Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KALIMANTAN, KOMPAS.TV - Pekatnya kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Selatan mulai memakan korban.

Bukan hanya mengganggu pernapasan, asap juga memperpendek jarak pandang, mengganggu aktivitas, hingga memicu kecelakaan.

Di jalan jurusan Pelaihari-Banjarbaru, jarak pandang sempat hanya tersisa sekitar 2 meter karena pekatnya kabut asap.

Melihat kondisi yang semakin membahayakan, sejumlah warga dan relawan turun ke jalan, mengatur arus lalu lintas, sekaligus meminta pengendara memperlambat laju kendaraan.

Khawatir akan ancaman kebakaran hutan dan lahan meluas, warga di Banjarbaru, Kalimantan Selatan memadamkan api secara mandiri.

Berpacu dengan waktu, warga menggunakan peralatan seadanya, memadamkan lahan yang lokasinya dekat dengan rumah mereka.

Di tengah ancaman anomali cuaca, warga keluhkan nasib mereka yang selalu terjepit bencana, yakni kebanjiran saat musim hujan dan terpapar kabut asap hingga sakit pernapasan saat kemarau. Warga berharap ada pemantauan kesehatan dan bantuan masker dari pemerintah daerah.

Asap bukan hanya mengganggu pengguna jalan. Kabut asap juga mulai menyelimuti permukiman.

Warga mengeluhkan bau asap yang menyengat serta gangguan pernapasan.

Termasuk mengancam kesehatan anak-anak usia sekolah. Ancaman ISPA memaksa para orang tua memakaikan anak-anak mereka masker saat berangkat dan berkegiatan di sekolah.

Para pejalan kaki juga harus menutupi masker dengan tangannya demi mengurangi sesak napas akibat pekatnya asap.

Berdasarkan data BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, kualitas udara dalam beberapa hari terakhir menurun dan masuk kategori tidak sehat.

Penampakan titik panas kebakaran hutan dan lahan mengepung peta Kalimantan di mesin pencari Google Maps.

Dalam peta, memperlihatkan lingkaran merah dengan keterangan "Severe Fire" atau kebakaran parah memenuhi peta Kalimantan.

Penanda itu berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang tengah terjadi.

#karhutla #kabutasap #kalimantan

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/686820/darurat-kalimantan-dikepung-karhutla-dan-kabut-asap-tebal-picu-kekhawatiran-warga-sapa-malam
Transkrip
00:00Terima kasih.
00:31Terima kasih.
01:10Terima kasih.
01:37Terima kasih.
02:26Terima kasih.
02:35Terima kasih.
02:39Terima kasih.
03:00Terima kasih.
03:22Terima kasih.
03:47Terima kasih.
03:57Terima kasih.
04:30Terima kasih.
04:41Terima kasih.
05:08Terima kasih.
05:21Terima kasih.
05:28Terima kasih.
05:39Terima kasih.
05:50Terima kasih.
06:00Terima kasih.
06:05Terima kasih.
06:15Terima kasih.
06:20Terima kasih.
06:24Terima kasih.
06:28Terima kasih.
06:29lain selainnya itu ya
06:35adanya kebakaran di beberapa titik
06:37secara bersamaan
06:38jadi kami sangat-sangat
06:41berkoordinasi melalui platform
06:43radio maupun
06:44platform whatsapp melalui koordinasi
06:47dengan BPP di kota, provinsi
06:48TNI Polri dan semua daerawan
06:50sehingga
06:52pemadaman itu sedapat mungkin terkoordinat
06:55sedapat mungkin terkoordinat
06:57namun memang ada beberapa kebakaran yang memang
06:59tidak bisa dipadapkan
07:01karena jauh sekali titik
07:02disitu biasanya heli bombing yang bisa masuk
07:07Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni
07:09tegas meminta masyarakat
07:11dan korporasi untuk stop
07:13bermain api di tengah ancaman
07:15kebakaran hutan dan lahan
07:16serta siklus El Niño
07:18yang datang lebih awal pada Agustus
07:202026. Penindakan hukum
07:22tanpa pandang bulu diterapkan
07:24bagi pembakar lahan
07:27agar jangan bermain api
07:30kondisinya sangat buruk sekali
07:32cuacanya sangat buruk sekali
07:35BMKG sudah memprediksi
07:36El Niño pada tahun 2026 ini
07:39sangat kuat
07:41dan itu hampir sama dengan El Niño 2015
07:46di mana ketika itu sebuah Indonesia
07:49terbakar sekitar 2,6 juta
07:51bagaimana kemudian masyarakat
07:53dapat berkontasipasi memadamkan api
07:55sekaligus mencegah
07:56jangan ada lagi
07:58pembukaan lahan
07:59di musim ini
08:00dengan cara
08:01membakar
08:02land clearing
08:04dengan cara membakar
08:05baik itu korporasi yang besar
08:07terutama tentu saja yang besar
08:08dan juga masyarakat
08:12namun di tengah ancaman yang semakin nyata
08:14pertanyaannya bukan hanya
08:16bagaimana memadamkan api
08:17yang sudah terlanjur membarap
08:19tetapi sejauh mana
08:21upaya pencegahan dilakukan
08:22sebelum musim kemarau datang
08:24sebab jika kekeringan dan kemarau
08:26menjadi salah satu faktor
08:28yang memperparah karbutlah
08:29maka antisipasi
08:30semestinya dilakukan jauh-jauh hari
08:33pemetaan wilayah rawan kebakara
08:35pembasahan lahan gambut
08:37kesiapan sumber air
08:38pembentukan sekat bakar
08:40hingga pengawasan
08:41terhadap aktivitas pembukaan lahan
08:43semestinya sudah diperkuat
08:44sebelum api muncul
08:46bukan ketika asap
08:47sudah memenuhi kotak
08:49warga mulai keselutan bernapas
08:51penerbangan terganggu
08:52dan harta benda mulai terbakar
08:54situasi ini menunjukkan
08:56karbutlah bukan sekadar
08:58persoalan api yang harus dipadamkan
09:00ini adalah persoalan pencegahan
09:02mitigasi, kesiapan
09:04dan perlindungan warga
09:05peniputan Kompas TV
Komentar

Dianjurkan