:46Dia tuh enggak suka apa-apa dilaporin, apa-apa dilaporin.
05:50Makanya kemudian dia bikin permintaan.
05:53Itu yang namanya undang-undang ITE dimenerin dong isinya.
05:56Masa karena pencemaran nama baik orang bisa dipenjara?
05:59Itu yang dia lakukan pada saat itu.
06:02Nah, jadi Haris Asar itu yang mengelaporkan bukan relawan.
06:07Yang melaporkan itu adalah LBP.
06:10Dan itu pun kemudian di pengadilan kalah kok LBP-nya.
06:14LBP itu lukut.
06:15Dia sama sekali tidak, dia tidak seportif terhadap gagasan untuk memenjarakan orang melalui kekuasaan.
06:22Dia itu menganggap bahwa seharusnya kekuasaan itu tidak dipakai.
06:25Memang untuk orang-orang yang berseberangan dengan si orang yang berkuasa.
06:30Oke, saya ngerti maksudnya.
06:31Bahwa Pak Jokowi ingin mengatakan bahwa kekuasaan itu tidak untuk mengkriminalisasi orang-orang.
06:38Persis, persis.
06:39Dan sekarang dalam beli ini, ini interpretasi saya ya.
06:43Saya enggak pernah tanya sama Pak Jokowi.
06:45Tapi interpretasi saya adalah, beliau adalah sebagaimana juga saya.
06:50Itu adalah orang-orang yang agak khawatir nih dengan kondisi politik kita sekarang.
06:54Karena kita mendengar berulang kali, bukan Pak Prabowo-nya ya.
06:57Tapi orang-orang di sekitar Pak Prabowo agak sensitif nih.
07:01Ketika mendengar ada kritik, itu langsung bereaksi dengan misalnya meminta agar orang itu berhenti bicara.
07:08Kami sendiri mengalaminya ya.
07:10Ketika kami misalnya sebagai pendukung Pak Prabowo, itu mengeritik kebijakan-kebijakan Pak Prabowo.
07:16Atau misalnya, yang paling gampang lah bahwa seringkali Pak Prabowo itu mengucapkan kata-kata yang
07:21barangkali tidak semestinya.
07:23Antara lain karena alasan sederhana.
07:25Pertama, barangkali dia karena pengen bercanda.
07:27Tapi jadinya malah menimbulkan.
07:29Apa tuh?
07:31Apa yang terakhir dia bicara tentang endasmu gitu ya misalnya.
07:37Boleh gak saya menggunakan kata bajingan gitu ya.
07:40Ya itu pasti gak serius-serius amat ya.
07:42Cuman diangkat dan, tapi kemudian itu kan di ruang publik.
07:45Ruang publik itu ditangkep, kemudian digoreng oleh mereka yang menyerang Pak Prabowo ya.
07:49Nah dan beberapa kali lainnya, dan kali lainnya adalah karena dia salah ngomong aja kan.
07:54Salah ngitung kan, 10 tambah 6 tuh berapa ya gitu ya.
07:58Makanya saya termasuk orang yang misalnya bikin video untuk mengatakan,
08:01Pak lain kali kalau ngomong di depan publik, gunakan sebuah naskah.
08:05Naskah itu dibikin oleh tim yang kuat.
08:08Dan sekarang ternyata orang mulai mengampilkan video di mana Pak Prabowo bilang,
08:12Nih saya disuruh baca nih ya.
08:14Terus males lah dibaca gitu kan.
08:17Nah, orang semacam ini itu sangat rentan untuk dikritik pasti.
08:22Orang semacam ini sangat rentan untuk digoreng kalau pakai istilah kita sekarang ya.
08:27Nah, Pak Prabowo-nya kelihatan ini sih gak masalah.
08:30Saya duga, saya duga keras lah ya.
08:32Pak Prabowo itu tidak pernah kemudian marah karena, kok kalian mengkritik saya karena gara-gara ini sih?
08:39Tapi for your fact, untuk Anda ketahui, timnya ada yang begitu.
08:45Yang menegur, mengingatkan, lebih dari mengingatkan lah ya.
08:49Lebih katakan pada beliau bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Jokowi itu bukan untuk mengingatkan yang sedang berkuasa sekarang,
08:55tapi justru refleksi tentang dirinya saat berkuasa.
08:59Ya, ada dalam kasus undang-undang ITE misalnya Haris Ashar kenap.
09:04Kemudian soal aktivis lingkungan juga kenap.
09:08Akhirnya kemudian pengadilan membebaskan mereka.
