Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah sorotan jebloknya nilai mata uang rupiah, Presiden Prabowo Subianto dua kali meyinggung dolar Amerika dalam rentang sepekan. Di Nganjuk, Jawa Timur, presiden menyatakan masyarakat desa tak pakai dolar. Sementara, dalam pidato di DPR, presiden menyindir elit yang terlalu takut dengan kurs dolar, justru akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lemah.

Dua pernyataan presiden soal dolar dan kunjungannya ke DPR guna menjelaskan arah ekonomi RI, bisa jadi upaya menenangkan pasar. Pertanyaannya, mengapa menimbulkan polemik dan apakah langkah yang sudah ditempuh memadai untuk menjawab tekanan dolar terhadap rupiah?

Simak pembahasannya dalam BOLA LIAR, episode "PRABOWO: TAKUT KURS DOLAR, JADI BANGSA LEMAH" Jumat, 22 Mei 2026.

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/670833/debat-budiman-vs-pdip-ferry-latuhihin-bicara-rupiah-melemah-singgung-mbg-hingga-kopdes-merah-putih

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:01Ya, Bang Anseh disampaikan sama Bang Budiman, Presiden sudah melakukan sejumlah langkah, gak cuma retorika katanya.
00:07Ya, jadi deteksi dan identifikasi akar persoalan ini harus clear, harus benar.
00:13Dunia hari ini itu sudah menjadi kampung global, global village.
00:17Apa yang terjadi, ratusan ribu mil, itu berdampak ke kampung saya di ND di Nusa Tenggara Timur misalnya.
00:24Hari ini harga-harga kebutuhan pokok itu naik, dan masyarakat miskin di NTT itu menjerit.
00:30Kenapa? Ya karena kurs dolar itu berdampak kepada kehidupan real masyarakat.
00:35Hari ini bahan baku, itu 70% itu berasal dari luar.
00:41Ada konten luarnya. Belanja modal, sekitar 20-30% dari luar.
00:48Belanja konsumsi, artinya apa? Artinya kalau dibilang dolar tidak punya dampak,
00:53bagi masyarakat di Wolowaru, masyarakat di Kalimantan, masyarakat di Sulawesi,
00:59itu tentu tidak benar. Karena apa? Karena interkoneksi.
01:03Ini sudah terjadi. Itu yang pertama.
01:07Yang kedua, Presiden ini harus betul-betul bisa menangkap pesan.
01:13Bahwa memang kalau mau merubah situasi ini, maka juga harus bisa membaca.
01:19Kira-kira transformasi dalam kebijakan dan program-program kerja seperti apa,
01:25yang kemudian bisa memulihkan kepercayaan rakyat, kepercayaan investor,
01:31dan perlahan namun pasti ini bisa membuat rupiah ini menjadi menguat.
01:36Jadi jangan berpikir bahwa bicara rupiah itu tidak ada hubungan dengan masyarakat di level bawah.
01:43Sangat berhubungan. Sangat dekat sekali.
01:46Saya ingin sampaikan ada satu buku, Mas Budiman pasti baca lah, buku Francis Fukuyama,
01:51Soal Trust, Social Virtus, and the Great of Prosperity, ditulis tahun 1995.
01:57Dia bilang apa? Stabilitas ekonomi itu tidak saja ditentukan oleh hal-hal teknis yang bersifat ekonomi semata.
02:04Jadi ini bukan soal semata soal gejolak sesaat terkait dengan kurs,
02:10tetapi ini lebih kepada faktor sosial, dan ini soal trust.
02:15Saya katakan tadi, trust ini fondasi dasar, fundament, dan ini nafas kehidupan sebuah bangsa kalau mau maju.
02:23Oke, trust yang disoal. Market sudah mempertanyakan itu.
02:28Kata Bang Ansi.
02:29Oh iya. Oke, menarik soal trust. Trust itu banyak segmennya ya.
02:35Ini kita bicara soal trust ekonomi, ada trust sosial, dan segala macam.
02:39Oke, kita bisa terima bahwa ada interkoneksi.
02:43Para pasalannya, kami juga melihat interkoneksi itu bukan sekedar bicara satu arah.
02:47Tadi kelihatan yang menampak, seolah-olah ditegaskan bahwa, ya, serupiah sebagai objek dari interkoneksi dengan dolar, ya kan?
02:57Kemudian berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat.
03:02Kalau kita lihat, apa yang dilihat oleh Presiden Prabowo sebelum isu dolar menaik adalah,
03:09kenapa Pak Prabowo membangun program-program di grassroots, tadi saya disebutkan Koperasi Merah Putih, MBG, Sekolah Rakyat.
03:19Apa yang kamu lihat? Apa yang kita lihat sebenarnya?
03:21Yang kita lihat adalah bukan sekedar trust itu sebagai produk hasilnya, ya.
03:27Tapi by design, Pak Prabowo sedang melakukan proses peningkatan kapasitas produktif rakyat.
03:33Kapasitas proses distribusi dari hasil-hasil pembangunan ekonomi.
03:39Kemudian dikata oleh Astri tadi, soal mengamankan kebocoran-kebocoran yang selama ini banyak keluar dan tidak dicatat dengan benar.
03:50Sampai 15 ribu triliun sejak tahun 1991.
03:5315 ribu triliun ya, hasilnya.
03:56Dan artinya apa?
03:57Yang dilakukan oleh Pak Prabowo adalah bagaimana bukan sedang membangun trust kepada pemerintahan Pak Prabowo.
04:03Pak Prabowo sedang membangun trust pada kapasitas bangsa sendiri.
04:07Bisa nggak sih kapasitas produktif itu disebar ke rakyat,
04:12bukan sekedar rakyat dilihat sebagai konsumen pemilih barang-barang dari luar,
04:18tapi rakyat dibangun trust pada dirinya sendiri untuk berproduksi.
04:21Saya kasih contoh satu.
04:23Saya ingin menarikkan bahwa trust itu...
04:25Program makan bergisi gratis. Saya kasih contoh satu.
04:28Kita berharap program makan bergisi gratis itu menimbulkan multiplier efek pada masyarakat akar rumput.
04:35Petani, peternak, dan nelayan.
04:37Konkret nih.
04:38Beras diambil dari petani rakyat.
04:41Daging, telur, ayam, dan sebagainya diambil dari para peternak dan nelayan.
04:47Tetapi apakah hari ini itu terjadi?
04:49Kita tidak melihat hal itu.
04:52Dampaknya itu tidak sampai kepada level masyarakat di paling bawah.
04:58Pidato Presiden Prabowo, visi besar Presiden Prabowo, kita berikan apresiasi.
05:03Tetapi dalam hal implementasi dan persoalan tata kelola, yang kita lihat, mohon maaf, Renzi King yang terjadi.
05:13Pak Anzi, gini.
05:14Ada hukum Murfi mengatakan, sesuatu yang buruk datang seketika.
05:22Sesuatu yang baik datang bertahap.
05:24Anda tahu bahwa yang dibangun dari makam bergisi gratis itu adalah bagian dari ekosistem rantai pasok baru.
05:31Satu upaya membangun rantai pasok baru tidak bisa dihitung dalam hitungan bulan.
05:38Dengan pembentukan kooperasi Desa Mara Putih secara legal 80 ribu.
05:42Prosesnya 1 ribu. Dan bulan Agustus ditargakan 20 ribu.
05:46Apakah Anda tidak melihat itu sebagai bagian dari membangun rantai pasok,
05:51makan bergisi gratis, dan kemudian menyebabkan kapasitas produksi dan petang?
05:54Baik, ada sejumlah program yang sudah dijalankan.
05:56Saya mematakan bahwa membangun rantai pasok itu bukan sepintas mengomentari.
06:05Ini adalah pembangunan sistem, pembangunan ekosistem, membangun kelebagian, pembangunan entrepreneurship.
06:10Saya boleh menyelak nggak?
06:10Boleh, boleh menyelaknya.
06:12Kira-kira begitu.
06:13Silahkan.
06:15Kalau saya seorang entrepreneur, kalau saya seorang investment banker,
06:20membangun MBG itu tidak 83 juta manusia dicuapin.
06:26Saya coba dulu dengan piloting 5-6 sekolah.
06:29Ini berhasil, Tau.
06:32Ini kerjaan siapa membangun proyek seperti itu?
06:36Ini diseraiat loh.
06:38Dan buksinya apa?
06:39Nggak dipercaya negara ini.
06:40Dolar tetap ngacir.
06:41Begitu juga dengan kooperasi merah putih.
06:44Kalau memang benar-benar untuk membangun proyek supply chain tadi,
06:48coba dulu dengan 5-6 kooperasi.
06:50Bisa jalan atau tidak?
06:52Kan buksinya, kembali lagi bos.
06:54Ekonomi fundamental bagus atau tidak, itu tercermin di dalam karensinya.
07:00Ini masalah trust.
07:03Saya katakan lagi.
07:04Tadi Mas Budiman Sujad Miko bilang,
07:06Pak Prabowo sudah membangun ide-ide yang baik.
07:09Dan antara?
07:10Dan antara salah.
07:12Yang kedua, MBG salah.
07:14Yang ketiga, kooperasi merah putih salah.
07:16Apa yang benar?
07:17Kalau benar, ditanggap itu oleh market, oleh pasar,
07:20dengan rupiah yang menguat.
07:22Tidak secara sistematis.
