00:00Tapi menurut saya sudah lah, apapun yang menjadi tuntutan daripada saya,
00:03itu konsekuensi politik dan hukum yang harus saya hadapi.
00:07Ya, kita kan gini, kok begitu sekali ya geji banget ya,
00:11kita kan pengen rasa keadilan publik itu penting lah,
00:15itu harus menjadi pelatihan kita sama-sama.
00:18Jangan kita menanjangi peradilan ini dengan hal-hal yang tidak adil.
00:24Kita mau keadilan publik itu terpenting lah.
00:27Ya, kayak saya, saya itu sudah gak aku salah.
00:30Ya sudah, kalau seandainya saya menjadi contoh untuk pemberantasan korupsi,
00:33hukum mati aja sayanya.
00:35Itu hukum mati, saya lebih rela, lebih ikhlas untuk apa?
00:39Pemberantasan korupsi.
00:41Jadi jangan menjadi pecundang.
00:43Kalau saya kan gak aku salah, dari pertama saya ditanggap saya gak aku salah.
00:46Ketika mau hadapi sidang pertama saya gak aku salah.
00:48Sampai detik ini saya juga gak aku salah.
00:50Tidak mau ngyalain-nyalain orang, gak mau kambing hitamin orang,
00:53bilang ABCD, udah saya salah, saya bertanggung jawab, hukum saya.
00:56Ya, udah itu doang. Terima kasih kawan-kawan ya.
00:58Selamat tinggal.
01:00Selamat tinggal.
01:01Sebelum abang jadi laman yang menerima uang yang katanya dipinjahin,
01:08ya, si Bobi saya pindahkan.
01:10Jadi, kan seakan-akan tuduhan itu bahwa saya membiarkan praktek itu.
01:15Nah, fakta yang saya lakukan adalah saya cuma pengennya mecat anak ini.
01:19Tapi di PNS tidak boleh mecat sembarahan.
01:23Akhirnya saya pindahkan, Bobi itu ke Jakarta juga tuh.
01:28Apa namanya tuh, Balai K3 gitu loh.
01:31Karena waktu itu kan saya lihat praktek ini tuh terlalu lama.
01:34Karena mengeris sekali tuduhan-tuduhan KPK terhadap diri saya.
01:37Pertama, saya minta jatah.
01:39Kedua, saya membiarkan.
01:41Ketiga, turut serta.
01:42Yang lebih keji, ya, itu tuduhan apa?
01:45Soal saya melakukan pemerasan terhadap pengusaha.
01:49Kan ini kan lucu.
01:51Di sisi lain, saya memperjuangkan buru-buru yang diperas oleh pengusaha hitam.
01:55Kemudian tuduhannya saya memperas pengusaha.
01:58Ini logika yang gila menurut saya.
02:00Dan ini ya, nanti biarkan ini kan fakta kesidangan terlihat lah ya.
02:03Tidak ada satupun bukti dan saksi bahwa
02:06saya melakukan pemerasan terhadap perusahaan PJK 3.
02:11Apalagi tuduhan-tuduhan soal hasil pemerasan puluhan mobil.
02:17Puluhan mobil mewah tuh.
02:18Bayangkan orang ini, Bobby Mahendra ini,
02:21punya mobil mewah Nissan GTR yang harganya 12 miliar.
02:25Lantas punya motor, 7 motor,
02:28yang rata-rata harganya tuh 1 miliar ke atas.
02:31PNS, sekelas bawahan dia,
02:33yang gajinya tuh cuma 7 juta,
02:35mampu membeli satu motor yang harganya 1 miliar.
02:38Nah, ini udah 7 motor yang dimiliki.
02:41Belum Nissan GTR yang luar biasa,
02:44yang kemarin di framing seakan-akan itu mobil saya.
02:46Peleknya aja,
02:47satu pelek itu 200 juta.
02:49Berapa pelek?
02:50Empat, 800 juta.
02:52Gimana dengan gaji 8 juta atau 7 juta?
02:54Dan fakta persidangan kemarin lagi,
02:57JPU menyampaikan,
02:58ada satu pesitaan,
03:00yang tidak diketahui publik apa?
03:01Soal dia memiliki senjata.
03:04Gila ini orang ini.
03:05Belum lagi nanti-nanti yang kemarin saya sampaikan,
03:08dia top spender di apa?
03:11Mall.
03:12Terbesar di Republik ini.
03:15Yang belanja itu segmentnya adalah middle up.
03:18Sebetulnya ada satu lagi,
03:19setelah itu udah dihapus,
03:20tapi saya nggak enak mengambil yang lagi.
03:21Tapi itu udah di-take down itu,
03:24kalau nggak salah,
03:25pasar Indonesia atau apa.
03:26Nggak mungkin sekelas orang kayak dia begini,
03:31bisa belanja di mall-mall besar
03:33dengan gaji 7 juta.
03:35Apalagi top spender.
03:36Top spender itu harus miliaran.
03:37Nggak bisa cuma jual,
03:39beli cabai, beli kangkung gitu.
03:42Karena mall besar itu nggak mungkin
03:44memberi top spender ke seseorang,
03:46nomor dua, peringkat dua,
03:47atau nomor berapa tuh orang ini gitu.
03:49Jadi ya, si Bobby ini.
03:51Si Bobby ini.
03:52Bang Noel ini kan artinya Bang Noel
03:54kalau misalnya tadi pembacaan Play-Doh juga
03:56keberatan dan juga udah menunjukkan
03:58itikat baik kepada KPK.
03:59Tapi menurut Bang Noel sendiri,
04:01pantasnya berapa sih hukuman bagi Bang Noel?
04:03Ya gini,
04:04ya ini kan perjalanan hidup saya
04:06yang begitu luar biasa.
04:08Ini titik nadir yang paling rendah
04:10dalam hidup saya.
04:11Tapi menurut saya,
04:12sudah lah,
04:12apapun yang menjadi tuntutan daripada saya,
04:14itu konsekuensi politik dan hukum
04:17yang harus saya hadapi.
04:18Jadi saya tidak melihat
04:21angka-angka ya kuantitinya.
04:23Tapi yang paling penting,
04:24penyesalan saya,
04:25pengakuan bersalah saya.
04:27Itu yang paling penting itulah.
04:29Kalau kita mau mengevaluasi,
04:30saya juga sebetulnya udah nyesel sekali
04:32menjadi Wakil Menteri.
04:34Wakil Menteri Langkah Kerja
04:35nyesel sekali saya.
04:36Kenapa saya harus dikasih jabatan
04:37dengan 10 bulan,
04:38kemudian ditahan 10 bulan,
04:40belum lagi tuntutan 5 tahun.
04:41Pedih sekali saya mendapat jabatan ini
04:44menurut saya.
04:45Di sisi lain,
04:46berapa juta
04:49beban buru
04:50yang ada di pundak saya.
04:52Kawan-kawan media yang kena
04:53lay off,
04:55kemudian kawan-kawan buru,
04:57belum lagi tenaga medis,
04:58dokter,
04:58dan sebagainya yang diperas oleh pengusaha.
05:01Kan mereka butuh keadilan.
05:02Saat itu yang berani
05:03langsung turun ke tengah-tengah mereka
05:06ada cuma saya.
05:07Yang lain selama ini kan negara cuma bilang,
05:09negara harus hadir,
05:10negara cuma omong-omong tuh.
05:12Kalau saya mengimplementasikan
05:14selain fisik saya yang hadir,
05:15saya membuat regulasi.
05:17Walaupun cuma surat edaran.
05:20Itu puluhan tahun tidak ada.
05:21Tidak ada.
05:23Artinya praktek kejahatan ini
05:24sudah terjadi puluhan tahun.
05:26Negara ini hadir pun
05:27udah puluhan tahun ada.
05:28Tapi,
05:29seperti membiarkan dan mengabaikan.
05:31Ketika saya hadir,
05:33dua minggu saya
05:34membuat namanya surat edaran.
05:36Pertama, surat edaran melarang
05:38pengusaha melakukan praktek penanai ijazah.
05:41Kedua,
05:41SE ke-2 adalah melarang
05:43pengusaha membatasi
05:45syarat pencari kerja
05:47sebatas 35 tahun.
05:49Bayangkan,
05:50orang dibatasi untuk mencari kerja
05:52sampai 35 tahun.
05:53Kasih ya dong.
05:54Kawan-kawan yang pengen
05:5536, 37, 38, 39, 40, sampai 60.
05:59Mereka hilang harapan.
06:01Artinya kok negara ini
06:03di sisi lain bicara tentang
06:04angka-angka.
06:05Angka kemiskinan 24 juta,
06:07angka kemiskinan ekstrim.
06:08Angka kepengaguran 7,4 juta.
06:10Tapi negara seperti
06:11melegitimasi
06:12angka kemiskinan
06:13dan angka pengangguran itu.
06:15Nah, dengan hadirnya saya kemarin,
06:17saya nggak tahu
06:17apakah ini bagian serangan
06:18pengusaha terhadap diri saya
06:20atau apa.
06:21Tapi biarlah.
06:22Biarkan nanti ini menjadi
06:24pelajaran untuk saya.
06:25Hati-hati bernegara.
06:27Bagaimana itu bawa apa sih, Bang?
06:28Berapa?
06:29Itu bawa apa sih?
06:30Ini play-doh saya.
06:31Judulnya apa, Bang?
06:33Judulnya membela buru
06:34yang diperas pengusaha hitam,
06:36malah dituduh secara keji
06:38memeras pengusaha.
06:39Jadi tidak semua pengusaha
06:41itu hitam.
06:43Banyak juga pengusaha
06:45melakukan apa,
06:46memberi kesejahteraan
06:47untuk pekerja dan burunya.
06:49Jadi tidak semua,
06:50saya tidak mau menjeneralisir
06:51bahwa semua pengusaha itu hitam.
06:53dan semua pengusaha yang saya sidap
06:55selalu ada backing-backing-nya.
06:58Itu yang paling penting.
07:00Nah,
07:02ini kan tidak baik
07:03untuk kita bernegara.
07:05Jangan negara seperti gangster.
07:08Kita mau negara
07:09yang layaknya negara.
07:11Negara itu ada warga negaranya,
07:13ada instrumen negaranya.
07:15Jadi kita mau bernegara itu yang benar.
07:17Bukan seperti kelompok gangster.
07:19Kayak gitu lah kira-kira kawan-kawan semua.
07:39Sampai jumpa di video selanjutnya.
07:40Terima kasih.
Komentar