09:12Artinya kan tudingan itu gak benar.
09:15Kemudian juga dalam kasus undang-undang cipta kerja.
09:19Kasus sah ganda nenggolan.
09:21Jumhur hidayat.
09:22Artinya saat itu ada juga orang yang dipidana karena mengkritik pemerintahan di zaman Pak Jokowi.
09:27Ada.
09:28Kemudian juga Maizhen Purnawirawan Sunarko.
09:33Dan banyak sekali.
09:35Dan itu fakta-fakta menurut saya.
09:37Jadi ini kritik memang kritik terhadap kekuasaan.
09:41Siapapun yang berkuasa harus dikritik.
09:44Karena itu sekarang Jokowi sedang mengkritik Prabowo.
09:49Itu pesan implisitnya.
09:51Memang tidak mengatakan langsung bahwa ini Prabowo.
09:56Kenapa?
09:57Karena memang punya kepentingan yang sama.
10:00Ada orkestrasi yang sama tapi mungkin kepentingannya berbeda.
10:04Tapi saya mau kembali yang ke tadi ya.
10:08Misalnya bahwa Pak Jokowi juga melakukan hal yang sebelumnya dia kritik.
10:12Saya mau tanya nih Bung Selamat Ginting ini udah ngeritik Prabowo Jokowi.
10:16Sejak kapan?
10:18Sejak Jokowi masih jadi presiden.
10:20Dia diganggu gak?
10:21Sama sekali enggak.
10:23Roy Suryo itu udah menghina-hina Pak Jokowi sejak kapan?
10:26Sejak Pak Jokowi masih jadi presiden.
10:29Ketika dia menjadi presiden dia ganggu gak Roy Suryo?
10:32Gak pernah bahwa sekarang dia melakukan, melaporkan.
10:38Itu kan betul-betul persis karena dia sudah mundur dari, bukan mundur.
10:42Dia sudah turun dari jabatannya.
10:44Ya kita sesama warga negara nih.
10:46Eh si Roy Suryo masih juga bilang kamu itu ijazanya palsu.
10:50Kamu itu ijazanya palsu.
10:5199,9 persen menurut saya ijazanya palsu.
10:54Tapi kita gak usah masuk ijazalah kepanjangan.
10:56Enggak, saya mau bilang bahwa Pak Jokowi itu tidak menggunakan kekuasaan yang dia miliki
11:02untuk menghabisi Jokowi, Selamat Ginting, Dokter Tifa, dan siapapun.
11:06Tidak dia lakukan.
11:08Jadi ketika dia berkuasa pun, dia sebetulnya menerapkan prinsip yang dia sekarang ajarkan kepada kita semua.
11:15Jangan pernah gunakan kekuasaanmu untuk menghabisi lawan.
11:19Di dalam pidato Jokowi di Kebumen itu memang betul mengandung pesan moral.
11:28Jelas, itu budaya Jawa yang dia kemukakan.
11:31Tetapi di dalam demokrasi tentu saja tidak boleh berhenti hanya pada keindahan pesan semata.
11:40Maka pesan itu harus diuji terhadap rekam jejak kekuasaan seseorang.
11:47Harus diuji terhadap rekam jejak seseorang, terutama si pemberi pesan.
11:53Pemberi pesan yaitu Jokowi.
11:55Nah kemudian dari sinilah kita melihat bahwa ini seperti senjata makan Tuhan bagi Jokowi.
12:02Mengapa saya katakan itu?
12:04Karena ini relevan.
12:06Mengapa relevan?
12:08Tentu saja bukan karena Jokowi tidak boleh memberikan nasihat.
12:12Tidak boleh memberikan pesan.
12:15Justru karena ia pernah memegang jabatan ini baru lengser sekitar 10 bulan.
12:23Eh sorry, hampir 2 tahun yang lalu.
12:25Maka kekuasaan selama 10 tahun itu.
12:30Bahkan saya tidak menghasilkan.
12:31Jadi orang kalau baru lengser 2 tahun tidak boleh memberikan petua gitu?
12:33Boleh, tapi kan harus dilihat, diuji juga dari rekam jejaknya.
12:42Cara baru nonton di Smart TV.
12:45Nonton live streaming dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
12:51Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
12:55Cari Kompas TV melalui pencarian.
12:58Pilih aplikasi lalu install.
13:00Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
13:06Download Kompas TV apps di TV kamu sekarang juga.
13:10Dan jujurnya考''
13:101
13:102
13:113
Komentar

Dianjurkan