00:00Di tengah mencuatnya berita tentang tewasnya tujuh prajurit Angkatan Laut Amerika Serikat di USS Abraham Lincoln,
00:07militer Iran kini ancang-ancang memperluas wilayah operasinya hingga keluar perbatasan.
00:13Apakah kegentingan di kapal perang Amerika Serikat akan mengubah peta konflik di Selat Hormuz dan Iran?
00:19Kita bahas bersama mantan atas sepertahanan Republik Indonesia di Iran,
00:23Majen Purnawirawan Budi Pramono.
00:26Selamat sore Pak Budi, semoga sehat selalu.
00:28Selamat sore Mas, apa kabar Mas?
00:30Pak Budi, untuk saat ini kita mengatakan ada informasi dari media Iran
00:35bahwa ada tujuh prajurit marinir di USS Abraham Lincoln terlibat perkelahian sesama prajurit
00:41dan mengakibatkan tujuh orang tewas.
00:43Lalu apakah ini tandanya blokade maritim akan tidak seketat sebelumnya
00:49dan apakah ini juga akan menguntungkan bagi Iran?
00:54Iya Mas, kalau menurut saya ini adalah military blunder.
01:00Military blunder yang kalau misalnya merubah strategi itu sampai operasionalnya begitu,
01:09kalau menurut saya jauh api dari panggang.
01:11Kenapa? Karena tidak bisa serta-merta military blunder kekonyolan-kekonyolan yang ada dalam dunia
01:18kemiliteran ketika beroperasi seperti ini, kemudian mengubah strategi besar
01:24bagaimana nanti Amerika memblokade.
01:28Saya jadi ingat Mas, ini kan kasusnya kayak kasus yang USS Enterprise
01:33yang sekitar tahun 72 ya, itu sekitar tahun 65 kalau tidak salah.
01:41Dan juga USS Kitty Hawk yang tahun 72, itu semua kan perang Vietnam.
01:49Tapi ini adalah akumulasi Mas.
01:52Jadi memang terjadinya itu istilahnya itu konflik kecil gitu di dalam kapal itu sendiri
01:59yang jauh api dari panggang tadi saya sampaikan, tapi terakumulasi
02:03dengan bagaimana political will, bagaimana political background
02:08sehingga di dalam negeri itu semakin meningkat tekanan-tekanan politik yang ada,
02:15kemudian tekanan-tekanan ekonomi yang ada, tekanan-tekanan publik yang ada.
02:20Kalau itu semuanya sudah meluas, nah barulah itu nanti akan menjadi bahan evaluasi
02:26dan bahan evaluasi itu nanti baru akan ditentukan sampai sejauh mana
02:30strategi pertempurannya, kemudian operasionalnya itu sampai dirubah gitu.
02:35Jadi kalau kasus-kasus militeri blunder yang saya lihat seperti ini ya,
02:41saya menengah rahinya ini baru sebatas ya SDM saja ya,
02:48Roman Resources yang belum sampai ke war fatigue,
02:51war fatigue yang US-US Enterprise, war fatigue yang terjadi di Kitty Hawk,
02:58US-US Kitty Hawk yang di Vietnam, belum sampai pada saat itu.
03:02Namun demikian bisa kita ambil bagaimana yang disampaikan
03:06close switch di Onward lah mas, bahwa
03:08no matter how high the technology is, but main matter most.
03:12Di sana lah mas, pentingnya sampai sejauh mana teknologi itu kau gape,
03:17tapi manusia itu tetap akan sangat berpengaruh.
03:21Jadi kalau situasi itu dibiarkan dalam jangka panjang,
03:25tentunya ya sangat tidak bagus untuk operasional Amerika dalam hal ini,
03:31dalam rangka blokade itu.
03:33Kenapa? Ya itu tadi mas,
03:35the technology, everything in technology ended by pushing the button.
03:40sampai setinggi mana teknologi yang kau dapatkan,
03:43katakanlah di apa itu kapal Indo itu.
03:46Tapi ya ujung-ujungnya berakhir pada pushing the button,
03:50menekan daripada tombol-tombol itu yang menekan adalah jarinya manusia,
03:54itu kata close switch.
03:56Jadi ini memang tidak bisa di-ignore mas,
03:59tidak bisa dibiarkan untuk ke jangka panjang.
04:03Harus merupakan catatan,
04:05karena ini udah lesson learned,
04:06bagaimana Kitty Hawk 72 di Vietnam,
04:09bagaimana juga US Enterprise 65 Perang Vietnam,
04:13yang semuanya ini bisa merubah eskalasi dan strategi
04:18untuk operasional yang secara strategik, secara meluas gitu mas.
04:24Kita mengatakan bahwa USS Abraham Lincoln
04:26sebuah kapal induk yang juga sangat besar
04:29dan membawa 5.000 awak
04:31dan ini merupakan salah satu kapal induk yang prioritas,
04:35terutama untuk mempelukai ada di kawasan Timur Tengah,
04:37terutama bagi Iran.
