- 2 hari yang lalu
- #desil
- #subsidi
- #pertalite
- #ui
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemerintah akan membatasi pembelian BBM bersubsidi bagi mereka yang masuk desil 9 dan 10, alias untuk golongan sangat sejahtera dan paling sejahtera.
Namun, polemik terjadi usai viral di media sosial. Banyak warga yang merasa pendapatan dan asetnya tidak masuk kelompok sangat dan paling sejahtera, tetapi masuk desil 9 dan 10.
Simak ulasan Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam program Kompas Bisnis pada Kamis (20/8/2026).
Baca Juga Gaji Rp3 Juta Masuk Desil 10, Kok Bisa? Ini Penjelasan Ekonom UI di https://www.kompas.tv/ekonomi/686495/gaji-rp3-juta-masuk-desil-10-kok-bisa-ini-penjelasan-ekonom-ui
#desil #subsidi #pertalite #ui
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/686514/full-viral-desil-untuk-subsidi-lpem-ui-soroti-akurasi-daya-beli-kelas-menengah-kompas-bisnis
Namun, polemik terjadi usai viral di media sosial. Banyak warga yang merasa pendapatan dan asetnya tidak masuk kelompok sangat dan paling sejahtera, tetapi masuk desil 9 dan 10.
Simak ulasan Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam program Kompas Bisnis pada Kamis (20/8/2026).
Baca Juga Gaji Rp3 Juta Masuk Desil 10, Kok Bisa? Ini Penjelasan Ekonom UI di https://www.kompas.tv/ekonomi/686495/gaji-rp3-juta-masuk-desil-10-kok-bisa-ini-penjelasan-ekonom-ui
#desil #subsidi #pertalite #ui
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/686514/full-viral-desil-untuk-subsidi-lpem-ui-soroti-akurasi-daya-beli-kelas-menengah-kompas-bisnis
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:05Intro
00:22Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara bersama saya Ian Rahman.
00:27Saudara ramai soal sistem pengelompokan tingkat kesejahteraan alias desil, Menteri Sosial Syafullah Yusuf bilang,
00:34besaran penghasilan bukan satu-satunya penentu posisi seseorang dalam data tunggal sosial ekonomi nasional atau DTSN.
00:42Penjelasan tersebut merespon, keresahan banyak warga yang bergaji 3 juta rupiah namun masuk dalam kategori desil 10 atau kelompok super
00:51kaya.
00:52Menteri Sosial Syafullah Yusuf menjelaskan desil merupakan wenang penuh badan pusat statistik atau BPS dengan memperhitungkan beragam variable.
01:03Seluruh variable tersebut diolah secara terpadu untuk menentukan peningkatan posisi keluarga maupun individu
01:11mulai dari desil 1 yang masuk kategori termiskin hingga desil 10 terkaya.
01:17Namun menurutnya indikator sosial ekonomi yang diukur sangat kompleks sehingga besaran gaji bulanan tidak bisa mendikte status ekonomi seseorang secara
01:29tunggal.
01:30Kemensos mengimbau warga yang merasa kategorinya tidak sesuai agar segera melapor karena Kementerian Sosial telah membuka akses untuk memperbarui data.
01:40Langkah ini dilakukan agar penyaluran bantuan sosial makin tetap sasaran.
01:45Maksudkan ini tepat sasaran.
01:56Gaji kita 3 juta sudah masuk desil 10 atau masuk support kaya itu?
02:01Jadi kita tidak melihat penghasilan ya.
02:06Itu nanti yang bisa menjelaskan lebih detil adalah BPS.
02:10Karena BPS yang mengukur dan itemnya itu banyak.
02:13Setelah itu dikumpulkan atau agregatnya mungkin itu ada metode yang dilakukan oleh BPS.
02:21Tapi pada prinsipnya buat kami itu yang penting semua masyarakat mau berpartisipasi.
02:28Apalagi nanti kalau sudah digitalisasi Bansos.
02:31Jadi semua saya kira kita perlu terus bersosialisasi.
