Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Aktivis 98 Budi Arie Setiadi memberikan penjelasan terkait pernyataannya soal kemungkinan percepatan pemilu dari 2029 menjadi 2027, yang sebelumnya disampaikan dalam acara organisasi Projo bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Di sisi lain, sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa akan menggelar aksi unjuk rasa pada 27 Agustus 2026. Dari RUU Perampasan Aset hingga perbaikan kondisi negara, jadi isu yang disuarakan. Namun, beberapa kendala terjadi. Mulai dari rekening yg diblokir hingga sejumlah bis yang dibatalkan pemesanannya.

Lalu bagaimana memastikan hak warga negara untuk bersuara dan berdemokrasi tetap terlaksana dan pemerintah bisa menerima asprirasi dengan baik?



Pemimpin Redaksi KompasTV membahasnya bersama:

Kurnia Ramadhana - Deputi III Bakom RI

Prof. Sulistyowati Irianto - Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD)

Budi Arie Setiadi - Aktivis 98



Saksikan dalam Program Satu Meja the Forum episode Demonstrasi, Demokrasi, dan Indonesia. Tayang setiap Rabu pukul 20.30 WIB di KompasTV.



#demo #jakarta #klarifikasi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687605/klarifikasi-budi-arie-soal-video-viral-percepatan-pemilu-hingga-jelang-demo-27-agustus-satu-meja
Transkrip
00:01Bukan karena saya takut, bukan karena saya nurus pada Anda, tapi karena bagi saya, teman-teman saya lebih berharga.
00:08Karena saya tahu, bagi Anda, nyawa teman-teman saya ini tidak berartikan.
00:18Pengesahan RUU, perampasan aset korpor ya, itu kan maksimal Desember ya.
00:23Oke, habis kita minta surat pernyataan resmi, segera tertulis, biar kita tidak dibuangin lagi.
00:28Itu akun tetap saya di-blokir, rekennya saya di-blokir, bis yang sudah dibuangin sama kami, dibuang takas.
00:36Kami mendorong APH yang ada di daerah, khususnya di Kabupaten Pati, segera bertindak tegas terhadap kericuhan, ketidaknyamanan yang ada di
00:47Pati hari ini.
00:52Itu penundaan transaksi dalam proses penyelidikan lebih kurang lima hari kerja.
00:58Apapun istilah yang digunakan oleh polisi, penundaan transaksi, bukan pelombokiran, itu tujuannya tetap sama,
01:04yaitu membuat warga Pati yang datang ke Jakarta kehilangan akses terhadap dana operasional mereka.
01:09Jadi tujuannya sudah jelas sebenarnya untuk menginsertasi gerakan masyarakat.
01:14Demo itu dijamin oleh demokrasi, dan kami yang mempersilahkan mau demo tanggal 26-27, monggo saja.
01:42Selamat malam.
01:44Jelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, 20 Oktober mendatang,
01:48beredar luas informasi akan ada aksi demonstrasi 27 Agustus.
01:53Informasi ini direspon beragam dan tak sedikitnya khawatir dengan situasi keamanan Jakarta.
01:58Komitmen Presiden Prabowo untuk menjaga iklim demokrasi di tanah air berulang kali disampaikan,
02:03termasuk mempersilahkan demonstrasi selama tidak anarkis dan mengganggu ketertiban umum.
02:09Aksi demonstrasi sebagai bentuk kebebasan menyampaikan pendapat juga bukan barang haram alias dilindungi undang-undang.
02:17Demonstrasi, demokrasi, dan Indonesia.
02:19Inilah satu menjaduh forum malam ini bersama saya, Yogi Nugrahan.
02:22Sudah hadir di Studio Kompas TV malam ini untuk membahas tema kita malam ini,
02:26Kurnia Ramadana, Deputi Tiga Badan Komunikasi Pemerintah Bakomeri.
02:30Kurnia, apa kabar?
02:31Kabar baik, selamat malam.
02:32Selamat malam.
02:32Ada juga Profesor Sulustiawati Rianto, Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia.
02:38Prof, sehat selalu, Prof. Selamat malam.
02:40Makasih, selamat malam, Mas Yogi.
02:42Ada juga Budi Aris Setiadi, yang akhir-akhir ini namanya sedang ramai diperbincangkan.
02:48Ketua Umum Projo, aktivis 98 juga, mantan menteri,
02:52baik di kabinet Pak Jokowi dan Pak Prabowo.
02:55Mas Budi, apa kabar?
02:56Selamat malam, kabar baik.
02:58Saya langsung ke Pak Budi Duli.
03:01Mas Budi Duli, Anda tentu mendengar dalam konteks tadi di pembuka saya mengatakan jelang dua tahun
03:08dan satu bulan kira-kira kalau tarik ke belakang beredar luas akan ada gerakan besar mahasiswa,
03:14ada juga yang dipantik oleh aliansi masyarakat Pati Bersatu dengan mengusung isu soal undang-undang perampasan aset.
03:24Situasi itu kan ramai informasinya, ada kekhawatiran, ada antisipasi soal pagar di mal dan sebagainya.
03:30Pasti Anda memantau itu.
03:32Tapi di tengah-tengah itu muncul video organisasi Anda bersama tokoh,
03:39itu adalah Presiden sebelumnya, Pak Jokowi,
03:42yang kira-kira mengatakan bahwa ada namanya patahan sejarah.
03:47Dan ini memantik pro-kontra.
03:50Sehingga dikait-kaitkan, oh jangan-jangan gerakan tanggal 27 Agus ini berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh Budi Ari dan
03:56kawan-kawan.
03:57Anda ingin menyampaikan apa atau ada-ada pandangan bahwa gerakan ini sebetulnya tidak terkait dengan apa yang Anda sampaikan.
04:03Begini, demokrasi itu intisarnya kan kedaulatan rakyat.
04:08Dan kedaulatan rakyat itu mensyaratkan adanya partisipasi publik.
04:13Dan partisipasi publik bentuknya apapun, menyampaikan pendapat, termasuk demonstrasi itu kan bentuk dari partisipasi publik terhadap jalannya pemerintahan.
04:25Dan itu tadi seperti di awal disampaikan di Kompas TV ini, bahwa memang dilindungi undang-undang.
04:32Yang dikhawatirkan adalah persoalan, anarkisme, dan dapak yang bisa mengganggu ketertiban umum.
04:42Kalau demonstrasinya menurut saya di seluruh negara demokrasi di dunia, yang namanya demonstrasi, menyatakan pendapat, itu kan dijamin dalam undang
04:51-undang.
04:52Dan kita tidak khawatir itu, persoalannya adalah bahwa pemerintahan ini kan berdiri dari harapan yang begitu besar dari rakyat.
05:04Sehingga ekspektasi masyarakat juga tinggi terhadap the deliverable pemerintahan ini dalam eksekusi berbagai program-program yang langsung bersentukan dengan rakyat.
05:18Karena itu perlu ada upaya yang lebih terukur dan terarah untuk bagaimana program-program itu bisa dieksekusi dengan baik.
05:32Yang langsung dirasakan manfaatnya.
05:34Dan itu ada kaitannya, yang Anda sampaikan tadi itu ada kaitannya dengan pernyataan yang Anda sampaikan di samping Pak Jokowi
05:43di acara Projo dan Beredar Luas.
05:45Atau Anda ingin memberikan penjelasan apa?
05:47Karena kan ada kalimat bahwa 97 bisa jadi 99, ada patahan sejarah, 2029, 2029, gimana kalau lebih cepat?
05:55Ini saya memberikan ruang kepada Anda untuk memberikan konteksnya.
05:57Apa ada kaitannya dengan itu?
05:58Begini, pengalaman percepatan pemilu dari 97 ke 99 kan pernah terjadi di Indonesia.
06:06Ini kan bukan barang baru dalam konteks politik di Indonesia.
06:12Tetapi kami sebagai pendukung awal pemerintahan Prabowo Gibran ini punya kewajiban moral untuk memberikan pendapat,
06:24aspirasi yang berkembang di masyarakat.
06:27Karena tadi saya sampaikan bahwa kita ini menginginkan demokrasi yang konstitusional.
06:34Demokrasinya harus kita jaga dan harus konstitusional.
06:38Tetapi kita juga menyadari, itu tadi konteksnya itu pernyataan pribadi saya dari analisa perkembangan yang terjadi di masyarakat.
06:45Kok kalau ini dinamika masyarakat ini enggak direspon dan dimanage dengan baik,
06:52ini akan memunculkan kekecewaan yang makin meluas, yang akhirnya memerlukan solusi politik yang lebih komprehensif.
07:01Tetapi saya selalu sampaikan, kita harus dalam kerangka demokrasi dan konstitusi.
07:05Kita yang utama itu kita harus jaga demokrasinya.
07:07Tahun 98 itu kita berjuang untuk demokrasi.
07:10Jangan sampai demokrasi yang rusak karena ada pihak-pihak yang ingin menggunakan skenario-skenario non-demokratis dalam urusan kebangsaan kita.
07:18Jadi intinya itu pernyataan pribadi meskipun disampaikan di samping Pak Jokowi.
07:23Saya ke Prof. Sulis.
07:24Prof. Sulis beberapa waktu lalu Prof. Sulis dan kawan-kawan guru besar juga menyampaikan manifesto
07:32yang kira-kira intinya adalah memberikan masukan, mengingatkan jalannya pemerintahan
07:36supaya kembali lagi kepada sandaran moral kerakyatan.
07:41Anda melihat fenomena yang tadi saya sampaikan, ada muncul tiba-tiba informasinya masih dalam konfirmasi
07:49apakah benar atau tidak akan ada gerakan besar mulai dari masyarakat pati, mulai dari beberapa daerah.
07:55Anda melihat apakah ini sesuatu yang memang diorkestasi?
07:58Atau memang ini ada kaitannya dengan akumulasi dari apa yang Anda sampaikan di forum intelektual antar disiplin itu?
08:08Terima kasih Mas Yogi.
08:10Jadi sebagai warga masyarakat yang kompeten, artinya yang mengerti hak-haknya,
08:16mengerti persoalan-persoalan yang terjadi di sekitarnya,
08:20mereka tentu bisa merespon dalam bentuk apa saja tergantung kemampuan, kapasitas dan juga kapitalnya,
08:35kapital sosial dalam hal ini.
08:38Nah, kaum intelektual itu merasa harus berkontribusi apabila terjadi krisis yang berat.
08:48Jadi dipikirkan harus dilakukan kajian-kajian, mengumpulkan segala macam data, referensi
08:56untuk bidang-bidang yang apa nih yang genting, krisis ekonomi, pangan, energi, sumber daya alam,
09:06kesehatan, pendidikan, hukum, politik, macam-macam dan mereka itu seratusan orang berkumpul.
09:12Dan intelektual itu tidak harus gelarnya berderet-deret, tetapi adalah mereka yang terus-menerus berpikir
09:21dan mencari mengapa ini terjadi dan solusinya seperti apa, jadi juga mereka yang resah itulah baru intelektual.
09:29Dan mereka dari berbagai universitas, lalu juga intelektual publik yang ada di masyarakat ya, berkumpul seratusan orang,
09:40lalu mereka bersama-sama melakukan kerja-kerja panjang sebenarnya dan senyap, sunyi,
09:48karena dilakukan di dua, jadi focal point-nya Universitas Indonesia dan UGM, mereka melakukan FGD,
09:59di situ dilakukan diskusi-diskusi, lalu dituliskan policy brief-nya, dan kemudian didebat-debatkan
10:08di dalam berbagai macam bentuk, sehingga lahirlah.
10:12Dan itu juga direview, dibuat proofread-nya, sampai menemukan bentuk yang paling dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,
10:21lalu abstraksinya dibuat di dalam suatu manifesto, desakan-desakan yang kami bacakan di Taman Ismail Marjuki.
10:30Dan itu inti pesannya adalah memberikan catatan dan mengingatkan jalannya pemerintahan kan tidak ada tujuan lain untuk perbaikan bangsa.
10:39Ya, dan kami merasa itu adalah mandat dari kaum intelektual, karena di universitas itu dinyatakan oleh makna carta universitatum,
10:53tugas kami itu bukan hanya memproduksi ilmu pengetahuan, tapi juga membangun budaya akademik,
10:59harus memastikan bahwa masyarakat itu bisa berpikir dan bertindak rasional,
11:05dan kalau kami menyatakan sesuatu, kami bukan sedang melakukan gerakan politik,
11:10tetapi kami sedang melakukan gerakan moral, gerakan pemikiran.
11:13Gerakan moral dari guru besar.
11:15Bung Kurnia, pasti juga istana mendengar, memantau apa yang terjadi di lapangan, di masyarakat,
11:22akan ada gerakan besar dari berbagai elemen termasuk gerakan mahasiswa.
11:25Desastis itu pasti sampai, dan sampai kita tahu semualah, ada beberapa, mungkin itu antisipasi atau mitigasi lah.
11:33Salah satunya yang mencuat ke publik dan mendapat reaksi, reaksi negatif terutama adalah ketika ada pemblokiran rekening dari bank pemerintah.
11:42Sebetulnya istana melihat situasi seperti ini seperti apa?
11:45Karena pasti istana sudah mengantisipasi menjelang dua tahun, mengantisipasi informasi yang beredar,
11:50dan sudah tahu persis apa yang harus dijawab, supaya satu menjaga ketertiban,
11:55yang kedua jalannya kebebasan berpendapat tetap dilindungi,
12:00karena itu bagian dari undang-undang seperti yang saya sampaikan tadi,
12:03berulang kali Presiden Prabowo menyampaikan itu.
12:05Mas Yogi, tugas pemerintah itu satu,
12:08Taat dan tunduk terhadap peraturan, perundang-undangan.
12:14Hak untuk menyatakan pendapat itu tertuang pada peraturan hukum tertinggi di dalam konstitusi.
12:22Turunannya ada banyak Mas Yogi.
12:24Ada undang-undang hak asasi manusia,
12:26bahkan di dalam kitab undang-undang hukum pidana baru,
12:30kalau pemirsa melihat aturan itu dan mencari kata demokrasi,
12:36maka tercantum di sana.
12:38Demokrasi adalah hak kebebasan berpendapat warga
12:41untuk mengkritik, memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah,
12:47tindakan Presiden dan atau wakil Presiden.
12:51Maka dari itu, konteks peraturan perundang-undangan itu,
12:55pemerintah menghargai dan menghormati setiap pendapat masyarakat.
13:00Misalnya tadi ada rencana demonstrasi tanggal 27 Agustus,
13:06kapanpun demonstrasi itu dilakukan Mas Yogi,
13:09tugas pemerintah itu dua.
