00:00Dan soal kekhawatiran Amerika Serikat terhadap Tiongkok, kita bahas bersama pengamat militer
00:04Kepala Center for Intermastic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
00:09Mas Anton, selamat sore.
00:11Selamat sore, Mbak Audrey.
00:12Mas Anton, ini kenapa sih di tengah konflik dengan Iran yang belum juga usai,
00:16kini Amerika Serikat justru menyengkol soal dominasi Tiongkok di kawasan Asia atau Indo-Pasifik?
00:24Ya, karena jelas ada satu mereka melihat.
00:28Kalau misalnya kita merujuk pada survei terbaru yang dilakukan oleh sebuah lembaga pink tank di Singapura
00:34itu menunjukkan ada kecenderungan, kecenderungan bahwa publik di Asia Tenggara itu sekarang itu
00:40sudah lebih condong kepada Cina ketimbang pada Amerika Serikat.
00:4352 berbanding 48, secara umumnya seperti itu.
00:47Tapi kalau bahkan kalau kita bedah misalnya negara-negaranya ya, Indonesia itu mencapai 80%,
00:52Malaysia dan Singapura di atas 50%, hanya Filipina yang condong kepada Cina
00:5825%.
00:58Dengan kata lain ada kecondongan, itu satu.
01:01Kedua, memang hubungan antara Amerika Serikat dengan kawasan Asia Tenggara ini
01:07semakin lama semakin memburu gitu ya.
01:10Jauh misalnya sebelum perang Iran.
01:11Kenapa?
01:12Karena satu, ada ketidakpastian dari perilaku Trump.
01:15Apa saya bilang ketidakpastian ketika mereka, ketika Presiden Amerika itu memperlakukan kebijakan tarif.
01:21Itu kan jelas melukai ya.
01:23Itu satu.
01:24Kedua, seringkali kemudian Amerika itu tidak hadir di Asia Tenggara ketimbang misalnya Cina.
01:31Coba kita lihat berapa banyak kunjungan Trump selama periode ini datang ke kawasan.
01:37Cuma satu kali.
01:38Bayangkan dengan si Jinping yang sudah dua kali.
01:41Marco Rubio, Menlu cuma datang dua kali.
01:44Sementara misalnya Menlu, Cina sebaliknya sudah lebih dari tiga kali.
01:47Jadi ada ketidakhadiran.
01:49Belum lagi ngomong tentang kerjasama ekonomi, Amerika itu pergi dari framework misalnya TPP, Transpacific Partnership.
01:57Berarti?
01:58Sementara Cina, Cina selalu bareng-bareng di sini.
02:00Jadi ini yang kemudian ada keresahan, ada kecenderungan.
02:04Ada kecenderungan bagaimana kemudian ada sokol, ketergantungan ya.
02:09Ketergantungan bahwa dari kawasan pada Cina dibanding Amerika Serikat.
02:12Berarti kalau dulu ibaratnya Amerika melalui Trump ini lagi jual mahal, sekarang justru sebaliknya nih, lagi cari kawat.
02:21Betul, walaupun gitu ya.
02:23Walaupun dari kawasan sendiri melihatnya itu bingung gitu.
02:25Ini sebenarnya Amerika ini mau bela kita atau enggak.
02:29Ini Amerika mengkritik bahwa jangan tergantung sama ekonomi Cina misalnya.
02:34Tapi tadi kerjasama dengan Asia Tenggara dicabut.
02:37Sementara kemarin mereka shake hand dengan Cina.
02:40Itu kan shake hand dengan Cina.
02:41Bisa jadi nanti akan mengorbankan kepentingan mereka di kawasan.
02:46Misalnya kita ambil contoh tentang Laut Cina Selatan.
02:48Laut Cina Selatan siapa yang berkepentingan?
02:49Filipin.
02:50Jangan-jangan kata Filipin nanti gue ditinggalin.
02:52Jadi ada ketidakpastian itu yang kemudian membuat bingung sebenarnya.
02:57Membuat bingung bagi negara-negara kawasan.
03:00Belum lagi ketika kita bicara tentang perang Iran sama Amerika Serikat.
03:05Yang terdampak cukup signifikan itu adalah kawasan Asia Tenggara bagaimana lebih dari 50% minyak misalnya.
03:10Itu kan tergantung dari Timur Tengah.
03:12Apakah Trump mempengahatikan ini?
03:14Jawabannya kan enggak.
03:15Ini yang kemudian membuat apa namanya?
03:19Respon ya.
03:20Respon dari kawasan itu berbeda-beda.
03:22Ada yang mengecam gitu lalu.
03:24Lalu juga ada yang kemudian membangun kontak seperti Thailand misalnya.
03:27Dia membangun kontak sama Iran.
03:29Nggak peduli tuh Amerika Serikat seperti apa gitu.
03:30Jadi kan ini mau tidak mau kemudian insting survival dari negara-negara di kawasan ini langsung bunyi gitu ya.
03:40Jadi tidak peduli apakah ini bicara tentang kita menjaga kepentingan Amerika Serikat atau Cina.
03:45Bagi negara-negara di kawasan adalah bagaimana kemudian mereka bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang sangat besar seperti ini
03:52Mbak Udri.
03:52Tapi kalau Mas Anton lihat dari negara-negara di Asia Tenggara, kira-kira negara mana yang kemungkinan juga akan membantu
03:59Amerika?
04:00Kalau bicara tentang membantu Amerika, saya melihatnya itu pertanyaan macam-macam ya.
04:06Pertanyaan macam-macam gitu.
04:08Kenapa?
04:08Karena yang mayoritas itu lihatnya adalah bagaimana kemudian bermain cantik gitu.
04:13Hedging strategy yang mereka terapkan gitu.
04:15Mana yang bisa mengambil keuntungan gitu.
04:17Jadi entah itu Cina, entah itu Amerika Serikat, atau kemudian mereka mencari alternatif misalnya membangun aliansi, bukan aliansi, tapi kerjasama
04:25yang lebih erat dengan Uni Eropa misalnya.
04:27Jadi lebih banyak akan condong kepada sana.
04:29Nah karena menarik misalnya, kayak tadi saya sebutkan, bahwa survei terakhir itu kecenderungan publik di Asia Tenggara itu sekarang itu
04:36udah condong ke Amerika Serikat.
04:38Itu udah pergeserannya udah cukup signifikan gitu.
04:40Jadi mau tidak mau kemudian, dalam hal ini adalah trust.
04:44Trust kepada Amerika Serikat, lambat laun itu terus menurun dengan perilaku yang tidak menentu yang dilakukan oleh Trump.
04:52Jadi seakan-akan ada ketidakpastian dalam hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat.
04:57Walaupun demikian, negara-negara Asia Tenggara itu tahu bahwa ini rivalitas, kalau berpihak pada salah satu blok, itu tidak akan
05:04menguntungkan.
05:05Karena itulah kemudian mereka memanfaatkan, ini hedging strategy bagaimana kemudian bisa bertahan dengan banyak-banyak simpul.
05:14Itu yang dilakukan, Mbak Audrey.
05:15Nah, kalau dikatakan oleh Mas Anton tadi di negara-negara Asia Tenggara ini sekarang sudah condong atau pro, lebih pro
05:21ya, lebih condong kepada Tiongkok begitu.
05:24Nah, kalau gitu ada nggak negara-negara di Asia Tenggara yang kemungkinan ini merupakan negara strategis yang kemudian bisa dilirik
05:31oleh Amerika untuk mengurangi dominasi Tiongkok?
05:35Masih ada kan?
05:36Ya, sebenarnya kan mereka kalau kita bicara dalam konteks hidup pasif, kan patal efektasnya kan ada di Australia, ada di
05:42Filipina, misalnya, dan ada di Papua New Guinea gitu ya.
05:44Itu kan ada kecenderungannya gitu.
05:47Jadi, dengan kata lain, kalau misalnya bicara tentang kawasan, biasanya dia akan menggunakan Australia.
05:51Jadi, Australia ini kan salah satu sekutu terdekat gitu ya.
05:54Sekutu terdekat Amerika Serikat.
05:56Itulah kenapa misalnya Australia mencoba untuk mengimbangi, mengimbangi bagaimana dominasi Amerika Serikat, eh, dominasi Cina dalam hal ini di kawasan.
06:05Begitu juga dengan Jepang misalnya.
06:07Jepang juga, walaupun dia agak jauh ada berada di Asia Timur, juga ikut mencoba untuk mengimbangi gitu.
06:13Jadi, itu adalah partner-partnernya.
06:14Tapi, ketika kita bicara dalam kerangka ASEAN misalnya, yang paling jauh adalah ya memang sejauh ini adalah Filipina.
06:22Tapi, Filipina juga kan juga akan berhitung.
06:25Apakah misalnya, shake hand terakhir antara si Jinping dengan Trump itu akan mengorbankan kepentingan Filipina atau tidak?
06:31Ketika bicara tentang sengketa di Laut Cina Selatan.
06:34Karena kalau misalnya sengketa di Laut Cina Selatan kepentingan Filipina justru yang diabaikan, mau tidak mau kan lambat laun, apa
06:40namanya, simpul Amerika Serikat di kawasan itu kan akan makin melemat.
06:43Oke, Mas Anton, ini kan Hekse sendiri bilang di kawasan Asia Pasifik tidak boleh didominasi oleh satu kekuatan tunggal.
06:50Pertanyaannya, kenapa sekarang ini Amerika menyinggol Tiongkok?
06:55Bukankah beberapa waktu lalu pertemuan antara Presiden Trump dengan Presiden Xi ini sangat hangat dan juga positif?
07:01Betul. Saya mendoganya ada dua hal.
07:05Yang pertama, bisa jadi itu perang Iran dan Amerika Serikat sudah ingin mencapai konklusi.
07:11Sehingga kemudian tekanan di Indo-Pasifik kemudian meningkat kembali.
07:15Karena sebelumnya, itu kan memang selalu ada tekanan.
07:18Bagaimana rivalitas dua negara besar ini itu terjadi di Indo-Pasifik.
07:23Jadi ketika kemudian ada perang Iran dengan Amerika Serikat, itu agak terdistraksi.
07:29Dan kali ini, kalau misalnya kita melihat ada sinyal-sinyal bahwa kemudian akan konklusi,
07:34mau tidak mau kemudian Amerika Serikat kembali, balik lagi akan fokus kepada kawasan Indo-Pasifik dalam hal ini Asia Tenggara.
07:42Walaupun kemudian peta hari ini itu sudah banyak dipengaruhi oleh perang Iran sama Amerika Serikat.
07:48Dengan kata lain bahwa situasi hari ini itu sudah berbeda sebelum dengan kejadiannya perang Iran-Amerika Serikat.
07:55Itu yang bagi Amerika Serikat, mau tidak mau dia harus menunjukkan sikap yang agresif.
07:59Bagaimana kemudian menakut-nakuti nanti kalau ketergantungan akan seperti ini.
08:04Maka tidak boleh ada dominasi.
08:06Dia tahu bahwa ada kecondongan, jadi ada kecenderungan pergeseran ya.
08:10Pergeseran dan perlemahan dalam hal ini dominasi Amerika Serikat di kawasan.
08:15Di sisi lain, negara-negara yang sekutu Amerika Serikat belum cukup memadai untuk menandingi pengaruh Cina.
08:23Itu makanya kemudian Amerika secara terbuka itu menyatakan kekhawatiran itu.
08:29Dan kemudian lagi-lagi dengan nada-nada sedikit ancaman, menakut-nakuti.
08:33Dan itu kan adalah gaya-gayanya Amerika Serikat.
08:35Selain bicara soal dominasi Tiongkok kan kemarin Hexed juga bertemu dengan Menhan Filipina, Vietnam, utusan Malaysia juga.
08:42Nah kira-kira apakah Anda membaca Mas Antoni, jangan-jangan Menhan AS juga ada misi lain.
08:47Misalnya nih soal permintaan Amerika Serikat yang bisa masuk ke ruang udara negara Asia Tenggara.
08:54Iya, kan memang ada salah satu kekhawatiran bahwa ketika kita bicara tentang blokade Selat Hormuz itu akan melebar.
09:01Melebar ke Selat Malaka.
09:03Tapi lagi-lagi kalau misalnya cara Selat Malaka tentu akan jauh lebih kompleks ketimbang Selat Hormuz.
09:08Itulah kenapa kemudian kalau misalnya ada kepentingan overflight blanket gitu misalnya.
09:13Itu kan memang sebenarnya isu lama yang dilakukan oleh Amerika Serikat ya untuk coba dinaikkan.
09:18Amerika Serikat berulang kali misalnya meminta izin pada Indonesia kemudian itu tidak diizinkan.
09:23Jadi mereka ingin mencari cara bagaimana kemudian.
09:26Karena kan ketika bicara tentang pangkalan terdekat tadi saya bilang ada di Papua New Guinea dan Australia.
09:31Mau tidak mau kan pasti akan menggunakan ruang udara Indonesia gitu.
09:34Jadi mereka mau tidak mau kalau misalnya ada apa-apa gitu ya di kawasan ini.
09:40Mereka mau tidak mau ingin mencari cara bagaimana biar bisa jalan gitu.
09:43Walaupun misalnya Cina sendiri itu sudah mempelajari bagaimana respon, bagaimana perilaku Amerika Serikat dalam konteks perang.
09:51Misalnya ketika mereka berlawan sama Iran.
09:54Itu kan Cina ikut mempelajari responnya seperti apa, secepat apa dan lain-lain.
09:58Jadi itulah kenapa kemudian Amerika cukup khawatir gitu ya.
10:02Cukup khawatir di satu sisi ada stok munisi yang menurun gitu dan lain-lain.
10:06Itu Mbak Audrey.
10:07Oke, Mas Anton singkat aja Mas Anton kembali lagi pada saat pertemuan beberapa waktu lalu antara Trump dan juga Presidensi.
10:13Kan disitu memang terlihat sangat hangat ya, tapi kita gak tahu di belakangnya seperti apa.
10:17Nah Anda membaca sebenarnya hasil dari kemarin itu tonnya positif atau justru sebaliknya?
10:22Nah itu bagi Trump, Trump jelas dia membutuhkan adanya kerjasama ekonomi yang kuat.
10:28Win-win solution.
10:29Kenapa? Karena dia menghadapi ancaman terdekat yang namanya pemilu selah.
10:33Jadi mau tidak mau performa ekonomi, sedikit banyak harus terbangun.
10:36Dan disitulah kemudian titik dia soko ketergantungan dengan bantuannya Cina gitu.
10:41Bagaimana kemudian Cina tidak banyak memberikan gangguan gitu ya.
10:44Dan bagi Cina kan simple ya.
10:46Sepanjang Anda tidak memperlakukan tarif yang lebih banyak, ya kita akan bisa langgeng gitu.
10:51Jadi ada kepentingan yang mencoba membangun kepentingan bersama gitu ya.
10:56Walaupun itu tadi yang dikhawatirkan oleh kawasan.
10:58Ini ada salah satu hotspot namanya Laut Cina Selatan gitu.
11:02Nah apakah kemudian kepentingan di Laut Cina Selatan itu akan diabaikan oleh Amerika Serikat?
11:06Nah itu yang akan kita lihat gitu ya.
11:08Sejauh mana.
11:09Tapi Amerika Serikat kalau dalam hal ini Trump ya Trump jadi lagi,
11:12sekarang itu ya jelas lagi fokus bagaimana mengamankan hasil pemilu selah Mbak Udri.
11:16Oke perlu dicermati karena konflik Iran dan AS belum selesai.
11:19Tapi kini sudah kemudian menggeser ya untuk ke kawasan Indo-Pasifik.
11:24Terima kasih analisanya Mas Anton Ali Abbas.
11:26Selamat sore.
Komentar