- 2 menit yang lalu
- #bbm
- #pertamax
- #sukubunga
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pertamina Patra Niaga mengumumkan pada Selasa malam, harga Pertamax RON 92 naik 32 persen menjadi Rp16.250 per liter, dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Adapun Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Dua jenis BBM ini masuk kategori nonsubsidi, alias pemerintah tidak memberi bantuan dana dari APBN guna memotong harga jual produk ini.
Simak ulasannya terkait dampak kenaikan BI Rate dan Pertamax bagi kelas menengah bersama M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, dalam program Kompas Bisnis pada Kamis, (11/6/2026).
Baca Juga [FULL] Pertamax Naik, Eks Ketua BEM UGM Tiyo-DPR Fraksi NasDem Minta Pemerintah Jujur ke Rakyat di https://www.kompas.tv/nasional/674208/full-pertamax-naik-eks-ketua-bem-ugm-tiyo-dpr-fraksi-nasdem-minta-pemerintah-jujur-ke-rakyat
#bbm #pertamax #sukubunga
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/674220/full-pertamax-suku-bunga-naik-indef-soroti-dampak-bagi-kelas-menengah
Adapun Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Dua jenis BBM ini masuk kategori nonsubsidi, alias pemerintah tidak memberi bantuan dana dari APBN guna memotong harga jual produk ini.
Simak ulasannya terkait dampak kenaikan BI Rate dan Pertamax bagi kelas menengah bersama M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, dalam program Kompas Bisnis pada Kamis, (11/6/2026).
Baca Juga [FULL] Pertamax Naik, Eks Ketua BEM UGM Tiyo-DPR Fraksi NasDem Minta Pemerintah Jujur ke Rakyat di https://www.kompas.tv/nasional/674208/full-pertamax-naik-eks-ketua-bem-ugm-tiyo-dpr-fraksi-nasdem-minta-pemerintah-jujur-ke-rakyat
#bbm #pertamax #sukubunga
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/674220/full-pertamax-suku-bunga-naik-indef-soroti-dampak-bagi-kelas-menengah
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:08Intro
00:18Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara bersama saya, Ian Rahman.
00:22Saudara Menteri Keuangan Purbaya Yudhisa Dewa merespons kenaikan harga Pertamax.
00:26Menurutnya hal ini tidak mempengaruhi laju inflasi secara signifikan.
00:33Purbaya bilang sektor-sektor krusial seperti distribusi logistik dan transportasi masal
00:38tidak menggunakan jenis BBM non-subsidi, sehingga harga barang poko diperkirakan tetap stabil.
00:44Sementara itu terkait strategi menjaga kuota BBM subsidi tidak jebol dan tepat sasaran.
00:51Purbaya Yudhisa Dewa juga menyerahkan hal ini kepada Menteri SDM, Bahlil Lahadalia.
00:58Salah satu upaya yang tengah dikaji, yaitu penerapan sistem nozzle control di setiap SPBU.
01:32Dampaknya keinflasi gimana Pak?
01:48Saudara sebelumnya, Pertamina Patraniaga mengumumkan pada selasa malam harga Pertamax 92 naik 32 persen menjadi Rp16.250 per liter dari
01:58sebelumnya Rp12.300 per liter.
02:01Ada pun Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
02:08Dua jenis BBM ini masuk kategori non-subsidi alias pemerintah tidak memberi bantuan dana dari APBN, guna memotong harga jual
02:16produk.
02:25Sementara itu, Saudara sejumlah ekonom menilai yang paling merasakan dampak kenaikan signifikan harga Pertamax dan BI rate adalah pekerja kelas
02:34menengah.
02:34Dampak yang disoroti oleh sejumlah ekonom ini soal kenaikan harga BBM non-subsidi dan juga BI rate adalah potensi merosotnya
02:42daya beli di kelompok menengah dan menuju kelas menengah.
