Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Petuah Joko Widodo soal kekuasaan kembali menjadi sorotan.
Mantan Presiden Jokowi sebelumnya mengingatkan agar kekuasaan yang besar tidak digunakan untuk menjatuhkan orang lain.

Namun, pesan tersebut dipertanyakan karena Jokowi dinilai baru sekitar dua tahun meninggalkan kekuasaan, setelah memimpin Indonesia selama 10 tahun.

Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua, Ade Armando, menilai anggapan bahwa Jokowi kini mengkritik sesuatu yang pernah ia lakukan saat berkuasa, muncul karena adanya ketidakpercayaan terhadap Jokowi.

Ade bahkan mempertanyakan, apa bukti Jokowi pernah menggunakan kekuasaannya untuk menghabisi pihak lain.

Ade juga menyinggung soal hubungan Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto.

Namun, pandangan berbeda disampaikan Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting.

Menurut Selamat, pesan atau petuah dari seorang mantan penguasa tetap perlu diuji dengan melihat rekam jejak pemberi pesan.

Selamat menilai, pernyataan Jokowi soal kekuasaan justru bisa menjadi bumerang bagi dirinya.

Sebab, Jokowi baru sekitar dua tahun meninggalkan kekuasaan setelah memimpin selama satu dekade.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/iUAlhRmHMEs?si=rgB1htAhQRICHoYF



#jokowi #prabowo #adearmando

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/688949/debat-ade-armando-soal-petuah-jokowi-pengamat-sebut-senjata-makan-tuan-rosi
Transkrip
00:00Terima kasih Anda masih di Rosi. Kita sedang membicarakan soal apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Jokowi, kekuasaan jangan dipakai
00:10menjatuhkan orang.
00:11Saya masih bersama pengamat politik dan militer Universitas Nasional Dr. Selamat Ginting dan Ketua Pergerakan Indonesia untuk semua, Dr. Ade
00:19Armando.
00:23Saya mau sedikit lagi kemudian mencoba mengingatkan apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Jokowi, yaitu Lamun Siro Sakti Ojo Mateni,
00:35mohon maaf semoga saya dapat mengucapkannya ini dengan baik.
00:38Lamun Siro Pinter Ojo Mintri, Lamun Siro Banter Ojo Disiki, kalau kamu sakti atau punya kekuasaan besar, jangan suka menjatuhkan
00:48atau merugikan orang lain.
00:51Lamun Siro Pinter Ojo Mintri, jika kamu pintar dan cerdas, jangan merasa paling pintar untuk memperdaya atau merendahkan orang lain.
00:58Lamun Siro Banter Ojo Disiki, meskipun kamu mampu bergerak atau berjalan cepat, jangan suka mendahului atau melompati aturan dan hak
01:07orang lain dengan semena-mena.
01:09Sebuah petua yang baik untuk kekuasaan, tapi kemudian malah dipersepsikan, ah dulu juga waktu berkuasa melakukan hal yang sama, itu
01:21kira-kira mengapa petua ini kemudian tidak secara jenuin dapat diterima dengan baik.
01:28Karena pada waktu Pak Jokowi berkuasa selama 10 tahun, ia melakukan hal yang sebenarnya sedang ia kritik saat ini.
01:35Saya nih, nggak ada. Kalau orang yang berpikiran begitu menurut saya, saya cuma karena emang udah punya ketidakpercayaan aja.
01:46Jadi it started from, ya nggak percaya aja sama Pak Jokowi, dia ngomong apapun juga salah.
01:55Ijazahnya aja ditanyain gitu ya.
01:57Nah, dalam hal ini misalnya pertanyaan Anda nih ya, ketika dia berkuasa, Anda juga bilang tadi kan, Anda sekarang ngeritik
02:04orang yang berkuasa sekarang.
02:06Ketika Anda dulu berkuasa, Anda juga begitu.
02:09Saya akan tanya yang mana, yang mana bahwa Pak Jokowi itu menggunakan kekuasaannya untuk menghabisin orang lain?
02:17Nggak ada.
02:17Saya persempit. Apa yang dikatakan Bung Selamat Ginting adalah memberikan pidato ini sebenarnya untuk menjaga lingkaran keluarga Pak Jokowi yang
02:27ada dalam kekuasaan dan supaya tidak apa, supaya tetap membersamai Pak Prabowo dan jangan ditinggalkan.
02:33Jangan lagi terulang kursi wakil presiden itu bersama kursinya Menko, harusnya disamping oleh, disamping presiden.
02:40Nggak, saya nggak percaya.
02:42Sebenarnya dalam wawancara dengan Tempo sudah jelas, Jokowi juga sudah memberikan isyarat-isyarat bahwa, misalnya kalimat begini.
02:49Saya juga sudah agak jarang nih ngobrol sama Pak Prabowo, dia jarang ketemu.
02:54Itu kan represents bahwa dulu orang menganggap dia betul-betul Dwi Tunggal nih.
03:01Dia selalu ada bersama-sama Pak Prabowo.
03:03Siapa yang Dwi Tunggal maksudnya?
03:04Bukan Dwi Tunggal. Jadi Pak Jokowi itu selalu berada bersama Pak Prabowo.
03:08Kalimat yang terakhir itu menunjukkan bahwa sebetulnya nggak gitu-gitu amat loh.
03:13Saya sudah jarang ketemu Pak Prabowo.
03:15Sudah jarang ketemu Pak Prabowo.
03:17Ingin menjawab spekulasi orang bahwa Pak Jokowi masih cewe-cewe Pak Prabowo.
03:23Dan itu dijawab oleh Pak Jokowi.
03:25Tapi saya mau kembali yang tadi ya.
03:27Misalnya bahwa Pak Jokowi juga melakukan hal yang sebelumnya dia kritik.
03:31Saya mau tanya nih, Bung Selamat Ginting ini sudah ngeritik Prabowo Jokowi.
03:35Sejak kapan?
03:37Sejak Jokowi masih jadi presiden.
03:39Dia diganggu nggak?
03:40Sama sekali nggak.
03:42Roy Suryo itu sudah menghina-hina Pak Jokowi sejak kapan?
03:45Sejak Pak Jokowi masih jadi presiden.
03:48Ketika dia menjadi presiden, dia ganggu nggak si Roy Suryo?
03:51Nggak pernah.
03:53Bahwa sekarang dia melakukan, melaporkan.
03:57Itu kan betul-betul persis karena dia sudah mundur dari, bukan mundur.
04:01Dia sudah turun dari jabatannya.
04:03Ya kita sesama warga negara nih.
04:05Eh si Roy Suryo masih juga bilang, kamu itu ijazahnya palsu.
04:09Kamu itu ijazahnya palsu.
04:1099,9 persen menurut saya ijazahnya palsu.
04:13Tapi kita nggak usah masuk ijazah lah kepanjangan.
04:16Nggak, saya mau bilang.
04:16Saya mau bilang bahwa Pak Jokowi itu tidak menggunakan kekuasaan yang dia miliki
04:21untuk menghabisi Jokowi, Selamat Ginting, Dokter Tifa, dan siapapun.
04:25Tidak dia lakukan.
