Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Prof. Sulistyowati Irianto dari Forum Intelektual Antardisiplin atau FIAD menyoroti fenomena meningkatnya aksi masyarakat di berbagai daerah.

Menurutnya, yang seharusnya menjadi perhatian bukan sekadar aksi demonstrasinya, melainkan alasan yang mendorong masyarakat turun ke jalan.

Maka Sulistyowati meminta pemerintah melihat persoalan dan tuntutan yang melatarbelakangi aksi tersebut.

Ia juga mengkritik anggapan bahwa demonstrasi selalu identik dengan anarkisme atau kerusuhan.

Sulistyowati menilai apabila terdapat pihak yang melakukan tindakan kriminal dalam aksi demonstrasi, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka siapa pelakunya.

Ia meminta agar tindakan sejumlah oknum tidak serta-merta dibebankan kepada mahasiswa.

Ia juga mengingatkan peran gerakan masyarakat sipil dalam sejarah Indonesia sebagai bagian dari fungsi kontrol terhadap kekuasaan.

Sementara itu, Aktivis 98 Budi Arie Setiadi menilai kritik masyarakat merupakan bagian penting dalam menjaga dan memperkuat demokrasi.

Menurut Budi Arie, perkembangan teknologi digital membuat informasi dan kritik masyarakat semakin cepat tersebar. Karena itu, demokrasi harus mampu membuka ruang bagi kritik dan autokritik.

Budi Arie menilai kritik masyarakat diperlukan sebagai bagian dari upaya memperbaiki pemerintahan.

Di sisi lain, Deputi III Bakom RI Kurnia Ramadhana mengatakan pemerintah memahami adanya hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Namun, ia juga menyebut pemerintah harus memastikan aksi berjalan tanpa mengganggu hak masyarakat lainnya.

Terkait rencana demonstrasi 27 dan 28 Agustus, Kurnia menegaskan pemerintah menjamin keamanan.

Kurnia mengatakan pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat yang memiliki keresahan terhadap kebijakan negara untuk menyampaikan pendapat.



Bagaimana menurut Anda? Tulis di kolom komentar.