07:24Dia melemah terus-menerus.
07:25Jangan deny the fact.
07:27Anda membangun mimpi boleh.
07:29Tapi bangunlah ekonomi.
07:31Bukan mimpi yang dibangun.
07:32Ya.
07:32Saya bisa menjawab.
07:35Sebenarnya, kalau kita bicara soal, apa namanya,
07:41piloting ya, Pak Prof.
07:43Bicara piloting.
07:43Sebenarnya piloting itu sudah dimulai pada zaman,
07:45sudah dimulai untuk MBG ya,
07:47sudah dimulai di Sukabumi dan beberapa titik lain
07:50pada masa-masa akhir pemberitaan Pak Jokowi dan diteruskan.
07:54Artinya, piloting dari MBG sudah dilakukan.
07:57Satu.
07:58Kedua, soal kooperasi desa merah putih itu dikatakan itu jelek.
08:01Begini, kooperasi desa merah putih
08:04harus dilihat sebagai cara untuk memutus rantai tengkulak
08:08dan rantai middleman yang sangat panjang
08:10yang selama ini tidak pernah memberikan keuntungan kepada penonton.
08:12Tidak ada produk yang dijual itu apa.
08:14kalau sekelas Alfamaret, Indomaret, siapa yang dibunuh?
08:18Bahkan ada pernyataan dari Menteri Kooperasi loh pada waktu itu.
08:21Kenapa enggak Indomaret menutup kegeranya
08:23memberikan kesempatan kepada merah putih?
08:26Kan begitu.
08:26Bukan bukan pernyataan Menteri Kooperasi.
08:28Kalau saya, Mbak Ilona, kalau saya jadi bosnya Alfamaret, Indomaret, selesai.
08:35Saya tutup seminggu saja, hancur semua.
08:37Ilona, saya...
08:38Jadi gini, bicara soal MBG.
08:42Sebenarnya kalau kita betul mau ini,
08:45kita studi kasusnya Brazil yang paling tepat untuk belajar itu.
08:49Di Brazil itu ya, Prof ya,
08:51ada yang disebut dengan Programa Nasional De Alimentación Escola.
08:58Jadi itu adalah program yang enggak serta-merta dilaksanakan secara massal.
09:08Dan itu programnya jauh tahun sepuluh.
09:10Ntar, ntar, saya mau...
09:12Anehnya adalah program ini kan asalnya untuk stunting.
09:15Ya, betul.
09:16Saya mau bicara bahwa...
09:17Masa masuk kampus?
09:18Saya mau bicara bahwa Brazil itu...
09:21Brazil itu konteksnya adalah...
09:24Ada kelaparan massal tahun 55.
09:26Program itu diambil dari seorang penulis yang terkenal.
09:30Dia sempat menulis buku namanya...
09:33Apalagi, geopolitik kelaparan.
09:36Joshua de Castro namanya.
09:38Lalu itu yang kemudian diambil oleh pemerintah, dipakai.
09:41Tapi konteks waktu itu untuk mengatasi kelaparan.
09:44Indonesia saat ini enggak ada orang yang lapar.
09:47Jadi kalau kita mau mengambil itu,
09:50maka saya setuju.
09:52Jangan langsung tiba-tiba mengambil anggaran yang besar.
09:56Karena sebenarnya sentimen yang ada sekarang ini adalah...
10:00Ketidakpercayaan struktural.
10:01Tahu artinya ketidakpercayaan struktural dalam bahasa ekonomi adalah...
10:05Sesungguhnya pasar dan investor tidak percaya terhadap program pemerintah.
10:08Nah ini kan makanya karansi kita malah...
10:10Coba saya bilang, dari dulu...
10:12Kalau tidak di-stop MBG ini, rasionalisasi.
10:14Ya kan?
10:15Kalau di-rasionalisasi memang daerah-daerah yang tertinggal dikasih MBG.
10:20Saya rasa ini program yang cantik.
10:22Dan cuma butuh 10 triliun.
10:23Tidak 335 triliun.
10:25Kemana uang ini?
10:26Saya pertanyakan loh.
10:27Saya mau nambah.
10:29Prabowo ketika jadi presiden,
10:32masalah kita sudah terjadi.
10:35Pertama adalah, kalau kita lihat data.
10:37Ini menyangkut kenapa kemudian pendidikan negara kita turun.
10:41Atau tidak naik dengan signifikan.
10:45Kelas menengah kita sudah turun.
10:47Dari 21 persen ke 17 tahun 2024.
10:50Tahun 2005 turun lagi ke 16 persen.
10:53Ada 11 juta sudah, kelas menengah turun.
10:56Tahu kenapa dampaknya terhadap ekonomi kalau kelas menengah turun?
11:00Kelas menengah ini adalah penopang utama pembayar pajak.