13:11Satu, memastikan kebebasan berpendapat itu dapat dilakukan.
13:17Kemudian yang kedua, terpenting Mas Yogi,
13:20ketika sekumpulan orang menyatakan pendapat,
13:24maka ada hak warga lain.
13:26Yang mungkin atau barangkali, misalnya tidak bisa lewat jalan tersebut.
13:32Maka tugas negara di sana adalah memastikan orang-orang yang menyatakan pendapat dapat disalurkan
13:38dan hak-hak warga lain tidak terganggu, Mas Yogi.
13:43Jadi dalam konteks itu, pemerintah melihat ketika tuntutan yang disampaikan oleh,
13:49misalnya yang ramai sekarang terkait dengan penegakan hukum,
13:54aturan pemberantasan korupsi,
13:57bagaimana komitmen negara dalam memberantas korupsi,
14:00tentu pemerintah sejalan dengan tuntutan itu.
14:03Karena sejauh ini, misalnya Mas Yogi soal perampasan aset,
14:07saya rasa sudah berulang kali disampaikan oleh Presiden,
14:10dan faktualnya hari ini sudah berjalan prosesnya di DPR.
14:14Jadi siapapun Mas Yogi, kanal apapun yang digunakan dalam menyatakan pendapat,
14:20maka pemerintah mendengar pernyataan itu.
14:23Apalagi Mas Yogi yang menyampaikan rekan-rekan guru besar.
14:27Tentu bukan kapasitas pemerintah menilai itu.
14:31Karena memang tadi Prof. Suli sampaikan ada tanggung jawab intelektual,
14:34pendidikan, dan lain sebagainya.
14:36Justru masukan-masukan itu amat sangat berguna bagi pemerintah,
14:40sebab bisa saja Mas Yogi, ada hal-hal yang terlewat dari pemerintah.
14:44Dan Presiden juga menyampaikan,
14:46setiap pemimpin harus siap untuk dikritik,
14:49karena kritik itu adalah multivitamin bagi pemerintah
14:53dalam mengambil kebijakan dari sudut pandang-sudut pandang yang lain.
14:57Jakarta menjadi aman-nyaman,
15:01kalau kita semua bisa menjaga dengan baik.
15:04Demo itu dijamin oleh demokrasi,
15:06dan kami mempersilahkan mau demo tanggal 26, 27, mobo saja.
15:10Tetapi yang tidak boleh dilakukan adalah melakukan perusahaan,
15:13melakukan anarkis,
15:14dan kemudian melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik.
15:24Masih di satu majadu forum,
15:25saya melanjutkan tadi Bung Kurnia,
15:27soal sudah betul tadi pemahamannya bahwa di undang-undang,
15:31dan tadi saya pun mengatakan bahwa Presiden berulang kali,
15:34tapi seringkali yang disoal adalah praktek di lapangan.
15:37Ya kan, masih banyak loh tahun 2025 lalu yang masih ditahan,
15:42mahasiswa dan sebagainya.
15:44Juga ada penghadangan,
15:46hal-hal seperti ini yang kemudian publik menangkapnya.
15:48Kenapa ya, sepertinya tidak sinkron,
15:50apa yang disampaikan oleh Presiden soal menjaga iklim demokrasi,
15:53dengan apa yang terjadi di lapangan.
15:55Ya, bahkan ada juga beberapa yang pada akhirnya masuk ke proses hukum,
16:00dan dinyatakan bebas oleh Majelis Hakim.
16:02Tentu ketika proses itu terjadi,
16:04akan jadi bahan evaluasi.
16:06Tidak hanya pada pemerintah,
16:08tapi pada aparat penegak hukum.
16:10Dan juga Mas Yogi, yang penting,
16:12satu sisi hak menyatakan pendapat itu mutlak,
16:16melekat pada setiap orang.
16:18Tapi di sisi yang lain,
16:20ketika menyatakan pendapat itu,
16:22ada hal-hal yang dikecualikan.
16:24Misalnya, terkait dengan anarkisme.
16:27Tentu siapapun itu,
16:29pasti tidak menginginkan hal tersebut.
16:31Maka dari itu,
16:32pemerintah dalam hal ini menjamin,
16:3427 Agustus,
16:3628 Agustus,
16:38Jakarta aman,
16:40dan Indonesia aman.
16:42Pemerintah memberikan tempat,
16:44bagi orang-orang yang punya keresahan,
16:47terhadap kebijakan negara,
16:49dan juga pemerintah satu sisi,
16:51menjamin hak-hak orang lain,
16:53yang tidak ikut dalam barisan menyatakan pendapat,
16:56juga dapat beraktifitas seperti semula.
16:58Tentu kita tidak ingin menebar ketakutan,
17:02kita tidak ingin menebar keresahan,
17:05justru pesan-pesan perdamaian,
17:07pesan-pesan persatuan,
17:09pesan-pesan kebebasan dalam menyatakan pendapat,
17:11itu yang ingin saya tekankan dalam forum Satu Menjah.
17:15Ya, itu yang saya sampaikan,
17:17mungkin ini juga bagian dari koreksi,
17:19atau mungkin ada penjelasan lain,
17:21kenapa harus ada penghadangan,
17:23dan itu fakta,
17:24artinya beberapa bus yang mau masuk,
17:26itu kan bagian dari haknya masyarakat,
17:29untuk menyampaikan pendapat,
17:31tapi kenapa harus dihadang misalnya,
17:33atau ada analisa lain dari pemerintah,
17:36kenapa harus dihadang,
17:38kenapa harus di blokir,
17:39dan sebagainya.
17:40Saya rasa aparat penegak hukum,
17:43punya alasan tersendiri,
17:44dan bisa menjelaskan itu.
17:47Kalau terkait dengan penghentian transaksi,
17:51pemblokiran,
17:52tadi waktu saya dalam perjalanan ke Kompas,
17:54Mas Yogi,
17:55membaca berita,
17:56saya rasa sudah clear,
17:58ada ketua Komisi 3 DPR RI,
18:00ada Kapolda Metro Jaya,
18:01dan menjamin,
18:02bahwa rekening yang bersangkutan,
18:04sudah aktif kembali,
18:07per hari ini,
18:07bahkan ada Direktur Bang Himbara,
18:10dan itu boleh dibilang koreksi ya,
18:12atas tindakan di awal kan,
18:13artinya ada koreksi kan,
18:14yang penting kan intinya,
18:16itu yang kemudian saya soal gitu,
18:17harusnya hal ini tidak terjadi lagi,
18:19supaya komitmen Presiden itu,
18:22toal menjaga iklim demokrasi itu bisa terjaga.
18:25Saya ke Prof Sulis Prof,
18:27kalau melihat bacaan ya,
18:29bacaan Prof,
18:29kan dari sisi guru besar sendiri,
18:33juga berkumpul dan mengatakan,
18:35ini bukan gerakan politik,
18:36ini panggilan nurani,
18:37ini tugas,
18:39ini negara memanggil,
18:40bahwa ada sesuatu yang ingin menjaga Indonesia,
18:43di masyarakat juga berkembang kan,
18:45memang ada hal yang berbeda,
18:47misalnya soal landscape komunikasi,
18:49beredar informasi yang sebagian besar,
18:50mungkin bisa,
18:51harus dikonfirmasi,
18:53yang masyarakat jadi ketakutan,
18:55ada apa ya,
18:55padahal demo ini kan sesuatu yang biasa,
18:58sesuatu yang normal saja,
19:00satu tadi harus menjaga ketertibaan,
19:02tetapi,
19:03kenapa,
19:03kira-kira ada akumulasi kah,
19:05ada saluran yang tersumbat kah,
19:08sehingga semuanya akhirnya berujung ke jalan,
19:10ada beberapa juga yang memang melakukan digital social movement di sosmed,
19:16atau memang ada situasi yang ini kebuntuan ini,
19:19sampai akhirnya harus terakumulasi,
19:21termasuk juga para guru besar.