02:46Bertambahnya jumlah penduduk rentan miskin, kenaikan harga pangan, transmisi penyesuaian suku bunga kredit lebih cepat, jumlah PHK melonjak pada kuartal
02:553, serta meningkatnya risiko kriminalitas dan gejolak sosial.
03:06Sebelum kita membahas lebih jauh soal dampak kenaikan harga Pertamax, Saudara kami sajikan dahulu definisi kelas menengah.
03:13Ini menurut Badan Pusat Statistik, kelas menengah adalah penduduk dengan pengeluaran per kapita bulanan pada kisaran 3,5 hingga 17
03:21kali nilai garis kemiskinan.
03:24BPS memperbarui data nilai garis kemiskinan per September 2025 adalah sebesar Rp641.443 per kapita per bulan.
03:37Jadi untuk menentukan kelas menengah adalah Rp641.443 dikalikan 3,5 hingga 17, maka muncullah angka pengeluaran golongan kelas menengah
03:49per kapita per bulan adalah di kisaran Rp2.245.050.
03:54Hingga Rp10.904.531.
03:59Artinya jika pengeluaran Anda di bawah kisaran tersebut, maka termasuk golongan menuju kelas menengah, rentan miskin dan miskin.
04:06Sementara jika pengeluaran di atas kisaran tersebut, berarti Anda masuk dalam kelompok kelas atas.
04:16Berdasarkan data BPS, Saudara tren penurunan jumlah penduduk kelas menengah sudah terjadi selama 5 hingga 7 tahun terakhir.
04:22Pada tahun 2021 jumlah penduduk kelas menengah tercatat sebanyak 53,8 juta jiwa, terus menyusut menjadi 49,5 juta jiwa
04:32pada 2022, kembali turun pada 2023 jadi 48,3 juta jiwa, turun lagi jadi 47,8 juta jiwa pada tahun
04:422024, dan data terakhir pada 2025 menyusut lagi ke angka 46,7 juta jiwa.
04:48Proporsinya terhadap total penduduk dari 2024 ke 2025 juga menyusut dari 17,1 persen jadi 16,6 persen.
04:58Sementara kelompok menuju kelas menengah justru bertambah ini mencakup 50,4 persen populasi atau lebih dari setengahnya.
05:13Saudara kelas menengah jadi golongan paling terdampak kenaikan Pertamax dan juga suku bunga dari Bank Indonesia.
05:19Apa saja dampak nyata bagi masyarakat dan perlindungan sosial apa yang perlu diberikan oleh pemerintah kepada kelas menengah agar mereka
05:28tidak mengerem belanja?
05:29Kita tanya M. Rizal Taufikur Rahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef. Selamat pagi. Apa kabar Mas Rizal?
05:37Selamat pagi Mas Ian. Baik, Alhamdulillah.
05:41Mas Rizal, ini sebetulnya kalau kita melihat terkait dengan apa yang kita bahas hari ini, seberapa besar sih kenaikan harga
05:46Pertamax dan juga sebelumnya juga ada kenaikan dari BI Red ini terhadap potensi memberikan tekanan terhadap kelas menengah?
05:55Ya, saya kira dua kebijakan berbarengan ya, saya kira di hari Sabtu, Pak kemarin ya, di hari Senin itu BI
06:05Red, dan juga berbarengan dengan kenaikan pertama.
06:08Tapi yang paling terdampak atau kenaikan ini memang cukup tinggi karena harganya juga naiknya hampir 32 persen ya.
06:18Nantinya dari tadi disampaikan Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, artinya apa?
06:26Ada tambahan beban secara langsung ya, mencapai hampir Rp4.000 per liter ya.
06:32Jadi kalau misalnya untuk pekerja komuter yang memakai 30-50 liter katakanlah per bulan, maka ada tambahan biaya sekitar hampir
06:42Rp200.000 per bulan ya.
06:44Jadi untuk pengguna mobil keluarga misalnya dengan konsumsi 80-100 liter per bulan, maka tambahan beban biayanya akan sekitar Rp400
06:54.000 per bulan.
06:55Nah ini bukan angka kecil ya bagi kelas menengah, karena ini juga akan menghadapi tidak hanya di kenaikan transportasi saja,
07:03tetapi akan berimpak kepada kenaikan harga-harga yang lain.
07:08Seperti harga barang dipangan, kemudian juga biaya pendidikan, biaya kesehatan, cicilan ya.
07:14Karena kalau kita bicara cicilan maka itu kan dampak dari BI Red katakanlah yang naik ya.
07:19Secara langsung kan pasti ke transportasi dan juga tentu ke pelemahan Rp4.000 itu sendiri.
07:25Jadi kenaikan pertama saat ini, yang seyogianya mestinya kita tunggu dulu nih dampak dari BI Red-nya.
07:34Kan kemarin BI Red juga cukup lumayan gitu ya, kursus Rp4.000 kita atau Rp4.000 kita menguat gitu.
07:42Jadi menurut Anda ini harus ada jarak gitu ya mas? Harusnya ada jarak dari naikan BI Red ke kenaikan pertama
07:49itu harus ada jarak yang berapa lama harusnya idealnya?
07:52Ya saya kira kan satu minggu aja sudah oke ya, sudah kelihatan gitu kalau di apa namanya BI Red ini
07:59kan.
08:00Nah justru melihat efektivitas ini dan juga market kan sebenarnya menunggu masalah kredibilitas fiskal kan.
08:07Nah ini sesoyogianya memang waktunya itu nggak pas gitu ya atau tidak tepat gitu ya di dalam mengeluarkan kebijakan.
08:15Ini yang bersamaan dengan kita menghadapi bukan masalah di fundamental ekonomi tapi masalah di sentimen market gitu.
08:23Terutama di sentimen market domestik yang itu harus dijaga.
08:26Dan selama ini ya sentimen market domestik ini melihat masalah kredibilitas fiskal.
08:32Ya lagi-lagi ya ketika meskipun kita tahu pemerintah sudah cukup lama menahan kenaikan pertamak ini ya yang metabene BBM
08:42non-subsidi ini yang metabene kemudian kemenengah gitu.
08:46Nah tetapi nampaknya ya ditahan dulu lah.
08:50Kita paham juga bahwa misalnya Pertamina ya juga sudah mulai marginnya sudah cukup apa namanya sudah berat begitu ya.
09:00Fiskal juga menahan ini juga berat tetapi akan sangat baik ada jeda waktu gitu yang cukup apa bisa mengevaluasi dari
09:09kebijakan BI Red ini gitu.
09:10Oke sebelum lebih jauh kita membahas terkait dengan fiskal tadi Anda juga Mas Rizal sempat membahas terkait dengan dampak yang
09:16kemana-mana gitu terkait dengan kenaikan harga pertama dan juga BI Red.
09:20Termasuk tadi soal kenaikan harga pangan begitu apakah ini otomatis membuat rumah tangga mengeram konsumsi akibat daya beli dan apa
09:31risikonya?
09:33Iya jadi kalau kita lihat ya di beberapa market di pasar tradisional ya itu meskipun ini BBMnya bukan BBM bersubsidi
09:42adalah BBM non-subsidi tapi sensitivitas terhadap kenaikan harga barang-barang itu sangat sensitif di Indonesia ini ya.
09:51Secara teori oh itu kan naikkan ke industri gitu tetapi empirically di Indonesia itu sangat sensitif terhadap kenaikan harga-harga
10:00barang.
10:00Utamanya di pangan harga daging juga pelan-pelan juga naik harga bawang putih lebih parah gitu terutama katakanlah di pasar
10:07-pasar tradisional ya kemudian juga harga bawang putih harga cabai rawit cabai besar relatif stabil kemudian juga daging sapi ya
10:19daging ayam juga mulai merangkak.
10:20Nah kalau kenaikan ini di pangan juga terus meningkat ya maka dikhawatirkan daya beli masyarakat kan akan turun kalau daya
10:30beli masyarakat akan turun terhadap pangan ya atau juga barang-barang yang lain tentunya nanti non-pangan maka tentu konsumsi
10:37rumah tangga yang notabene sebagai penyumbang kontribusi terhadap PDB kita hampir 53% itu terus akan terkikis gitu.
10:47Padahal kalau kemudian kita lihat kontribusi dari kelas menengah ini terhadap konsumsi rumah tangga secara nasional itu cukup besar hampir
10:5860%.
10:58Kalau kemudian daya beli kelas menengah ini memang tertekan maka pasti akan menekan laju atau juga konsumsi rumah tangga.
11:08Bayangkan di triwulan kedua itu mas Yan tidak ada momentum untuk mendorong konsumsi.
11:15Karena kalau dulu biasanya ya di triwulan dua itu kan ada lebarannya kan gitu ya ada lebaran kemudian puasa.
11:22Nah tahun ini kan berbarangan di TW1 jadi momentum di TW2 kemungkinan besar ya akan lebih rendah dibanding dengan TW1
11:32karena momentumnya itu memang untuk mendorong konsumsinya tidak ada trigger-nya.
11:38Bahkan penyerapan konsumsi pun kalau di TW1 karena ada lebaran katakanlah ya hampir 800 triliun katakanlah.
11:45Tapi biasanya di TW2 itu cenderung karena tidak ada momentum tadi maksimum bisa 500-600 triliun.
11:54Artinya dengan adanya kenaikan harga BBM ini juga akan menekan konsumsi tadi gitu.
12:00Inilah yang kemudian kita tidak harapkan.
12:03Nah untuk itu maka pemerintah harus banyak mengantisipasi agar daya beli masyarakat itu tidak turun drastis.
12:09Oke kontribusi kelas menengah ini sangat besar ini mencapai 60 persenan terhadap konsumsi berarti memang perlu dijaga begitu.
12:16Apabila demikian pertanyaannya Mas Rizal.
12:18Seberapa besar sih kenaikan harga BBM non-subsidi dan juga BI Red ini akan kembali membuat kelas menengah makin menyusut
12:25dan turun ke golongan rentan miskin.
12:27Namun kita bahas saja ya Mas tetap bersama kami di Kompas Bisnis.
13:00Kita lanjutkan perbincangan soal dampak kenaikan BI Red dan juga pertamaks bagi kelas menengah bersama M. Rizal Taufiku Rahman, Kepala
13:08Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indek.
13:10Mas Rizal kita lanjutkan pembahasan kita.
13:12Tadi sini soal data dari BPS Mas Rizal yang menunjukkan dari tahun ke tahun jumlah kelas menengah terus menyusut.
13:19Ini sebetulnya seberapa besar kenaikan harga BBM non-subsidi dan juga kenaikan BI Red akan kembali membuat kelas menengah ini
13:26makin menyusut dan turun ke golongan rentan miskin karena sentimennya juga bersifat akumulatif termasuk adanya pelemahan rupiah.
13:34Ya saya kira memang tadi data yang disampaikan ya pertahun hampir 1 juta kelas menengah itu turun ya ke aspiring
13:41kemudian juga ke rentan miskin gitu ya.
13:45Nah apalagi misalnya kenaikan pertamak dan BI Red bagi kelas menengah ini ini tekanan ganda ya pukulan ganda ya.
13:52Pertamak naik membuat biaya mobilitas naik sementara BI Red naik ya ke angka 5,5 persen membuat biaya kredit ya
13:59berpotensi juga akan naik gitu.
14:01Nah BI tentu menaikkan 25 BPS secara off cycle ini juga untuk stabilisasi harga rupiah gitu ya dan juga nilai
14:10tukar yang sempat menyentuh hampir di 18.200 per dolar gitu ya.
14:15Nah kebijakan ini memang penting ya untuk menjaga stabilitas tetapi konsekuensinya lagi-lagi kelas menengah menghadapi dua tekanan satu dari
14:22sisi harga energi naik dan juga cicilan yang berpotensi mahal.
14:27Nah tentu kedua kebijakan ini tentu akan menekan lagi ya ke jumlah rumah tangga atau pekerja kelas menengah ini.
14:38Dan sangat dimungkinkan ya dengan kondisi ekonomi dan juga tren ya dari kelas menengah menurun apalagi kebijakan pemerintah tidak ada
14:48secara spesifik untuk menjaga ya daya beli masyarakat.
14:52Maka ini sangat besar ya dampaknya terhadap jumlah apa namanya rumah tangga menengah untuk turun lagi.
15:01Dan kalau kita lihat tren 10 tahun terakhir itu 10 juta orang turun artinya setiap tahun rata-rata itu 1
15:08juta gitu.
15:09Dan sangat mungkin juga di 2026 juga akan terjadi demikian apabila pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan antisipatif yang supaya tidak hanya
15:19jumlah yang turun tetapi juga daya beli masyarakat yang apa namanya kelas menengah ini.
15:25Yang sangat rentan masuk ke dalam aspirin kategori dan juga miskin gitu.
15:33Mas Rizal ini berarti berpotensi jumlah kelas menengah ini akan terus menyusut jika memang tidak ada solusi dari pemerintah.
15:40Mengingat yang terjadi di lapangan Mas Rizal ini masih ada informasi soal kebocoran pembatasan pembelian BBM melalui QR Code.
15:47Berarti ini ada potensi migrasi dari pengguna Pertamax ke Pertalait.
15:52Artinya apakah akan ada risiko peningkatan beban subsidi energi dan juga kuota yang selama ini ditetapkan tidak mencukupi Mas Rizal?
15:59Sangat mungkin ya karena kan kuota Pertalait ini relatif lebih banyak ya dibanding dengan pertama kan begitu.
16:07Maka ya apa memang kalau kemudian monitoring atau juga di bawah gitu ya terutama secara teknis yang netabene kan subsidi
16:18itu buat orang-orang miskin gitu.
16:22Itu ya sasarannya kan gitu ya.
16:23Kalau kemudian kenaikan Pertamax ini maka betul akan ya mencari substitusinya ya Pertalait kan yang relatif jauh sekali harganya gitu.
16:33Dan ini sudah terjadi di beberapa pembuang bensin juga antrinya luar biasa gitu ya.
16:38Dan terutama tadi mereka yang pekerja komuter yang sehari-harinya membutuhkan Pertamax maupun Pertalait lah gitu.
16:47Nah namun tentu dengan QR Code ini harapannya bisa jauh lebih antisipatif ya berkaitan dengan kebocoran atau penyanggunaan pembatasan ini.
17:00Maka fenomena ini ya implikasi ekonominya akan cukup besar terutama di dalam beban terhadap subsidinya.
17:09Bayangkan mas kalau misalnya switching dari yang pengguna pertama ke Pertalait.
17:14Maka Pertalait yang tadi jumlahnya katakanlah di 18 hari mungkin bisa lebih cepat habisnya gitu.
17:21Dan ini kan sangat berisiko lagi ke pengadaan di Pertalait gitu.
17:25Maka tentu ini juga akan mendistorsi market gitu ya.
17:30Selisih harga antara BBM subsidi dengan non-subsidi akan menciptakan insentif gitu ya.
17:37Untuk ya mudah-mudahan tidak terjadi ya.
17:40Misalnya terjadi penimbunan atau penjualan kembali ya.
17:44Sehingga merugikan pelaku usaha yang patuh.
17:46Dan yang paling menjadi krusial adalah bagaimana melemahkan efektivitas reformasi subsidi energi ini.
17:54Jadi kalau kemudian kebocoran ini tinggi ya.
17:57Pemerintah akan sulit juga mempertahankan subsidi yang berpotensi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi ini.
18:04Atau mengurangi ruang fiskal ya untuk program-program yang lain.
18:08Jadi tentu kebijakan atau kaitan dengan kenaikan pertama.
18:13Maka pengawasan QR Code menjadi sangat efektif.
18:16Mana kala ini dijalankan atau dengan apa namanya melakukan disiplin gitu ya.
18:22Bukan masalah administrasi mas, tetapi masalah tata kelola fiskal gitu.
18:27Oke, Anda menyinggung terkait dengan fiskal.
18:30Saya lanjutkan ini Mas Rizal.
18:31Apakah menurut Anda keputusan menaikkan harga Pertamax adalah cerminan semakin sempitnya ruang fiskal pemerintah?
18:38Oh iya, sudah pasti mas.
18:40Jadi tata kelola kenapa pemerintah melakukan ini ya pasti sudah semakin sempit gitu ya.
18:47Apalagi kan cukup lama menahan harga BBM non-subsidi ini ditahan terutama Pertamax ya.
18:54Kan pertama dari Dex maupun Pertamina Dex, Dex Light begitu ya.
18:59Dan juga Pertamax yang 96 ronnya ya kemudian dipertahankan ya ternyata perangnya nggak selesai-selesai gitu ya.
19:11Dan ini akhirnya kan mempengaruhi terhadap fiskal.
19:14Fiskalnya sepertinya sudah berat gitu ya untuk menahan atau menjaga inflasi ya untuk BBM non-subsidi ini.
19:23Termasuk juga saya kira Pertamina juga sudah saya kira dari kontak marginnya ya ini juga sudah mulai menyempit dalam kontak
19:35governance finansialnya gitu.
19:38Sehingga dengan kurun waktu menahan itu ya hari ini memang kenaikannya luar biasa ya.
19:44Bebannya langsung besar gitu ya.
19:47Gradualnya sangat tinggi hampir 32 persen gitu.
19:52Yang biasanya notabene kan ada gradualnya lah misalnya ya 10, 15, 20 gitu.
19:58Ini tiba-tiba 32 persen.
20:00Inilah saya kira beban fiskalnya terlalu berat untuk menahan subsidi ya terutama di BBM non-subsidi untuk pertama.
20:11Oke berarti artinya ujung-ujungnya ke beban fiskal juga ya.
20:13Ini kalau kita melihat juga ini Mas Rizal seberapa besar sih kenaikan harga BBM non-subsidi ini berdampak terhadap inflasi
20:20dan juga pertumbuhan ekonomi.
20:22Tadi Pak Purbayo sempat bilang ini tidak terlalu berdampak karena memang non-subsidi begitu.
20:27Ya gini apa namanya tadi saya sudah sampaikan ya di Indonesia itu ketika dinaikkan harga BBM mau non-subsidi maupun
20:40subsidi apalagi subsidi ya ini sangat sensitif terhadap harga Mas.
20:45Ya seringkali perilaku inilah sulit gitu.
20:49Teoretically kan memang terpisah Mas theoretically ya kan kalau ke industri pasti kospus yang kemudian harganya naik.
20:56Tapi lagi-lagi tidak semua pengusaha itu juga menggunakan pertalait kan ya menggunakan juga apa namanya ya pertamak bersubsidi ini.
21:06Mau tidak mau katakanlah penjual sayuran atau penjual daging yang selama ini komuter gitu ya terkait dengan logistiknya dan angkutannya
21:15maka ini juga secara logika ekonomi pasti akan dinaikkan.
21:19Ya dan itu tentu akan berpengaruh terhadap tidak hanya barang-barang pangan tapi juga non-pangan.
21:27Jadi dampaknya memang moderat tetapi signifikan terhadap perambatan second run efeknya ini yang pemerintah meskipun menghitung katakanlah tetapi faktual sensitivitas
21:39di lapangan itu tidak seperti perhitungan-perhitungan di atas kertas gitu ya.
21:43Jadi akan kenaikan 32 ini akan mendongkrak ya biaya transportasi, logistik ya kemudian operasional dunia usaha akibatnya barang maupun jasa
21:55punya potensi naik.
21:56Bahkan kalau kita cek di pasar-pasar tradisional penjualan pangan itu naik mas sekarang harga pangan.