02:38Maksud saya menyosialisasikan pemutakhiran ini.
02:43Dan mekanismenya kita permudah ya agar mudah dijangkau oleh semua pihak.
02:53Sebelumnya Saudara Menteri SDM Bahlilah Adalia bertemu dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudisa Dewa
02:59untuk membahas rencana pembatasan BBM subsidi.
03:02Keduanya bilang pembatasan BBM subsidi dilakukan agar penerima tepat sasaran.
03:08Menteri Keuangan Purbaya bilang kemungkinan pembatasan BBM bersubsidi untuk desil 9 dan 10 dalam beberapa bulan ke depan.
03:16Purbaya memastikan indikator pembatasan BBM subsidi berbasis tingkat perekonomian seseorang.
03:26Pola subsidi tepat sasaran.
03:31Selama ini kan kita tahu teman-teman sebagian subsidi tidak tepat sasaran.
03:36Masa orang kaya harus kita subsidi.
03:39Contoh pertelain.
03:41Desil 9 dan desil 10 masih kena, masih dapat subsidi.
03:47Nah ini yang kita mulai bahas sistemnya segala macam.
03:50Supaya apa angka subsidi yang ratusan triliun ini betul-betul diberikan kepada saudara-saudara kita yang berhak menerimanya.
04:00Nanti kan kita sedang uji sistem, saya sedang melihat sistemnya.
04:05Mereka bisa aja yang desil 9 dan 10 gak bisa beli yang bersubsidi.
04:10Dia mesti bayar harga pertama atau yang lain.
04:14Jadi dengan pembeliannya ya Pak? Maksudnya di bakasinya sesuai dengan misalkan ekonomi sudah tidak layak, tidak boleh beli.
04:21Kira-kira seperti itu.
04:2510 kelompok atau desil sebagai dasar penyusunan data tunggal sosial dan ekonomi nasional.
04:31Di antaranya adalah desil 1 sampai 3.
04:34Ini dengan status bansos prioritas utama.
04:37Desil 4 rentan miskin layak bansos.
04:40Desil 5 menengah ke bawah status bansos untuk sebagian program.
04:45Sementara desil 6 sampai 7 menengah dan menengah atas dengan status bansos tidak prioritas.
04:52Sementara desil 8 hingga 10 merupakan kelompok sejahtera, sangat sejahtera dan paling sejahtera tidak layak mendapatkan bantuan sosial.
05:10Dengan pembatasan subsidi BBM diperkirakan para ekonom, ini menurut para ekonom yang kembali akan terpukul adalah kelas menengah.
05:20Jika kita lihat saudara dari data BPS, perkembangan kelas menengah jumlahnya dari tahun ke tahun terus turun.
05:26Dari tahun 2019 yang masih sebanyak 57,33 juta jiwa turun jadi 46,7 juta jiwa pada tahun 2025.
05:38Artinya dalam 6 tahun terakhir kelas menengah di Indonesia menyusut sekitar 10,6 juta jiwa.
05:58Saudara pemerintah akan membatasi pembelian BBM bersubsidi bagi mereka yang masuk desil 9 dan 10 alias untuk golongan sangat sejahtera
06:07dan paling sejahtera.
06:09Namun polemik terjadi karena banyak warga yang merasa pendapatan dan asiatnya tidak masuk kelompok sangat dan juga paling sejahtera tetapi
06:17masuk desil 9 dan 10.
06:19Apa yang salah? Kita bahas bersama Tegu Rifki, peneliti makroekonomi dan pasar keuangan LPM, FFB, Universitas Indonesia.
06:27Mas Rifki, selamat pagi. Apa kabar?
06:30Pagi, Mas Yanta.
06:31Mas Rifki, ini kan akhir-akhir ini kita mendengar dan juga membaca di media sosial soal kegaduhan yang terjadi di
06:38tengah masyarakat ini yang katanya masuk desil 9 dan 10.
06:42Padahal mereka tidak merasa demikian. Analisis Anda, letak kekeliruannya di mana sebetulnya?