11:04Yang kedua adalah, mereka lah yang mengkonsumsi paling besar.
11:10Dan mereka adalah kelas produktif dalam ekonomi yang pada heran.
11:13Kelas menengah fundamental ekonomi yang paling kuat.
11:16Jadi menurut Anda salahnya apa dengan berkurangnya kelas menengah,
11:19kemiskinan juga diakui oleh Presiden Profesional untuk kemarin?
11:22Penyebabnya kelas menengah turun ada dua.
11:24Pertama adalah COVID-19.
11:25Yang kedua adalah deindustrialisasi.
11:35Tapi pertanyaan besarnya adalah,
11:39kenapa kemudian Pak Prabowo justru mengatasi deindustrialisasi
11:44dengan menggerakkan anggaran yang begitu besar pada MBG?
11:48Ini kan aneh.
11:49Itu bukan diktif.
11:49Mestinya ya, Mestinya ya, Mestinya.
11:52Oke, MBG itu adalah program yang sangat bagus.
11:55Jangan dihentikan, saya dukung.
11:56Tapi, mungkin anggaran yang dibutuhkan sekitar 50 triliun paling besar.
12:01Bertahap.
12:02Enggak, enggak, enggak.
12:03Oke, bertahap.
12:05Kemudian, anggaran di ini dong, di anehkan ke...
12:09Soal perusahaan di industrialisasi.
12:10Di industrialisasi, di industrialisasi.
12:13Saya jawab, saya jawab.
12:17Bagus kalau Yusuf, berarti masih menyakini visi-visi lamanya ya.
12:23Industrialisasi ya.
12:24Bawa kita, kita butuh industrialisasi.
12:27Oke.
12:28Ini, sebentar, saya mau bicara dulu, Pak.
12:30Saya mau nanggai Pak Yusuf dulu, Pak Ferry.
12:33Jadi gini, ini mungkin nanti Pak Ferry akan punya tema yang akan bisa dipakai untuk menyerang kami ya.
12:38Tenang aja, saya akan sebut sesuatu.
12:39Tapi saya sudah tunggu.
12:41Gini, ini Pak Prabowo memang membawa sebuah pendekatan baru.
12:45Satu, beliau memperlakukan APBN kita memang terutama untuk sebagai instrumen pemerataan.
12:55Pak Prabowo adalah presiden, saya kira setelah sekian lama, secara khusus menempatkan APBN sebagai instrumen pemerataan.
13:05Tangkap dulu itu ya.
13:07Ini jangan dikritisi secara teknis, Bung N.
13:10Ini sikap ideologis.
13:11Ini posisi ideologis.
13:14Terus, di mana pertumbuhannya?
13:16Kan begitu ya?
13:17Bagaimana engine pertumbuhannya?
13:20Di sini mungkin Pak Ferry bisa mengkritik.
13:23Kenapa Pak Prabowo mendirikan danantara?
13:27Itu adalah sebagai konsolidasi modal domestik untuk mendorong pertumbuhan.
13:33Jadi APBN sebagai mesin pemerataan dan sovereign wealth fund, yaitu danantara, sebagai engine pertumbuhan.
13:40Sekarang saya tanya.
13:41Oke.
13:41Sekarang hasilnya apa dari danantara?
13:44Ada hasilnya sudah 2 tahun.
13:46Dan saya bilang, kalau ini disebut SWF, Anda keliru.
13:49Apa yang namanya SWF, Anda harus paham.
13:51SWF itu ada karena surplus.
13:54Misalnya Norwegia, karena ada surplus dari hasil guminya, dari minyaknya.
13:58Dubai, begitu juga.
14:00Apa yang terjadi danantara isinya adalah aset-aset busuk, bos?
14:04Yang tadinya rencananya ingin dilakukan sebagai penjaminan untuk meleverage, membangun hilirisasi.
14:10Sekarang saya pertanyaakan, berapa sih nilai fair value-nya, intrinsic value-nya, enterprise value-nya, aset-aset danantara?
14:19Can you answer my question?
14:2013 ribu til, ya?
14:2113 ribu til, itu total aset, bos.
14:23Ya, beda kan antara total aset yang ada di buku dengan market value.
14:27Berapa sih?
14:28Baik, coba sekarang saya ke Mbak Elisa.
14:29Mbak Elisa, kalau dari kacamata Anda sebagai ekonom begitu, situasi sekarang ini normal, naik turun rupiah, lemah di hadapan greenback
14:37adalah hal yang normal, nanti berubah lagi.
14:38Atau menurut Anda, ini sudah harus diantisipasi karena rupiah sudah menuju level terendah sepanjang sejarah, Mbak?
14:44Ya, jadi kan kita itu menghadapi dua kasus yang unik ya, jadi pertumbuhan ekonomi kita masih solid, 5,61 secara
14:54kuartalat dibandingkan dengan K1 tahun lalu.