04:27Jadi ketika dia berkuasa pun,
04:29dia sebetulnya menerapkan prinsip yang dia sekarang ajarkan kepada kita semua.
04:34Jangan pernah gunakan kekuasaanmu untuk menghasbisi lawan.
04:38Oke.
04:39Tidak menggunakan, Pak Jokowi tidak menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan orang lain saat berkuasa.
04:44Itu sudah dijawab.
04:45Karena Anda mengatakan Pak Jokowi sebenarnya sedang menasati dirinya.
04:49Dan kemudian tolong dijawab, oh nggak ada itu untuk apa, hanya melindungi kroninya.
04:54Anda juga ingin menjelaskan itu kan?
04:56Bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Jokowi ini sebenarnya hanya untuk melindungi putranya,
05:00lalu keluarganya.
05:01Enggak dong.
05:02Saya tidak percaya bahwa dia melakukan untuk kepentingan keluarga.
05:05Oke.
05:05Silahkan dan jawab itu.
05:06Kan memang tidak diungkapkan secara eksplisit.
05:10Ini diungkapkan semuanya secara implisit.
05:14Jadi, ya kira-kira dalamnya lautan kita bisa tebak.
05:20Tapi dalam hati siapa yang tahu.
05:23Nah, oke.
05:24Di dalam pidato Jokowi di Kebumen itu,
05:29memang betul mengandung pesan moral.
05:32Jelas.
05:33Itu budaya Jawa yang dia kemukakan.
05:36Tetapi,
05:37di dalam demokrasi,
05:39tentu saja tidak boleh berhenti hanya pada keindahan pesan semata.
05:45Tapi kalau dijawab, langsung kepada poinnya.
05:47Tadi sudah dijawab oleh Bung Ade Armando bahwa
05:49tidak benar bahwa Pak Jokowi sedang menasati dirinya
05:52karena selama berkuasa, ia tidak melakukan apa yang dipidatokan.
05:57Yaitu menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan orang.
06:00Tapi kan Anda juga mengatakan bahwa pidato itu ditujukan pada Prabowo
06:04untuk melindungi kroninya.
06:05Anak yang jadi wakil presiden,
06:06mantunya yang jadi gubernur,
06:08anak yang jadi ketum PSI.
06:09Apa yang ada bisa bantah soal ini?
06:11Bahwa pesan ini sebenarnya untuk mengancam Presiden Prabowo.
06:13Maka pesan itu harus diuji terhadap rekam jejak kekuasaan seseorang.
06:20Harus diuji terhadap rekam jejak seseorang,
06:24terutama si pemberi pesan.
06:26Pemberi pesan yaitu Jokowi.
06:28Nah kemudian dari sinilah kita melihat bahwa
06:32ini seperti senjata makan Tuhan bagi Jokowi.
06:36Mengapa saya katakan itu?
06:38Karena ini relevan.
06:40Mengapa relevan?
06:41Tentu saja bukan karena Jokowi,
06:43tidak boleh memberikan nasihat,
06:46tidak boleh memberikan pesan.
06:49Justru karena ia pernah memegang jabatan ini,
06:53baru lengser sekitar 10 bulan,
06:56eh sorry, hampir 2 tahun yang lalu,
06:59maka kekuasaan selama 10 tahun itu,
07:03bahkan saya tidak mengaksikan.
07:04Jadi orang kalau baru lengser 2 tahun,
07:06nggak boleh kasih petua gitu?
07:07Boleh, tapi kan harus dilihat,
07:09di uji juga dari rekam jejaknya.
07:11Nah itu rekam jejaknya itu apa?
07:14Ya itu tadi kan harus di uji.
07:16Seperti saya bilang, banyak ujian-ujian itu.
07:20Kita lihat misalnya ya,
07:23indeks demokrasi di eranya SBY,
07:27itu awalnya adalah meningkat dan berakhir sangat baik.
07:32Jokowi awalnya baik,
07:35di terakhir adalah jomplang, ambruk,
07:39itu indikasi.
07:40Jadi betul-betul demokrasi menurun.
07:43Sama dengan indeks persepsi korupsi,
07:46tinggal 34.
07:48Itu fakta gitu,
07:50ada rekam jejak gitu.
07:51Jadi orang ini tidak pantas untuk memberikan petua seperti ini?
07:54Ya, makanya orang melihat sebaiknya
07:57memberikan pesan di depan cermin.
08:00Kira-kira karena itu juga untuk semua orang.
08:03Termasuk untuk dirinya.
08:06Kita sudah harus selesai.
08:07Kalaupun Anda ingin mendambahkan hanya sedikit saja,
08:10atau sudah kita harus tutup saja?
08:12Atau Anda ingin sedikit saja?
08:14Boleh?
08:14Saya kasih.
08:15Ya, saya akan bilang bahwa Pak Jokowi
08:16sudah mengeluarkan petua yang dia percaya.
08:19Dan itu penting buat pemerintah sekarang.
08:21Jangan pernah gunakan kekuasaan untuk menghabisi lawan.
08:24Terima kasih Dr. Selamat Ginting,
08:28Dr. Ade Armando.
08:29Saya ingin menutup dialog kita malam hari ini dengan cepat sekali.
08:35Bahwa apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Jokowi,
08:38bahwa kekuasaan jangan digunakan untuk menjatuhkan orang
08:40adalah sejatinya petua atau masukan yang sangat baik.
08:44Terlepas bahwa yang memberikan nasihat
08:46memiliki catatan selama ia berkuasa,
08:49tetapi mengingatkan yang berkuasa adalah tugas kita semua.
08:53Saya Rosyana Silalahi, sampai ketemu Kamis depan.
08:56Tetap lagi Kompas TV, independen, terpercaya.
Komentar

Dianjurkan