00:02Negosiasi mandek, Iran dan Amerika Serikat kini saling tekan atas Lat Hormuz.
00:07Keduanya juga sama-sama menuntut ganti rugi perang.
00:09Untuk membahasnya sudah bersama kami, Aisyah Kusuma-Sumantri, peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence.
00:15Selamat malam, Mbak Aisyah.
00:17Selamat malam, Mas Gali.
00:19Mbak Aisyah, Aisyah dan Iran akan saling menuntut kompensasi perang ini.
00:23Tandanya ini artinya negosiasi damai akan jauh. Menurut Anda bagaimana?
00:28Menurut saya ini lucu, Mas.
00:30Karena pertama kita lihat begini, baik Iran maupun Amerika Serikat ini kan sama-sama kemudian menuntut ganti rugi perang karena
00:38adanya kebutuhan finansial.
00:40Pertama itu, kita harus pahami bahwa Amerika Serikat meskipun mereka merupakan negara terbesar di dunia dengan kekuatan angkatan udara dan
00:48angkatan laut yang kemudian paling kuat.
00:50Akan tetapi sebenarnya, anggaran pertahanannya ini juga bukan bottomless pit atau bukan sesuatu yang tidak berdasar ya, ada batasnya gitu.
00:58Apalagi kita tahu bahwa sejak kemudian beberapa waktu yang lalu, Kongres ini sudah berusaha untuk mencegah adanya request baru dari
01:06Department of War untuk mengajukan tambahan perang.
01:10Yang awalnya 200 miliar USD, berkurang jadi 80 miliar USD, terakhir itu malah meningkat jadi sekitar 1,5 triliun USD.
01:20Jadi bayangkan sebenarnya mereka saat ini juga sebenarnya tengah kesulitan dari segi keuangan.
01:25Lalu kemudian kita bicara dari Iran.
01:26Kalau dari Iran, ini adalah akumulasi dari apa yang sudah menjadi dispute selama bertahun-tahun gitu ya, sejak kemudian masa
01:34awal adanya sanksi yang kemudian dikenakan oleh Amerika Serikat sampai ke titik perang ini.
01:40Jadi saya rasa sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Iran ini sebenarnya masuk akal.
01:44Karena sebenarnya kita melihat ini adalah bukti bahwa Iran ini meminta adanya kompensasi dari agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
01:50Di sisi lain, saya kira selain Amerika Serikat ini memiliki kebutuhan untuk melanjutkan peperangan,
01:57tapi saya kira ini juga sebenarnya merupakan tisportasnya Amerika Serikat untuk bisa menginvalidasi anggaran yang keluar dari Amerika Serikat untuk
02:06Iran.
02:06Karena kita tahu sebenarnya dari MOU kemarin, itu sudah disetujui bahwa Amerika Serikat itu akan memberikan biaya rekonstruksi perang sejumlah
02:13300 miliar USD.
02:15Nah menariknya sebenarnya, angka tersebut itu cukup tinggi.
02:19Karena di awal sebenarnya Iran minta 400, lalu kemudian disetel di angka 270,
02:23tapi setelah negosiasi di MOU kemarin, akhirnya kemudian berhenti di angka 300 miliar USD.
02:28Artinya ini bagian dari strategi Trump untuk menekan Iran?
02:31Saya kira begitu.
02:32Pertama memang karena memang ada kebutuhan untuk bisa melanjutkan peperangan melalui dana yang sebenarnya sampai sekarang itu makin menipis.
02:40Yang kedua adalah sebenarnya tekanan untuk Irannya itu sendiri.
02:43Jadi sebenarnya dengan Amerika Serikat berusaha untuk bisa mendapatkan biaya ganti rugi dari Iran.
02:50Saya kira ini juga menyuarakan bahwa sebenarnya kalau misalnya kamu minta kompensasi, kita juga bisa melakukan hal tersebut.
02:55Sehingga ini kan sebenarnya sebuah strategi untuk menginvalidasi permintaan Iran itu sendiri.
03:00Jadi ini seperti apa yang kemudian dilakukan di dalam chicken game theory.
03:04Dimana kedua pihak ini terus menerus mengekskalasi tanpa adanya keinginan untuk mendeeskalasi.
03:10Artinya begini Mbak Isha, keduanya ini kan saling menuntut konsensi atau kompensasi dan keduanya ini merasa menjadi korban.
03:18Sebetulnya siapa yang paling kuat untuk menentukan kompensasi?
03:24Ya, dari sejarah memang biasanya biaya rekonstruksi pasca perang itu diberikan kepada pihak yang kalah.
03:32Tetapi harus dipahami juga bahwa ini juga terjadi ketika pasca perang dunia kedua saat itu.
03:38Nah, permasalahannya waktu itu kita lihat ini tidak hanya berhenti ke kemudian pihak yang kemudian kalah saja,
03:43tetapi juga negara-negara yang menjadi area perang.
03:45Nah, dalam kasus ini kita bisa melihat Amerika Serikat sebagai agresor ini tidak hanya menghancurkan fasilitas militer saja,
03:51tetapi Iran sebagai kemudian battle tiran atau tempat di mana terjadinya peperangan,
03:57ini kan sebenarnya mengalami kerusakan di berbagai macam lini,
04:00termasuk di antaranya adalah infrastruktur sipil,
04:03seperti misalnya rumah sakit, jembatan, lalu kemudian pabrik power plant,
04:07lalu kemudian kita lihat ada petrochemical plant gitu ya,
04:13dan kita lihat sebenarnya banyak sekali fasilitas-fasilitas yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat,
04:17termasuk tadi fasilitas-fasilitas yang sebenarnya tidak mendukung ya, apa namanya, peperangan.
