- 2 hari yang lalu
- #ancamansiber
- #kebocorandata
- #siber
KOMPAS.TV - Data yang menjadi aset utama bisa memiliki nilai ekonomi, politik, dan keamanan yang sangat tinggi.
Ancaman siber yang kian nyata masih terus dikhawatirkan oleh masyarakat luas. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara, serangan siber di Indonesia meningkat 200 persen dalam tiga tahun terakhir.
Jenisnya pun beragam, mulai dari phishing, malware, ransomware, hingga kebocoran data yang semakin canggih.
Sejumlah masyarakat mengatakan kekhawatiran yang cukup besar karena penggunaan komunikasi digital yang tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari.
#ancamansiber #kebocorandata #siber
Baca Juga Rekap Hasil China Open 2026 Hari Ini: 4 Wakil Indonesia Lolos ke Babak 16 Besar di https://www.kompas.tv/olahraga/681618/rekap-hasil-china-open-2026-hari-ini-4-wakil-indonesia-lolos-ke-babak-16-besar
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/681620/pengamat-intelijen-pakar-keamanan-internasional-bahas-soal-ancaman-kebocoran-data-di-era-digital
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Terima kasih Anda masih menyaksikan Sapa Indonesia Malam, saya Yasir Neneama.
00:04Di tengah era serba digital, kejahatan siber masih terus membayangi semua kalangan masyarakat.
00:10Data yang menjadi aset utama bisa memiliki nilai ekonomi, politik, dan keamanan tentu sangat tinggi.
00:18Ancaman siber yang kian nyata masih terus dikhawatirkan oleh masyarakat luas.
00:22Berdasarkan data badan siber dan sandi negara, serangan siber di Indonesia meningkat 200% dalam 3 tahun terakhir.
00:31Jenisnya pun beragam saudara, mulai dari phishing, malware, ransomware, hingga kebocoran data yang makin canggih.
00:37Sejumlah masyarakat mengatakan kekhawatiran yang cukup besar karena penggunaan komunikasi digital yang tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari.
00:49Besar banget, terutama karena sekarang medsos itu berkembangnya sangat pesat ya.
00:53Apalagi di semua kalangan, baik anak-anak, kayak kita, terus Lansia pun juga sekarang pakai media sosial gitu.
01:00Jadi seberapa besar khawatirnya tentu besar banget sih.
01:03Aku sih khawatir banget ya, karena apalagi di jaman sekarang, kita tuh mengakses sosmed tuh gampang banget kan.
01:11Dan juga dari segala gender, segala usia tuh juga gampang gitu mengaksesnya.
01:15Makanya kayaknya sangat khawatir banget ya kalau misalnya kita nggak hati-hati gitu untuk menggunakan sosmed.
01:19Karena banyak banget kan kejahatan-kejahatan di sana yang mereka tuh sama sekali nggak melihat korbannya gitu.
01:25Mereka hanya kepentingan mereka sendiri, tapi mereka nggak tahu betapa korbannya itu merasakan khawatir dan takutnya dan kerugiannya itu sih.
01:35Ya khawatir sih, emang khawatir membahayakan kita juga.
01:39Karena kadang-kadang kalau lagi nggak tahu menangkat aja kan data kita juga bisa keambil sama mereka.
01:48Jadi ya maunya sih yang begitu-gitu dihapus lah, dihilangkan gimana caranya pemerintah.
01:56Kami juga masyarakat kecil kayak ojol kita ya, kadang-kadang mau ngapus aja susah banget di HP begini deh.
02:08Di era digital, data telah menjadi aset strategis yang memiliki nilai ekonomi dan politik serta keamanan yang sangat tinggi, saudara.
02:16Kebocoran informasi penting negara, pencurian data dan penyalahgunaan informasi publik tentu bisa menimbulkan dampak serius bagi stabilitas nasional.
02:26Untuk membahasnya sudah bergabung bersama kami dua narasumber di studio Nyusrum Kompas TV.
02:31Ada Bang Stanis Laus Rianta selaku pengamat intelijen dan kajian strategik dari Universitas Indonesia.
02:38Dan juga ada Mbak Angel Damayanti pakar keamanan internasional Universitas Kristen Indonesia.
02:44Saya siapa dulu Bang Stanis, Bang Damayanti apa kabar nih?
