Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Eks Wamenaker Emmanuel Ebenezer menegaskan hal terpenting baginya adalah rasa keadilan publik dalam proses penegakan hukum.

Noel juga mengaku sejak awal telah menerima dan mengakui kesalahannya, mulai dari pertama kali ditangkap hingga menjalani persidangan.

Dalam keterangannya, Noel menyatakan tidak ingin menyalahkan pihak lain ataupun mencari kambing hitam dalam kasus yang menjeratnya.

Ia menegaskan siap menerima hukuman berat demi mendukung pemberantasan korupsi dan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatannya.

"Kalau saya kan ngaku salah, dari pertama saya ditangkap saya ngaku salah. Ketika menghadapi sidang pertama saya ngaku salah. Sampai detik ini saya juga mengaku salah. Tidak mau nyalah-nyalahin orang, gak mau kamping hitamin orang. Sudah, saya salah, saya bertanggung jawab, hukum saya. Sudah itu doang." kata Noel, Senin (25/5/2026).

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Video Editor: Joshua

Baca Juga Reaksi Donny Tri Pamungkas soal Musim Depan Super League Tak Wajibkan Klub Turunkan Pemain U23 di https://www.kompas.tv/olahraga/670890/reaksi-donny-tri-pamungkas-soal-musim-depan-super-league-tak-wajibkan-klub-turunkan-pemain-u23



