Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Danantara Rencanakan Efisiensi BUMN: Targetkan Pangkas Hingga Tinggal 300 Perusahaan.

Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI) berencana membubarkan sekitar 874 anak dan cucu BUMN.

Langkah strategis ini diambil guna mendukung target pemerintah dalam meningkatkan efisiensi tata kelola korporasi milik negara.

CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa total BUMN yang tercatat saat ini mencapai 1.074 perusahaan. Memasuki Agustus 2026, pihak Danantara telah memangkas sekitar 260 perusahaan melalui berbagai skema.

#Danantara #BUMN

Creative/Video Editor: Icha/Michael
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Dan tadi juga disembung oleh Bapak Presiden, memang dari total 1.074 perusahaan BUMN kami melakukan streamlining.
00:10Perhari ini memang kita sudah menurunkan jumlah dari sekitar 290 perusahaan yang sudah kami tutup dengan dipestas,
00:25dengan kita melakukan merger, likudasi, konsulidasi vertikal, dan lain-lain.
00:30Contohnya, misalnya kita menggabungkan, memerger perusahaan aset management yang tadinya setiap bank,
00:38dan juga financial institusi di bawah BUMN punya perusahaan aset management sendiri, itu kita gabungkan.
00:44Kemudian juga kita terus menggabungkan, baik itu rumah sakit, hospitals, kurang lebih kita,
00:53setelah kita gabungkan ini, kita punya ada 137 hotel, itu juga kita gabungkan.
01:01Sehingga ini salah satu program yang kita jalankan dengan target memang pada akhir tahun ini
01:09kita bisa mencapai kurang lebih 300 perusahaan BUMN pada akhirnya.
01:15Tetapi memang ini harus kami akui perusahaan yang tidak mudah dan sangat-sangat berat,
01:20karena ini harus dilihat dari semua aspeknya, tetapi ya ini memang target kami untuk streamlining,
01:29sehingga kita bisa menciptakan efisiensi, kita bisa menciptakan meningkatkan produktivitas,
01:34dan mengontimalkan aset-aset kita yang ada.
01:36Nah, dan itu yang kita sedang jalankan juga, dan yang kami,
01:46oh tadi kalau tadi PISEL sudah disinggung oleh Pak Menko Pangan,
01:53mungkin yang kami tidak menyinggung beberapa proyek-proyek yang kita laksanakan,
01:58tapi yang ingin saya sampaikan juga bahwa,
02:00dan antara kita juga sudah di-rating baik oleh S&P, oleh Moody, oleh Fitch,
02:05dan rating kita ini sama dengan sovereign rating ya, dengan rating pemerintah.
02:10Alhamdulillah, ini juga sudah di-rating oleh semua rating agency,
02:15dan rating kita sama dengan rating pemerintah Indonesia.
02:21Kemudian, mungkin saya menyinggung sedikit mengenai DSI ini,
02:25ya memang, karena dengan ada DSI ini, terima kasih juga kepada seluruh kementerian terkait,
02:32karena kami bisa menarik data, baik di semua kementerian yang ada,
02:38baik di Kementerian Keuangan, Bia Cukai, kemudian perhubungan,
02:45SDM, Perdagangan, Pertanian, dan Kementerian lainnya,
02:51dan kami integrasikan, jadi kami bisa memantau dari pelabuhan mana,
02:56harga berapa, pricing berapa, volume berapa, negara tujuan berapa,
03:01dan memang, yang kalau kita lihat,
03:05yang tadinya ada gap antara indeks dan declared price,
03:10sebelum adanya DSI ini,
03:13sekarang Alhamdulillah, begitu ini dihubungkan,
03:15kita bisa pantau, kita bisa lihat harganya sekarang,
03:18sangat menempel dengan harga indeks,
03:22jadi memang,
03:23kalau dibilang ada under-invoicing,
03:27DSI itu datanya kami ada,
03:30dan kami bisa lihat,
03:31tapi Alhamdulillah ini sekarang sudah membaik,
03:35sangat-sangat membaik.
03:36selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan