Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Jalan damai antara Amerika Serikat dan Iran diambang kehancuran. Setelah AS menuding Iran menyerang kapal-kapal dagang tanker di Selat Hormuz. Keduanya kembali sengit saling serang sejak awal juli.

Sikap abu-abu AS Iran soal perdamaian membawa kekhawatiran bahwa perang sengit di timur tengah jadi berkepanjangan.

Dunia menanti, masihkan ada harapan AS Iran berdamai di tengah tensi yang kian memanas.

Untuk membahas tidak selesainya perang Amerika Serikat dan Iran ini kita ulas bersama Heribertus Jaka Triyana, Guru Besar Hukum Internasional FH UGM.

Video Editor: Novaltri Sarelpa

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/681888/perang-as-iran-memanas-tidak-ada-jalan-damai-ini-kata-guru-besar-hukum-internasional-ugm
Transkrip
00:00Sebenarnya untuk membahas tidak selesainya perang Amerika Serikat dan Iran ini kita ulas bersama Heribertus Jaketriana, Guru Besar Hukum Internasional
00:09Fakultas Hukum UGM.
00:11Prof. Jaket, selamat pagi.
00:13Selamat pagi, Mas Siam. Salam sehat selalu.
00:16Prof. Jaket, Anda melihat tadi ada informasi terkait dengan Mesir dan Qatar yang disebut aktif mendorong gejataan sejata selama 10
00:23hari ke depan.
00:24Sebetulnya seberapa efektif peran kedua negara ini dalam konflik ataupun penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran?
00:33Pertama, apakah efektif atau tidak? Saya kira kedua negara ini memainkan peran yang cukup signifikan.
00:40Kenapa? Karena mereka menjadi penengah yang dipercaya di antara kedua belah pihak yang sedang berperang.
00:45Saat sekarang kedua belah pihak sedang menggunakan force diplomacy yang menggunakan taktik eskalasi untuk mendeeskalasi situasi.
00:53Dan kalau kita lihat, sikap mendua dari kedua belah negara itu sama-sama ambigu yang juga membuka ruang adanya kemungkinan
01:01diplomasi untuk mencapai kata sepakat.
01:04Saya kira momentum ini digunakan oleh kedua negara untuk memainkan situasi ini dan juga memainkan peran sebagai mediator untuk mempertemukan
01:14kedua belah pihak.
01:14Saya kira kesempatan atau momentum ini betul-betul dapat digunakan oleh kedua negara.
01:21Sekaligus juga kita bisa melihat bahwa kedua negara tidak melakukan tindakan-tindakan yang ofensif walaupun mereka juga diserang oleh Iran.
01:29Dan ini membuka ruang-ruang untuk adanya trust building di antara pihak-pihak yang sedang bertikai melalui penengah kedua negara
01:36tersebut.
01:36Oke, Prof. Kalau kita berbicara soal pengaruh, Pakistan saja yang netral begitu dekat dengan Amerika Serikat, dekat juga dengan Iran,
01:44belum berhasil membuat kedua negara ini berdamai.
01:48Kemudian kita lihat Mesir dan Qatar apabila secara awam itu lebih berat kepada Amerika Serikat.
01:53Ini kalau berbicara soal pengaruh, seberapa besar ini pengaruhnya akan berhasil dalam upaya mediasi atau memediasi kedua negara yang setengah
02:02berkonflik?
02:03Saya kira kalau kita melihat sejarah dari beberapa waktu yang lampu, ini kan ada apa yang disebut sebagai gencatan senjata,
02:12gencatan senjata, gencatan senjata, gencatan senjata.
02:15Yang pasti di dalamnya itu menengah atau mediator itu berperan penting untuk menjembatani komunikasi di antara kedua negara.
02:22Saya kira saat sekarang posisinya adalah sama.
02:25Kenapa? Karena tanda-tanda untuk eskalasi penggunaan militer yang keras melebar itu belum terlihat.
02:31Amerika memang masih menggunakan kekerasan militer, tetapi belum menyentuh ruang-ruang untuk isu terkait dengan pengayaan nuklir di Natanz ataupun
02:42di Mountain X dan lain sebagainya.
02:45Juga belum dilakukan mobilisasi terkait dengan penggunaan militer misalnya di laut dan di darat yang saya kira situasinya itu masih