22:02Bahkan ada yang mengatakan ini bukan naik harganya tapi ganti harga gitu ya cukup signifikan.
22:08Terutama bawang putih yang menutupi ini memang impor ya termasuk bawang merah gitu.
22:13Ini tentu akan punya potensi ikutannya terhadap sektor distribusi makanan minuman maupun jasa.
22:21Dan inflasi dengan angka yang sudah ada katakanlah di 3,08 persen dengan nilai tukar melemah maka kita tidak berharap
22:30ya kenaikan pertama kali ini akan menambah tekanan inflasi dan juga ekspektasi pelaku usaha dan konsumen.
22:35Oke terakhir Mas Rizal menurut Anda perlindungan sosial apa saja yang perlu diberikan oleh pemerintah yang berpihak pada kelas menengah?
22:43Apakah termasuk subsidi listrik atau bonus listrik?
22:48Saya kira salah satunya itu ya terutama di ini sih Mas perluasan di penghasilan tidak kena pajak atau katakanlah pemberian
22:57insentif kredit pekerja ya.
23:00Karena dengan kenaikan BBM ya artinya kan kenaikan biaya hidup naik cukup bunga sebaliknya juga akan mendorong kenaikan kredit maka
23:09diberikan tak kredit sementara bagi pekerja berpenghasilan menengah.
23:13Nah setidaknya bisa menjaga daya beli Mas mempertahankan konsumsi dan juga mencegah penurunan konsumsi di sektor retailnya dan juga jasa.
23:21Kedua adalah mensubsidi transportasi publik bagi pekerja komuter Mas.
23:25Mengapa dengan kenaikan ini maka tentu kan memukul biaya mobilitas dan pemerintah harus memberikan tarif subsidi ya di KRL, MRT,
23:34LRT, BRT, atau bus-bus antar kota ya bagi pekerja yang
23:38dengan basis misalnya skema digital berbasis NIK katakanlah begitu.
23:43Karena ini cukup strategis saya kira ya akan lebih tepat sasaran dibandingkan dengan disubsidi lagi BBM-nya gitu.
23:50Yang kemudian yang ketiga adalah tentu diberikan insentif kredit Mas terutama untuk KPR rumah katakanlah yang sekarang mungkin berat ya.
23:59dan juga kepada UMKM karena kenaikan BI rate ini kan memang akan memicu bunga kredit komersialnya juga naik kan.
24:09Pemerintah harus memberikan tadi subsidi insentif sementara untuk KPR-KPR rumah pertama tapi ya dan juga kredit UMKM yang produktif.
24:16Yang ketiga adalah pengendalian harga pangan Mas secara agresif ini penting karena pengeluaran terbesar rumah tangga itu kan dominasinya masih
24:25pangan ya.
24:26Dan stabilisasi pasukan beras, cabai, bawang merah, bawang putih ya, minyak goreng, gula, protein ini jauh lebih efektif untuk menjaga
24:34kesejahteraan dan juga daya beli masyarakat dibanding sekadar harga energi.
24:38Karena setiap penurunan inflasi pangan akan memberikan ruang konsumsi yang jauh lebih besar bagi di kelas menengah ini.
24:44Mungkin itu sih Mas.
24:46Oke ada beberapa yang bisa kita garis bawah ini terkait dengan rekomendasi apa saja yang bisa dilakukan pemerintah ini terkait
24:52juga insentif kredit pekerja.
24:54Ada tadi juga sebelumnya ada saya bahas hal bonus listrik, ada subsidi transportasi publik, insentif kredit KPR dan UMKM juga
25:01pengendalian harga pangan.
25:03Terima kasih Emri Zal Tafiko Rohman, Kepala Pusat Kekorokonomi dan juga Keuangan Indef atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis.
25:10Mas sehat selalu.
25:12Terima kasih banyak Mas ya.
25:14Terima kasih.
25:15Terima kasih.
25:15Terima kasih.
Komentar