Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kritik terhadap pemerintah terus bermunculan. Tidak hanya datang dari mahasiswa, tetapi juga akademisi, guru besar, dan kelompok masyarakat sipil.

Deputi I Badan Komunikasi Pemerintah RI, Fahd Pahdepie, mengatakan pemerintah menganggap kritik tersebut sebagai hal yang penting.

Menurut Fahd, kritik yang datang dari masyarakat merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Fahd mengatakan pemerintah telah menyediakan ruang untuk berdialog, baik dengan presiden, para menteri, maupun jajaran pemerintah di daerah. Menurut Fahd, pemerintah merespons kritik melalui mekanisme kebijakan.

Namun, bagi BEM UI, persoalannya bukan sekadar tersedia atau tidaknya ruang dialog.

Ketua Departemen Kajian Strategis BEM UI, Namora Siahaan, mempertanyakan standar partisipasi publik yang bermakna dalam proses pengambilan kebijakan.

Namora menyebut salah satu unsur partisipasi bermakna adalah hak masyarakat untuk dipertimbangkan.

Namora kemudian menyoroti hak masyarakat untuk dipertimbangkan dalam keputusan pemerintah.

Menurut Namora, persoalan tersebut dapat dilihat dari kebijakan pemerintah yang mereka soroti.

Salah satunya terkait Makan Bergizi Gratis atau MBG dan anggarannya.

Namora menilai pemerintah seharusnya mulai melakukan penyesuaian anggaran lebih awal.

Namora juga memprediksi perdebatan mengenai efisiensi dan MBG akan kembali muncul ketika pembahasan anggaran berikutnya berlangsung.

Di sisi lain, Fahd mengatakan proses pengambilan kebijakan pemerintah dilakukan melalui mekanisme yang telah ditentukan.

Menurutnya, kebijakan disusun berdasarkan perencanaan dan melalui proses konsultasi.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/h4gCeXB5HRg




