Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 14 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah sorotan jebloknya nilai mata uang rupiah, Presiden Prabowo Subianto dua kali meyinggung dolar Amerika dalam rentang sepekan. Di Nganjuk, Jawa Timur, presiden menyatakan masyarakat desa tak pakai dolar. Sementara, dalam pidato di DPR, presiden menyindir elit yang terlalu takut dengan kurs dolar, justru akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lemah.

Dua pernyataan presiden soal dolar dan kunjungannya ke DPR guna menjelaskan arah ekonomi RI, bisa jadi upaya menenangkan pasar. Pertanyaannya, mengapa menimbulkan polemik dan apakah langkah yang sudah ditempuh memadai untuk menjawab tekanan dolar terhadap rupiah?

Simak pembahasannya dalam BOLA LIAR, episode "PRABOWO: TAKUT KURS DOLAR, JADI BANGSA LEMAH" Jumat, 22 Mei 2026.

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/670835/budiman-sudjatmiko-ferry-latuhihin-soal-pengurangan-anggaran-di-tengah-rupiah-melemah
Transkrip
00:03ya Bang Yusuf di tengah tertekannya nilai tukar rupiah terdolar Amerika Serikat ini presiden
00:09kemarin menargetkan rupiah bisa berada di kisaran 16.800 hingga 17.500 per dolar Amerika Serikat
00:16sementara Menteri Keuangan Perubaya Yudhisa Dewa lebih optimis lagi bisa mencapai 15.000 rupiah
00:22per dolar Amerika Serikat menurut anda dengan cara yang demikian sudah tepat atau belum optimis
00:27realistis atau overconfidence saya enggak tahu gimana caranya karena begini seperti yang saya
00:34bilang ketidakpercayaan sekarang ini adalah ketidakpercayaan struktural oleh pasar dan
00:38investor terhadap ya apa yang ditulis oleh The Economist itu terjadi pemborosan dimana letak
00:46pemborosannya itu ini yang kontradiktif Prabowo menceritakan industrialisasi Indonesia tapi
00:53kenapa anggarannya lebih besar ke program populasi yang konsumtif dan Koperasi Desa Merah Putih
00:58Desa Merah Putih yang idenya sesungguhnya Koperasi itu kan dari bawah dari rakyat
01:03kenapa di drive dari atas nggak nyambung nggak nyambung kemudian dengan menggunakan anggaran dari bank yang
01:08bisa mengganggu likuiditas bank dan kepercayaan investor dan pasar bisa terganggu
01:12oke nah kemudian ya saya selalu menggugat ini kenapa tidak ada satupun orang-orang pintar ekonom
01:21mereka yang di kabinet tidak berani menggugat Presiden Prabowo soal tidak rasional di tengah fiskal yang
01:28terbatas rupiah jatuh sekarang ini jor-joran menggelontorkan anggaran yang begitu besar kepada
01:34MBG dan Koperasi Desa Merah Putih nggak masuk akal maka nggak dipercaya kalau itu saya tidak bilang MBG
01:42di stop tidak saya dukung MBG tapi dibikin bertahap dibikin rasional dengan kalau itu terjadi pasti
01:49duit-duit investor pasar yang sudah keluar itu pasti ada saya sepanjang lagi soal kenapa dana maunya
01:58industrialisasi kenapa APBN untuk konsumsi atau anda sebut sebagai populis ya kata saya sudah
02:03terangkan di depan ini kalau ini sekali sebagai sebuah posisi politik ya Bapak Prabowo menempatkan
02:09memang APBN untuk instrumen pemerataan dan keduaan membentuk dantara untuk instrumen pertumbuhan
02:14dengan kritik dari Prof Latuhin pastinya ya satu itu kedua soal pertanyaan kenapa tidak ada menteri yang
02:22berani kira-kira begitu ya mengkritik saya kira itu satu proses yang tidak perlu juga disampaikan
02:29di depan tapi outputnya adalah ketika Pak Purbaya mengatakan dikurangi anggaran untuk MBGN untuk MBG maaf
02:36ya 67 triliun ya artinya apakah itu tidak ada seakan sebagai output apakah itu soal proses dari
02:43menteri yang anda sebut anda tantang keberaniannya ada tantangnya lainnya atau sebuah bentuk diskusi
02:48proses dialogis persediaan dengan menteri-menterinya dalam rapat terbatas saya pastikan dia karena pernah
02:54dalam sebuah rapat terbatas beberapa menteri bicara soal Pak yang ini jangan dulu kita lebih
03:00piloting pada soal program projek sekolah terintegrasi yang akan dibuat ya terjadi perubahan komposisinya
03:07artinya proses dialogis itu terjadi dan jangan direduksi itu soal nyali atau tidak nyali ini adalah soal proses