19:23Kan harusnya yang ditanyakan adalah,
19:26mengapa mereka melakukan demo,
19:28dan itu bukan di Jakarta saja,
19:31tapi banyak sekali di kota-kota lain,
19:33di pulau-pulau lain ya,
19:35itu yang mestinya dipertanyakan,
19:37dan dijawab,
19:40apa yang menjadi persoalan mereka,
19:43apa yang menjadi desakan mereka,
19:44jangan sekedar memberi label,
19:47oh kalau ada demonstrasi itu pasti ada anarkisme,
19:50ada perusuh gitu kan,
19:52bukankah begitu banyak orang ditangkap,
19:55dan sebagiannya banyak juga,
19:58700-an orang di penjara,
19:59dan kemudian itu dilepaskan setelah 5-6 bulan,
20:03arti kan salah tangkap gitu kan,
20:05nah itu kan yang mesti menjadi,
20:07self-street system koreksi gitu kan ya,
20:11nah sebenarnya harus diingat juga,
20:13di dalam sejarah Indonesia jelas,
20:15bahwa Indonesia itu sejak tahun 1900-an awal,
20:19jauh dari kemerdekaan,
20:21sudah ada gerakan-gerakan sosial,
20:24gerakan perempuan,
20:25dan orang-orang muda,
20:27lihatlah siapa yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia,
20:30siapa yang memberikan Indonesia,
20:32itu adalah orang muda,
20:33dan siapa yang merawat,
20:35merawat dalam arti,
20:36selalu melakukan check and balances,
20:38terutama ketika parlemen tidak melakukan tugasnya,
20:42tugasnya menjadikan dirinya berfungsi sebagai check and balances,
20:48itu diambil alih oleh gerakan masyarakat sipil,
20:50dalam hal ini adalah orang-orang muda,
20:53dan kalau tidak ada gerakan itu,
20:55kita tidak membayangkan bahwa Indonesia mesti ada loh,
20:58sejak dari 1900-an sampai abad 21 ini.
21:02Apa menurut Prof. Sulis yang harus dikerjakan,
21:05apakah memang ini harus diinisiasi oleh negara,
21:08misalnya contoh supaya tidak mencampur adukan,
21:10gerakan moral, niat baik,
21:12yang disampaikan oleh Bung Kurnia,
21:14pasti didengarlah, apalagi guru besar,
21:16tapi kan juga tidak menutup kemungkinan,
21:18ada juga pihak-pihak,
21:19namanya juga sebuah negara,
21:21ada pihak-pihak yang ingin mengganggu,
21:23tujuannya tidak selaras dengan apa yang disampaikan oleh gerakan nurani,
21:27yang disampaikan oleh Prof. Sulis.
21:28dan mestinya kalau misalnya ada yang tertangkap,
21:33siapa yang membakar halte bus dan apa,
21:36nyatakan kepada publik siapa mereka gitu,
21:38jangan semuanya dilabelkan kepada para mahasiswa,
21:42dan itu adalah anak-anak saya,
21:44siapapun mereka,
21:45dan mereka itu diajari bagaimana untuk berpikir kritikal,
21:48skeptikal,
21:49karena Bung Hatta mengatakan bahwa tugasmu lah universitas,
21:54untuk menghasilkan manusia Indonesia yang berkarakter,
21:58yaitu yang mencintai kebenaran,
22:00yang berani mengatakan salah,
22:02apabila ada hal-hal yang tidak benar,
22:05dan itu kami ajarkan di universitas.
22:07Prof, saya fokus ke informasi soal beredar 27, 28, Agustus ini,
22:14sampai kalimatnya adalah Agustus itu kan beredar luas,
22:16kenapa ya agak berbeda nuansanya gitu,
22:19artinya banyak ke saya misalnya,
22:22masyarakat, saudara saya yang bertanya,
22:23bagaimana aman gak,
22:24aman gak,
22:25untung tadi Bung Kuni sudah mengatakan aman gitu,
22:28artinya ini sudah muncul,
22:29apa ya kira-kira yang membuat ini,
22:32apakah ada akumulasi,
22:33atau ada saluran,
22:34yang sudah saya tanya,
22:35yang tidak tersampaikan,
22:37yang saya tanyakan,
22:37tetapi agak berbeda ini nuansanya,
22:39kami pun juga media bilang,
22:41ini ada apa ya,
22:42padahal kan demo ini berulang,
22:44terus-terusan,
22:45tapi kali ini agak berbeda nuansanya.
22:47Jawabannya bisa banyak ya mas,
22:49tapi kalau saya boleh menjawab dari satu sisi,
22:51kita kan sekarang menjadi masyarakat global,
22:55terhubung anak-anak muda ini dengan masyarakat global,
22:58karena ada globalisasi hukum,
23:00di mana konvensi-konvensi internasional,
23:03dalam bidang-bidang hak asasi manusia,
23:05dan macam-macam itu,
23:07diratifikasi oleh negara-negara,
23:09sehingga anak-anak muda itu memiliki pengetahuannya sama,
23:13tentang demokrasi,
23:14tentang hak asasi manusia,
23:15tentang anti korupsi,
23:16tinggal muncullah di Maldives,
23:18di Nepal,
23:20di India,
23:21dan sekarang Indonesia,
23:23Filipina,
23:24tidak saling mengenal mereka,
23:25tetapi mereka punya kesadaran yang sama,
23:28bahwa mereka itu harus melakukan perubahan-perubahan,
23:31Pak Budi,
23:36kan sebagai aktivis,
23:37konten aktivis 98,
23:39sekarang ada di Projo,
23:40saya harus sebutlah,
23:41pernah ada di pemerintahan,
23:42Anda melihat dong,
23:44dinamika kebebasan berpendapat,
23:46dan bagaimana negara menghadapi itu,
23:49Anda melihat sekarang ini,
23:51ada enggak,
23:52memang pembatasan-pembatasan,
23:54ada nuansa-nuansa represif,
23:57yang muncul dari aparatus negara,
24:01terhadap gerakan mahasiswa misalnya,
24:04begini,
24:06esensinya,
24:08kebebasan berpendapat itu terjadi,
24:10apalagi di era kemajuan teknologi digital,
24:12yang masih begini,
24:14informasi sudah sama sekali,
24:15tidak bisa dibendung,
24:17kecepatannya,
24:19dalam hal kecepatan,
24:20karena yang muncul dari era digitalisasi ini,
24:24kan kecepatan,
24:25dulu menghubungi orang,
24:27mungkin satu menit, setengah jam,
24:28baru nyambung,
24:30sekarang dalam hitungan detik,
24:31semua informasi bisa tersebar,
24:32di seluruh dunia,
24:34karena itulah demokrasi kita ini,
24:37harus kita maknai,
24:40sebagai demokrasi yang memperkuat,
24:44karena apa?