02:50Puji Tuhan, Alhamdulillah sehat.
02:52Sehat ya, tapi yang mengkhawatirkan adalah bagaimana tadi data yang menyebutkan bahwa dalam kurun tiga tahun terakhir ternyata kejahatan siber
03:00di Indonesia ini naik 300 persen ya Prof ya.
03:02Iya, itu data dari BSSN begitu ya.
03:05Betul, nah pertanyaannya apakah karena sumber daya alam Indonesia yang begitu luar biasa, SDM-nya begitu luar biasa sehingga negara
03:13kita ini jadi target?
03:15Oke, bicara sumber daya alam ya Mas Yasir.
03:18Indonesia itu penghasil nikel terbesar di dunia hari ini.
03:22Kemudian kita juga punya timah, kobal, tembaga.
03:25Ini Indonesia itu bukan sekedar negara yang menghasilkan barang-barang mineral kritis.
03:30Tapi ini juga kita menjadi bagian dari supply chain untuk kebutuhan mobil listrik misalnya atau baterai.
03:36Artinya Indonesia punya posisi penting nih untuk kebutuhan mineral kritis hari ini.
03:40Kemudian secara posisi kita ada di antara dua benua, dua samudera.
03:45Kita ada di hub antara lautan Hindia dan Pasifik gitu.
03:49Artinya kita memegang jalur pelayaran, jalur perdagangan internasional yang sangat penting.
03:53Kita tuh disampir, disamakan dengan selat hormus.
03:56Ketika selat malaka terganggu sedikit, ini pasokan minyak, pasokan energi terganggu.
04:02Perdagangan dunia terganggu.
04:03Kemudian SDM, kita bicara jumlah penduduk Indonesia hari ini berapa?
04:07260-280 juta.
04:08Bukan sekedar pasar besar, bukan sekedar sumber daya banyak.
04:13Tapi kalau kita bicara digital hari ini, Mas Yasir punya berapa akun di Medsosa?
04:19Sesimpel itu ya, bagaimana kita men-tracking ya.
04:22Yes, artinya berapa banyak ekosistem digital yang dibentuk di Indonesia ini.
04:28Belum lagi bicara, kalau ini kita bicara potensi ya, tahun 2024 itu tercatat perdagangan melalui digital saja,
04:37melalui satu platform saja, itu bisa mencapai 90 juta USD.
04:43USD, angka yang sangat tinggi.
04:45Untuk pasar Indonesia, Indonesia ini penggerak untuk Asia Tenggara, ASEAN, Indonesia penggerak untuk Indo-Pasifik.
04:53So, bayangkan betapa strategisnya Indonesia.
04:56Sehingga, makanya tidak heran bahwa akhirnya Indonesia sendiri menjadi target serangan siber.
05:02Kalau dari Bang Stani sendiri melihatnya, apa yang akhirnya menjadi potensi-potensi Indonesia,
05:07sehingga di negara luar mungkin akhirnya melihat bahwa Indonesia ini menjadi target serangan siber yang bahasa sederhananya sasaran empuk lah.
05:18Ada teori yang mengatakan bahwa ancaman itu datang dengan mengeksploitasi kerentanan.
05:22Oke.
05:23Nah, kita punya kerentanan.
05:24Kalau satu pakar mengatakan, suatu pakar mengatakan, kerentanan ada tiga.
05:27Satu daya tarik, yang kedua sistem keamanannya, kemudian diserang ketiga dampak.
05:33Suatu entitas, kalau tidak punya daya tarik, dia tidak punya ancaman.
05:37Nah, serangan siber itu datang ke kita.
05:39Ini menunjukkan bahwa kita itu punya daya tarik yang luar biasa.
05:41Salah satunya sumber daya alam.
05:43Kalau kita tidak punya sumber daya alam, tidak punya sumber daya manusia, tidak punya resursus, kita tidak ada ancaman.
05:48Nah, semakin tinggi daya tarik kita, semakin tinggi potensi kita, semakin tinggi ancamannya.
05:53Dan itu pasti terjadi.
05:55Dan itu tidak bisa kita hilangkan, daya tarik itu.
05:58Karena memang resursus kita besar, maka satu-satunya jalan adalah,
06:02Kita meningkatkan si tim pengamanannya.
06:04Jadi tiga ruas itu.
06:05Dan kita mengecilkan dampaknya jika itu terjadi.