04:38Untuk saat ini Anda juga melihatnya bahwa ini menjadi moral hazard
04:42bagi kapal induk ataupun kapal Amerika lainnya
04:47yang saat ini sedang berupaya untuk mempelukai ada Iran,
04:51terutama di Selat Hormuz.
04:54Iya mas, jadi kalau hubungannya dengan adanya di Selat Hormuz,
05:00tentunya ini sampai sejauh mana sih mas,
05:03blokade itu bisa dikatakan kendor atau tidak gitu kan.
05:07Kan Iran tentunya melihat mas,
05:09kalau ini misalnya kendor,
05:11Iran akan mempunyai strategi sendiri.
05:13Tapi kalau misalnya tidak kendor,
05:16Iran juga akan tetap mempunyai strategi sendiri.
05:18Nanti ya tetap apapun yang terjadi,
05:20dia akan tetap memperkuat.
05:21Bagaimana Hormuz agar tetap di bawah pengaruhnya dia.
05:25Nah, namun demikian mas,
05:26kalau kita melihat kendor atau tidak kendornya,
05:29sekali lagi,
05:30ini bukan sesuatu hanya dari satu titik,
05:33kemudian kita bisa melihat bahwa itu kendor.
05:35Kendor itu mas, apabila apa?
05:38Apabila ada pengurangan katakanlah kapal-kapal serang,
05:43kapal perusahaan,
05:44kemudian kapal lindungnya juga diganti full gitu,
05:48SDM-nya di sana,
05:49dan juga ini tentunya kendor,
05:51apabila sudah ada decision dari Kongres,
05:55bahwa ya mulai sekarang agar mundur situasi yang ada di blokade di sana,
06:00atau juga logistik yang ada,
06:02logistik yang ada tidak mendukung,
06:04politik dalam negeri tidak mendukung,
06:06kemudian rakyat juga,
06:09terutama korban-korban yang ada,
06:11keluarga yang ada di USS,
06:14tadi Abraham Lincoln itu juga komplain.
06:17Nah, ini kalau terjadi si Mulsternley secara berbarengan,
06:21baru dikatakan kendor,
06:22tapi sampai detik ini jauh api dari panggang lah,
06:25mas, kalau misalnya dikatakan bahwa blokade itu kendor,
06:27dan tentunya Iran tidak pada titik sana menilai kekendoran itu.
06:31Ya, karena untuk saya terakhir,
06:33informasinya bahwa militer Iran siap akan melakukan ubah strategi,
06:37terutama dari defensif melalui jadi lebih ofensif.
06:41Nah, ini apakah juga akan merusak,
06:43dan juga akan pengerahannya akan lebih masif,
06:45terutama untuk melindungi strategi di Selat Hormuz?
06:50Ya, itu dia Mas.
06:52Tadi saya perlu tambahkan,
06:54bahkan IRGC kan sudah bukan lagi,
06:57apa ya, maksudnya melemah,
07:00tapi malah declare the war.
07:01Kenapa?
07:02Karena kok semakin menemui jalan buntu dalam hal ini,
07:06kok semakin tidak ditentukan,
07:08kapan waktunya akan diadakan perundingan,
07:11dan lain sebagainya.
07:12Ini menunjukkan kalau memang di depan mata ini semakin ada jalan buntu.
07:18Jadi kalau menurut saya Mas,
07:21ini tentunya akan bertahap-tahap ini,
07:23kelanjutan bagaimana Amerika dengan Iran ini.
07:26Yang pertamanya kan tentunya dia saling tekan,
07:29yang selama ini kita tahu koersif diplomasi,
07:32ya tekanan-tekanan ini akan menuju pada suatu titik,
07:36apakah ini nanti akan terjadi eskalasi terbatas, ya kan.
07:40Setelah eskalasi terbatas,
07:41tentunya berjalan terus eskalasi terbatas,
07:44apakah dia tidak menentukan pada,
07:46tidak bertemu pada titik temu,
07:48titik temunya, titik penentuannya adalah,
07:50apakah berlanjut secara besar,
07:52ataukah mengendor,
07:54baru ada evaluasi.
07:55Kalau memang mengendor,
07:57dengan ciri-ciri simptom yang tadi saya sampaikan dari awal,
08:01ya berarti meredah,
08:02tapi apabila tidak,
08:04ini akan membuka open total warfare di kawasan,
08:08menurut saya begitu.
08:09Jadi kira-kira tahapannya seperti itulah Mas,
08:11ke depan kalau Amerika sama Iran ini,
08:13masih menemui titik-titik buntu dalam perundingan.
08:18Baik.
08:19Tampaknya kedua belah pihak masih saling intip,
08:21dan juga saling mengintai,
08:22dan juga untuk saat ini,
08:23mereka masih dalam posisi satu sama lain,
08:26untuk meminta kompensasi atas perang yang terjadi.
08:28Terima kasih.
08:29Atas perspektifnya,
08:31Majen Purnawirawan Budi Pramono,
08:34mantan atas sepertahanan Republik Indonesia di Iran
08:37pada periode 2009-2012.
08:40Sehat-sehat selalu, Pak.
08:41Terima kasih, Mas.
08:42Terima kasih, Mas.
08:42Terima kasih.
08:43Terima kasih.
Komentar