#demo #mahasiswa #bundaranhi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/686668/kritik-kebijakan-pemerintah-datang-dari-banyak-kalangan-benarkah-didengar-rosi
Transkrip
00:00Kritik tidak hanya dari mahasiswa, guru besar, akademisi, 13 Agustus lalu juga menyuruhkan ini.
00:05Pemerintah menganggap ini hal yang serius nggak mas?
00:07Ya tentu, pemerintah menganggap ini sesuatu yang penting.
00:10Dengan apa?
00:11Dan saya kira kalau kritik ini datang dari masyarakat, dari akademisi, dari mahasiswa, dari kelompok masyarakat sipil.
00:21Saya kira kan basisnya yang harus kita baca, basisnya adalah kepedulian.
00:25Dan basisnya adalah rasa cinta terhadap bangsa dan negara ini.
00:28Dan itu juga yang dilihat pemerintah.
00:30Apa yang sudah dilakukan?
00:31Yang sudah dilakukan adalah dari waktu ke waktu ada banyak ruang untuk bisa berdialog.
00:37Dalam hal ini apakah langsung dengan presiden, dengan para menteri, atau dengan jajaran pemerintah di level daerah dan lain sebagainya.
00:46Dan tentu yang dilakukan pemerintah bahasanya adalah bahasa kebijakan, bukan bahasa dialektika.
00:52Meskipun ini masih dianggap tidak puas oleh rekan-rekan mahasiswa,
00:55Sebenarnya kawan-kawan, Mora, ini sebenarnya apa bare minimumnya?
01:00Di satu titik, teman-teman mahasiswa menganggap bahwa kami sudah tidak perlu lagi turun ke jalan karena sudah ada perbaikan
01:06yang dilakukan.
01:06Apa bare minimum itu?
01:08Di saat tidak dianggap lagi tone deaf pemerintah seperti yang disuarakan di media sosial.
01:13Ada tiga unsur dari partisipasi bermakna sebenarnya bagi masyarakat sipil dalam penentuan kebijakan pemerintah.
01:19Dan satu hal yang selalu luput dilaksanakan oleh pemerintah adalah right to be considered, adalah hak masyarakat untuk dipertimbangkan dalam
01:32pemutusan kebijakan.
01:33Karena itu kan sifatnya kan imaterial.
01:36Jadi itu gampang untuk didalihkan oleh pemerintah.
01:38Tapi itu terbukti lewat apa?
01:39Itu terbukti lewat gap kebijakan tadi.
01:41Dan satu hal lagi, gimana mungkin kita bisa berekspektasi bahwa pemerintah itu mau mendengarkan kritik ketika keputusan dari Mahkamah Konstitusi
01:51nomor 40 tahun 2026
01:52tentang pemisahan anggaran MBG dengan anggaran pendidikan saja tidak didengarkan.
01:56Meskipun memang dia mengatakan di tahun 2028, tapi seharusnya sejak era APBN tahun ini itu sudah ada upaya untuk pengecilan
02:06dan juga efisiensi.
02:07Biar enggak terjadi apa? Biar enggak terjadi shock di anggaran tahun depan ketika dia dipisahkan sepenuhnya dari anggaran pendidikan.
02:15Sekarang kan bebannya kan sekarang berada di pemerintah.
02:18Bolanya ada di pemerintah.
02:19Karena mereka menolak untuk melaksanakan itu dan anggaran BGN masih 240 triliun, masih predator, masih mengambil anggaran pendidikan.
02:27Nanti tahun depan saya sudah bisa mengira ya bahwa ketika kita menuntut lagi-lagi untuk ada efisiensi dan menghentikan MBG,
02:35pasti mereka akan bilang, kasihan loh program ini sudah terlalu besar, ini janji kampanye.
02:40Padahal sudah disuruh sama MK.
02:42Bahkan MK sendiri aja enggak didengarkan bagaimana orang-orang seperti saya, orang-orang seperti mbaknya, orang-orang seperti penonton-penonton
02:50kita di rumah.
02:51Hak untuk didengarkan?
02:53Saya kira pemerintah dipertimbangkan.
02:56Hak untuk dipertimbangkan tadi, right to be considered tadi.
03:00Saya kira itu yang menjadi basis bagaimana kebijakan-kebijakan selama ini dilakukan.
03:04Karena prosesnya itu dilakukan secara benar gitu ya, mekanismenya juga dijalankan berdasarkan perencanaan dilakukan oleh Mbak Penas.
03:14Kemudian ada konsultasi juga dengan DPR dan lain sebagainya.
03:17Saya kira proses untuk pengambilan kebijakan itu bisa kita lihat dan saya kira itu yang menjadi pegangan pemerintah melakukan.
03:26Ini penting karena saya jadi ingat.
03:28Tapi saya disini perlu tegaskan, kan yang harus diperhatikan oleh pemerintah ini sangat kompleks.
03:35Dari Sabang sampai Merauke, pusat sampai daerah, kemudian segmen masyarakat dari atas sampai bawah, kemudian juga dimensi tema atau isunya
03:44banyak sekali.
03:46Dan disitulah kenapa ada yang disebut sebagai prioritas, mana yang diprioritaskan.
03:50Maunya kan menyelesaikan semua, tapi ada keterbatasan ruang fiskal misalnya.
03:55Di situ ada keterbatasan waktu, ada prioritas yang harus diutamakan sih karena sifat urgensi dari penerima manfaatnya.
04:03Saya jadi ingat tulisannya Mas Fad, 2018 generasi awam reformasi harus merawat semangat reformasi ini.
04:10Kalau Mas sekarang jadi aktivis, bakal turun ke jalan nggak dengan kondisi negara saat ini?
04:13Saya kira kita sebagai pelaku demokrasi gitu ya, kan menyadari bahwa ada ruang dan ada peran-peran yang dilakukan.
04:22Ketika misalnya kelompok masyarakat sipil bisa menyampaikan apa? Bisa memberikan kajian, menyampaikan pendapat.
04:30Jika Mas jadi mahasiswa sekarang sebagai aktivis, Anda akan turun ke jalan juga?
04:33Ya akan turun ke jalan.
04:34Demuan apa Mas?
04:34Karena itu ruangnya, karena itu ruangnya.
04:36Ya kira-kira demuan apa kalau masih turun ke jalan?
04:38Ya pasti yang sesuai dengan keadaan masyarakat, yaitu yang diperjuangkan, disampaikan.
04:45Karena tugasnya ketika kita berada di ruang tadi sesuai dengan peran demokrasi misalnya,
04:50itu menyampaikan pendapat, menyampaikan usulan dan lain sebagainya.
04:55Ada juga misalnya yang perannya menjadi pressure group, memberikan pressure.
04:59Ada perannya melakukan proses misalnya partai politik, melakukan rekrutmen politik, melakukan kerja-kerja partai politik.
05:07Nah pemerintah dalam hal ini eksekutif, tugasnya adalah membuat kebijakan dan melaksanakan kebijakan.
05:13DPR tugasnya apa? Tugasnya melakukan legislasi.
05:16Dan bare minimumnya?
05:17Jadi demokrasi itu punya ruang dan punya peran-perannya.
05:19Oke, termasuk yang ditunggu-tunggu adalah hak untuk dipertimbangkan itu bisa dilaksanakan oleh pemerintah.
05:25Terima kasih Mas Namora, terima kasih Bumfad sudah hadir di Rosi.
05:30Sedangkan terima kasih Anda telah menyaksikan Rosi.
05:32Kita jumpa lagi Kamis depan hanya di Kompas TV, independen dan terpercaya.
05:35Saya Friska Klarisa, selamat malam, sampai jumpa.
Komentar

Dianjurkan