#demo #budiarie #bakom

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687602/akademisi-tanggapi-demo-27-agustus-budi-arie-jangan-sampai-harapan-hilang-satu-meja
Transkrip
00:00Jakarta menjadi aman-nyaman kalau kita semua bisa menjaga dengan baik.
00:06Demo itu dijamin oleh demokrasi dan kami mempersilahkan mau demo tanggal 26, 27, mau gue saja.
00:12Tetapi yang tidak boleh dilakukan adalah melakukan perusahaan, melakukan anarkis,
00:17dan kemudian melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik.
00:26Masih di satu majadu forum saya melanjutkan tadi Bung Kurnia soal sudah betul tadi pemahamannya bahwa di undang-undang
00:33dan tadi saya pun mengatakan bahwa presiden berulang kali, tapi seringkali yang disoal adalah praktek di lapangan.
00:40Masih banyak loh tahun 2025 lalu yang masih ditahan, mahasiswa dan sebagainya.
00:46Juga ada penghadangan, hal-hal seperti ini yang kemudian publik menangkapnya.
00:50Kenapa ya? Sepertinya tidak sinkron apa yang disampaikan oleh presiden soal menjaga iklim demokrasi dengan apa yang terjadi di lapangan.
00:57Ya bahkan ada juga beberapa yang pada akhirnya masuk ke proses hukum dan dinyatakan bebas oleh majelis hakim.
01:05Tentu ketika proses itu terjadi akan jadi bahan evaluasi tidak hanya pada pemerintah tapi pada aparat penegak hukum.
01:12Dan juga Mas Yogi yang penting satu sisi hak menyatakan pendapat itu mutlak melekat pada setiap orang.
01:20Tapi di sisi yang lain ketika menyatakan pendapat itu ada hal-hal yang dikecualikan.
01:27Misalnya terkait dengan anarkisme.
01:29Tentu siapapun itu pasti tidak menginginkan hal tersebut.
01:33Maka dari itu pemerintah dalam hal ini menjamin 27 Agustus, 28 Agustus, Jakarta aman dan Indonesia aman.
01:44Pemerintah memberikan tempat bagi orang-orang yang punya keresahan terhadap kebijakan negara
01:51dan juga pemerintah satu sisi menjamin hak-hak orang lain yang tidak ikut dalam barisan menyatakan pendapat
01:58juga dapat beraktifitas seperti semula.
02:01Tentu kita tidak ingin menebar ketakutan.
02:05Kita tidak ingin menebar keresahan.
02:08Justru pesan-pesan perdamaian, pesan-pesan persatuan, pesan-pesan kebebasan dalam menyatakan pendapat.
02:14Itu yang ingin saya tekankan dalam forum Satu Mesir.
02:17Ya, itu yang saya sampaikan.
02:20Mungkin ini juga bagian dari koreksi atau mungkin ada penjelasan lain ya.
02:23Kenapa harus ada penghadangan?
02:25Dan itu fakta ya.
02:27Artinya beberapa bus yang mau masuk, itu kan bagian dari haknya masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
02:33Tapi kenapa harus dihadang misalnya?
02:35Atau ada analisa lain dari pemerintah?
02:39Kenapa harus dihadang?
02:40Kenapa harus di blokir?
02:42Dan sebagainya.
02:42Saya rasa aparat penegak hukum punya alasan tersendiri dan bisa menjelaskan itu.
02:49Kalau terkait dengan penghentian transaksi, pemblokiran.
02:54Tadi waktu saya dalam perjalanan ke Kompas, Mas Yogi, membaca berita, saya rasa sudah clear.
03:00Ada Ketua Komisi 3 DPR RI, ada Kapolda Metro Jaya dan menjamin bahwa rekening yang bersangkutan sudah aktif kembali per
03:09hari ini.
03:10Bahkan ada Direktur Bang Himbara di sana.
03:13Dan itu boleh dibilang koreksi ya atas tindakan di awal kan.
03:16Ternyata ada koreksi kan.
03:17Yang penting kan intinya, itu yang kemudian saya soal gitu.
03:20Harusnya hal ini tidak terjadi lagi.
03:22Supaya komitmen Presiden itu toal menjaga iklim demokrasi itu bisa terjaga.
03:27Saya ke Prof Sulis Prof, kalau melihat bacaan ya, bacaan Prof.
03:32Kan dari sisi guru besar sendiri juga berkumpul dan mengatakan, ini bukan gerakan politik kok, ini panggilan nurani.
03:40Ini tugas, ini negara memanggil bahwa ada sesuatu yang ingin menjaga Indonesia.
03:46Di masyarakat juga berkembang kan.
03:47Memang ada hal yang berbeda, misalnya soal landscape komunikasi.
03:51Beredar informasi yang sebagian besar mungkin bisa, harus dikonfirmasi.
03:54Yang masyarakat jadi ketakutan, ada apa ya?
03:57Padahal demo ini kan sesuatu yang biasa, sesuatu yang normal saja.
04:02Satu tadi harus menjaga ketertibaan.
04:05Tetapi kenapa?
04:06Kira-kira ada akumulasi kah, ada saluran yang tersumbat kah, sehingga semuanya akhirnya berujung ke jalan.
04:13Ada beberapa juga yang memang melakukan digital social movement di sosmed.
04:18Atau memang ada situasi yang ini kebuntuan ini.
04:21Sampai akhirnya harus terakumulasi, termasuk juga para guru besar.
04:26Kan harusnya yang ditanyakan adalah mengapa mereka melakukan demo.
04:30Dan itu bukan di Jakarta saja, tapi banyak sekali di kota-kota lain, di pulau-pulau lain ya.
04:37Itu yang mestinya dipertanyakan dan dijawab.
04:43Apa yang menjadi persoalan mereka, apa yang menjadi desakan mereka.
04:47Jangan sekedar memberi label.
04:49Oh kalau ada demonstrasi itu pasti ada anarkisme, ada perusuh gitu kan.
04:55Bukankah begitu banyak orang ditangkap dan sebagiannya banyak juga.
05:00700-an orang di penjara dan kemudian itu dilepaskan setelah 5-6 bulan.
05:05Artinya salah tangkap gitu kan.
05:08Nah itu kan yang mesti menjadi self-street system koreksi gitu kan ya.
05:13Nah sebenarnya harus diingat juga di dalam sejarah Indonesia jelas bahwa Indonesia itu sejak tahun 1900-an awal jauh dari
05:23kemerdekaan.
05:24Sudah ada gerakan-gerakan sosial, gerakan perempuan dan orang-orang muda.
05:30Lihatlah siapa yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
05:33Siapa yang memberikan Indonesia itu adalah orang muda.
05:36Dan siapa yang merawat?
05:37Merawat dalam arti selalu melakukan check and balances terutama ketika parlemen tidak melakukan tugasnya.
05:47Menjadikan dirinya berfungsi sebagai check and balances itu diambil alih oleh gerakan masyarakat sipil dalam hal ini adalah orang-orang
05:54muda.
05:55Dan kalau gak ada gerakan itu kita gak membayangkan bahwa Indonesia masih ada loh.
06:01Sejak dari 1900-an sampai abad 21 ini.
06:04Apa menurut Prof. Sulis yang harus dikerjakan?
06:07Apakah memang ini harus diinisiasi oleh negara?
06:10Misalnya contoh supaya tidak mencampur adukan gerakan moral, niat baik yang disampaikan oleh Bung Kurnia.
06:16Pasti didengarlah apalagi guru besar.
06:18Tapi kan juga tidak menutup kemungkinan.
06:20Ada juga pihak-pihak namanya juga sebuah negara.
06:23Ada pihak-pihak yang ingin mengganggu.
06:25Tujuannya tidak selaras dengan apa yang disampaikan oleh gerakan nurani yang disampaikan oleh Prof. Sulis.
06:31Dan mestinya di kalau misalnya ada yang tertangkap siapa yang membakar halte bus dan apa nyatakan kepada publik siapa mereka
06:40gitu.
06:40Jangan semuanya dilabelkan kepada para mahasiswa dan itu adalah anak-anak saya siapapun mereka.
06:47Dan mereka itu diajari bagaimana untuk berpikir kritikal skeptikal.
06:51Karena Bung Hatta mengatakan bahwa tugasmulah universitas untuk menghasilkan manusia Indonesia yang berkarakter.
07:00Yaitu yang mencintai kebenaran yang berani mengatakan salah apabila ada hal-hal yang tidak benar.
07:07Dan itu kami ajarkan di universitas.
07:09Prof saya fokus ke yang informasi soal beredar 27, 28, Agustus ini.
07:16Sampai kalimatnya adalah Agustus itu kan beredar luas.
07:19Kenapa ya agak berbeda nuansanya gitu.
07:21Artinya banyak ke saya misalnya, masyarakat, saudara saya yang bertanya gimana aman gak?
07:27Aman gak?
07:27Untung tadi Bung Kuni udah mengatakan aman gitu.
07:30Artinya ini udah muncul.
07:32Apa ya kira-kira yang membuat ini?
07:34Apakah ada akumulasi atau ada saluran yang tidak tersampaikan, yang saya tanyakan.
07:40Tetapi agak berbeda ini nuansanya.
07:42Kami pun juga media bilang ini ada apa ya?
07:44Padahal kan demo ini berulang terus-terusan.
07:47Tapi kali ini agak berbeda nuansanya.
07:49Jawabannya bisa banyak ya mas.
07:51Tapi kalau saya boleh menjawab dari satu sisi.
07:54Perspektif.
07:54Kita kan sekarang menjadi masyarakat global.
07:57Terhubung anak-anak muda ini dengan masyarakat global.
08:01Karena ada globalisasi hukum di mana konvensi-konvensi internasional,
08:06dalam bidang-bidang hak asasi manusia dan macam-macam itu
08:09diratifikasi oleh negara-negara.
08:11Sehingga anak-anak muda itu memiliki pengetahuan yang sama
08:15tentang demokrasi, tentang hak asasi manusia, tentang anti korupsi.
08:19Sehingga muncullah di Maldives, di Nepal, di India.
08:23Dan sekarang Indonesia, Filipina tidak saling mengenal mereka.
08:28Tetapi mereka punya kesadaran yang sama.
08:31Bahwa mereka itu harus melakukan perubahan-perubahan gitu.
08:35Pak Budi, kan sebagai aktivis, konten aktivis 98,
08:42sekarang ada di Projo, saya harus dibutlah, pernah ada di pemerintahan.
08:45Anda melihat dong dinamika kebebasan berpendapat dan bagaimana negara menghadapi itu.
08:51Anda melihat sekarang ini ada nggak memang pembatasan-pembatasan,
08:56ada nuansa-nuansa represif yang muncul dari aparatus negara terhadap gerakan mahasiswa misalnya.