02:52sama.
02:53Karena situasinya masih sama, saya kira momentum untuk melaksanakan diplomasi secara damai itu masih terbuka.
02:59Pertama adalah itu. Yang kedua, memang pada saat sekarang terjadi satu penyebar luasan penggunaan kekerasan bersenjata antara proksi Iran yaitu
03:08Houthi di Saudi Arabia.
03:10Yang ini membawa dampak luar biasa terkait dengan perluasan dari eskalasi konflik yang ada di kawasan.
03:16Namun demikian, kalau kita lihat juga, masing-masing negara ini juga masih menahan diri.
03:21Kenapa? Karena kepentingan ekonomi itu masih menjadi pertimbangan mereka untuk terlibat ataukah tidak.
03:27Sehingga sekali lagi, ruang untuk adanya diplomasi walaupun jebol-jebol-jebol itu masih tetap akan menjadi pilihan yang paling realistis
03:35di antara para pihak
03:37dan juga di antara negara-negara teluk dengan pertimbangan kepentingan ekonomi, pertimbangan geopolitik, dan lain sebagainya.
03:44Yang pasti semuanya akan terkena dan terimbas karenanya.
03:48Oke, Prof. Informasi terbaru adalah Amerika Serikat telah menerima proposal gencatan senjata dari Mesir dan juga Qatar.
03:56Dan saat ini Donald Trump sedang mengkaji proposal tersebut.
04:00Menurut Anda ini seberapa besar peluangnya Amerika Serikat akan mengabulkan proposal ini?
04:06Saya kira apa yang dilakukan oleh Amerika pasti turutan indikatornya akan melulu pada tiga hal.
04:12Pertama adalah tentang isu pengayaan nuklir.
04:15Yang kedua itu adalah penggunaan dan juga pemanfaatan selat urmus untuk kepentingan pelayaran dan distribusi energi dunia.
04:22Dan yang ketiga itu adalah terkait dengan hold dari sanksi internasional ekonomi terhadap Iran.
04:27Saya kira ini nanti yang akan menjadi tolok ukur misalnya, kalau Amerika akan menerima, pasti akan terjadi satu rangkaian-rangkaian
04:36penurunan kualitas dari ketiga isu itu melalui level-level taktis dan operasional di lapangan.
04:43Sehingga kalau itu pun nanti terjadi satu kesepakan teknis, taktis, Amerika pasti akan mundur selangkah untuk memperoleh keuntungan dua langkah
04:53atau tiga langkah ke depan.
04:54Ini adalah pola kecenderungan yang sudah dilakukan oleh Amerika sebelumnya.
04:59Sehingga sekali lagi, saya yakin pasti akan ada deal-deal ke depannya, tetapi tidak akan pernah terjadi apa yang disebut
05:07sebagai peace agreement di antara kedua negara ini dan juga negara-negara proksi dari Iran dan juga Amerika.
05:13Sehingga posisinya pasti akan jadah sementara sambil mereka merundingkan kembali sampai ke tiga akar masalah ini, nuklir, hormus, dan sanksi
05:22internasional.
05:23Oke, kalau kita kembali berbicara soal dua negara ini, Prof, antara Mesir dan Qatar,
05:28kalau melihat bahwa mereka sangat berupaya untuk memediasi antara Amerika Serikat dan juga Iran untuk melakukan kejahatan senjata.
05:38Kalau kita melihat kepentingannya, sebetulnya apa sih kepentingan dari dua negara ini, Prof?
06:09Yang pertama adalah terkait dengan stabilitas geopolitik di kawasan.
06:11Dari satu pertimbangan mereka untuk melaksanakan kebijakan win and see sampai saat sekarang.
06:16Lalu yang kedua, saya kira kita bisa melihat semuanya dan ini adalah tidak bisa dibantah bahwa yang namanya perang di
06:24kawasan Teluk di Selat Hormus itu terkait dengan perang ekonomi.
06:28Ini perang energi yang dampaknya itu sangat luar biasa terkait dengan ketahanan, terkait dengan kepentingan nasional dari semua negara yang
06:37ada.
06:37Sehingga kalau nanti eskalasi ini berkembang, tentu ini bukan perang militer secara ansih, tetap.
06:43Kami adalah perang kekuatan ekonomi yang nanti pertanyaannya adalah atau endingnya adalah siapa yang nanti rugi paling sedikit itulah dia
06:52yang akan memenangkan apa itu eskalasi militer ini.
