Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kebakaran hutan masih mengepung Kalimantan dan sejumlah wilayah di kawasan Kalimantan. Sudah hampir sebulan kebakaran terjadi, namun titik api makin meluas, dan tebalnya asap akibat kebakaran hutan sudah mengganggu dan berdampak pada kesehatan warga.

Kita bahas bersama salah satu tim Damkar yang sudah berjibaku untuk memadamkan api di kawasan Kalimantan Selatan, Muhammad Rijali, dan juga ada warga Banjarbaru, Ahmad Zaini.

#karhutla #asap #kalimantan

Baca Juga Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Status Terdakwa Berlanjut ke Persidangan | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/686758/praperadilan-dokter-tifa-ditolak-status-terdakwa-berlanjut-ke-persidangan-kompas-siang



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/686761/full-petugas-damkar-warga-banjarbaru-ungkap-situasi-karhutla-udaranya-buat-kami-sesak-nafas
Transkrip
00:00Kebakaran hutan masih mengepung wilayah Kalimantan.
00:03Sudah hampir satu bulan kebakaran terjadi, tapi titik api makin meluas.
00:07Imbasnya asap tebal menyelimuti hingga mengganggu kesehatan warga.
00:12Bergabung dalam diskusi kami untuk sore hari ini, jelang pukul 6 sore waktu Indonesia Tengah.
00:16Salah satu tim Damkar yang sudah berjibaku untuk memadamkan api di kawasan Kalimantan Selatan,
00:21Muhammad Rijali, serta seorang warga Banjarbaru, Ahmad Zaini.
00:25Selamat sore, Bapak-Bapak sekalian dengan Tifal di Studio Jakarta.
00:28Suara saya terdengar jelas ya?
00:31Baik, terdengar jelas.
00:32Baik. Pak Zaini, saya mau tahu dulu posisi Anda di kecamatan mana di Banjarbaru, Pak?
00:39Tengah, Pak.
00:40Oke. Sejauh ini kebakaran di sana bagaimana dan efeknya terhadap kabut asap sudah semengganggu apa Anda di sana, Pak?
00:49Kebakaran untuk saat ini sangat parah, Pak.
00:53Dan udaranya membuat kami sesak bernapas.
00:59Dan itu adakah anggota keluarga Anda yang juga sudah mengalami atau mengeluhkan gangguan kesehatan,
01:06susah bernapas atau mungkin sampai harus dirawat dan semacamnya, Bang?
01:09Boleh cerita lebih banyak, Bang?
01:11Rata-rata di kampung kami ini, di lianggang, sesak nafas itu, Pak.
01:16Karena setiap hari terhirup asap-asap kebakaran lahan ini.
01:24Nah, istri, Bapak...
01:27Silahkan, Bang. Silahkan dilanjutkan, Bang.
01:29Istri, Bapak, Mama, semuanya itu nah,
01:33terdampak asap, kok.
01:34Jadi, susah untuk bernapas asmalah itu.
01:39Kalau mau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya nih, Bang,
01:42saya ingatkan 2015 dulu juga pernah kebakaran besar juga, ya.
01:46Kalau mau dibandingkan dengan sekarang, lebih parah yang mana, Bang?
01:49Parah yang sekarang, Pak.
01:51Salahnya sini dekat terus dengan pemukiman warga, api-apinya.
01:56Tadi ada parah yang kena api, tetangga.
02:05Ada yang kena huniannya udah ikut kebakar juga begitu, Bang?
02:09Kenapa, Pak?
02:11Rumahnya ikut kebakar juga?
02:13Eh, kena, Pak. Depurnya.
02:14Depurnya tuh kena sudah.
02:16Tapi, sikap hubungan pemadam kebakaran, Pak Jali,
02:20dan rekan-rekan lain membentuk Pak Polisi juga, TNI.
02:25Oke, Pak Rijali sekarang.
02:28Pak Rijali, kalau yang Anda amati dan Anda tangani sejauh ini,
02:32seberapa parah sebetulnya untuk menangani karhutlah?
02:35Karena saya lihat laporannya, makin hari makin meluas titik-titiknya, betul, Pak?
02:40Ya, betul.
02:41Makin hari makin meluas dan makin banyak lahan yang terbakar,
02:44otomatis tim kami juga cukup ekstra untuk melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan
02:51di wilayah Landasan Ulin di Kota Banjarbaru.
02:55Dan juga, untuk sekarang, api sudah hampir, selalu hampir mengenai pemukiman warga atau rumah warga.