09:07Begini, esensinya kebebasan berpendapat itu terjadi.
09:12Apalagi di era kemajuan teknologi digital yang masih begini,
09:16informasi sudah sama sekali tidak bisa dibendung.
09:20kecepatannya, dalam hal kecepatan.
09:23Karena yang muncul dari era digitalisasi ini kan kecepatan.
09:28Dulu menghubungi orang mungkin satu menit, setengah jam baru nyambung.
09:32Sekarang dalam hitungan detik, semua informasi bisa tersebar di seluruh dunia.
09:36Karena itulah demokrasi kita ini harus kita maknai sebagai demokrasi yang memperkuat.
09:45Karena apa? Karena kritik, otokritik dari masyarakat ini penting untuk perbaikan-perbaikan.
09:53Di seluruh dunia, peradaban yang bertahan adalah peradaban yang menerima kritik.
10:00Dan lahir dari tradisi masyarakat yang sehat.
10:04Mbak Budi, saya mau pakai case Anda yang masih baru ini ya.
10:08Kan dalam konteks kebebasan berpendapat dan Anda mengatakan itu penyataan saya pribadi,
10:12tujuannya mengingatkan.
10:13Tapi kan ada konteks ya, di tengah nuansa kekhawatiran masyarakat akan ada demo besar,
10:19apalagi traumatik tahun lalu, persis di bulan Agustus juga.
10:22Kira-kira di tanggal 25 sampai dengan akhir September.
10:26Tiba-tiba Anda menyatakan, ini kan pendapat saya.
10:28Tapi isinya adalah soal pemilu dipercepat.
10:33Isinya adalah kemungkinan pemerintahan jatuh lebih awal.
10:35Ini gimana menurut Anda, kebebasan pendapat atau Anda harus melihat bahwa kepekaan?
10:40Itu kan analisa pendapat.
10:42Yang menurut hemat kami tetap dalam konteks fondasinya adalah demokrasi dan konstitusi.
10:49Oh iya, itu pasti.
10:50Pemilih itu konstitusional dan demokratis.
10:55Kan ini yang saya sayangkan kan orang yang masih ngomong jatuhkan,
10:59turunkan si A, si B, turunkan wapres, turunkan persis.
11:02Ini kan bahasa-bahasa non-demokratis.
11:08Kalau mau ya, kalau kita sudah melakukan pemilu berkala,
11:12kita laksenggarakan pemilu itu secara berkala.
11:14Tetapi saya sudah sampaikan,
11:16insting saya kok kalau tidak di-manage dengan baik ini bisa lebih cepat.
11:22Begitu loh.
11:22Karena itu ini apa?
11:25Kalau tidak di-manage dengan baik bisa lebih cepat.
11:27Halus menjadi perhatian bersama semua pihak untuk mengedepankan solusi.
11:34Tapi satu tadi yang saya bilang, kita harus jaga demokrasinya.
11:37Karena demokrasi ini kita perjuangan 28 tahun lalu ini tidak sembarangan loh.
11:4198 itu kita perjuangan, yang kita perjuangan adalah mengwujudkan demokrasi di Indonesia.
11:47Jangan sampai demokrasi ini setback dengan cara-cara non-demokratis.
11:54Makanya yang kita lawan apa sih?
11:59Totalitarisme, militerisme.
12:01Kita harus mengembalikan tempatnya.
12:04Demokrasi ini harus menempatkan rakyat sebagai pihak yang berdaulat.
12:11Sebagai orang yang dari awal mendukung Prabowo Gibran, saya tahu persis kan,
12:16ada barisan terdepan, di tengah pro kontra soal penjalan Prabowo Gibran.
12:21Yang kedua, Anda pernah ada di pemerintahan Prabowo juga, dan pasti juga di pemerintahan Pak Jokowi.
12:27Anda melihat pemerintahan Prabowo Gibran ini dalam konteks merespon kritik,
12:32merespon masukan dari masyarakat seperti apa?
12:34Menurut saya caranya sudah bagus, sudah lebih baik lah.
12:38Ada improve, ada perbaikan-perbaikan, termasuk juga pendapat masyarakat bisa didengar dan melakukan perbaikan.
12:46Misalnya contohnya.
12:47Lalu apa yang membuat Anda berpendapat bahwa ini bisa lebih cepat?
12:50Ini faktor-faktor non-konvensional.
12:53Apa misalnya Anda menemukan?
12:55Ya kondisi dan juga hal-hal lain yang membuat proses demokrasi itu mengalami hal-hal yang perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian.
13:12Tetapi menurut hemat kami, selama mesinnya adalah pemilu, tetap kita mengedepankan agenda demokrasi.
13:20Tapi intinya saya cuma mengingatkan bahwa itu kan kemungkinan.
13:25Itu kemungkinan?
13:26Insting.
13:27Semoga saja kita tetap berharap pada proses yang berkala dan berjadwal sesuai waktu.
13:37Tapi jangan lupa satu situasinya Anda dan konteksnya.
13:41Justru itu yang harus kita jaga adalah bagaimana dinamika masyarakat ini mendapatkan ruang untuk segera pemerintahan ini
13:51mengeksekusi dengan baik semua yang menjadi harapan masyarakat.
13:55Karena satu, dalam demokrasi itu yang tidak boleh hilang apa?
13:59Harapan rakyat jangan sampai hilang.
14:01Begitu harapan rakyat hilang, itu jadi hal-hal yang di luar konsepsi demokrasi itu yang akan ledak.
Komentar

Dianjurkan