24:45Karena kritik,
24:46karena otokritik,
24:47dari masyarakat ini,
24:48penting untuk perbaikan-perbaikan,
24:51di seluruh dunia,
24:53peradaban yang bertahan adalah,
24:55peradaban yang menerima kritik,
24:57dan lahir dari tradisi,
25:00masyarakat yang sehat,
25:02saya mau pakai case Anda,
25:04yang masih baru ini ya,
25:05kan dalam konteks kebebasan berpendapat,
25:07dan Anda mengatakan itu,
25:08pernyataan saya pribadi,
25:09tujuannya mengingatkan,
25:11tapi kan ada konteks ya,
25:13di tengah nuansa,
25:14kekhawatiran masyarakat,
25:16akan ada demo besar,
25:17apalagi traumatik,
25:18tahun lalu,
25:18persis di bulan Agustus juga,
25:20kira-kira di tanggal 25,
25:21sampai dengan akhir September,
25:23tiba-tiba Anda menyatakan,
25:25ini kan pendapat saya,
25:26tapi isinya adalah soal,
25:29pemilu dipercepat,
25:30isinya adalah kemungkinan,
25:31pemerintahan jatuh lebih awal,
25:33ini gimana menurut Anda,
25:35kebebasan pendapat,
25:36atau Anda harus melihat bahwa,
25:37kepekaan?
25:38itulah,
25:38itu kan analisa pendapat,
25:40yang menurut hemat kami,
25:42tetap dalam konteks,
25:44fondasinya adalah demokrasi,
25:45dan konstitusi,
25:47pemilih itu konstitusional,
25:49dan demokratis,
25:53kan ini yang saya sayangkan,
25:55kan orang yang masih ngomong,
25:55jatuhkan,
25:56turunkan,
25:57si A, si B,
25:58turunkan,
25:58wapres,
25:59turunkan,
25:59ini kan,
26:00bahasa-bahasa non,
26:03konstitusi,
26:04non demokratis,
26:05kalau mau ya,
26:06kalau kita sudah melakukan,
26:08pemilu berkala,
26:10kita laksenggarakan,
26:11pemilu itu secara berkala,
26:12tetapi saya sudah sampaikan,
26:14insting saya kok,
26:15kalau tidak dimanage dengan baik,
26:17ini,
26:18bisa lebih cepat,
26:19begitu loh,
26:20karena itu,
26:22apa,
26:22kalau tidak dimanage dengan baik,
26:24bisa lebih cepat,
26:25harus menjadi perhatian,
26:26bersama,
26:27semua pihak,
26:28untuk,
26:30mengedepankan,
26:31solusi,
26:31tapi satu tadi yang saya bilang,
26:33kita harus jaga demokrasinya,
26:35karena demokrasi ini,
26:36kita perjuangan 28 tahun lalu ini,
26:38tidak sembarangan loh,
26:3998 itu kita perjuangan,
26:40yang kita bentuk,
26:41yang kita perjuangan adalah,
26:42mengwujudkan demokrasi di Indonesia,
26:44jangan sampai demokrasi ini,
26:47setback,
26:48dengan cara-cara non demokratis,
26:52makanya,
26:52yang kita lawan apa sih,
26:57totalitarisme,
26:58totalitarisme,
26:59ya kan,
27:00kita harus membalikan tempatnya,
27:02demokrasi ini,
27:03harus menempatkan rakyat,
27:05sebagai,
27:07sebagai,
27:07yang berdaulat,
27:08sebagai orang,
27:10yang dari awal,
27:11mendukung Prabowo Gibran,
27:13saya tahu persis kan,
27:14tidak ada barisan terdepan,
27:16di tengah pro kontra,
27:17soal penjalan Prabowo Gibran,
27:19satu,
27:19yang kedua,
27:20Anda pernah ada di pemerintahan,
27:21Prabowo juga,
27:23dan pasti juga di pemerintahan,
27:24Pak Jokowi,
27:25Anda melihat,
27:25pemerintahan Prabowo Gibran ini,
27:27dalam konteks,
27:28merespon kritik,
27:29merespon masukan,
27:30dari masyarakat,
27:31seperti apa?
27:32Menurut saya,
27:33caranya sudah bagus,
27:34sudah lebih baik lah,
27:36ada improve,
27:37ada perbaikan-perbaikan,
27:38termasuk juga,
27:40pendapat masyarakat,
27:41bisa didengar,
27:43dan melakukan perbaikan,
27:44misalnya contohnya,
27:44Lalu apa yang membuat Anda berpendapat,
27:47bahwa ini bisa lebih cepat?
27:48Ini faktor non-konvensional.
27:51Apa misalnya Anda menemukan?
27:52Ya,
27:53kondisi,
27:55dan juga,
27:57hal-hal lain yang,
27:59membuat,
28:03proses demokrasi itu,
28:05mengalami,
28:06hal-hal yang perlu,
28:08dilakukan penyesuaian-penyesuaian,
28:10tetapi menurut hemat kami,
28:11selama,
28:12selama mesinnya adalah,
28:14pemilu,
28:15tetap kita mengedepankan agenda demokrasi.
28:17Oke.
28:18Gitu loh,
28:18tapi intinya,
28:19saya cuma mengingatkan bahwa,
28:21itu kan kemungkinan.
28:22Itu kemungkinan?
28:24Insting.
28:25Semoga saja,
28:26kita tetap,
28:27kita tetap berharap pada,
28:29apa,
28:30proses yang berkala,
28:31dan berjadwal sesuai,
28:33waktu.
28:35Tapi jangan lupa,
28:36satu situasinya Anda,
28:37dan konteksnya.
28:38Justru itu yang harus kita jaga adalah,
28:41bagaimana,
28:41dinamika,
28:43masyarakat ini,
28:45mendapatkan ruang,
28:46untuk segera,
28:48pemerintahan ini,
28:49meeksekusi dengan baik,
28:50semua yang menjadi harapan,
28:52masyarakat.
28:53Oh, itu pesan.
28:53Karena,
28:54satu,
28:54dalam demokrasi itu,
28:55yang tidak boleh hilang apa?
28:57Harapan rakyat,
28:57jangan sampai hilang.
28:58Begitu rakyat,
28:59harapan rakyat hilang,
29:00itu jadi,
29:02hal-hal yang di luar,
29:04konsepsi demokrasi itu,
29:05yang akan,
29:05ledak.
29:06Begitu loh.
29:07Masih di satu menjadah forum,
29:08saya ke Bung Kurnia,
29:09Bung,
29:09kalau tadi,
29:10mungkin menyimak,
29:11yang saya sampaikan,
29:13dengan,
29:14Mas Budi itu,
29:16ya itu tadi,
29:16saya melihat,
29:17ya wajar,
29:18kalau ada yang khawatir,
29:19karena tiba-tiba,
29:20bicara soal,
29:20percepatan pemilu,
29:21di tengah situasi sekarang,
29:23sebetulnya,
29:24saya ingin melihat,
29:25kalau dari perspektif pemerintah,
29:27sejauh mana,
29:28namanya pemerintahan,
29:30mewasnadi makar pasti,
29:32dengan cara,
29:32dengan instrumen yang baik,
29:33tapi juga harus menjaga,
29:35demokrasi itu sendiri.