03:02Karena di belakang rumah warga itu masih banyak semak belukar yang tidak dibersihkan
03:07dan itu yang membiasakan kepada pemukiman warga.
03:10Sehingga pendekatan untuk pemadamannya sudah tidak bisa lagi pakai jalur darat.
03:14Harus lewat udara atau ada strategi lain mungkin, Pak Rijali?
03:19Oke, baik.
03:20Kami menggunakan dua strategi.
03:22Kalaupun itu menggunakan jalur udara, berarti itu harus perumahan itu jauh dari jurnal listrik atau tiang listrik.
03:29Jika itu mendekati tiang listrik, kami menggunakan metode jalur darat,
03:33yaitu menggunakan unit tanki dan portable yang di jalur darat tersebut untuk melakukan pemadamannya.
03:39Untuk dukungan dari pusat, ada tambahan personel kah, alat-alat untuk membantu proses pemadaman,
03:45atau ada hal lain mungkin, Pak Rijali?
03:47Oke, kalau untuk personel, Alhamdulillah, beberapa waktu terakhir juga kami dapat bantuan dari pihak perusahaan juga
03:55menurunkan banyak pasukan ke lapangan untuk membantu kami di lapangan.
04:00Ada pun untuk dari pusat, segala peralatan sudah dicukupkan untuk kami di lapangan, disediakan semuanya.
04:08Dan ini masih memungkinkan penanganan dalam jangka panjang atau hanya dalam waktu tertentu saja bantuan yang ada sekarang, Pak?
04:16Untuk saat ini kemungkinan masih bisa digunakan jangka panjang,
04:20karena untuk jangka panjang saat ini, lahan gambut yang 2-3 meter itu yang perlu penanganan ekstra.
04:28Ini dengan kondisi yang makin luas, titik api, bahkan mendekati permukiman warga,
04:34ada tantangan sendiri nggak sih, Pak Rijali, kalau melihat kondisinya seperti ini,
04:38bahkan tadi Bang Zaini di titik yang lain di wilayah Banjarbaru bilang ini yang lebih parah ketimbangkan yang dahulu-dahulu?
04:44Betul, kalau untuk tantangan sebenarnya semua ada resikonya, semua ada tantangannya.
04:50Melainkan kami tetap mencoba untuk mengusahakan yang terbaik, sesulit apapun itu tantangannya.
04:56Insya Allah masih bisa dilaksanakan.
04:57Oke, Pak Zaini, kalau melihat kabut asap efek yang udah sebesar itu, Pak,
05:05kalau Anda melihatnya bantuan-bantuan yang didatangkan dari Pemda atau dari pemerintah pusat sudah cukup atau belum?
05:12Kalau belum cukup, harus yang kayak gimana sih Bang bantuan yang harus ditunjukkan ke warga, gitu?
05:19Untuk saat ini belum cukup.
05:21Masker tuh masih kurang, Pak, disini setiap rumah tuh belum dikasih masker,
05:27harga itu masih kurang, kami susah bernapas.
05:30Waktu pagi itu kabut, jadi ngalih pandangan terbatas cuma 2 meter,
05:36menghirup topang, Pak, ya, nah.
05:38Menghirup udara itu, nah, udara yang asap.
05:43Untuk Tuhan Pemadam sudah cukup, sudah.
05:47Beritnya banyak saja sudah, nah.
05:50Jadi sini anehnya aja, Pak, lagi.
05:52Munkawa tuh siap di muka rumah tuh ada sumur-sumur, kan, Pak.
05:56Karena di sini, air tuh kekurangan karena kering tuh, Pak.
06:01Kalau bisa, kepada pemerintah untuk membuat sumur, Pak,
06:06supaya nyaman hubungan pemadam ini mambil airnya.
06:10Biar gampang untuk memadamkan api di situ, ya.
06:13Tapi kalau sejauh ini, Pak Zaini, Anda udah merasakan gangguan kesehatan
06:16atau sesak nafas dan semacamnya gara-gara kabut asap beberapa hari kebelakang ini?
06:21Iya, Pak.
06:22Karena asap ini,
06:25asma itu, Pak, susah bernapas.
06:28Badan selemas, Pak, terhirup.
06:30Sudara kabut harus, Pak, asap.
06:32Hmm, oke.
06:34Saya berharap Pak Rijali dan Pak Zaini dalam keadaan sehat,
06:37walaupun ini betul-betul cukup menantang,
06:39harapannya bisa pemadaman api di lahan-lahan yang terbakar
06:42dan efek dari kabut asap ini bisa segera redah.
06:45Pak Zaini, Pak Rijali, terima kasih banyak ya sudah berbagi cerita bersama kami.
06:48Saya selalu untuk Anda berdua.
06:49Selamat sore.
Komentar

Dianjurkan