06:55Dan bukan pada dominansi militer dan lain sebagainya.
06:58Sehingga sekali lagi kepentingan ekonomi itu menjadi sebuah motivasi yang saya kira betul-betul saat sekarang dimanfaatkan oleh Iran untuk
07:05menekan Amerika.
07:06Supaya mereka bisa menerima proposal yang disampaikan oleh kedua negara tadi sebagai satu bentuk paus terkait dengan penggunaan eskalasi militer
07:15yang dilaksanakan oleh Amerika.
07:17Oke, berarti intinya kalau kita lihat kepentingannya adalah intinya di ekonomi begitu ya Prof.
07:22Pasti, pasti.
07:23Kalau kita melihat respons, Prof, kan sekarang Amerika tengah mengkaji proposal dari kedua negara tersebut.
07:29Sedangkan Iran begitu lebih pasif karena memang proposal itu ditujukan kepada Amerika Serikat.
07:37Lalu bagaimana kalau dari sisi Iran, apa respon yang harus diberikan terkait dengan sikap kedua negara, Qatar dan juga Mesir
07:43yang mengirim proposal kepada Amerika Serikat terkait gencatan senjata 10 hari?
07:48Saya kira gencatan 10 hari itu adalah haus terkait dengan penggunaan kekerasan bersenjata yang bisa berdampak terkait dengan pengurusahaan sipil
07:57dan militer, infrastruktur sipil dan militer.
07:59Tetapi satu yang perlu kita perhatikan adalah proposal yang diberikan oleh kedua negara ini itu menambah satu ketentuan terkait dengan
08:07observance ataupun compliance mechanism yang diperteguk.
08:12Kenapa? Karena kegagalan dari cheese fire-cheese fire sebelumnya.
08:15Saya kira proposal yang ditambahkan oleh kedua negara ini belajar dari yang kemarin yang diberikan oleh Pakistan itu tidak ada
08:23mekanisme compliance body-nya.
08:25Tidak ada enforcement mechanism-nya untuk bisa diterapkan terhadap dari kedua negara.
08:30Saya kira ini yang perlu dikaji dan juga sedang dilihat oleh Amerika terkait dengan siapa yang bisa menjadi mediator untuk
08:39bisa mengkomunikasikan penggunaan
08:41ataupun ketidak penggunaan kekuatan militer di antara kedua negara ini.
08:45Saya kira Mesir dan juga negara-negara di Teluk itu sedang menggodok terkait dengan penggunaan-penggunaan apa itu mekanisme compliance
08:54ini yang menjadi titik pangkal keberhasilan efektivitas dari jeda atau cheese fire yang dilakukan antara Amerika dengan Iran melalui mediator
09:04kedua negara ini.
09:04Oke Prof ini kan di tengah pengkajian proposal yang dikirimkan oleh Qatar dan juga Mesir kini setengah dikaji oleh Amerika
09:13Serikat.
09:14Namun di tengah pengkajian ini Washington meminta Israel untuk menghindari langkah yang dapat menutup peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
09:22Menurut Anda apakah Israel akan mematuhi permintaan Amerika Serikat?
09:25Saya kira iya. Kenapa? Karena ini menjadi sebuah langkah prakondisi supaya apapun yang nanti dilakukan untuk menyelesaikan secara damai itu
09:34dapat
09:45Baik, tampaknya ada kendala teknis audio dengan Harry Bertus Jaikatriana, Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum UGM
09:56Terkait dengan perbincangan kami soal Mesir dan juga Qatar yang memilihkan proposal gencatan senjata 10 hari kepada Amerika Serikat
10:05Dan saat ini Washington tengah mengkaji proposal tersebut apakah akan dikabulkan atau tidak
10:11Memang ada beberapa poin penting begitu yang kemungkinan akan dibahas dalam selagi gencatan senjata tersebut
10:19Termasuk terkait dengan pengayaan nuklir, ada juga terkait dengan Selat Hormuz dan juga sanksi internasional terhadap Iran begitu
10:33Dan saudara, itu tadi perbincangan kami bersama Guru Besar Hukum Internasional FAA UGM Harry Bertus Jaikatriana
10:41Terkait dengan eskalasi yang telah terjadi di Iran, perang antara Iran dan juga Amerika Serikat
10:48Terima kasih
Komentar

Dianjurkan