Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Di tengah konflik dengan Iran yang belum usai, Amerika Serikat justru mulai menyoroti isu dominasi China di kawasan Asia-Pasifik.

Mengapa Washington mengangkat isu tersebut di saat perhatian dunia masih tertuju pada Timur Tengah?

Soal kekhawatiran Amerika Serikat terhadap China, simak pembahasan KompasTV bersama pengamat militer sekaligus Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement, Anton Aliabbas.

Baca Juga Pamer! Rusia Tunjukkan Sukhoi dan Roket Tempur dalam Parade Militer di Armenia | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/671930/pamer-rusia-tunjukkan-sukhoi-dan-roket-tempur-dalam-parade-militer-di-armenia-kompas-petang

#amerikaserikat #china #iran

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/671932/as-singgung-dominasi-china-di-tengah-konflik-iran-memanas-strategi-baru-ini-kata-pengamat-militer
Transkrip
00:00Dan soal kekhawatiran Amerika Serikat terhadap Tiongkok, kita bahas bersama pengamat militer
00:04Kepala Center for Intermastic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
00:09Mas Anton, selamat sore.
00:11Selamat sore, Mbak Audrey.
00:12Mas Anton, ini kenapa sih di tengah konflik dengan Iran yang belum juga usai,
00:16kini Amerika Serikat justru menyengkol soal dominasi Tiongkok di kawasan Asia atau Indo-Pasifik?
00:24Ya, karena jelas ada satu mereka melihat.
00:28Kalau misalnya kita merujuk pada survei terbaru yang dilakukan oleh sebuah lembaga pink tank di Singapura
00:34itu menunjukkan ada kecenderungan, kecenderungan bahwa publik di Asia Tenggara itu sekarang itu
00:40sudah lebih condong kepada Cina ketimbang pada Amerika Serikat.
00:4352 berbanding 48, secara umumnya seperti itu.
00:47Tapi kalau bahkan kalau kita bedah misalnya negara-negaranya ya, Indonesia itu mencapai 80%,
00:52Malaysia dan Singapura di atas 50%, hanya Filipina yang condong kepada Cina
00:5825%.
00:58Dengan kata lain ada kecondongan, itu satu.
01:01Kedua, memang hubungan antara Amerika Serikat dengan kawasan Asia Tenggara ini
01:07semakin lama semakin memburu gitu ya.
01:10Jauh misalnya sebelum perang Iran.
01:11Kenapa?
01:12Karena satu, ada ketidakpastian dari perilaku Trump.
01:15Apa saya bilang ketidakpastian ketika mereka, ketika Presiden Amerika itu memperlakukan kebijakan tarif.
01:21Itu kan jelas melukai ya.
01:23Itu satu.
01:24Kedua, seringkali kemudian Amerika itu tidak hadir di Asia Tenggara ketimbang misalnya Cina.
01:31Coba kita lihat berapa banyak kunjungan Trump selama periode ini datang ke kawasan.
01:37Cuma satu kali.
01:38Bayangkan dengan si Jinping yang sudah dua kali.
01:41Marco Rubio, Menlu cuma datang dua kali.
01:44Sementara misalnya Menlu, Cina sebaliknya sudah lebih dari tiga kali.
01:47Jadi ada ketidakhadiran.
01:49Belum lagi ngomong tentang kerjasama ekonomi, Amerika itu pergi dari framework misalnya TPP, Transpacific Partnership.
01:57Berarti?
01:58Sementara Cina, Cina selalu bareng-bareng di sini.
02:00Jadi ini yang kemudian ada keresahan, ada kecenderungan.
02:04Ada kecenderungan bagaimana kemudian ada sokol, ketergantungan ya.
02:09Ketergantungan bahwa dari kawasan pada Cina dibanding Amerika Serikat.
02:12Berarti kalau dulu ibaratnya Amerika melalui Trump ini lagi jual mahal, sekarang justru sebaliknya nih, lagi cari kawat.
02:21Betul, walaupun gitu ya.
02:23Walaupun dari kawasan sendiri melihatnya itu bingung gitu.
02:25Ini sebenarnya Amerika ini mau bela kita atau enggak.
02:29Ini Amerika mengkritik bahwa jangan tergantung sama ekonomi Cina misalnya.
02:34Tapi tadi kerjasama dengan Asia Tenggara dicabut.
02:37Sementara kemarin mereka shake hand dengan Cina.
02:40Itu kan shake hand dengan Cina.
02:41Bisa jadi nanti akan mengorbankan kepentingan mereka di kawasan.
02:46Misalnya kita ambil contoh tentang Laut Cina Selatan.
02:48Laut Cina Selatan siapa yang berkepentingan?
02:49Filipin.
02:50Jangan-jangan kata Filipin nanti gue ditinggalin.
02:52Jadi ada ketidakpastian itu yang kemudian membuat bingung sebenarnya.
02:57Membuat bingung bagi negara-negara kawasan.
03:00Belum lagi ketika kita bicara tentang perang Iran sama Amerika Serikat.
03:05Yang terdampak cukup signifikan itu adalah kawasan Asia Tenggara bagaimana lebih dari 50% minyak misalnya.
03:10Itu kan tergantung dari Timur Tengah.
03:12Apakah Trump mempengahatikan ini?
03:14Jawabannya kan enggak.
03:15Ini yang kemudian membuat apa namanya?
03:19Respon ya.
03:20Respon dari kawasan itu berbeda-beda.
03:22Ada yang mengecam gitu lalu.
03:24Lalu juga ada yang kemudian membangun kontak seperti Thailand misalnya.
03:27Dia membangun kontak sama Iran.
03:29Nggak peduli tuh Amerika Serikat seperti apa gitu.
03:30Jadi kan ini mau tidak mau kemudian insting survival dari negara-negara di kawasan ini langsung bunyi gitu ya.
03:40Jadi tidak peduli apakah ini bicara tentang kita menjaga kepentingan Amerika Serikat atau Cina.
03:45Bagi negara-negara di kawasan adalah bagaimana kemudian mereka bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang sangat besar seperti ini
03:52Mbak Udri.
03:52Tapi kalau Mas Anton lihat dari negara-negara di Asia Tenggara, kira-kira negara mana yang kemungkinan juga akan membantu
03:59Amerika?
04:00Kalau bicara tentang membantu Amerika, saya melihatnya itu pertanyaan macam-macam ya.
04:06Pertanyaan macam-macam gitu.
04:08Kenapa?
04:08Karena yang mayoritas itu lihatnya adalah bagaimana kemudian bermain cantik gitu.
04:13Hedging strategy yang mereka terapkan gitu.
04:15Mana yang bisa mengambil keuntungan gitu.
04:17Jadi entah itu Cina, entah itu Amerika Serikat, atau kemudian mereka mencari alternatif misalnya membangun aliansi, bukan aliansi, tapi kerjasama
04:25yang lebih erat dengan Uni Eropa misalnya.
04:27Jadi lebih banyak akan condong kepada sana.
04:29Nah karena menarik misalnya, kayak tadi saya sebutkan, bahwa survei terakhir itu kecenderungan publik di Asia Tenggara itu sekarang itu
04:36udah condong ke Amerika Serikat.
04:38Itu udah pergeserannya udah cukup signifikan gitu.
04:40Jadi mau tidak mau kemudian, dalam hal ini adalah trust.
04:44Trust kepada Amerika Serikat, lambat laun itu terus menurun dengan perilaku yang tidak menentu yang dilakukan oleh Trump.
04:52Jadi seakan-akan ada ketidakpastian dalam hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat.
04:57Walaupun demikian, negara-negara Asia Tenggara itu tahu bahwa ini rivalitas, kalau berpihak pada salah satu blok, itu tidak akan
05:04menguntungkan.
05:05Karena itulah kemudian mereka memanfaatkan, ini hedging strategy bagaimana kemudian bisa bertahan dengan banyak-banyak simpul.
05:14Itu yang dilakukan, Mbak Audrey.
05:15Nah, kalau dikatakan oleh Mas Anton tadi di negara-negara Asia Tenggara ini sekarang sudah condong atau pro, lebih pro
05:21ya, lebih condong kepada Tiongkok begitu.
05:24Nah, kalau gitu ada nggak negara-negara di Asia Tenggara yang kemungkinan ini merupakan negara strategis yang kemudian bisa dilirik
05:31oleh Amerika untuk mengurangi dominasi Tiongkok?
05:35Masih ada kan?
05:36Ya, sebenarnya kan mereka kalau kita bicara dalam konteks hidup pasif, kan patal efektasnya kan ada di Australia, ada di
05:42Filipina, misalnya, dan ada di Papua New Guinea gitu ya.
05:44Itu kan ada kecenderungannya gitu.
05:47Jadi, dengan kata lain, kalau misalnya bicara tentang kawasan, biasanya dia akan menggunakan Australia.
05:51Jadi, Australia ini kan salah satu sekutu terdekat gitu ya.
05:54Sekutu terdekat Amerika Serikat.
05:56Itulah kenapa misalnya Australia mencoba untuk mengimbangi, mengimbangi bagaimana dominasi Amerika Serikat, eh, dominasi Cina dalam hal ini di kawasan.
06:05Begitu juga dengan Jepang misalnya.
06:07Jepang juga, walaupun dia agak jauh ada berada di Asia Timur, juga ikut mencoba untuk mengimbangi gitu.
06:13Jadi, itu adalah partner-partnernya.
06:14Tapi, ketika kita bicara dalam kerangka ASEAN misalnya, yang paling jauh adalah ya memang sejauh ini adalah Filipina.
06:22Tapi, Filipina juga kan juga akan berhitung.
06:25Apakah misalnya, shake hand terakhir antara si Jinping dengan Trump itu akan mengorbankan kepentingan Filipina atau tidak?
06:31Ketika bicara tentang sengketa di Laut Cina Selatan.
06:34Karena kalau misalnya sengketa di Laut Cina Selatan kepentingan Filipina justru yang diabaikan, mau tidak mau kan lambat laun, apa
06:40namanya, simpul Amerika Serikat di kawasan itu kan akan makin melemat.
06:43Oke, Mas Anton, ini kan Hekse sendiri bilang di kawasan Asia Pasifik tidak boleh didominasi oleh satu kekuatan tunggal.
06:50Pertanyaannya, kenapa sekarang ini Amerika menyinggol Tiongkok?
06:55Bukankah beberapa waktu lalu pertemuan antara Presiden Trump dengan Presiden Xi ini sangat hangat dan juga positif?
07:01Betul. Saya mendoganya ada dua hal.
07:05Yang pertama, bisa jadi itu perang Iran dan Amerika Serikat sudah ingin mencapai konklusi.
07:11Sehingga kemudian tekanan di Indo-Pasifik kemudian meningkat kembali.
07:15Karena sebelumnya, itu kan memang selalu ada tekanan.
07:18Bagaimana rivalitas dua negara besar ini itu terjadi di Indo-Pasifik.
07:23Jadi ketika kemudian ada perang Iran dengan Amerika Serikat, itu agak terdistraksi.
07:29Dan kali ini, kalau misalnya kita melihat ada sinyal-sinyal bahwa kemudian akan konklusi,
07:34mau tidak mau kemudian Amerika Serikat kembali, balik lagi akan fokus kepada kawasan Indo-Pasifik dalam hal ini Asia Tenggara.
07:42Walaupun kemudian peta hari ini itu sudah banyak dipengaruhi oleh perang Iran sama Amerika Serikat.
07:48Dengan kata lain bahwa situasi hari ini itu sudah berbeda sebelum dengan kejadiannya perang Iran-Amerika Serikat.
07:55Itu yang bagi Amerika Serikat, mau tidak mau dia harus menunjukkan sikap yang agresif.
07:59Bagaimana kemudian menakut-nakuti nanti kalau ketergantungan akan seperti ini.
08:04Maka tidak boleh ada dominasi.
08:06Dia tahu bahwa ada kecondongan, jadi ada kecenderungan pergeseran ya.
08:10Pergeseran dan perlemahan dalam hal ini dominasi Amerika Serikat di kawasan.
08:15Di sisi lain, negara-negara yang sekutu Amerika Serikat belum cukup memadai untuk menandingi pengaruh Cina.
08:23Itu makanya kemudian Amerika secara terbuka itu menyatakan kekhawatiran itu.
08:29Dan kemudian lagi-lagi dengan nada-nada sedikit ancaman, menakut-nakuti.
08:33Dan itu kan adalah gaya-gayanya Amerika Serikat.
08:35Selain bicara soal dominasi Tiongkok kan kemarin Hexed juga bertemu dengan Menhan Filipina, Vietnam, utusan Malaysia juga.
08:42Nah kira-kira apakah Anda membaca Mas Antoni, jangan-jangan Menhan AS juga ada misi lain.
08:47Misalnya nih soal permintaan Amerika Serikat yang bisa masuk ke ruang udara negara Asia Tenggara.
08:54Iya, kan memang ada salah satu kekhawatiran bahwa ketika kita bicara tentang blokade Selat Hormuz itu akan melebar.
09:01Melebar ke Selat Malaka.
09:03Tapi lagi-lagi kalau misalnya cara Selat Malaka tentu akan jauh lebih kompleks ketimbang Selat Hormuz.
09:08Itulah kenapa kemudian kalau misalnya ada kepentingan overflight blanket gitu misalnya.
09:13Itu kan memang sebenarnya isu lama yang dilakukan oleh Amerika Serikat ya untuk coba dinaikkan.
09:18Amerika Serikat berulang kali misalnya meminta izin pada Indonesia kemudian itu tidak diizinkan.
09:23Jadi mereka ingin mencari cara bagaimana kemudian.
09:26Karena kan ketika bicara tentang pangkalan terdekat tadi saya bilang ada di Papua New Guinea dan Australia.
09:31Mau tidak mau kan pasti akan menggunakan ruang udara Indonesia gitu.
09:34Jadi mereka mau tidak mau kalau misalnya ada apa-apa gitu ya di kawasan ini.
09:40Mereka mau tidak mau ingin mencari cara bagaimana biar bisa jalan gitu.
09:43Walaupun misalnya Cina sendiri itu sudah mempelajari bagaimana respon, bagaimana perilaku Amerika Serikat dalam konteks perang.
09:51Misalnya ketika mereka berlawan sama Iran.
09:54Itu kan Cina ikut mempelajari responnya seperti apa, secepat apa dan lain-lain.
09:58Jadi itulah kenapa kemudian Amerika cukup khawatir gitu ya.
10:02Cukup khawatir di satu sisi ada stok munisi yang menurun gitu dan lain-lain.
10:06Itu Mbak Audrey.
10:07Oke, Mas Anton singkat aja Mas Anton kembali lagi pada saat pertemuan beberapa waktu lalu antara Trump dan juga Presidensi.
10:13Kan disitu memang terlihat sangat hangat ya, tapi kita gak tahu di belakangnya seperti apa.
10:17Nah Anda membaca sebenarnya hasil dari kemarin itu tonnya positif atau justru sebaliknya?
10:22Nah itu bagi Trump, Trump jelas dia membutuhkan adanya kerjasama ekonomi yang kuat.
10:28Win-win solution.
10:29Kenapa? Karena dia menghadapi ancaman terdekat yang namanya pemilu selah.
10:33Jadi mau tidak mau performa ekonomi, sedikit banyak harus terbangun.
10:36Dan disitulah kemudian titik dia soko ketergantungan dengan bantuannya Cina gitu.
10:41Bagaimana kemudian Cina tidak banyak memberikan gangguan gitu ya.
10:44Dan bagi Cina kan simple ya.
10:46Sepanjang Anda tidak memperlakukan tarif yang lebih banyak, ya kita akan bisa langgeng gitu.
10:51Jadi ada kepentingan yang mencoba membangun kepentingan bersama gitu ya.
10:56Walaupun itu tadi yang dikhawatirkan oleh kawasan.
10:58Ini ada salah satu hotspot namanya Laut Cina Selatan gitu.
11:02Nah apakah kemudian kepentingan di Laut Cina Selatan itu akan diabaikan oleh Amerika Serikat?
11:06Nah itu yang akan kita lihat gitu ya.
11:08Sejauh mana.
11:09Tapi Amerika Serikat kalau dalam hal ini Trump ya Trump jadi lagi,
11:12sekarang itu ya jelas lagi fokus bagaimana mengamankan hasil pemilu selah Mbak Udri.
11:16Oke perlu dicermati karena konflik Iran dan AS belum selesai.
11:19Tapi kini sudah kemudian menggeser ya untuk ke kawasan Indo-Pasifik.
11:24Terima kasih analisanya Mas Anton Ali Abbas.
11:26Selamat sore.
Komentar

Dianjurkan