Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau memborong dolar Amerika Serikat. Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi Covid-19.

Bank Indonesia meminta masyarakat membeli dolar Amerika Serikat hanya saat dibutuhkan. Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman. Pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, rupiah yang terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah disebabkan meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons rupiah yang terus melemah hingga menembus level di atas Rp17.800 per dolar AS. Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ke depan rupiah bakal tetap terkendali.

Baca Juga Melemah! Rupiah Sempat Tembus Rp17.845 per Dolar AS, Ekonom: Peringatan! | KOMPAS PAGI di https://www.kompas.tv/ekonomi/671694/melemah-rupiah-sempat-tembus-rp17-845-per-dolar-as-ekonom-peringatan-kompas-pagi

#rupiah #dolaras #bankindonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/671696/bi-imbau-warga-tak-panic-buying-dolar-saat-rupiah-melemah-ekonom-buka-suara-sapa-pagi
Transkrip
00:00Ada menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara bersama saya, Yan Rahman.
00:03Saudara Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying memborong dolar Amerika Serikat.
00:09Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.
00:16Direktur Departemen Pendolaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruta Kusey Intama,
00:21ini membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi COVID-19.
00:28BI meminta agar masyarakat membeli dolar Amerika Serikat saat dibutuhkan saja.
00:34Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman.
00:40Masokan falas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau kegiatan usaha penukaran valuta asing atau KUFA masih sangat memadai.
00:54Jadi kalau kamu butuhnya masih nanti, masih 3 bulan lagi, tolong dong kamu belinya jangan sekarang, beli aja nanti.
01:03Nah hal-hal ini kita harapkan dapat meredam penguatan dolar yang saat ini ya mungkin disebabkan oleh spekulasi.
01:11Nah kenapa kalau gak salah teman-teman pasti hadir ya, pasti dengar penjelasan Pak Gubernur kemarin ya, waktu preskon ya.
01:19Kenapa nih? Kami yakin bahwa rupiah akan memuat.
01:23Karena trennya seperti itu, bahwa pada masa bulan-bulan ini, bayangin kebutuhan haji, ya kan.
01:32Kebutuhan ini ada lagi banyak nih BUMN atau perusahaan-perusahaan yang lagi membayar deviden.
01:40Nah orang-orang yang berinvestasi di Indonesia kan pengen repatriasi dong, balikin uangnya ke luar negeri.
01:46Itu tak berikan tekanan kepada rupiah.
01:52Sebelumnya Saudara Menteri Keuangan Purubaya Yudi Sadewa merespons rupiah yang terus menerus melemah hingga menembus level di atas 17.800
02:00per dolar Amerika Serikat.
02:02Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purubaya Yudi Sadewa optimistis, ke depan rupiah bakal tetap terkendali.
02:13Saat ditanyai hasil simulasi stress test, Kementerian Keuangan untuk Kelemahan Rupiah Purubaya tekankan Kementerian Keuangan sudah berhitung dengan matang.
02:22Termasuk dengan mempertimbangkan harga minyak dunia yang terus melonjak.
02:26Purubaya menambahkan pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar gejolak rupiah tetap terkendali.
02:32Salah satunya, melalui intervensi di pasar obligasi.
02:36Menganggapi rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat, Purubaya bilang hal itu tidak masuk akal karena fundamental ekonomi Indonesia
02:44tengah bagus.
02:45Terima kasih.
03:15Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, utamanya untuk melakukan investasi dan domestik juga di bond kita
03:24akan terjaga juga.
03:26Ini terjadi ketika fondamentalnya bagus, sebetulnya tidak masuk akal.
03:29Sebetulnya melemah itu kalau ada kegangguan di fondament lainnya.
03:34Jadi biar biar, biar santai-santai.
03:38Kami sajikan data nilai tukar rupiah dari pasar spot, sodara, karena falas perbankan dan Jisdor Bank Indonesia selama dua hari
03:46terakhir tidak memperbarui data karena libur idul adha.
03:49Di pasar spot, rupiah pada penutupan perdagangan hari Kamis kemarin berada tepat di level 17.845.
03:58Sebuah angka yang pernah disebut-sebut mengkhawatirkan oleh warga termasuk oleh DPR saat rapat bersama Bank Indonesia beberapa waktu lalu
04:06karena angka 17.845 merupakan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia.
04:11Sementara di tengah perdagangan, rupiah sempat menembus level lebih dari 17.900 per dolar Amerika Serikat.
04:19Pada pekan ini, sodara, rupiah tak sekalipun menguat.
04:23Terpantau dari hari Senin, rupiah berada di level 17.744, melemah tipis pada Selasa 26 Mei ke angka 17.796
04:33dan menembus level psikologis lebih dari 17.800 pada hari Rabu lalu.
04:44Sementara itu, sodara, menurut Kepala Ekonomi Bank Permata Joshua Pardede, rupiah yang terus-menerus melemah ke level terendah sepanjang sejarah
04:51disebabkan karena meningkatnya kebutuhan falas dalam negeri.
04:55Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.
05:04Joshua menjelaskan, meningkatnya kebutuhan dolar pada kuartal kedua merupakan hal yang umum terjadi setiap tahun.
05:10Banyak perusahaan terbuka menjadwalkan pembayaran dividen pada bulan Mei hingga Juni.
05:16Kebutuhan dolar pun meningkat terutama dari perusahaan yang punya kewajiban membayar dividen dalam mata uang asing atau memiliki pemegang saham
05:24asing.
05:33Dua ini, betul bahwa memang ada permintaan dolar yang meningkat.
05:40Bukan karena masuk uut mau ke luar negeri, tapi karena memang ada dividen payment, itu jelas sekali.
05:47Kalau teman-teman baca, perusahaan-perusahaan listed companies,
05:56jadwalnya yang bayar dividen, itu banyak sekali bererot di bulan Mei ini.
06:03Jadi itu sangat wajar bahwa akan ada peningkatan permintaan dolar di kuartal dua ini.
06:14Itu mau ditahu mana aja itu nggak akan bisa mundur.
06:21Sama juga bertepatan juga dengan tadi sampaikan boleh gurut adalah haji, musim haji.
06:28Selain itu, Saudara, Bank Indonesia mencatat skema Local Currency Transaction
06:32atau transaksi mata uang lokal yang mencapai 22,61 miliar dolar AS pada bulan April 2026.
06:40Nilai transaksi melonjak 309% secara tahunan
06:44dan akan terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
06:51Menurut BI, penggunaan LCT didorong untuk membuat transaksi perdagangan antar negara lebih efisien
06:57tanpa melalui perantara.
06:59Bank Indonesia mencatat peningkatan transaksi LCT terus meningkat hingga April 2026
07:04mencapai 22,61 miliar dolar AS atau tumbuh 309% secara tahunan.
07:12Harapannya transaksi LCT terus meningkat agar penggunaan dolar AS dapat ditekan
07:18dan berdampak positif pada rupiah.
07:24Tapi kalau seberapa besar, kayaknya kita tahu perekonomian kita masih membutuhkan inflow gitu ya Bu ya
07:31karena berbagai hal.
07:33Nah, tadi pertanyaannya, kayak kita aja, haji aja masih bergantung dolar.
07:38Justru itu Bu, itu yang kita ingin ubah.
07:41Jadi kita tahu ada permintaan SAR gitu ya, yang besar misalnya.
07:46Ya udah, itu yang sedang kita lakukan Bu.
07:49Bagaimana caranya dengan LCT ini, kalau bisa tanpa dolar gitu ya,
07:55kita akan pengennya punya LCT dengan langsung dengan asal di Arabiya.
08:00Mungkin itu yang sedang, beberapa hal yang sedang kita lakukan, kita usahakan.
08:05Saudara Bank Indonesia yakin tingginya yield atau imbal hasil sekuritas rupiah Bank Indonesia atau SRBI
08:11tidak akan mengganggu likuiditas perbankan untuk menyalurkan kredit
08:15sebab perbankan diperkirakan masih akan menjaga penyaluran kredit
08:19untuk memperoleh insentif kebijakan likuiditas makroprudensial.
08:25Di tengah meningkatnya daya tarik SRBI,
08:28BI menyebutkan bahwa bank tidak akan langsung mengalihkan likuiditas kreditnya ke SRBI
08:33sebab perpindahan likuiditas kredit secara agresif ke SRBI
08:37dapat menimbulkan perlambatan pertumbuhan kredit
08:39dan bank berpotensi kehilangan insentif KLM yang diberikan oleh Bank Indonesia.
08:44BI turut menjelaskan kondisi likuiditas perbankan masih memadai
08:48yang tercermin dari pertumbuhan kredit yang mencapai 9,89% secara tahunan
08:53dan dana pihak ketiga atau DPK yang tumbuh 11,4% secara tahunan per April 2026.
09:05Jadi terkait dengan SRBI dan bagaimana nanti dampaknya ke kredit
09:12dan apakah nanti perlu dilakukan revisi terkait dengan proyeksinya di 2026.
09:19Jadi kalau saya melihat seperti ini,
09:22yang pertama kalau kita melihat sampai dengan saat ini pertumbuhan kreditnya masih tinggi
09:27tadi saya sampaikan 9,98% dan DPK-nya juga tinggi di 11,4% tadi.
09:34Jadi dengan figur yang seperti itu,
09:38saya masih melihat sebenarnya target yang kita,
09:42proyeksinya yang kita sampaikan 8-12 itu masih visible untuk kita bisa dapat mencapainya
09:50dengan realisasi pertumbuhan kreditnya sampai saat ini
09:54dan dukungan dari sisi funding-nya ke depan.
Komentar

Dianjurkan