03:15komunikasi antara menteri dan presiden yang kemudian outputnya tadi pengurangan anggaran BGN misalnya
03:21MBG maaf kemudian juga keputusan tadi untuk membuat sekolah terintegrasi tadinya di tiap kota samatan
03:27menjadi akan dibuat di tiap kabupaten dan kota artinya terjadi proses itu ya
03:31oke oke baik
03:32saya mungkin kalau coba nambahin ya ini dulu kan sebenarnya fenomena pelemahan rupiah ini kan udah dari dulu terjadi
03:37jaman Pak Jokowi juga kejadian 2018 ketika belanja infrastruktur lagi naik Pak dan itu butuh waktu
03:44kalau kita ingat 2018 saya ingat isu rupiahnya muncul bulan Maret
03:48adjustment full APBN dan anggaran infrastrukturnya Agustus
03:52jadi memang ada proses yang sedang terjadi yang memang kita sama harapkan bisa lebih cepat
03:57kalau lebih cepat lebih baik
03:58oke baik Pak Ferry kan sebenarnya sudah ada pengurangan ya pengurangan anggaran untuk program MBG
04:05kemudian juga jumlah dapurnya juga sudah ditutup
04:08apakah itu merupakan respons atas kritikan bahwa ayo disiplinkan fiskal
04:13bukan respons ya pengurangan ini akibat kepepet
04:17karena kepepet
04:18gak ada cara lain
04:19bukan karena niat memang membenahi ekonomi kita
04:22tapi karena kepepet anda tidak punya duit ya maka lakukanlah ini
04:27ini masalah kepepet makanya tidak dipercaya oleh pastor
04:30gitu loh ya
04:31nah yang kedua selanjutnya ya
04:33kalau dibilang perlemahan rupiah secara sistematis ya kan
04:37ya itu cuma berlaku di negeri ini
04:40di negara lain tidak sistematis kenapa
04:42ingat
04:43karansi lain menguat rupiah tetap melemah
04:46artinya apa
04:47there must be something wrong with our economy
04:49lucunya pada waktu BPS mengeluarkan angka 5,11%
04:54sebagai pertumbuhan 2025
04:56gak lama kemudian
04:57Moody Sandvich bilang
04:58gua downgrade outlook lo
05:00dari stabil ke negatif
05:01artinya apa
05:02the number that you release
05:04I do not trust
05:06kan begitu
05:07ya kan ya
05:08jadi rupiah itu melemah
05:10lihat dari tahun 2014 sampai 2024
05:13cross exchange rate antara rupiah dan rigid flat
05:16ya kan ya
05:17begitu memasuki 2025
05:19terutama setelah diumumkannya kabinet yang baru
05:21oleh Pak Presiden Prabowo
05:23itu secara sistematis
05:25karansi lain menguat
05:26ya kan
05:27terhadap lo lah
05:27kita tetap melemah
05:28artinya apa
05:29boroknya ada di sini
05:31bukan di luar sana
05:32gitu kan ya
05:33nah tadi lebih heboh lagi
05:35begitu kemarin muncul ide mendirikan badan
05:38ya badan ekspor ini
05:39nasilahat
05:39tadi Moody's mengatakan apa
05:41saya downgrade you punya rating nanti
05:44kalau badan ini jadi
05:46ngeri gak sih
05:46ngeri gak sih
05:48ngeri gak sih
05:48makanya tadi saya juga bilang bahwa
05:51seringkali memang
05:52ya kalau di Indonesia
05:53pelemahan rupiah ini
05:55adalah konsekuensi kebijakan
05:57kalian baru bilang
05:57betul
05:58yang menguat
05:59yang menguat itu semua
06:00semuanya itu pada naikin BBM Prof
06:02ya iya iya iya
06:04yang gak naikin BBM itu Indonesia doang
06:06iya iya iya
06:07karena BBM itu Indonesia doang
06:09itu mesti kita lihat
06:09dan memang itu jampaknya ke rupiah
06:12itu yang harus kita lihat
06:14harus harus paham
06:15sekarang lihat
06:16sorry saya teruskan ya
06:17angka 5,61% kemarin
06:20Purbaya dengan happy-nya mengatakan
06:22kita keluar dari jebakan 5%
06:24itu kan akibat doping
06:26dan lucunya
06:27pada saat yang sama
06:28Menteri Perindustrian
06:30Agus Gumiwang mengatakan
06:33hey man
06:34badai PHK di depan mata
06:36ini kan kontradiktif
06:385,6% ini seolah-olah dibikin
06:41anti-tesis oleh Agus Gumiwang
06:43bahwa you are wrong man
06:45makanya rupiah pun tetap melemah
06:48karena angka doping ini tidak bertahan bos
06:50itu tidak tepat
06:51kita coba ke Mas Astrio
06:52tadi disampaikan oleh Pak Perry
06:54bahwa program prioritas seperti MBG
06:56dirasionalisasi
06:57karena kepepet katanya
06:58iya iya
06:59kalau gak kepepet
07:00mau gak diturah
07:01terima kasih
07:07terima kasih
07:08terima kasih
Komentar

Dianjurkan