04:22Oleh karena itu saya pikir sebenarnya ini bukan siapa yang menang atau siapa yang kalah,
04:27tetapi lebih ke arah ini adalah goodwill dari salah satu pihak untuk menunjukkan bahwa mereka responsibel terhadap masyarakat sipil.
04:34Karena meskipun kita bicara tentang perang,
04:36maka kemudian kita juga bicara tentang humanity yang seharusnya didahulukan oleh baik Iran maupun Amerika Serikat.
04:42Dan saya kira sebenarnya saat ini sudah jelas ya,
04:44yang kemudian lebih banyak melakukan kerusakan terhadap fasilitas sipil,
04:48itu adalah Amerika Serikat gitu, sebagai pihak agresor di sini.
04:51Apakah ini bisa dikatakan sebagai perang diplomatik, Mbak Isha,
04:54karena sudah tidak ada lagi perang militer atau bahkan mungkin ini akan memicu perang militer ke depannya?
05:01Saya kira sebenarnya kedua negara ini masih terus berusaha untuk melakukan yang namanya adalah coercive diplomacy.
05:08Dalam artian mereka tahu bahwa kemenangan sepertinya sulit untuk didapatkan melalui jalur militer.
05:12Kenapa? Karena secara resources ini sudah tidak memungkinkan dari sisi Amerika Serikat.
05:16Dan Iran pun memiliki batasan dalam hal ini.
05:19Lalu kemudian dari segi ekonomi, saya kira Amerika Serikat juga sangat terdesak.
05:23Karena apa? Karena Iran setiap kali kemudian ada sesuatu yang terasa sebenarnya mengganjal gitu ya,
05:28atau kemudian serangan agresi dari Amerika Serikat, atau pelanggaran dari Amerika Serikat,
05:32hal pertama yang dilakukan oleh Iran itu adalah menutup selat hormus.
05:35Dan itu terbukti efektif.
05:37Dan saya rasa sebenarnya ada batasan di mana kemudian ekonomi juga bisa bertahan di dalam kondisi seperti ini.
05:42Dan dalam sejarahnya, sebenarnya resilience negara-negara dengan sistem totalitarian dibandingkan dengan sistem demokrasi,
05:49negara dengan sistem demokrasi ini akan lebih cepat goyah.
05:52Kenapa? Karena masyarakatnya memiliki hak sebagai konstituen politik.
05:56Nah di sisi lain sebenarnya ini ada permasalahan diplomasi.
05:59Kenapa? Karena sudah jelas, untuk kemudian bisa mengganti rezim,
06:02dan kemudian bisa mendapatkan kemenangan total bagi Amerika Serikat,
06:04harus melakukan okupasi darat, yang mana ini juga tidak mungkin dilakukan.
06:08Satu-satunya opsi sekarang yang bisa dilakukan itu adalah kemudian mendapatkan konsesi yang jelas dengan Iran.
06:14Untuk bisa melakukan konsesi ini pun, pada akhirnya ini harus ada beberapa hal yang perlu dilakukan.
06:20Yang pertama, ini adalah goodwill dari kedua belah pihak untuk bisa menurunkan tensi perang.
06:25Yang kedua di sini adalah konsistensi untuk bisa menjaga goodwill tersebut,
06:30jangan sampai kemudian ada salah satu pihak yang melanggar.
06:32Dan yang ketiga, adanya komunikasi yang intensif diantara elit pemimpin,
06:37baik itu dari tim negosiasi Iran maupun kemudian tim negosiasi Amerika Serikat.
06:41Saya kira sampai sekarang, sampai hari ini, ketiga hal ini belum ada yang kemudian bisa dipenuhi oleh Iran maupun Amerika
06:47Serikat.
06:48Sehingga ya ada kemungkinan bahwa perangnya akan menggantung, gitu.
06:52Mungkin tidak se-intense ketika awal.
06:56Berarti, menurut Ba Esa, ini sampai kapan diplomasi ini akan terus berlanjut?
07:00Karena ini kan yang tersandar akhirnya adalah Selat Hormuz.
07:03Apakah memerlukan mediator?
07:06Tentu saja membutuhkan mediator.
07:08Saya kira sekarang ini cukup menarik.
07:10Karena di dalam kasus ini, hampir seluruh negara yang berperan aktif sebagai mediator,
07:15seperti misalnya Pakistan, lalu kemudian Arab Saudi, Turki, Qatar, gitu.
07:19Dan Oman to some extent.
07:20Menurut saya mereka sebenarnya satu suara.
07:22Bahwa memang meskipun mereka memiliki kepentingan nasional,
07:26tetapi mereka berusaha untuk tidak mengekskalasi keadaan lebih lanjut dan mengedepankan jalur diplomasi.
07:31Tetapi balik lagi, selain kemudian kita bicara tentang keaktifan dari negara-negara mediator,
07:36saya kira perlu ada juga sebenarnya keinginan atau political will dari kedua belah negara ini
07:42untuk bisa melihat dan mengakses keadaan dan menurunkan tensinya tersebut.
07:46Kalau kedua negara ini masih terjebak di dalam escalation trap,
07:49kalau yang kita sebut sebagai chicken game theory ya,
07:52ini jadi dua-duanya sama-sama takut kalau yang satunya lagi itu mundur ya,
07:56maka kemudian ini akan terus berjalan dan itu yang tidak kita inginkan, Mas Gali.
07:59Baik, terima kasih Mbak Isha Kusuma-Sumantri, peneliti senior Indo-Pacific Strategik Intelligentra,
08:04bergabung bersama kami di Kupas Malam.
08:05Terima kasih Mbak Isha.
Komentar