06:08Itu teorinya seperti itu.
06:10Jadi kalau misalnya serangan itu wajar, masuk ya wajar.
06:13Tapi ingat, cyber itu kan medianya.
06:15Cyber itu medianya, cyber itu tools-nya.
06:20Kita harusnya fokus pada aktornya yang menggunakan media cyber ini.
06:24Dan cyber itu macam-macam nanti.
06:26Bukan hanya nanti diserang datanya,
06:28tapi juga bisa menjadi tools media untuk spionase.
06:33Ancaman-ancaman spionase bagi kita.
06:34Sampai ke spionase ya, ancaman mata-mata ya.
06:36Sehingga kalau seandainya ancaman ini sudah menjadi hal yang harus dihadapi,
06:41langkah strategisnya akan seperti apa, Prof. Angel?
06:45Untuk kita bisa menciptakan keamanan cyber di Indonesia.
06:49Nah, itu panjang itu.
06:52Tidak sesederhana itu.
06:53Tidak sesederhana.
06:54Wah, ada ancaman nih.
06:55Berarti harus kita tangkal.
06:56Tidak sesederhana itu ya.
06:58Tapi kalau bisa disimpulkan ataupun bisa disederhanakan seperti apa, Prof?
07:03Langkah strategis, harusnya Indonesia bisa membangun kekuatan cyber kita sendiri.
07:07Oke, langsung ke situ ya, Prof.
07:08Langsung ke situ, walaupun itu butuh waktu, butuh investasi besar gitu ya.
07:12Karena gini, ketergantungan kita terhadap kekuatan cyber asing gitu ya,
07:17kita mungkin butuh model sistem IT dari luar gitu ya,
07:23kita beli protection dari luar.
07:24Tapi jangan lupa, itu kan kita beli dari luar.
07:28Seberapa jauh kita menjaga, memastikan bahwa alat-alat atau sistem yang kita beli itu memang bersih.
07:37Dalam arti bersih itu tidak disusupi oleh ya, katakanlah chips atau tadi kalau bahasanya ada spionase,
07:43ditaruh di situ sedikit saja, selesai.
07:47Kalau misalnya masih ingat kejadian setahun lalu atau awal tahun lalu kayaknya ya,
07:52ketika di Iran itu salah satu kantor pemerintahnya, walkie-talkie-nya meledak gitu ya.
07:57Itu bukan sekedar ledak paling biasa, tapi pasti sudah ada ketika dia beli,
08:03diperhatikan nggak tuh?
08:04Padahal walkie-talkie kan itu zaman lama banget ya,
08:06nggak pakai hari gini orang pakai handphone, pakai apa, ini pakai walkie-talkie.
08:10Artinya ketika dia beli, dicek nggak tuh ada alat apa di dalamnya yang disusupi atau ditaruh di situ.
08:17Kekhawatiran itu ya, Prof.
08:18Artinya ketika kita bergantung pada kekuatan cyber luar negara lain,
08:23sebenarnya kita yang kata Mas Rian Stannis tadi, kita lengkan.
08:27Rentan disusupi oleh spionase ataupun mata-mata.
08:29Tentu harapan kita bersama memang kita punya sistem keamanan ya.
08:35Keamanan cyber sendiri.
08:36Keamanan cyber sendiri.
08:38Tapi butuh proses yang panjang tentu ya Bang Stannis yang menuju ke sana.
08:41Nah langkah yang bisa dilakukan tahapan demi tahapan sehingga menuju ke sana,
08:46setidaknya menurut Bang Stannis apa?
08:47Kita asesmen dulu.
08:49Kita asesmen dulu sebenarnya potensi ancamannya apa saja sih.
08:52Potensi ancamannya apa saja.
08:54Kemudian setelah kita asesmen, untuk menangkal ancaman, kita kan tidak cukup hanya berbicara saja.
09:01Kita butuh infrastruktur, kita butuh regulasi, kita butuh kewenangan.
09:06Undang-undangnya ada nggak?
09:07Ya.
09:09Misalnya undang-undang tentang pencegahan kejahatan cyber.
09:12Undang-undang tentang kontraspionase.
09:16Kita nggak punya itu loh.
09:17Oh iya, ya benar ya?
09:18Punya nggak sih kita itu?
09:19Belum.
09:20Jadi harus sekaligus harus dendorong itu ya?
09:23Hanya ada ITE.
09:24Ya, gimana?
09:25Kita melakukan tindakan pencegahan, melakukan tindakan itu kan kita butuh instrumen.
09:30Butuh regulasi.
09:31Butuh regulasi, butuh anggaran kan?
09:33Betul.
09:33Kalau nggak punya undang-undang gimana?
09:35Ini kan kerentanan juga yang dimanfaatkan oleh mereka.
09:37Nggak punya undang-undang kontraspionase kok, disusupin aja.
09:40Mereka nggak bisa mencegah.
09:41Nggak bisa ngapa-ngapain.
09:42Nggak bisa ngapa-ngapain.
09:43Nah, sehingga pertanyaan selanjutnya adalah kalau seandainya kita bisa, sebenarnya bisa ya,
09:48menuju ke membangun ketahanan dan keamanan cyber dalam negeri, tapi memang butuh proses.
09:54Dan salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah membangun regulasi tersebut ya?
09:59Yes, karena kita belum bisa membuat sistem kita sendiri.
10:02Jadi, kita masih mengadopsi dari luar misalnya, atau kita membeli dari luar ya,
10:06sudah regulasi pencegahan atau regulasi menindak ketika ransomware terjadi atau malware terjadi,
10:12itu bisa ditegakkan.
10:14Dan pengawasan itu juga penting.
10:16Karena kan hari ini, ya, BSSN dengan masing-masing ada Polri, ada apa lagi ya,
10:21masing-masing punya organnya sendiri untuk mengawas ini, tapi komdigi juga ada.
10:26Tapi kemudian siapa sih sebenarnya pemegang komandonya?
10:29Sehingga kalau ada apa-apa, sep satu pintu, kita ke sini.
10:32Ini nanti pendelegasian.
10:34Nah, ini kan masih tersebar nih kewenangan itu.
10:36Nah, harapannya dengan adanya regulasi, itu akan membagi kewenangan itu sehingga nggak lagi,
10:41ketika ada serangan, kita tuh masih sibuk dengan,
10:43ayo-ayo, siapanya tugas, ayo-ayo, komdigi yang berdaya.
10:45Harus untuk mengambil alih ini.
10:46Yes, ketika ada regulasi, kan jelas komandonya ada di satu pintu, kemudian pendelegasian kesiapan melakukan apa.
10:53Oke, regulasi ini penting ya dalam bentuk untuk menghadapi ancaman siber ini.
10:58Tapi bagaimana proses pembentukan ataupun pengadaan dari regulasi tersebut, ini yang masih akan kita bahas.
11:04Jadi, tetaplah bersama kami di Sapa Indonesia Malam, langkah strategis hadapi ancaman siber,
11:09masih akan kami lanjutkan diskusinya.
11:13Menarik membahas bagaimana langkah strategis dari Indonesia pastinya untuk menjaga ataupun memberikan keamanan siber kita.
11:21Nah, salah satu dasarnya adalah bagaimana membangun regulasi.
11:24Saya ke Bang Stanis, kalau ngomong soal regulasi, tentu harus ada alasan yang masuk akal begitu.
11:30Kepada publik dijelaskan bahwa sebenarnya siber kita ini betul-betul butuh regulasi yang harus dibuat dalam bentuk undang-undang, contohnya.
11:38Ya, saya menceritakan suatu kasus, ada sebuah negara yang dia memakai CCTV, membeli CCTV dari negara lain.
11:46Ternyata CCTV itu disusupin oleh kamera atau chip untuk spionase.
11:52Mereka tidak melakukan komisioning kan, tidak melakukan komisioning terhadap alat itu, tidak mengecek duluan.
11:57Dan akhirnya negara itu memblacklist, kita jangan beli lagi CCTV dari negara ini.
12:01Itu salah satu yang dilakukan oleh suatu negara untuk melakukan spionase.
12:07Jadi mereka melakukan dengan sangat murah, tidak perlu menyusupkan orang.
12:11Mereka tinggal jual alat saja, jual dengan murah, orang rebutan beli kan.
12:14Nah, di negara kita ini, kita kan tidak ada aturan sih.
12:17Misalnya produk-produk yang dipasang di kantor pemerintah wajib dilakukan komisioning misalnya.
12:23Terus misalnya ada spionase, ada tindak seperti itu.
12:25Bagaimana hukumnya? Siapa yang nanganin? Siapa yang ngurusin? Siapa yang melakukan asesmen? Itu enggak ada.
12:33Orang tidak melakukan bukannya tidak bisa, ya kan memang enggak ada regulasinya.
12:38Bagaimana mencegah hal itu?
12:40Ya, mau enggak mau harus bentuk regulasinya tersebut ya?
12:42Nanti kan begitu ada regulasi, mungkin ada badan atau lembaga yang bertugas menjalankan regulasi itu, kemudian dijalankan kan.
12:50Ancaman jelas, ya kita berangkat dari ancaman saja.
12:52Saya kira ancaman cyber cukup banyak ya.
12:55Sekarang Indonesia itu salah satu negara yang unik.
12:59Jumlah kartu telepon aktif itu melebih jumlah penduduk.
13:02Penduduknya, iya.
13:03Iya, betul.
13:04Sesimpel kalau kita tanya ke pemirsa kompas TV, punya berapa kartu begitu ya?
13:08Kita memiliki salah satu negara yang unik di dunia yang jumlah kartu aktifnya melebih jumlah penduduk.
13:14Berarti kan kerentanannya banyak kan?
13:16Semua orang bisa diserang dengan HP-nya.
13:18Semua orang kecanduan.
13:21Itu berbahaya.
13:22Belum masalah algoritma bagaimana ketika memainkan, mereka menggunakan sosial media, ada pihak-pihak yang bisa merekayasa algoritma itu.
13:31Misal, dibuat algoritma konten-konten yang muncul itu yang beji pemerintah misalnya.
13:35Oke.
13:36Ada satu negara yang membuka.
13:39Bisa seperti itu ya, Bu Enjil?
13:40Itu terjadi misalnya tahun 2012 ketika Rusia sejak awal memang sudah punya rencana mau melakukan sesuatu terhadap Ukraina.
13:49Itu jauh sebelum perang ya.
13:51Perang Ukraina 2015-2022.
13:53Jadi ada perubahan doktrin pertahanan keamanan di negara Rusia.
13:56Dan yang dilakukan awalnya adalah misalnya mereka, memang bukan pemerintah Rusia-nya, tapi menyewa sejumlah orang gitu ya, membayar sejumlah
14:06orang untuk melakukan hack terhadap website resminya pemerintah Ukraina.
14:10Jadi yang diserang itu ada dua.
14:12Satu, infrastruktur krisis.
14:14Jadi listrik, sistem listriknya dimainkan.
14:17Sehingga di musim dingin listrik mati.
14:19Wah itu kan bahaya sekali.
14:21Sehingga kan masyarakat langsung menganggap bahwa, ah pemerintah kami buruk gitu.
14:25Aduh gimana sih ini PLN.
14:27Kalau kita di Indonesia, PLN kita jelek.
14:29Kemudian website-website pemerintah itu langsung di-hack, di-retas dan dikeluarkanlah informasi-informasi yang justru menjatuhkan atau membuat pemerintah
14:39itu kehilangan trust dari warganya.
14:41Dan kemungkinan itu, hal tersebut kemungkinan bisa terjadi di Indonesia.
14:45Sangat mungkin terjadi.
14:46Sangat mungkin, sehingga tindakan preventif itu penting dilakukan, salah satunya dengan regulasi.
14:51Nah, kalau berbicara soal cyber, itu kan kita punya BSSN.
14:56Apakah itu saja tidak cukup?
14:58Atau menurut Prof bagaimana?
15:00Kita punya BSSN, kita punya KomDigi, kita punya polisi cyber, kita punya macam-macam gitu ya.
15:06Intelligent juga ada.
15:07Tapi kan gini, tadi ketika tidak ada regulasi yang mengatur, sebenarnya komando pusat ada di siapa?
15:13Tadi misalnya commissioning-nya, surveillance-nya ada di mana?
15:17Ketika ada insiden, itu pun kita harus jelaskan loh, yang disebut insiden itu ketika apa nih?
15:22Ketika situs pemerintah resmi di-hack atau di-retas, lalu ketika kita sebut itu sebagai insiden, siapa yang harus melakukan
15:30tindakan pertama?
15:32Tindakan apa yang harus dilakukan? Kemudian kan harus ada public communication harusnya.
15:36Pemerintah tuh harus punya jubir yang menyatakan, oh kita sedang dalam kondisi bagaimana, ada serangan atau apa.
15:42Kan ada pembagian-pembagian tugas itu yang menurut saya penting tuh, harus diatur juga.
15:47Harus diatur.
15:47Dan menurut Bang Stanis sendiri, kalau kita berbicara soal siapa yang harus memegang tanggung jawab, siapa yang jadi leader dalam
15:55regulasi tersebut, itu menurut Bang Stanis akan seperti apa?
15:59Ya kita ada dua sisi ya, satu sisi pencegahan, satu sisi penindakan kan.
16:05Pencegahan itu biasanya ranah intelijen kan, kalau pencegahannya ranah penegak hukum, ya tinggal dibagi aja di mana itu loh.
16:10Tapi yang paling penting begini, ketika kita membuat kerangka undang-undang atau regulasi terkait national security, kameran nasional, itu berangkat
16:17dari potensi ancaman.
16:19Potensi ancaman apa, terus bagaimana kita mencegah, terus ada regulasi.
16:23Regulasi nanti mengatur kewenangan, mengatur anggaran, mengatur infrastruktur.
16:29Siapa saja, ya itu nanti bisa diputuskan kan.
16:31Tapi yang penting dibuat aturannya dulu, dan dipisah.
16:34Misalnya, oh ini yang bagian pencegahan di sini, penindakan di sini, itu penting.
16:38Dan kita nggak punya itu.
16:40Sehingga memang benar-benar bisa dipilah ya, mana pencegahan, mana penindakan, sehingga jangan sampai ada tumpang tindih ya.
16:46Satu tumpang tindih atau merasa, loh ini bukan tanggung jawab saya.
16:49Itu lebih.
16:49Ini yang dikhawatirkan, karena kalau kita lihat banyak sekali kan, tiba-tiba website instansi mana yang di retas, kemudian instansi
16:59mana.
17:00Kita juga bingung lah, ini melapornya seperti apa, penindakannya akan bagaimana.
17:03Betul, dan ya tadi yang lebih agak perlu hati-hati adalah tadi ya, selain spionase, selain ransomware, dan ada beberapa
17:14serangan lagi,
17:15yang paling sering di, ya tadi algoritma tadi, penggiringan opini yang membuat public trust terhadap pemerintah itu turun atau hilang,
17:23itu bisa.
17:24Dan itu nampaknya lebih berbahaya ya, ketimbang scamming, ransomware, itu kan jelas terlihat begitu.
17:32Tapi penggiringan opini itu membuat masyarakat seolah-olah tidak sadar bahwa mereka sedang digiring untuk, contohlah, membenci sesuatu,
17:41atau membuat sesuatu yang membuat kita jadi benci dengan sesuatu, ini yang lebih khawatir ya menurut Bang Stani sendiri.
17:49Ya, ini kita kelihatannya sudah terjadi ketika Agustus tahun kemarin.
17:52Oh pernah, sudah terjadi menurut Bang Stani?
17:54Ya, saya menduga, saya menganalisis itu, banyak konten-konten yang muncul di TikTok, itu yang kebencian terhadap negara, kebencian terhadap
18:01apart negara, dominan sekali.
18:03Dan itu terjadi karena ada serangan siber dalam tanda kutip?
18:06Bisa jadi algoritma yang dimainkan, ya kan? Kita menduga itu bisa jadi karena memang penuhnya kebencian terhadap pemerintah, bisa jadi
18:14kan?
18:15Tapi ya, yang paling penting kan kita nggak bisa menapis itu, karena nggak punya regulasi.
18:19Betul.
18:20Kita nggak bisa menapis itu.
18:22Dan itu sudah pernah terjadi ya ketika Rusia dan Ukraina.
18:27Dan harapan kita jangan sampai hal itu terjadi di Indonesia, sehingga pencegahannya harus dilakukan saat ini.
18:33Karena kita tuh rentan, satu.
18:35Kedua, kekayaan sumber daya alam kita tuh luar biasa, Mas.
18:38Jangan sampai isu-isu yang katakanlah ya, isu mineral kritis, isu Papua, isu lain-lain, itu menjadi alat celah untuk
18:46kemudian membuat Indonesia menjadi semakin rentan.