06:48Ya, jadi kalau kita membagi sebetulnya by definition itu kan desil itu adalah pembagian kelompok masyarakat berdasar 10 golongan.
07:00Jadi kalau kita bicara desil 9 dan desil 10, artinya kita bicara 20% masyarakat paling kaya di Indonesia.
07:08Nah, tapi dari 20% terkaya orang Indonesia, ini masih ada kelas menengah.
07:14Karena yang masuk kelompok masyarakat kelas atas itu hanya sekitar 1%.
07:19Jadi dari desil 9 dan 10, ada yang 19%-nya itu adalah masyarakat menengah, lalu 1%-nya itu
07:27masyarakat kelas atas.
07:29Nah, yang menjadi problem sekarang adalah desil 9 dan 10 ini banyak masyarakat yang memang belum tergolong masyarakat kelas atas.
07:38Jadi masyarakat kelas menengah yang sekarang daya belinya itu terus menurun.
07:43Apabila kemudian ini tidak mendapatkan BBM bersubsidi atau BBM yang dikompensasi oleh pemerintah, maka kemudian daya belinya akan terus tertekan.
07:53Jadi memang isunya adalah di pembagian desil 9 dan 10 ini yang rentangnya memang sangat besar dari data BPS.
08:02Sehingga kemudian meng-include kelompok kelas menengah tadi.
08:05Oke, Mas Rifki, ini ada menyebutkan bahwa rentangnya sangat besar begitu.
08:10Tapi ada yang merasa, saya gaji hanya 3 juta begitu misalkan, sebagai contoh.
08:15Tetapi masuk desil 10, ini rentangnya yang sangat tinggi ataupun lebar atau ada kesalahan input misalkan?
08:23Dua-duanya menjadi faktor.
08:25Satu, rentangnya sangat besar karena memang kita perlu akui masyarakat Indonesia itu banyak di daerah 3T misalnya atau di luar
08:34Pulau Jawa itu memang daya belinya sangat-sangat rendah.
08:38Jadi memang satu rentangnya di kelompok atas ini bisa sangat besar dari kelompok yang misalnya janjinya 3 juta atau 5
08:46juta bisa masuk ke kelompok ini.
08:48Di sisi lain juga memang ada underreporting.
08:51Memang kita perlu akui bahwa data BPS ini cenderung meng-underreport kelompok masyarakat yang ultra kaya gitu.
09:00Kenapa? Ini juga karena salah satunya kendala di lapangan saat melakukan sensus.
09:05Misalnya pegawai BPS itu kesulitan untuk melakukan sensus ke kelompok ultra kaya dan sulit melakukan pencatatan ke kelompok ultra kaya.
09:13Sehingga kemudian kelompok paling kaya di BPS pun juga terlihat tidak terlalu kaya dan malah banyak meng-include kelompok kelas
09:21menengah.
09:22Jadi kedua faktor ini inputnya yang belum optimum juga rentang yang terlalu besar ini menjadi kendala saat kemudian melakukan pencatatan
09:31per desil tadi.
09:32Oke berarti apakah menurut Anda artinya ada ketidaksesuaian antara statistik yang tidak merepresentasikan realita lapangan?
09:41Ya jadi kalau kita lihat sebetulnya data BPS secara keseluruhan cukup representatif.
09:47Tapi kalau kita fokus pada dua desil paling atas ini cenderung tidak representatif.
09:53Kenapa? Karena tadi kelompok yang paling kaya ini sangat sulit untuk dilakukan survei atau sensus.
09:59Sehingga sulit untuk tertangkap di data BPS.
10:02Sehingga sangat mungkin misalnya kelompok yang hanya berpendapatan 3 juta, 5 juta atau 10 juta itu bisa masuk 10%
10:10atau bahkan 5% terkaya di Indonesia.
10:13Padahal ini kan memang sangat tidak representatif.
10:16Kalau kita lihat dengan upah sekian tentu masih sangat sulit untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
10:22Apalagi kalau kita bicara anggota keluarganya yang cukup banyak.
10:26Oke artinya juga harus ada penyesuaian begitu ya.
10:30Tadi juga disebutkan oleh pemerintah apabila merasa tidak sesuai begitu bisa langsung mengakses ataupun memperbaikinya ke kelurahan ataupun ke aplikasi
10:38kementerian sosial.
10:39Namun kalau kita ngomong-ngomong lagi soal menteri sosial ini Mas Rifki sebelumnya ada pernyataan begitu dari mensos yang bilang
10:47bahwa gaji ataupun pendapatan ini bukan satu-satunya variable.
10:51Jadi sebetulnya variablenya apa saja sih untuk menentukan desil.
10:55Namun kita bahas selesai jeda.
10:57Mas Rifki tetaplah bersama kami di Kompas Bisnis.
11:27Sampai jumpa di video selanjutnya.
11:29Saudara soal polemik pendetapan desil kita kembali berbincang bersama Teguh Rifki peneliti makroekonomi dan pasar keuangan dari LPM FFB Universitas
11:39Indonesia.
11:39Mas Rifki ini jika BPS sebelumnya menyebut bahwa desil bukanlah pengeluaran per kapita.
11:45Ada juga menteri sosial yang menyebutkan bahwa gaji bukanlah satu-satunya variable.
11:50Jadi secara sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat desil ini merepresentasikan apa dan juga variable apa saja yang dimasukkan?
11:57Ya jadi desil ini secara umum merepresentasikan tingkat kekayaan.
12:03Tingkat kekayaan ini munculnya dari mana?
12:06Satu dari gaji.
12:08Jadi upah ini menjadi salah satu komponen utama.
12:11Kedua adalah other income.
12:13Other income ini apa?
12:15Misalnya imbal hasil dari investasi, imbal hasil dari kepemilikan modal, lalu kemudian imbal hasil dari kepemilikan aset.
12:23Jadi kira-kira secara umum ini menggambarkan income masyarakat yang tidak hanya berasal dari upah saja.
12:30Tujuannya adalah untuk merepresentasikan seberapa besar kekayaan dari kelompok masyarakat tersebut.
12:37Sehingga kemudian ini disusun menjadi sebuah skema bentuknya itu desil, persentil, dan lain-lain untuk membagi siapa kelompok dari paling
12:46miskin hingga paling kaya.
12:48Tapi komponennya itu memang beragam dan tidak hanya dari upah saja ataupun pengeluaran saja.
12:54Karena kalau kita lihat dari sisi pengeluaran bisa jadi dia itu tidak melakukan seluruh belanjanya tapi banyak juga yang ditagung.
13:02Jadi harusnya itu juga menjadi komponen yang dihitung oleh BPS dalam perhitungan pengelompokan kekayaan tadi.
13:11Berarti ada gaji, ada imbal hasil, ada tabungan. Lalu bagaimana dengan aset yang dimiliki?
13:16Mas Rifki, apakah juga itu dihitung?
13:19Ya, harusnya dihitung.
13:21Tapi memang karena bentuknya survei atau sensus seringkali under-reporting.
13:26Nah ini terutama terjadi di kelompok yang ultra kaya, di mana kalau masyarakat miskin, masyarakat rentan mungkin lebih mudah untuk
13:34didatanya.
13:35Belanjanya berapa, konsumsinya berapa, asetnya apa, misalnya dia memiliki rumah, kendaraan bermotor, itu masih lebih mudah untuk BPS melakukan pecatatan.
13:45Tapi kalau kita bicara kelompok ultra kaya, misalnya yang memiliki aset finansial di dalam negeri, bahkan di luar negeri, itu
13:54lebih sulit untuk dicatat oleh BPS.
13:56Sehingga kemudian muncul kondisi seperti saat ini, di mana kelompok yang ultra kaya itu seringkali under-reporting dalam pelaporan BPS.
14:06Yang ini kemudian menyebabkan rentang dari kelompok ultra kaya, di desil 9, desil 10, ini bisa sangat besar sekali.
14:15Karena itu mencakup masyarakat yang income-nya hanya berasal dari upah, tapi juga mencakup masyarakat yang memang memiliki berbagai aset
14:25finansial yang ditempatkan di berbagai negara dan berbagai jenis kelas aset.
14:30Oke, tentunya ini yang harus diantisipasi begitu adanya under-reporting dari kelompok yang seperkaya ini.
14:34Kalau kita melihat tingkat akurasi desil yang dipertanyakan oleh warga, artinya ini kita tidak bisa semata-mata menyimpulkan mereka yang
14:42berada di kelompok desil 9 dan 10 adalah orang yang super kaya begitu ya mas.
14:46Apakah data BPS ini memperlihatkan betapa lebarnya seperti yang Anda sebutkan, jarak antara tidak miskin dan juga benar-benar kaya,
14:54ataupun di 1-2 desil saja jaraknya sangat lebar begitu.
14:58Dan menyamakan desil 9 dan 10 dengan kelompok kaya, apakah ini juga menurut Anda merupakan bentuk penyederhanaan yang berbahaya, terutama
15:07kalau kita lihat konteksnya adalah ini penentuan hak atas subsidi?
15:10Ya, tentu. Jadi kalau kita bicara by definition tadi kan, desil itu adalah pembagian masyarakat itu dalam 10 kelompok.
15:21Jadi 10% termiskin, 10% termiskin kedua, seterusnya hingga 10% terkaya.
15:28Jadi dibagi dalam satuan 10 kelompok.
15:30Nah, di 2 desil teratas, artinya di kelompok 20% terkaya, ini memang rentangnya sangat besar.
15:39Kenapa? Karena di sini ada kelas menengah dan ada kelompok atas.
15:44Kelas menengah ini adalah kelompok masyarakat yang income-nya mulai dari 3 juta, 5 juta, hingga kisaran belasan juta.
15:53Nah, ini masuk kelompok kelas menengah.
15:55Tapi ada kelompok atas. Kelompok atas ini adalah kelompok yang income-nya bisa sampai ratusan juta atau bahkan dalam hitungan
16:03miliaran.
16:04Sehingga kemudian kalau 2 desil ini dijadikan 1 kelompok, ini tentu menjadi problematis.
16:12Karena ini sangat tidak representatif dengan perwakilan di desil tersebut.
16:17Mungkin salah satu cara untuk bisa kemudian mengatasi permasalahan tersebut adalah membaginya terhadap persentil.
16:25Jadi, tidak dibagi dalam satuan 10, tapi dibagi dalam satuan ratusan.
16:31Jadi, dibagi dalam satuan 100.
16:33Jadi, 1% terkaya mungkin tidak dapat BBM bersubsidi.
16:38Tapi sisa kelompok masyarakat yang masuk kelompok kategori kelas menengah, miskin, rentang,
16:43ini bisa mendapatkan BBM subsidi ketimbang hanya diambil 2 desil teratas.
16:49Yang artinya bukan 1% terkaya, tapi 20% terkaya yang juga mencakup kelompok kelas menengah tadi.
16:56Oke, dengan jarak yang sangat lebar tadi antara desil 9 dan 10, rentangnya sangat lebar.
17:01Mungkin ada solusi juga tadi terkait dengan persentil begitu ya, Mas.
17:05Jika tujuannya klasifikasi desil agar subsidi pemerintah, ini termasuk BBM Pertalai, tepat sasaran.
17:12Namun, kalau kita lihat data klasifikasinya saja sudah tidak sesuai, kemudian apa risikonya menurut Anda?
17:19Risikonya tentu akan mengerus daya beli kelas menengah lebih lanjut ya.
17:23Ini kan kita bicara di desil 9 dan 10 yang mencakup kelas menengah.
17:29Kalau ini dilakukan, tentu masyarakat kelas menengah ini akan semakin tergerus daya belinya.
17:34Tadi juga sudah disampaikan bahwa kelas menengah ini jumlahnya terus menurun, paling tidak dalam 8-9 tahun terakhir.