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/670900/menyesal-korupsi-eks-wamenaker-noel-curhat-saya-salah-saya-bertanggung-jawab
Transkrip
00:00Tapi menurut saya sudah lah, apapun yang menjadi tuntutan daripada saya,
00:03itu konsekuensi politik dan hukum yang harus saya hadapi.
00:07Ya, kita kan gini, kok begitu sekali ya geji banget ya,
00:11kita kan pengen rasa keadilan publik itu penting lah,
00:15itu harus menjadi pelatihan kita sama-sama.
00:18Jangan kita menanjangi peradilan ini dengan hal-hal yang tidak adil.
00:24Kita mau keadilan publik itu terpenting lah.
00:27Ya, kayak saya, saya itu sudah gak aku salah.
00:30Ya sudah, kalau seandainya saya menjadi contoh untuk pemberantasan korupsi,
00:33hukum mati aja sayanya.
00:35Itu hukum mati, saya lebih rela, lebih ikhlas untuk apa?
00:39Pemberantasan korupsi.
00:41Jadi jangan menjadi pecundang.
00:43Kalau saya kan gak aku salah, dari pertama saya ditanggap saya gak aku salah.
00:46Ketika mau hadapi sidang pertama saya gak aku salah.
00:48Sampai detik ini saya juga gak aku salah.
00:50Tidak mau ngyalain-nyalain orang, gak mau kambing hitamin orang,
00:53bilang ABCD, udah saya salah, saya bertanggung jawab, hukum saya.
00:56Ya, udah itu doang. Terima kasih kawan-kawan ya.
00:58Selamat tinggal.
01:00Selamat tinggal.
01:01Sebelum abang jadi laman yang menerima uang yang katanya dipinjahin,
01:08ya, si Bobi saya pindahkan.
01:10Jadi, kan seakan-akan tuduhan itu bahwa saya membiarkan praktek itu.
01:15Nah, fakta yang saya lakukan adalah saya cuma pengennya mecat anak ini.
01:19Tapi di PNS tidak boleh mecat sembarahan.
01:23Akhirnya saya pindahkan, Bobi itu ke Jakarta juga tuh.
01:28Apa namanya tuh, Balai K3 gitu loh.
01:31Karena waktu itu kan saya lihat praktek ini tuh terlalu lama.
01:34Karena mengeris sekali tuduhan-tuduhan KPK terhadap diri saya.
01:37Pertama, saya minta jatah.
01:39Kedua, saya membiarkan.
01:41Ketiga, turut serta.
01:42Yang lebih keji, ya, itu tuduhan apa?
01:45Soal saya melakukan pemerasan terhadap pengusaha.
01:49Kan ini kan lucu.
01:51Di sisi lain, saya memperjuangkan buru-buru yang diperas oleh pengusaha hitam.
01:55Kemudian tuduhannya saya memperas pengusaha.
01:58Ini logika yang gila menurut saya.
02:00Dan ini ya, nanti biarkan ini kan fakta kesidangan terlihat lah ya.
02:03Tidak ada satupun bukti dan saksi bahwa
02:06saya melakukan pemerasan terhadap perusahaan PJK 3.
02:11Apalagi tuduhan-tuduhan soal hasil pemerasan puluhan mobil.
02:17Puluhan mobil mewah tuh.
02:18Bayangkan orang ini, Bobby Mahendra ini,
02:21punya mobil mewah Nissan GTR yang harganya 12 miliar.
02:25Lantas punya motor, 7 motor,
02:28yang rata-rata harganya tuh 1 miliar ke atas.
02:31PNS, sekelas bawahan dia,
02:33yang gajinya tuh cuma 7 juta,
02:35mampu membeli satu motor yang harganya 1 miliar.
02:38Nah, ini udah 7 motor yang dimiliki.
02:41Belum Nissan GTR yang luar biasa,
02:44yang kemarin di framing seakan-akan itu mobil saya.
02:46Peleknya aja,
02:47satu pelek itu 200 juta.
02:49Berapa pelek?
02:50Empat, 800 juta.
02:52Gimana dengan gaji 8 juta atau 7 juta?
02:54Dan fakta persidangan kemarin lagi,
02:57JPU menyampaikan,
02:58ada satu pesitaan,
03:00yang tidak diketahui publik apa?
03:01Soal dia memiliki senjata.
03:04Gila ini orang ini.
03:05Belum lagi nanti-nanti yang kemarin saya sampaikan,
03:08dia top spender di apa?
03:11Mall.
03:12Terbesar di Republik ini.
03:15Yang belanja itu segmentnya adalah middle up.
03:18Sebetulnya ada satu lagi,
03:19setelah itu udah dihapus,
03:20tapi saya nggak enak mengambil yang lagi.
03:21Tapi itu udah di-take down itu,
03:24kalau nggak salah,
03:25pasar Indonesia atau apa.
03:26Nggak mungkin sekelas orang kayak dia begini,
03:31bisa belanja di mall-mall besar
03:33dengan gaji 7 juta.
03:35Apalagi top spender.
03:36Top spender itu harus miliaran.
03:37Nggak bisa cuma jual,
03:39beli cabai, beli kangkung gitu.
03:42Karena mall besar itu nggak mungkin
03:44memberi top spender ke seseorang,
03:46nomor dua, peringkat dua,
03:47atau nomor berapa tuh orang ini gitu.
