00:00Yang pertama,
00:02lamun siro sakti ojo mateni.
00:08Meskipun kamu sakti,
00:11jangan suka menjatuhkan atau membunuh.
00:17Bapak Ibu, Hadirin Hadirot,
00:20yang saya muliakan, yang saya hormati.
00:32Aku masih seperti yang dulu.
00:42Orang kampung,
00:46saking kampung, saking dusun,
00:52harus disampaikan ini,
00:54nanti kalau enggak disampaikan,
00:58dipikir saya ini orang ibu kota.
01:02Padahal saya piantun dusun, piantun kampung.
01:06Jadi perlu saya ingatkan terlebih dahulu.
01:12Yang kedua,
01:14yang namanya dalam dunia politik,
01:18itu yang pro dan kontra itu biasa.
01:22Ada yang setuju, ada yang tidak.
01:26Ada yang senang, ada yang tidak.
01:32Biasa.
01:36Jadi yang disampaikan
01:42Gus Zulfanteri betul,
01:46Pak Giai betul,
01:49bahwa banyak fitnah,
01:52banyak hinaan,
01:54banyak cacian yang sampai ke saya.
01:57Ya karena ada yang senang,
01:58ada yang enggak senang tadi.
02:01Gimana Pak Tuan?
02:03Dan biasa dalam politik,
02:06tapi Buk,
02:07yo jongono.
02:07Oh, Pak Tuan.
02:13Ya nisau,
02:13nanti kau hapek,
02:14kenapa sih nanti kau isi ngelak?
02:16Nanti Pak Tuan?
02:19Kalau bisa berbuat yang baik,
02:20kenapa kita harus berbuat yang jelek?
02:29Jadi,
02:30ini sudah sering saya ulang-ulang,
02:33mengenai tiga hal yang tadi,
02:35yang disampaikan oleh Pak Giai Zulfan tadi.
02:40Yang pertama,
02:48meskipun kamu sakti,
02:51jangan suka menjatuhkan atau membunuh.
02:59Enggak boleh mentang-mentang kita punya kekuasaan
03:04yang besar,
03:05kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang boten.
03:10Itu hal yang tidak baik.
03:17Termasuk Bapak Ibu semuanya juga,
03:20jangan seperti itu,
03:21mentang-mentang,
03:22jadi lurah,
03:23kemudian ke rakyatnya,
03:25bakbuk, bakbuk, bakbuk.
03:30Sering
03:32ngendiko banter,
03:34sering
03:34ngendiko kasar ke rakyat,
03:37enggak boleh.
03:38karena kekuasaan itu hanya sementara,
03:42kekuasaan itu hanya sampiran,
03:44jabatan itu hanya sampiran.
03:49Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan.
03:54yang kedua,
03:56lamun siro pinter,
03:58otjo minteri.
04:01Sekarang ini,
04:04yang belum pinter saja sudah rumung so pinter yang banyak.
04:09dengan persa ini,
04:10tentang TV-TV nuar,
04:12waktu debat itu,
04:14wah katanya pinter-pinteran
04:17ngendikan,
04:20ya meskipun pinter,
04:21enggak usah diketok-ketok ke,
04:23apa-apa?
04:26pinter menang,
04:27kita kan malah medeni.
04:32Pinter aja durung,
04:35ngendikani,
04:36kayak gitu,
04:36kayak pinternya santu,
04:39wong santunya,
04:40dipek diweng.
04:42Kadang-kadang saya nonton TV itu kok,
04:45ya seperti itu,
04:46Adab Ketimuran,
04:49Sopan Santun,
04:51Totokromo kok,
04:54dilihat jutaan orang kok,
04:56buatan
05:00ngertos.
05:03Jadi mestinya,
05:05kalau kita dilihat orang banyak itu,
05:07menyampaikan hal yang baik,
05:09supaya orang mengikuti kita menjadi baik.
05:17dibatuk ngangguk caci maki kayak gitu,
05:20kadang-kadang saja.
05:22Lulus dadah,
05:25adat ketimuran kita ada di mana,
05:28Sopan Santun kita ada di mana,
05:30Totokromo kita ada di mana.
05:39Yang ketiga tadi disampaikan,
05:49meskipun kamu bisa cepat,
05:51jangan suka mendahului.
05:53Kadang-kadang seperti itu apa,
05:55menyakitkan yang didahului.
05:58Di SII itu yura seneng.
06:01Nopo sih,
06:02kita itu ngerti,
06:03kita itu banter,
06:05tapi kita alon kan yura popo.
06:07Orang malah diketok-ketok,
06:09kali jreng, jreng, jreng,
06:11saat ini ngoteniku.
06:16Ampun,
06:17jangan.
06:20Kita ini hidup dalam
06:24dunia sekarang ini yang
06:27serba sulit.
06:29Dunia sekarang ini serba sulit.
06:31Banyak tantangan.
06:35Sampai jumpa di video selanjutnya.
06:37Sampai jumpa di video selanjutnya.
06:37Sampai jumpa di video selanjutnya.
06:38Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar