00:00Ghaniar Febrian, terima kasih atas laporan Anda, selamat bertugas kembali.
00:30Yang masih coba kami hubungi, Mas Isnur, selamat petang.
00:35Selamat petang, Bung Lipo.
00:37Mas Isnur, sudah ada tersangka, dua orang, FA dan juga DR.
00:40Apa yang kemudian harus dilakukan Kejaksaan Agung setelah menetapkan tersangka ini?
00:45Kejaksaan Agung harus meneliti, kemudian melakukan perkas perkara ini ke pengadilan.
00:51Jadi pengadilan adalah ruang yang kemudian menjadi tempat untuk pembuktian semuanya.
00:58Dan itu ada sempatan membela diri ya.
01:00Semua bukti-bukti, semua modus, semua peristiwa ini harus dibongkar secara terbuka di pengadilan.
01:08Dan ini kan sebenarnya kekhawatiran yang sudah kita sangat lama tunjukkan ya.
01:14Bahwa korupsi terjadi di puncak-puncak kekuasaan dan yang menyedihkan di lembaga pendatuk hukum.
01:20Dulu kita ingat bagaimana ada makamah konstitusi, pimpinan makamah agung, kepolisian, kadang kejaksaan.
01:26Jadi sekarang sebenarnya momentumnya bukan hanya perkara ini, tetapi momentum di mana presiden dan seluruh elemen bangsa ini
01:33memandang bahwa korupsi, kolusi nepotisme sudah sedemikian darurat, sudah sedemikian parah ya, sedemikian mengerikan.
01:42Bagaimana lembaga yang ujung tombak beratas korupsi, jam pintus itu, pelaku pimpinannya adalah korupsi gitu.
01:49Misalnya terbukti ke depan.
01:50Ini sudah sangat mengkhawatirkan.
01:52Maka tidak ada lagi waktu, tidak ada lagi cara,
01:55pelinkan seluruh energi bangsa ini ya, presiden, harus diarahkan kepada bagaimana beratas korupsi ini.
02:01Dan dimulai dari pucuk-pucuk pimpinan lembaga.
02:04Iya. Tapi kalau kita lihat dari rangkaian peristiwanya, Mas Isnur, bahwa dari mulai penggeledahan,
02:10kemudian juga pernyataan yang kemudian disampaikan oleh mantan Jambitsus,
02:13diikuti pernyataan dari Polri, kemudian juga mantan Jambitsus menguncurkan diri,
02:17dan penetapan tersangka. Apakah upaya pengungkapan ini bisa berjalan mulus, tidak ada batu sandungan?
02:22Ya ini pembuktian dan bagaimana presiden bisa memastikan ini gitu.
02:27Kalau kemudian ini ada dua institusi, kan kan ditutupan segitu ya kemarin ya,
02:30kita publik menilainya seperti ini.
02:32Dan kita khawatir karena senjata lawan senjata bahkan di lapangan gitu.
02:36Maka sekarang momentumnya adalah presiden dan DPR juga gitu ya,
02:41dan komisi-komisi negara seperti ombudsman, komisi kejaksaan itu mengawal semua gitu.
02:45Buktikan bahwa Anda lembaga negara yang dibayar oleh rakyat untuk mengawasi ini semua,
02:50memastikan hukum berjalan dengan baik, ya bekerja gitu.
02:53Demikian.
02:54Oke, seberapa besar sebenarnya peran Febri dalam tiga kasus ini menurut Anda?
02:59Tergantung penyidikan dan pembuktian di pengadilan,
03:01kalau saya tidak bisa bicara soal hal itu gitu.
03:03Tetapi bagi publik yang sangat miris, sangat khawatir adalah,
03:07ketika kita melihat ya, bagaimana di rumah para pejabat yang harusnya,
03:11kalau kita baca atau lihat gajinya,
03:14kita lihat laporan harta kekayaannya di KPK,
03:16enggak segitu gitu.
03:18Dan sekarang terbongkar ada berangkas yang sangat luar biasa mengerikan,
03:22kita jadi ingat juga peristiwa sebelumnya Akhil Mukhtar gitu,
03:24yang dimana di rumahnya lumpuh banyak uang.
03:26Jadi ini bagi saya bukan lagi satu,
03:29tapi menjadi pola.
03:31Kita melihat pola yang sama terjadi berulang-ulang,
03:33di para pejabat ya, di para pemimpinan lembaga penyakukum,
03:38menyimpan uang yang benar-benar bersebar dari korupsi misalnya.
03:41Maka ini momentum harusnya semua diteliti dong.
03:45Semua aset-aset para pejabat diteliti gitu,
03:47disuruh buktikan dari mana uangnya,
03:49dan dibongkar semuanya.
03:50Jadi kita harus sejak awal menanamkan,
03:52kami tidak percaya dengan tanda pejabat.
03:54Pun istana, pun persediaan juga seperti itu.
03:57Makanya penting bagaimana pola rekrutmen,
03:59pola promosi, pola kenaikan jabatan,
04:02harus menggunakan benar-benar standar indikator yang berintegritas ya,
04:06yang bersih gitu.
04:07Kalau dia menuduhi jabatan yang seperti ini,
04:10membahayakan malah hukum dia pakai sebagai alat komoditas
04:14memperkaya dirinya.
04:15Iya.
04:16Kalau kita melihat drama terkait dengan pengungkapan kasus ini,
04:20Mas Isnur,
04:20apakah Anda juga mungkin memiliki sebuah keyakinan
04:24bahwa kasus ini akan bisa diungkap seterang-terangnya,
04:26atau mungkin hanya akan berhenti di dua tersangka?
04:30Bagi saya ini pertaruhan buat koalisi dan kejaksaan.
04:33Harusnya kalau polisi serius,
04:37maka dia membongkar sampai level yang lebih luas lagi.
04:40Misalnya kasus blackout listrik ya,
04:43itu kan bukan semata-mata suap atau perkara di ujungnya,
04:47tapi dari mana kebijakannya ini bermula.
04:50Kalau kita baca secara riset,
04:52kebijakan misalnya soal DMO, soal batubara,
04:55itu kan bersumber dari Menteri SDM.
04:57Maka kebijakannya harus dikriti sampai Menteri SDM-nya gitu.
04:59Dan semua para pejabat yang berkaitan dengan perkara ini.
05:03Jadi jangan berhenti hanya di tersangka Jampit Sus.
05:06Bongkar semuanya.
05:07Pun kejaksaan, ini pertaruhan ya.
05:10Saat sekarang,
05:11ucuk pimpinannya Jampit Sus seperti ini,
05:15pertaruhan.
05:15Apakah kejaksaan tetap profesional melakukan penuntutan?
05:18Maka bagi saya ini harus ditunjuk,
05:20benar-benar jaksa-jaksa yang clear,
05:23yang berani membongkar semuanya.
05:25Kalau tidak berhasil dua-duanya,
05:27maka bagi publik semakin menunjukkan bahwa
05:29ada kongkalingkong di belakangnya.
05:32Oke.
05:32Tentu yang kita dukung adalah pengungkapan kasus korupsi
05:34secara terang-benerang
05:35yang dilakukan oleh aparat kita.
05:37Terima kasih.
05:38Ketua Umum YLBHI, M. Isnur,
05:40telah bergabung di Kompas Petang.
05:41Terima kasih.