03:49Jadi ya, si Bobby ini.
03:51Si Bobby ini.
03:52Bang Noel ini kan artinya Bang Noel
03:54kalau misalnya tadi pembacaan Play-Doh juga
03:56keberatan dan juga udah menunjukkan
03:58itikat baik kepada KPK.
03:59Tapi menurut Bang Noel sendiri,
04:01pantasnya berapa sih hukuman bagi Bang Noel?
04:03Ya gini,
04:04ya ini kan perjalanan hidup saya
04:06yang begitu luar biasa.
04:08Ini titik nadir yang paling rendah
04:10dalam hidup saya.
04:11Tapi menurut saya,
04:12sudah lah,
04:12apapun yang menjadi tuntutan daripada saya,
04:14itu konsekuensi politik dan hukum
04:17yang harus saya hadapi.
04:18Jadi saya tidak melihat
04:21angka-angka ya kuantitinya.
04:23Tapi yang paling penting,
04:24penyesalan saya,
04:25pengakuan bersalah saya.
04:27Itu yang paling penting itulah.
04:29Kalau kita mau mengevaluasi,
04:30saya juga sebetulnya udah nyesel sekali
04:32menjadi Wakil Menteri.
04:34Wakil Menteri Langkah Kerja
04:35nyesel sekali saya.
04:36Kenapa saya harus dikasih jabatan
04:37dengan 10 bulan,
04:38kemudian ditahan 10 bulan,
04:40belum lagi tuntutan 5 tahun.
04:41Pedih sekali saya mendapat jabatan ini
04:44menurut saya.
04:45Di sisi lain,
04:46berapa juta
04:49beban buru
04:50yang ada di pundak saya.
04:52Kawan-kawan media yang kena
04:53lay off,
04:55kemudian kawan-kawan buru,
04:57belum lagi tenaga medis,
04:58dokter,
04:58dan sebagainya yang diperas oleh pengusaha.
05:01Kan mereka butuh keadilan.
05:02Saat itu yang berani
05:03langsung turun ke tengah-tengah mereka
05:06ada cuma saya.
05:07Yang lain selama ini kan negara cuma bilang,
05:09negara harus hadir,
05:10negara cuma omong-omong tuh.
05:12Kalau saya mengimplementasikan
05:14selain fisik saya yang hadir,
05:15saya membuat regulasi.
05:17Walaupun cuma surat edaran.
05:20Itu puluhan tahun tidak ada.
05:21Tidak ada.
05:23Artinya praktek kejahatan ini
05:24sudah terjadi puluhan tahun.
05:26Negara ini hadir pun
05:27udah puluhan tahun ada.
05:28Tapi,
05:29seperti membiarkan dan mengabaikan.
05:31Ketika saya hadir,
05:33dua minggu saya
05:34membuat namanya surat edaran.
05:36Pertama, surat edaran melarang
05:38pengusaha melakukan praktek penanai ijazah.
05:41Kedua,
05:41SE ke-2 adalah melarang
05:43pengusaha membatasi
05:45syarat pencari kerja
05:47sebatas 35 tahun.
05:49Bayangkan,
05:50orang dibatasi untuk mencari kerja
05:52sampai 35 tahun.
05:53Kasih ya dong.
05:54Kawan-kawan yang pengen
05:5536, 37, 38, 39, 40, sampai 60.
05:59Mereka hilang harapan.
06:01Artinya kok negara ini
06:03di sisi lain bicara tentang
06:04angka-angka.
06:05Angka kemiskinan 24 juta,
06:07angka kemiskinan ekstrim.
06:08Angka kepengaguran 7,4 juta.
06:10Tapi negara seperti
06:11melegitimasi
06:12angka kemiskinan
06:13dan angka pengangguran itu.
06:15Nah, dengan hadirnya saya kemarin,
06:17saya nggak tahu
06:17apakah ini bagian serangan
06:18pengusaha terhadap diri saya
06:20atau apa.
06:21Tapi biarlah.
06:22Biarkan nanti ini menjadi
06:24pelajaran untuk saya.
06:25Hati-hati bernegara.
06:27Bagaimana itu bawa apa sih, Bang?
06:28Berapa?
06:29Itu bawa apa sih?
06:30Ini play-doh saya.
06:31Judulnya apa, Bang?
06:33Judulnya membela buru
06:34yang diperas pengusaha hitam,
06:36malah dituduh secara keji
06:38memeras pengusaha.
06:39Jadi tidak semua pengusaha
06:41itu hitam.
06:43Banyak juga pengusaha
06:45melakukan apa,
06:46memberi kesejahteraan
06:47untuk pekerja dan burunya.
06:49Jadi tidak semua,
06:50saya tidak mau menjeneralisir
06:51bahwa semua pengusaha itu hitam.
06:53dan semua pengusaha yang saya sidap
06:55selalu ada backing-backing-nya.
06:58Itu yang paling penting.
07:00Nah,
07:02ini kan tidak baik
07:03untuk kita bernegara.
07:05Jangan negara seperti gangster.
07:08Kita mau negara
07:09yang layaknya negara.
07:11Negara itu ada warga negaranya,
07:13ada instrumen negaranya.
07:15Jadi kita mau bernegara itu yang benar.
07:17Bukan seperti kelompok gangster.
07:19Kayak gitu lah kira-kira kawan-kawan semua.
07:39Sampai jumpa di video selanjutnya.
07:40Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan