00:00Sebenarnya untuk membahas tidak selesainya perang Amerika Serikat dan Iran ini kita ulas bersama Heribertus Jaketriana, Guru Besar Hukum Internasional
00:09Fakultas Hukum UGM.
00:11Prof. Jaket, selamat pagi.
00:13Selamat pagi, Mas Siam. Salam sehat selalu.
00:16Prof. Jaket, Anda melihat tadi ada informasi terkait dengan Mesir dan Qatar yang disebut aktif mendorong gejataan sejata selama 10
00:23hari ke depan.
00:24Sebetulnya seberapa efektif peran kedua negara ini dalam konflik ataupun penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran?
00:33Pertama, apakah efektif atau tidak? Saya kira kedua negara ini memainkan peran yang cukup signifikan.
00:40Kenapa? Karena mereka menjadi penengah yang dipercaya di antara kedua belah pihak yang sedang berperang.
00:45Saat sekarang kedua belah pihak sedang menggunakan force diplomacy yang menggunakan taktik eskalasi untuk mendeeskalasi situasi.
00:53Dan kalau kita lihat, sikap mendua dari kedua belah negara itu sama-sama ambigu yang juga membuka ruang adanya kemungkinan
01:01diplomasi untuk mencapai kata sepakat.
01:04Saya kira momentum ini digunakan oleh kedua negara untuk memainkan situasi ini dan juga memainkan peran sebagai mediator untuk mempertemukan
01:14kedua belah pihak.
01:14Saya kira kesempatan atau momentum ini betul-betul dapat digunakan oleh kedua negara.
01:21Sekaligus juga kita bisa melihat bahwa kedua negara tidak melakukan tindakan-tindakan yang ofensif walaupun mereka juga diserang oleh Iran.
01:29Dan ini membuka ruang-ruang untuk adanya trust building di antara pihak-pihak yang sedang bertikai melalui penengah kedua negara
01:36tersebut.
01:36Oke, Prof. Kalau kita berbicara soal pengaruh, Pakistan saja yang netral begitu dekat dengan Amerika Serikat, dekat juga dengan Iran,
01:44belum berhasil membuat kedua negara ini berdamai.
01:48Kemudian kita lihat Mesir dan Qatar apabila secara awam itu lebih berat kepada Amerika Serikat.
01:53Ini kalau berbicara soal pengaruh, seberapa besar ini pengaruhnya akan berhasil dalam upaya mediasi atau memediasi kedua negara yang setengah
02:02berkonflik?
02:03Saya kira kalau kita melihat sejarah dari beberapa waktu yang lampu, ini kan ada apa yang disebut sebagai gencatan senjata,
02:12gencatan senjata, gencatan senjata, gencatan senjata.
02:15Yang pasti di dalamnya itu menengah atau mediator itu berperan penting untuk menjembatani komunikasi di antara kedua negara.
02:22Saya kira saat sekarang posisinya adalah sama.
02:25Kenapa? Karena tanda-tanda untuk eskalasi penggunaan militer yang keras melebar itu belum terlihat.
02:31Amerika memang masih menggunakan kekerasan militer, tetapi belum menyentuh ruang-ruang untuk isu terkait dengan pengayaan nuklir di Natanz ataupun
02:42di Mountain X dan lain sebagainya.
02:45Juga belum dilakukan mobilisasi terkait dengan penggunaan militer misalnya di laut dan di darat yang saya kira situasinya itu masih
02:52sama.
02:53Karena situasinya masih sama, saya kira momentum untuk melaksanakan diplomasi secara damai itu masih terbuka.
02:59Pertama adalah itu. Yang kedua, memang pada saat sekarang terjadi satu penyebar luasan penggunaan kekerasan bersenjata antara proksi Iran yaitu
03:08Houthi di Saudi Arabia.
03:10Yang ini membawa dampak luar biasa terkait dengan perluasan dari eskalasi konflik yang ada di kawasan.
03:16Namun demikian, kalau kita lihat juga, masing-masing negara ini juga masih menahan diri.
03:21Kenapa? Karena kepentingan ekonomi itu masih menjadi pertimbangan mereka untuk terlibat ataukah tidak.
03:27Sehingga sekali lagi, ruang untuk adanya diplomasi walaupun jebol-jebol-jebol itu masih tetap akan menjadi pilihan yang paling realistis
03:35di antara para pihak
03:37dan juga di antara negara-negara teluk dengan pertimbangan kepentingan ekonomi, pertimbangan geopolitik, dan lain sebagainya.
03:44Yang pasti semuanya akan terkena dan terimbas karenanya.
03:48Oke, Prof. Informasi terbaru adalah Amerika Serikat telah menerima proposal gencatan senjata dari Mesir dan juga Qatar.
03:56Dan saat ini Donald Trump sedang mengkaji proposal tersebut.
04:00Menurut Anda ini seberapa besar peluangnya Amerika Serikat akan mengabulkan proposal ini?
04:06Saya kira apa yang dilakukan oleh Amerika pasti turutan indikatornya akan melulu pada tiga hal.
04:12Pertama adalah tentang isu pengayaan nuklir.
04:15Yang kedua itu adalah penggunaan dan juga pemanfaatan selat urmus untuk kepentingan pelayaran dan distribusi energi dunia.
04:22Dan yang ketiga itu adalah terkait dengan hold dari sanksi internasional ekonomi terhadap Iran.
04:27Saya kira ini nanti yang akan menjadi tolok ukur misalnya, kalau Amerika akan menerima, pasti akan terjadi satu rangkaian-rangkaian
04:36penurunan kualitas dari ketiga isu itu melalui level-level taktis dan operasional di lapangan.
04:43Sehingga kalau itu pun nanti terjadi satu kesepakan teknis, taktis, Amerika pasti akan mundur selangkah untuk memperoleh keuntungan dua langkah
04:53atau tiga langkah ke depan.
04:54Ini adalah pola kecenderungan yang sudah dilakukan oleh Amerika sebelumnya.
04:59Sehingga sekali lagi, saya yakin pasti akan ada deal-deal ke depannya, tetapi tidak akan pernah terjadi apa yang disebut
05:07sebagai peace agreement di antara kedua negara ini dan juga negara-negara proksi dari Iran dan juga Amerika.
05:13Sehingga posisinya pasti akan jadah sementara sambil mereka merundingkan kembali sampai ke tiga akar masalah ini, nuklir, hormus, dan sanksi
05:22internasional.
05:23Oke, kalau kita kembali berbicara soal dua negara ini, Prof, antara Mesir dan Qatar,
05:28kalau melihat bahwa mereka sangat berupaya untuk memediasi antara Amerika Serikat dan juga Iran untuk melakukan kejahatan senjata.
05:38Kalau kita melihat kepentingannya, sebetulnya apa sih kepentingan dari dua negara ini, Prof?
06:09Yang pertama adalah terkait dengan stabilitas geopolitik di kawasan.
06:11Dari satu pertimbangan mereka untuk melaksanakan kebijakan win and see sampai saat sekarang.
06:16Lalu yang kedua, saya kira kita bisa melihat semuanya dan ini adalah tidak bisa dibantah bahwa yang namanya perang di
06:24kawasan Teluk di Selat Hormus itu terkait dengan perang ekonomi.
06:28Ini perang energi yang dampaknya itu sangat luar biasa terkait dengan ketahanan, terkait dengan kepentingan nasional dari semua negara yang
06:37ada.
06:37Sehingga kalau nanti eskalasi ini berkembang, tentu ini bukan perang militer secara ansih, tetap.
06:43Kami adalah perang kekuatan ekonomi yang nanti pertanyaannya adalah atau endingnya adalah siapa yang nanti rugi paling sedikit itulah dia
06:52yang akan memenangkan apa itu eskalasi militer ini.
06:55Dan bukan pada dominansi militer dan lain sebagainya.
06:58Sehingga sekali lagi kepentingan ekonomi itu menjadi sebuah motivasi yang saya kira betul-betul saat sekarang dimanfaatkan oleh Iran untuk
07:05menekan Amerika.
07:06Supaya mereka bisa menerima proposal yang disampaikan oleh kedua negara tadi sebagai satu bentuk paus terkait dengan penggunaan eskalasi militer
07:15yang dilaksanakan oleh Amerika.
07:17Oke, berarti intinya kalau kita lihat kepentingannya adalah intinya di ekonomi begitu ya Prof.
07:22Pasti, pasti.
07:23Kalau kita melihat respons, Prof, kan sekarang Amerika tengah mengkaji proposal dari kedua negara tersebut.
07:29Sedangkan Iran begitu lebih pasif karena memang proposal itu ditujukan kepada Amerika Serikat.
07:37Lalu bagaimana kalau dari sisi Iran, apa respon yang harus diberikan terkait dengan sikap kedua negara, Qatar dan juga Mesir
07:43yang mengirim proposal kepada Amerika Serikat terkait gencatan senjata 10 hari?
07:48Saya kira gencatan 10 hari itu adalah haus terkait dengan penggunaan kekerasan bersenjata yang bisa berdampak terkait dengan pengurusahaan sipil
07:57dan militer, infrastruktur sipil dan militer.
07:59Tetapi satu yang perlu kita perhatikan adalah proposal yang diberikan oleh kedua negara ini itu menambah satu ketentuan terkait dengan
08:07observance ataupun compliance mechanism yang diperteguk.
08:12Kenapa? Karena kegagalan dari cheese fire-cheese fire sebelumnya.
08:15Saya kira proposal yang ditambahkan oleh kedua negara ini belajar dari yang kemarin yang diberikan oleh Pakistan itu tidak ada
08:23mekanisme compliance body-nya.
08:25Tidak ada enforcement mechanism-nya untuk bisa diterapkan terhadap dari kedua negara.
08:30Saya kira ini yang perlu dikaji dan juga sedang dilihat oleh Amerika terkait dengan siapa yang bisa menjadi mediator untuk
08:39bisa mengkomunikasikan penggunaan
08:41ataupun ketidak penggunaan kekuatan militer di antara kedua negara ini.
08:45Saya kira Mesir dan juga negara-negara di Teluk itu sedang menggodok terkait dengan penggunaan-penggunaan apa itu mekanisme compliance
08:54ini yang menjadi titik pangkal keberhasilan efektivitas dari jeda atau cheese fire yang dilakukan antara Amerika dengan Iran melalui mediator
09:04kedua negara ini.
09:04Oke Prof ini kan di tengah pengkajian proposal yang dikirimkan oleh Qatar dan juga Mesir kini setengah dikaji oleh Amerika
09:13Serikat.
09:14Namun di tengah pengkajian ini Washington meminta Israel untuk menghindari langkah yang dapat menutup peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
09:22Menurut Anda apakah Israel akan mematuhi permintaan Amerika Serikat?
09:25Saya kira iya. Kenapa? Karena ini menjadi sebuah langkah prakondisi supaya apapun yang nanti dilakukan untuk menyelesaikan secara damai itu
09:34dapat
09:45Baik, tampaknya ada kendala teknis audio dengan Harry Bertus Jaikatriana, Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum UGM
09:56Terkait dengan perbincangan kami soal Mesir dan juga Qatar yang memilihkan proposal gencatan senjata 10 hari kepada Amerika Serikat
10:05Dan saat ini Washington tengah mengkaji proposal tersebut apakah akan dikabulkan atau tidak
10:11Memang ada beberapa poin penting begitu yang kemungkinan akan dibahas dalam selagi gencatan senjata tersebut
10:19Termasuk terkait dengan pengayaan nuklir, ada juga terkait dengan Selat Hormuz dan juga sanksi internasional terhadap Iran begitu
10:33Dan saudara, itu tadi perbincangan kami bersama Guru Besar Hukum Internasional FAA UGM Harry Bertus Jaikatriana
10:41Terkait dengan eskalasi yang telah terjadi di Iran, perang antara Iran dan juga Amerika Serikat
10:48Terima kasih
Komentar