17:43Kalau kemudian mereka ini tidak mendapatkan BBM bersubsidi, tentu kemudian ongkos mereka atau biaya hidup semakin mahal.
17:51Ini mendorong jumlah kelas menengah ini akan turun lebih jauh lagi.
17:55Di sisi lain, kelompok ini tidak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah untuk bahan sosial, sosial, segala macam.
18:02Mereka tidak eligible.
18:04Sehingga ini membuat mereka tertekan lebih dalam lagi.
18:07Dan nampaknya nanti lebih besarnya bisa terhadap pertumbuhan ekonomi dan penerimaan pajak yang semakin tertekan.
18:14Oke, kalau kita lihat tadi ada angka soal kelas menengah, Mas Rifki yang dari tahun ke tahun begitu, angkanya terus
18:22turun dan juga tergerus.
18:24Apa jadinya jika memang terkait dengan desil ini tidak dibenahi ataupun diperbaiki, dari tahun ke tahun saja sebelumnya ini turun
18:35begitu?
18:35Apakah ada potensi penurunannya jadi jauh lebih signifikan ke depannya ini?
18:40Ya, tentu ada, Mas. Memang ini juga di satu sisi BPS perlu terus memperbaiki klasifikasi dan pencatatan datanya agar lebih
18:49akurat.
18:50Tapi menggunakan data saat ini, apabila tidak diperbaiki atau tidak dipertimbangkan ulang skema penerima pertalai,
18:57maka ini akan turun jauh lebih dalam lagi jumlah kelas menengah dan akan semakin menyusut lebih besar jumlah kelas menengah
19:04yang ada di Indonesia.
19:05Ya, implikasinya adalah nanti kemudian konsumsi, daya beli, dan pertumbuhan ekonomi juga akan semakin tergerus.
19:13Oke, Mas Rifki terakhir, data desil tentu tetap penting, DTSN juga membuat pemerintah punya fondasi data.
19:21Jadi, terkait kegaduhan ini solusinya apa? Apakah harus memperbaiki cara negara menerjemahkan data jadi kebijakan atau seperti apa?
19:28Saya rasa iya, dan juga yang paling penting adalah mungkin dipertimbangkan bukan di desil, tapi di persentil 1% paling
19:35kaya yang tidak mendapatkan.
19:37Dengan cara itu, kita melihat harusnya daya beli kelas menengah tidak akan tertekan lebih jauh lagi.
19:45Oke, ada pertimbangan persentil sehingga datanya lebih akurat.
19:48Dan tentunya bagaimana dengan sensus, Mas Rifki, apakah juga perlu dilakukan lebih lagi sehingga data yang dilakukan juga atau yang
19:56didapatkan lebih akurat lagi?
19:57Karena kita ketahui beberapa waktu terakhir ada data sensus yang didatangi begitu langsung kepada masyarakat, sehingga ini ada ketakutan begitu.
20:06Apakah ini ada kaitannya?
20:07Ya, memang ini kan nanti takutnya mereka ada ketakutan diklasifikasikan kelompok yang tidak mampu mendapatkan subsidi.
20:17Nah, ini juga pemerintah perlu pastikan bahwa subsidi ini lebih tepat sasaran, tidak menyasar kelompok kelas menengah, kelompok miskin, kelompok
20:26regetan,
20:27agar kemudian juga masyarakat ini bisa lebih partisipatif dalam mengikuti sensus.
20:32Dan kemudian ke depannya juga kebijakan ini bisa diformulasikan secara lebih akurat.
20:39Oke, baik. Berarti partisipasi masyarakat juga sangat diperlukan betul, begitu ya.
20:44Dan juga bagaimana cara pendekatan pemerintah juga perlu diperhatikan.
20:47Baik, terima kasih, Teku Rifki, peneliti makroekonomi dan pasar keuangan dari APM, APB, Universitas Indonesia atas waktunya bersama kami di
20:53Kompas Bisnis.
20:53Sehat selalu.
20:55Sehat selalu. Terima kasih, Nos.
20:57Terima kasih.
Komentar