29:37Anda melihat,
29:37sebetulnya,
29:38sejauh mana sih,
29:40pemerintah itu,
29:41melihat pendapat,
29:42kritik,
29:43terus,
29:44gimana sih,
29:45cara menyampaikan yang benar,
29:46karena kan seringkali,
29:47yang dipertemukan di lapangan,
29:49itu tadi,
29:49ada penangkapan,
29:51ada pembatasan,
29:52apa yang ini Anda sampaikan,
29:54sampai,
29:55otoritas keamanan itu,
29:56melakukan,
29:56hal-hal yang sebetulnya,
29:57tidak perlu dilakukan.
29:59Iya,
30:00Mas Yogi,
30:00saya tentu,
30:01tahu betul,
30:02bahwa,
30:04masyarakat,
30:05bergerak,
30:06aksi,
30:07turun ke jalan,
30:09para dosen,
30:10akademisi,
30:11mahasiswa,
30:12pasti punya,
30:13keresahan tersendiri,
30:15dengan setumpuk,
30:17argumentasi,
30:17dengan setumpuk,
30:19analisa,
30:19yang mereka bawa,
30:20namun,
30:21Mas Yogi,
30:22kita kan tidak bisa,
30:26melihat,
30:27ini hanya dalam konteks,
30:29satu persoalan hak,
30:30menyatakan pendapat,
30:31toh,
30:32Mas Yogi,
30:33kalau dicari di internet,
30:35misalnya,
30:36ada banyak,
30:38penyelundup,
30:39dalam,
30:40aksi,
30:40demonstrasi,
30:42ada yang membawa,
30:43senjata tajam,
30:44mudah dilihat,
30:45di pemberitaan internet,
30:46tersebar,
30:47barang bukti,
30:48diperlihatkan,
30:50hal-hal seperti ini,
30:51itulah yang dijaga,
30:53oleh pemerintah,
30:54agar apa,
30:55agar suara-suara,
30:57kritik,
30:58dari masyarakat,
30:59tidak,
31:00ternodai,
31:01dengan agenda,
31:03agenda,
31:03terselubung,
31:04karena ketika,
31:05itu dilakukan,
31:07terjadi,
31:08riuh rendah,
31:09yang mengakibatkan,
31:11kericuhan,
31:12kerusuhan,
31:12ada tindak pidana,
31:14maka mereka,
31:15yang ingin,
31:16menyalurkan pendapat,
31:17akan tersumbat,
31:19maka dari itu,
31:19preventif,
31:21yang digunakan,
31:22atau dalam mindset,
31:23aparat penegak hukum,
31:25itu yang,
31:26barangkali sekarang,
31:27sedang dilakukan,
31:28tentu kita ingat,
31:30memori tahun lalu,
31:31misalnya,
31:32ketika ada penjarahan,
31:34kan siapapun,
31:35Mas Yogi,
31:36dalam tingkat,
31:37kapasitas pendidikan,
31:39apapun,
31:40tentu tidak membenarkan,
31:42tindakan penjarahan,
31:43seperti itu,
31:44ini adalah,
31:45oknum,
31:46yang berusaha,
31:47menunggangi,
31:48aksi-aksi,
31:49demonstrasi,
31:50yang sebenarnya,
31:51itu adalah,
31:51hal yang lumrah,
31:52hal yang biasa,
31:54bahkan saya tingkatkan,
31:55Mas Yogi,
31:56hal yang dibutuhkan,
31:57oleh pemerintah,
31:58itu satu Mas Yogi,
31:59kemudian yang kedua,
31:59saya masuk pada pertanyaan Mas Yogi,
32:01lalu,
32:01bagaimana,
32:03pemerintah selama ini,
32:04mendengar kritik,
32:05saya sering menyampaikan,
32:06contoh Mas Yogi,
32:07selama ini,
32:08salah satu program,
32:09yang paling sering diberikan,
32:10masukan oleh masyarakat,
32:11itu kan makan bergizi gratis,
32:13di seluruh platform,
32:14media sosial,
32:16lalu,
32:16apa yang dilakukan oleh,
32:17pemerintah di sana,
32:19saya rasa,
32:19dengan pergantian,
32:20kepala BGN,
32:21baru-baru ini,
32:22Pak Sudaryono,
32:23ada banyak,
32:24aksi-aksi konkretnya,
32:26misalnya,
32:26Mas Yogi,
32:27menutup,
32:29833 dapur,
32:30yang bermasalah,
32:31secara permanen,
32:32kemudian yang kedua,
32:33memecat,
32:34memperhentikan,
32:36pegawai-pegawai non-PNS,
32:38yang melanggar hukum,
32:39yang ketiga,
32:40Mas Yogi,
32:41mengembalikan,
32:42uang 311 miliar,
32:44karena berdasarkan,
32:45investigasi,
32:47ada hal-hal,
32:47yang bermasalah,
32:48dari kepemimpinan yang lama,
32:49dan juga,
32:50ini yang terpenting,
32:51Mas Yogi,
32:52ada efisiensi,
32:53anggaran,
32:54sebesar,
32:5537 triliun rupiah,
32:57dari program MBG,
32:59dari awalnya,
33:00268 triliun,
33:02menjadi 229 triliun,
33:04apa yang ingin saya sampaikan,
33:05Mas Yogi,
33:06masukan-masukan masyarakat ini,
33:09bukan diabaikan,
33:10oleh pemerintah,
33:11ya,
33:11Anda tadi memang katakan,
33:12direspon,
33:13direspon,
33:14didengar,
33:15dipertimbangkan,
33:17dan dikeluarkan,
33:18dalam kebijakan-kebijakan,
33:20dan Mas Yogi,
33:2014 Agustus kemarin,
33:22ketika Presiden pidato,
33:24di gedung paripurna,
33:26DPR-MPR,
33:27di sana Presiden,
33:29menunjukkan,
33:30ini kerja-kerja,
33:32pemerintah selama ini,
33:33bukan atas nama,
33:35Jumawa,
33:35atau kesombongan,
33:36tapi dalam konteks transparansi,
33:39uang rakyat itu,
33:40digunakan oleh pemerintah,
33:42untuk membenahi,
33:43banyak sektor,
33:43dalam pidato Presiden,
33:45baik pidato pagi,
33:46maupun pidato sore,
33:47itu Mas Yogi.
33:48Prof Sulis,
33:49kalau dari penjelasan,
33:50Bung Kurnia,
33:50kan sebenarnya,
33:51beberapa direspon,
33:52tidak semuanya memang,
33:54tetapi,
33:54paling tidak soal MBG,
33:55yang menjadi sorotan luas,
33:57dicopotlah pimpinannya,
33:58kemudian diubah semua mekanismenya,
34:00tadi ada penutupan SPPG,
34:02sebetulnya kan,
34:03ada juga yang dijawab,
34:04tapi kalau dari perspektif,
34:06Prof Sulis,
34:06mungkin adakah hal-hal,
34:07yang belum tersentuh,
34:08atau,
34:09memang ini sudah ada,
34:10ya kan,
34:10tetapi,
34:10ada yang lebih substansi lagi,
34:13terkait,
34:13dengan manifesto misalnya.
34:14kalau soalnya MBG,
34:18mungkin ini adalah suatu ilustrasi,
34:20suatu jendela,
34:21untuk melihat persoalan-soalan yang lebih mendasar,
34:24di dalam negara hukum,
34:26setiap prosedur perumusan hukum,
34:30kebijakan,
34:31itu harus melalui konsen publik,
34:34harus ada landasan ilmiahnya,
34:37siapa sih sebenarnya,
34:38yang membutuhkan,
34:40dukungan dari pemerintah,
34:42bantuan makan itu,
34:43apakah semua,
34:45anak sekolah,
34:47wilayah-wilayah yang mana,
34:49gitu kan,
34:50kemudian juga,
34:54landasan ilmiahnya gak ada,
34:56perencanaannya juga,
34:57tidak terpublikasi,
34:58kepada masyarakat,
34:59dan tata kelolanya,
35:01yang sangat dipersoalkan oleh,
35:02banyak kelompok dalam masyarakat ya,
35:05tata kelola yang,
35:07memberi celah-celah,
35:09kepada terjadinya penyalahgunaan,
35:11penggunaan dana yang begitu besar,
35:13kemudian juga,
35:15mengambil,
35:16bagian dari,
35:18dana pendidikan,
35:19padahal,
35:20banyak rakyat mengatakan,
35:21yang kami butuhkan adalah pendidikan gratis,
35:24karena apakah,
35:25mengentaskan kemiskinan itu,
35:27bisa diselesaikan dengan makan siang,
35:29atau membuat orang-orangnya pintar,
35:31sehingga mereka bisa,
35:33mandiri,
35:35mencari penghidupan sendiri.
35:36Tadi disampaikan oleh Bung Kurnia,
35:39sebagian sudah dilakukan,
35:40sudah direspon.
35:41Tapi banyak yang belum dijawab,
35:43mas,
35:44itu banyak sekali persoalannya.
35:45Misalnya apa,
35:46selain MBG,
35:47apa catatan,
35:48Prof?
35:49Menggunakan dana pendidikan saja,
35:50menyebabkan,
35:52beberapa organisasi masyarakat,
35:54membawanya ke,
35:55Mahkamah Konstitusi kan,
35:56dan kemudian,
35:57jawaban dari,
35:58putusan itu adalah,
36:01ditunda,
36:02sampai,
36:032028 baru,
36:05kenapa harus semacam itu,
36:07apakah,
36:07tidak ada sensitivitas,
36:09dari Hakim,
36:09ini saya tulis di Kompas juga,
36:11yang dikeluhkan,
36:12oleh anak-anak Indonesia,
36:13adalah setiap tahun,
36:15mereka direngking,
36:16oleh ranking PISA,
36:17sebagai anak,
36:17yang tidak mampu,
36:19bermatematika,
36:20berbahasa,
36:21sains,
36:22dan lain-lain,
36:22itu,
36:23bagaimana kurikulum pendidikan,
36:25kualitas guru-gurunya,
36:27kesejahteraan guru-gurunya,
36:28itu yang harusnya prioritas,
36:29bukan makan siangnya,
36:31gitu.
36:31Kalau melihat begini kan,
36:33mungkin soal waktu saja,
36:34Prof masih melihat soal waktu,
36:35atau memang,
36:35memang ini sudah ada kebentuan,
36:37yang tidak akan didengar,
36:38karena kan,
36:39satu menyampaikan,
36:40masukkan kritik,
36:41satu hal,
36:41tapi juga direspon,
36:42juga akan hal lain,
36:44karena bagaimanapun,
36:44perintah juga banyak prioritas,
36:46Anda melihat,
36:47atau berharap seperti apa,
36:49sebetulnya?
36:49Saya tuh,
36:50sebagai guru ya,
36:52itu setiap tahun sedih,
36:53kalau tiap kali ada,
36:55ranking PISA keluar,
36:57kita tuh,
36:58di ranking,
36:58anak-anak kita tuh,
36:59di ranking sebagai anak-anak bodoh loh,
37:01hanya setingkat,
37:02atau sama,
37:03kategorinya dengan Laos,
37:05negara Laos gitu kan,
37:07itu kan sudah bertahun-tahun,
37:08seperti itu,
37:09mengapa tidak melihat,
37:10bagaimana guru-guru,
37:12yang membuat,
37:13anak-anak Indonesia pintar,
37:14itu tidak pernah dihargai,
37:16di negeri ini,
37:17tidak pernah dihargai.
37:18dan itu yang akan terus Anda suarakan,
37:21akan sampaikan kepada pemerintah,
37:23agar hal-hal yang dikhawatirkan tadi,
37:26kaitannya dengan,
37:27anak-anak Indonesia itu,
37:29paling tidak,
37:30tidak terjadi,
37:30dan bisa ada solusi yang real dari,
37:34kualitas kurikulum,
37:35kualitas guru,
37:36itu menjadi,
37:37menurut saya,
37:38tidak mendapat perhatian.
37:39Oke,
37:40saya ke Mas Budi,
37:41Mas Budi,
37:42tadi kan jelas,
37:43dari Bakom mengatakan bahwa,
37:45respon cepat,
37:47soal MBG misalnya,
37:48yang jadi sorotan banyak,
37:49diganti,
37:50diubah,
37:51dan sebagainya,
37:52tapi kenapa Anda tadi,
37:53masih menyampaikan bahwa,
37:54indikator-indikator,
37:55hal-hal yang kira-kira bisa berpotensi,
37:58membuat masyarakat kecewa,
37:59dan berakumulasi,
38:00yang tadi ada sebut,
38:00ada patahan sejarah,
38:01mempercepat pemilu lebih awal.
38:03Bahwa pemerintah melakukan percepatan,
38:06atau melakukan perubahan-perubahan,
38:07respon,
38:08harus kita akui,
38:09responnya juga cepat.
38:11Lalu bagian mana,
38:11yang Anda belum tangkap?
38:12Tapi persoalannya,
38:13ekspektasi masyarakat,
38:14sangat tinggi,
38:16mungkin kecepatannya sudah cukup,
38:18ternyata masyarakat,
38:18mau minta lebih cepat lagi.
38:20Kalau boleh tahu apa,
38:21misalnya,
38:22yang belum direspon?
38:23Misalnya begini,
38:24ini dunia,
38:25bukan teknologi digital,
38:28dunia semakin terbuka,
38:29bayangkan masyarakat,
38:30tiap hari bisa ngitungin,
38:31pakai kalkulator,
38:32ini makanan,
38:33sekian-sekian nilainya,
38:34di-upload.
38:36Jadi praktek-praktek KKN,
38:41atau korupsi yang di depan mata mereka,
38:43mereka tidak bisa terima.
38:45Nah, kita mendukung,
38:47pemerintahan Prabowo Gibran,
38:49untuk melakukan pemberantasan korupsi,
38:51sampai kakar-kakarnya.
38:53Jadi itu harus diwujudkan secara konsisten,
38:57karena saya lihat Pak Presiden,
39:00bikin Satgas PKH,
39:04pemusatan ekspor,
39:06barang-barang strategis,
39:07lewat desi dan sebagainya,
39:10termasuk juga pemberantasan korupsi,
39:12di berbagai sektor.
39:15Nah,
39:15yang pasti,
39:17kita juga berharap,
39:18masyarakat juga berharap,
39:19bahwa pemberantasan korupsi itu juga,
39:21jangan,
39:22memberantas korupsi,
39:23tapi sapunya masih kotor,
39:24kanan-kiri gitu loh.
39:25Capunya masih kotor?
39:26Kanan-kirinya kok masih ada masalah-masalah,
39:28terutama yang menyangkut program-program strategis,
39:32Pak Presiden,
39:34karena itu,
39:34ini kan soal harapan masyarakat,
39:36harapan masyarakat tinggi,
39:38nggak bisa disalahin.
39:39Oke.
39:40Iya kan?
39:40Tetapi,
39:41masyarakat juga menuntut respon,
39:43yang jauh lebih cepat,
39:45dari yang dilakukan pemerintah.
39:47Saya nggak bilang pemerintah,
39:48nggak ada progres,
39:48ada respon,
39:49ada progres.
39:50Kenapa saya harus bertanya ini,
39:52kepada Anda Mas Budi?
39:53Kenapa?
39:53Karena ini kan kaitannya,
39:55ini sekaligus ruang gratifikasi,
39:56ada kaitannya bahwa,
39:57sudah mulai ada,
40:00ketidakcocokan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo,
40:03dan Anda ini kan representasinya dari Pak Jokowi,
40:05dalam konteks ini,
40:06ketika menyoal bahwa ada hal-hal yang belum bisa dipenuhi oleh pemerintahan ini,
40:11terhadap ekspektasi publik.
40:13Nah untuk itu kan kemudian mesti dikelirkan,
40:15karena kalau itu nuansanya adalah,
40:17apapun yang Anda sampaikan,
40:18akan dibaca sebagai gerakan politik.
40:23bahwa ada upaya-upaya untuk membenturkan Pak Jokowi dan Pak Prabowo terlihat kasat mata.
40:30Apa contohnya?
40:31Ya,
40:33berbagai skenario lah,
40:35termasuk narasi-narasi yang ingin membenturkan Pak Jokowi dan Pak Prabowo,
40:39yang menurut Hemat Kaya itu sangat tidak produktif,
40:42karena kita membutuhkan persatuan nasional,
40:45bukan hanya Pak Prabowo dan Pak Jokowi yang harus bersatu,
40:49tapi juga semua pemimpin bangsa.
40:50Karena negara ini membutuhkan persatuan,
40:53bahwa terjadi,
40:54jangan setiap perbedaan pendapat dianggap musuh.
40:56Jangan setiap perbedaan pendapat dianggap musuh.
41:00Jangan.
41:01Hari ini masih dianggap musuh?
41:03Sebagian besar sudah tidak,
41:04tapi hal-hal yang penting bahwa,
41:06apapun perbedaan pertanggap itu harus kita rayakan di era demokrasi ini.
41:10Masih di satu majadu forum,
41:12saya di segmen terakhir,
41:14di bagian terakhir saya akan memberikan kesempatan
41:15untuk memberikan closing statement
41:17yang kaitannya dengan demonstrasi demokrasi dan Indonesia.
41:21Mas Budi silahkan.
41:22Demonstrasi itu bagian penting yang dihormati
41:27haknya dalam iklim demokrasi.
41:30Menyampaikan pendapat,
41:32menyampaikan aspirasi,
41:34menyampaikan tuntutan,
41:36itu harus kita hormati
41:37dalam berbagai sendi kehidupan di masyarakat.
41:42Karena demokrasi mengisyaratkan
41:44perlunya partisipasi publik yang aktif,
41:49sehingga meningkatkan bobot dan kualitas demokrasi.
41:53Dan ini penting buat bangsa Indonesia.
41:56Karena 28 tahun demokrasi Indonesia ini perlu vitamin,
42:01perlu suplemen,
42:03untuk terus meningkatkan gizi demokrasi kita.
42:06Karena demokrasi kita ini
42:07yang akan membawa bangsa Indonesia
42:11ke arah kemajuan,
42:12khususnya menuju Indonesia Emas 2045.
42:15Oke, Prof. Sulis.
42:17Hal yang dibutuhkan oleh anak-anak muda kita,
42:20yang hari ini jumlahnya secara demografis
42:23paling banyak dalam jumlah penduduk Indonesia,
42:27itu adalah agar mereka bisa memproduksi
42:31sains, teknologi, produk-produk rekomendasi sosial,
42:35humaniora, produk-produk budaya,
42:37musik, film, dan macam-macam itu.
42:41Dan itu tidak akan bisa dikejar
42:44apabila mereka tidak difasilitasi secara baik
42:48soal-soal pendidikan dan kesehatan.
42:50Dan memberikan program yang membuat mereka keracunan,
42:55itu saya kira adalah program yang salah sasaran.
42:57Tujuannya baik, filosofinya baik,
42:59tetapi harus ditinjau ulang secara menyuluruh menurut saya.
43:05Meskipun tetap ada perbaikan kan dalam,
43:07Anda melihat kan keracunan dari keracunan-keracunan
43:09kan tetap ada perbaikan, Anda melihat itu kan?
43:14Sepanjang belum menjawab
43:16persoalan-persoalan dasarnya
43:17bagaimana tujuan-tujuan baik itu
43:20ternyata keracunan satu orang pun
43:23dari perspektif HAM itu tidak bisa benarkan.
43:25Oke, Bung Kurnia.
43:27Iya Mas Yogi, saya sedikit nyambung
43:29dari Prof. Sulis tadi.
43:31Ada dua substansi di dalam putusan MK
43:34yang Prof. Sulis sampaikan tadi.
43:35Satu terkait dengan pos alokasi anggaran MBG,
43:39ke depan tidak lagi menggunakan anggaran pendidikan,
43:42namun ada satu lagi.
43:44Saya baca kebetulan Mas Yogi putusan itu.
43:46Apa yang dikatakan Hakim MK di sana?
43:48Program MBG adalah program yang konstitusional.
43:52institusional, dicantumkan pasal-pasal
43:55di dalam konstitusi
43:56sebagai pengait di dalam program MBG itu sendiri.
44:00Satu, kemudian yang kedua,
44:02pemenahan terus dilakukan
44:03dan saya rasa tadi beberapa contoh
44:05sudah saya sampaikan.
44:07Khususnya tentang penajaman
44:09siapa sebenarnya yang berhak menerima MBG
44:11dan itu sudah terbuka disampaikan oleh Kepala BG.
44:14Itu kedua, Mas Yogi.
44:15Ketiga, Mas Yogi, yang terpenting.
44:17Saat ini saudara-saudara kita
44:20sedang menghadapi cobaan yang berat.
44:22Ada gempa di NTT,
44:25ada kebakaran hutan dan lahan
44:27di Pulau Kalimantan.
44:29Dan pemerintah sedang berjibaku,
44:32sedang berupaya untuk membantu saudara kita di NTT
44:35dan mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan tersebut.
44:39Maka dari itu, Mas Yogi, ketika hari ini, esok hari, lusa,
44:45ada yang ingin menyatakan pendapat, silahkan.
44:48Namun jangan menimbulkan kericuhan.
44:51Jangan menimbulkan perpecahan
44:53dengan aksi-aksi yang melanggar hukum.
44:56Pemerintah tadi yang di awal saya sampaikan, Mas Yogi,
45:00berusaha untuk tunduk dan taat pada konstitusi.
45:04Maka ketika konstitusi mengatakan setiap orang
45:07punya hak untuk menyatakan pendapat,
45:10maka pemerintah menghormati hak itu,
45:13namun asal jangan menimbulkan kericuhan.
45:17Demikian, Mas Yogi.
45:18Terima kasih, Bung Kurnia Ramadhan.
45:19Terima kasih, Prof. Sulis.
45:20Terima kasih, Mas Budi.
45:21Terima kasih, Prof. Sulis.
Komentar

Dianjurkan