18:49Nah, tapi artinya gini, selain regulasi, tentu juga tata kelola kita juga harus beres.
18:56Artinya gini, perlu dibangun public trust betul-betul, supaya ketika masuk ada berita atau algoritma atau penggiringan opini,
19:05public itu tahu, oh nggak, ini nggak benar informasinya.
19:08Karena kami tahu informasi yang sebenarnya seperti apa.
19:11Nah, itu yang juga perlu dibangun gitu ya.
19:13Ada public trust yang tinggi.
19:15Public trust yang dibangun kepada masyarakat itu harus disertai dengan edukasi yang baik gitu ya.
19:19Terkait dengan bagaimana sistem siber itu sendiri, edukasi terkait dengan kejahatan siber itu sendiri.
19:26Kalau Bang Stanis melihatnya edukasi itu sudah sejauh mana dilakukan di Indonesia?
19:32Siapa sih melakukan, Mas?
19:34Oh iya ya?
19:35Nggak ada yang nyuruh kan?
19:36Itu regulasi itu lagi tuh.
19:37Regulasi itu lagi ya harus dilakukan.
19:38Belum lagi terlihat ancaman desepsi namanya, penipuan.
19:41Ketika misalnya ya, suatu website diretas, kemudian masuk, dia menyebarkan informasi yang mungkin palsu, penyesatan.
19:50Tanpa mengubah, dianggap itu seolah-olah informasi dari, asli dari itu.
19:53Kan berbahaya juga.
19:54Contoh misalnya, ada website, oh besok akan ada pembagian ini di sini.
19:59Orang berkumpul kan, itu pada penipuan itu.
20:01Nah itu kejahatan-kejahatan seperti itu sangat mungkin terjadi.
20:04Terutama ketika pemilu.
20:07Nah.
20:07Jangan sampai ini ya, kejahatan siber ataupun celah dari potensi kejahatan siber ini akhirnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang merugikan.
20:17Padahal kalau kita lihat sumber daya alam kita, sumber daya masyarakat kita yang begitu luar biasa,
20:21justru harusnya bisa memberikan keuntungan untuk ketahanan siber kita ya.
20:27Terakhir, saya ke Bang Stanis dulu.
20:29Melihat kompleksitas dari keamanan siber kita, apa rekomendasi hal konkret yang sebenarnya seharusnya
20:36sudah bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga ketahanan siber kita dari ancaman?
20:41Ya, dua undang-undang saya kira. Undang-undang ketahanan siber mungkin dan kemudian undang-undang tentang kontraspionase.
20:47Atau pasal-pasal kontraspionase dilekatkan kepada undang-undang terkait intelijen atau badan intelijen negara.
20:53Dilekatkan sehingga intelijen mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya kontraspionase,
20:58kontraspionase, mencegah ancaman dari pihak asing.
21:02Oke, kalau dari Prof?
21:03Oke, yang paling penting kita perlu melihat gini, cyber ini bukan semata-mata teknis tentang teknologi informasi,
21:10tapi ini juga bagian dari dinamika hidup hari ini dan ini bisa menjadi ancaman.
21:16Nah, tinggal tergantung kalau teorinya Barry Buzan kan sekuritisasi.
21:20Kita mau melihat kondisi cyber hari ini yang ada di Indonesia sebagai ancaman atau tidak?
21:24Kalau kita mau mengatakan ini sebagai ancaman, maka pemerintah perlu membangun semacam apa ya,
21:29harus ada, dibangun awareness bahwa ini ancaman.
21:33Sehingga harus dibentuk sebuah ekosistem kah, sebuah regulasi kah, edukasi dan lain sebagainya.
21:38Itu yang harus segera dibangun oleh pemerintah.
21:41Harus segera dibangun, karena kalau kita lihat seperti yang tadi kita sampaikan berulang kali bahwa potensi negara kita SDM, SDN
21:48-nya sangat luar biasa.
21:50Sehingga jangan sampai pihak luar ini memanfaatkan itu melalui ancaman cyber.
21:55Sehingga butuhnya, butuh sekali bagaimana langkah-langkah strategis dalam menghadapi ancaman cyber di Indonesia.
22:01Terima kasih Prof. Angel Damayan.
22:02Terima kasih Bang Stanislawis telah berbagi perspektifnya di Sapa Indonesia Malam.
22:06Dan
Komentar