14:58Nah, tapi kita perlu tahu bahwa K1 tahun sekarang, itu kan ada lebaran di K1-nya, dibandingkan dengan tahun lalu
15:05itu adanya di K2.
15:06Jadi kita membandingkan dengan K1 yang belanja spending itu tidak terlalu banyak seperti K1 di tahun 2026.
15:14Jadi secara statistik ini low base effect.
15:16Nah, itu yang pertama.
15:18Terus yang kedua itu adalah karena ada belanja pemerintah yang jor-joran di K1-2026 dibandingkan dengan K1-2025.
15:26K1-2025 itu kan pemerintah masih banyak yang nge-hold anggaran untuk kementerian lembaga karena ada efisiensi tadi.
15:33Oke.
15:34Nah, jadi ini ada low base effect.
15:35Nah, jadi pertumbuhan ini relatif solid.
15:38Nah, tapi di satu sisi kita rupiah terus melemah.
15:41Nah, jadi ini ada dua faktor.
15:43Yang pertama dari sisi domestik dan juga dari eksternal.
15:45Mana yang paling dominan?
15:46Domestik atau eksternal?
15:49Jadi secara fundamental, rupiah kita juga memang volatile.
15:53Karena ada salah satu yang menyebabkan, jadi kan gini, kalau nilai rupiah itu kan ada supply sama demand ya.
16:02Nah, supply-nya itu kan relatif tetap.
16:04Sementara demand-nya itu untuk periode ini itu relatif tinggi.
16:09Karena untuk bayar dividen, laba, ya musiman, juga haji juga.
16:14Ditambah lagi ada konflik geopolitik.
16:17Ini semakin memperparah capital outflow.
16:20Nah, jadi sebetulnya ini kenapa jadi dari misalkan dari kursus rupiah langsung hubungannya dengan MBG.
16:27Jadi, dari awal tahun 2026, MUDIS itu memperingatkan kita bahwa Indonesia ini harus hati-hati dalam manage fiskalnya.
16:38Karena pada saat itu fiskal kita, defisitnya itu hampir menyentuh 1% terhadap PDB.
16:43Padahal itu masih di awal tahun.
16:45Sedangkan kita punya batasan maksimal itu 3% terhadap PDB.
16:48Nah, jadi karena belanja kita yang jor-joran, ditambah lagi dari sisi pendapatan kita relatif kurang.
16:57Nah, sehingga ada kekhawatiran ini fiskal keberlanjutan seperti apa.
17:02Nah, jadi ini yang menyebabkan investor ini was-was.
17:06Sehingga banyak dolar yang pulang kampung istilahnya gitu.
17:09Jadi, respon pemerintah yang ada sekarang menurut Anda sudah menjawab masalah, sudah menenangkan market, atau justru hanya returga alas mata?
17:17Ya, pidato kemarin itu buktinya IHSG masih melemahkan sampai 5% sampai penutupan.
17:22Jadi, kita lihat bahwa investor itu masih wait and see.
17:26Jadi, walaupun pidatonya itu sangat menggugah ya, karena itu ada semacam seperti narasi reset ekonomi.
17:33Yang biasanya itu pro pertumbuhan tinggi, sekarang lebih ke pertumbuhan yang inklusif, adil dan berdaulat, sesuai dengan visi beliau.
17:44Tapi, dari niat mulia-nya beliau yang ingin berdaulat, adil dan makmur, tapi strateginya itu kurang mencerminkan hal tersebut.
17:55Strategi kurang mencerminkan hal tersebut.
17:57Sehingga market kemarin menurut Mbak Elisa memerah, kita lihat dalam pidato presiden. Silahkan.
18:03Karena masih kurang percaya.
18:04Masih kurang percaya katanya.
18:05Belum ada ini ya, konkretnya.
18:07Iya, makasih Mbak. Mungkin kalau kita mau bahas ya, kenapa market merah, kenapa tidak diterima dengan baik.
18:15Saya sebenarnya kalau kita lihat visinya Presiden Prabowo ini sangat bagus.
18:19Mungkin satu hal yang harus saya garis bawahi ya, mungkin ini saya di PR dari tim ekonominya.
18:24Mungkin dari awal kepada Presiden, itu harus diceritakan dengan clear bahwa ekonomi ini kan berubah terus ya Mbak.
18:31Kita nggak pernah tahu, kayak kata Prof. Fadi tadi, harga minyak naik gitu.
18:36Itu harus bisa dikomunikasikan.
18:37Karena kalau saya lihat sebenarnya ya, pelemahan rupiah ini, ini selalu terjadi.
18:42Dan bertahun-tahun, 2013, 2018, 2022, 2026, itu terjadi kenapa?
18:50Karena ketika ada perubahan harga global, harga minyaknya naik, karena kondisi perekonomian kita, dan juga kebutuhan sosial rakyat kita mas,
18:59kita nggak bisa mengejas harga BBM.
19:02Sehingga yang kita lihat sekarang, problem global itu tidak terefleksikan di sektor real.
19:08Sektor realnya tumbuh 5,6 persen dengan ekspansi fiskal, tapi yang jadi korban itu memang sektor keuangan.
19:15Nah, di sini yang sebenarnya harus kita jadi bawahi, sektor keuangan ini memang yang cepat transmisinya itu membuat, mungkin jadi
19:23pesimisme.
19:23Tapi yang digaris bawahi sama Mbak Elisa tadi adalah fiskal.
19:27Disiplin, kita nggak terlalu disiplin soal fiskal, karena kemarin juga sempat di-print lah ya, dikasih alarm sama MUDIS, itu.
19:34Yang memengaruhi prosely market.
19:36Memang kalau kita lihat dari statementnya MUDIS, yang harus di-improve di sini adalah memang terkait dengan predictability.
19:42Predictability dari APBN, yang harus dikomunikasikan oleh tim fiskal dan juga tim ekonominya Presiden.
19:49Ini kan kita punya program MBG ya, program KDMP ya, kalau misalnya harga minyaknya sampai Rp150 seperti apa, itu harus
19:57diceritakan.
19:58Itu harus diceritakan, Pak.
19:59Kalau nggak diceritakan, pasar bingung.
20:02Itu yang kita lihat kejadiannya sekarang, walaupun program ini pada dasarnya bagus, walaupun kemarin akhirnya Pak Purubaya memberikan guidance bahwa
20:10akan ada penyesuaian.
20:12Tapi alangkah lebih baik kalau penyesuaiannya itu dilakukan lebih awal.
20:16Ini seringkali memang yang kejadian pada kondisi saat ini, program-programnya itu bagus, oke, sudah memberikan multiplier yang cukup, yang
20:25baik, tapi permasalahannya itu komunikasinya tidak optimum.
20:29Dan saya rasa tim ekonomi Presiden harus menjelaskan kepada Presiden apa dampak dari kebijakan kita.
20:35Wajah Bang Effendi kok tegang sekali, masih bingung Bang?
20:38Iya, saya sebetulnya bukan saya sendiri nih, saya suka bertanya-tanya sama yang di belakang saya ini.
20:43Ya, masih bingung kan? Ini kan udah jelas, mereka senyum tapi bingung.
20:48Jangan-jangan ini yang sedang terjadi di tengah rakyat kita.
20:51Bangsa kita ini diklaim atau katanya hasil riset tuh bangsa yang paling bahagia loh Pak Perry.
20:58Iya, benar.
20:59Ini kemungkinan besar termasuk yang bahagia nih ya, bahagia.
21:03Tapi masih tetap bingung.
21:05Karena tiga hal, satu, kadang-kadang kami suka mendengar yang tidak terdengar di rapat DPR kemarin itu, ada mic yang
21:13kebuka gitu.
21:14Terus ada kalimat, yang penting jangan teriak, hidup Jokowi, misalnya gitu ya.
21:20Kita dengar, ini bercanda apa bagaimana sih rapatnya dia.
21:24Oh mungkin maksudnya jangan dihubung-hubungkan dengan pemerintahan sebelumnya, misalnya gitu.
21:30Kan kita bertanya-tanya, apa nih dari situ?
21:32Yang kedua, tadi seru MBG dan Kooperasi Merah Putih pasti program yang terbaik.
21:39Sesuai dengan konstitusi, inklusif tadi ya, sudah memberikan kepada rakyat lah, pemerataan.
21:46Cuma kan terlalu lama kelirunya.
21:49Kalau belajar dalam, apa ya, di setiap Departemen Ilmu Komunikasi, dimanapun ada, semester tiga ada komunikasi pembangunan.
21:57Ya itu cara melaksanakannya.
22:00Dicoba dulu, di enam tempat, di tujuh tempat, di lapan tempat, tiga SD, dikumpulin ibu-ibunya.
22:08Kemudian sesudah itu, bisa gak mengkoordinir diri sendiri, ya kan untuk mencari tadi, sumber-sumbernya apa, telurnya dari mana, ikannya
22:15dari mana.
22:16Ya itu yang kedua, berapa lama nih kita perbaiki?
22:19Jadi kan kita sudah mulai dari Oktober 2024.
22:23Setuju Bang Budiman, perbaikan dilakukan.
22:25Tapi kapan? Kapan kita lihat perbaikannya?
22:29Nah itu kan membuat kita bingung juga.
22:31Lalu yang ketiga, sekali lagi, ketika berbicara keadilan, kadang-kadang retorika ini menarik, bagus, dan kita sempat bisa terhibur sebentar.
22:39Tapi kemudian setelah kita lihat dijadikan bahan di media sosial, kenapa tadi saya singgung antara guru dan hakim?
22:46Kan muncul pertanyaan.
22:48Ketika kita bicara keadilan, kenapa hakim saja yang dinaikkan, gitu.
22:52Oh supaya mereka jangan curang.
22:54Nah, tetapi guru bagaimana?
22:56Jadi maksud saya keadilan, inklusivitas tadi ya, yang membuat ekonomi bergerak, rakyat bergerak, itu guru gak masuk di situ misalnya.
23:05Jadi sekali lagi, kalau ditanya sampai saat ini, kita tetap ingin mempercayai.
23:10Tapi kalau bicara soal bingung atau tidak, bingung masih.
23:16Artinya masih bingung, gak ada perbaikan ini.
23:19Saya khawatirnya gini nih, Ilona, sama seperti minggu lalu, sampai di ujung acara nanti, kita masih bingung.
23:24Nah itu kekuatannya.
23:25Boleh, saya jelasin.
23:30Jadi memang kita harus bisa memahami fenomena daripada pelemahan rupiah ini kenapa sih?
23:35Ada dua faktor utama.
23:36Ada satu yang bersifat teknikal.
23:38Ada satu yang bersifat sentiment based.
23:40Ini kita harus pahami dulu.
23:41Apa yang bersifat teknikal tadi sudah dijelaskan, it's essentially the supply and demand.
23:44Di mana demand daripada dolar ini sedang tinggi dan demand terhadap rupiah sedang rendah.
23:48Nah kita harus bedah dulu, apa sih yang secara teknikal membuat demand daripada dolar ini lebih tinggi?
23:52Jadi ada beberapa faktor kalau kita berbicara teknikal.
23:54Satu ada outflow dari pasar SBN kita.
23:57Di mana spread antara SBN 10 tahun kita jika dibandingkan dengan spread, dengan yield daripada treasury 10 year, itu jaraknya
24:03terlalu tipis.
24:04Ini sudah disolve dengan BI ketika kemarin menaikan suku hubungan kita 50 basis point.
24:09Sehingga kita berharap deltanya akan semakin tebal dan kita akan bisa mengalami back in flow.
24:12Kita juga mengalami outflow di capital market kita.
24:15Tentu saja dengan dinamika yang terjadi oleh MSCI.
24:18Di sini kita, Presiden menitipkan pesan kepada kita.
24:20Kalau kita memiliki penyakit, kita memiliki kekurangan, kita harus berani mengakui itu.
24:24Tata kelola kita memang perlu diperbaiki.
24:26Dan itu yang sudah dilakukan oleh OJK, oleh BI, dan juga dari SRO-SRO.
24:32Lalu ada juga yang festive events tadi seperti yang dijelaskan.
24:35Ada outflowing seasonal, ada musim haji, ada juga memang musim bar dividen.
24:39Tapi ini tidak terjadi hanya ketika musim haji.
24:40Musim liburan, akhir tahun ketika orang liburan, juga hal ini juga terjadi.
24:44Lalu yang terakhir adalah faktor geopolitik.
24:46Dimana harga minyak hari ini sedang tinggi.
24:48Dan kita tahu hari ini kita memang masih the net importer of crude oil.
24:52Dan pemerintah melakukan langkah yang begitu berani untuk tetap menjaga harga BBM subsidi.
24:57Supaya transmission daripada inflation itu tidak terjadi secepat itu.
25:00Memang konsekuensinya adalah kebutuhan dolar menjadi lebih tinggi.
25:03Karena pemerintah harus membayar subsidi itu dengan dolar.
25:04Betul.
25:05Tapi on the other hand, pemerintah melakukan sebuah keputusan politik yang amat berani
25:09untuk tidak menaikkan harga BBM untuk menjaga daya beli masyarakat.
25:12Inilah contoh keputusan, kebijakan yang diambil demi kebaikan daripada rakyat Indonesia.
25:17Kedua, kita perlu mengerti betul.
25:19Presiden adalah presiden yang sangat mengerti terhadap ekonomi.
25:23Itulah kenapa selama ini ketika rupiah melemah,
25:24berkali-kali Gubernur BI, Menteri Keuangan, Menteri Menko diundang.
25:28Presiden tahu bahwa efek daripada pelemahan rupiah
25:31pasti akan memiliki transmission effect terhadap inflation.
25:34Yang presiden sekarang lakukan adalah
25:36bagaimana caranya memperlambat transmission speed daripada inflation itu
25:40melalui kebijakan-kebijakan seperti menahan harga subsidi BBM.
25:43Di tengah upaya yang dilakukan oleh presiden maupun di pidato kemarin,
25:46kita mendengar juga bahwa Pak Anies ikut berkomentar.
25:49Katanya situasi sebenarnya tidak baik-baik saja.
25:51Jadi meminta pemerintah agar jujur saja menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi.
25:57Jangan kasih obat tidur.
25:59Presiden tidak pernah menggampangkan situasi hari ini.
26:01Presiden selalu mengatakan bahwa hari ini adalah global uncertainty yang sangat luar biasa.
26:06Dan pemerintah di situ harus hadir.
26:07Dan kebijakan-kebijakan untuk memperkuat mata uang rupiah sudah dilakukan oleh BI.
26:12Kita mulai dari instrumen SRBI, mulai dari menaikkan suku bunga,
26:16mulai dari optimalisasi devisa hasil ekspor
26:19supaya inflow daripada foreign capital bisa masuk ke dalam Indonesia.
26:23Itu bukti nyata supaya Indonesia bisa memperkuat nilai tukar kita.
26:27Terakhir Mbak Ilona, langkah yang paling penting adalah
26:29At the end of the day, kita harus semakin membuat dependency kita terhadap USD semakin rendah.
26:34Oke.
26:35Inilah kita harus kemandiran energi.
26:37Jadi menurut Anda Pak Anies cuma numpang isu saja?
26:40Pak Anies cuma numpang isu saja menurut Anda.
26:42Saya tidak ingin berkomentan untuk beliau,
26:43tapi beliau saya rasa tidak bijak dalam melihat apa yang sudah dilakukan.
26:47Tidak menggampangkan kok katanya Presiden,
26:49sementara kata Pak Anies bahwa tolong jangan kasih obat tidur masyarakatnya.
26:54Iya, jadi begini, jurubicara Presiden atau orang-orang Presiden boleh saja bilang bahwa Presiden serius.
27:00Tapi ketika Presiden dikasih mik gitu,
27:03omongannya langsung bikin stres pasar.
27:08Contohnya apa Bang?
27:10Apa?
27:10Contohnya apa?
27:11Ya, soal dolar misalnya.
27:14Bilang bahwa orang desa tidak pakai dolar.
27:16Abang nonton full videonya enggak?
27:17Atau cuma nonton cuplikan otomatis di TikTok?
27:19Abang nonton.
27:20Bahkan kemarin waktu di...
27:21Kesimpulannya apa dari pidato itu?
27:23Kesimpulannya market jebol,
27:24dia dolar naik.
27:25Ya, ini langsung seperti mengolok-ngolok ketidakpercayaan pasaran investor gitu loh.
27:31Seperti bilang kalian salah.
27:33Bukan, Abang ini seluruh pidato yang ditanyakan oleh Vajilan,
27:36seluruh pidato itu main ideanya apa?
27:40Itu hanya satu cuplikan saja dari...
27:42Ya, ya, oke.
27:43Tapi itu penting.
27:43Kalau itu tanya kepada pasar.
27:45Pasar bereaksi bagaimana?
27:47Justru itu yang paling...
27:47Prof, harus dibedakan.
27:48Mana yang sentimen, mana yang fundamental.
27:50Justru itu yang paling dibedakan, Pak.
27:51Jadi kan begini.
27:51Saya kira kita semua mengerti soal...
27:54Tidak intinya dari pidato di Nganju,
27:55saya hadir di sana juga.
27:56Ide pidato di Nganju itu,
27:58intinya apa kalau menonton total?
28:00Intinya apa?
28:00Berusampaikan di situ.
28:02Ya.
28:02Dari awal sampai akhir.
28:04Pak Prabowo...
28:04Sampai mengatakan Om Swastiatu sampai Om Santi Santi Om itu apa?
28:07Oke, sebentar.
28:08Prabowo kan sebenarnya mengatakan bahwa...
28:11Kita sebenarnya bisa keluar dari situasi krisis ini.
28:15Kita sedang membangun, meyakinkan rakyat ini ya,
28:17membangun kapasitas produksi nasional kita untuk bisa di masa depan ini baik.
28:23Pemerintah sedang menata.
28:26Percayalah kepada kami.
28:27Tapi kemudian ketika mengomentari soal rupiah yang jatuh, dolar yang menguat,
28:35itu kemudian justru itu yang digaris tebal oleh investor dan pasar,
28:39dan kemudian langsung jeblok.
28:41Mestinya kan tidak seperti itu.
28:43Presiden mestinya meyakinkan,
28:45hai rakyat Indonesia, tenang saja,
28:48kami akan melakukan hal yang terbaik.
28:50Dari segi moneter, BI sudah melakukan tugasnya,
28:53dari kemudian dari fiskal kami akan melakukan.
28:55Dan kalau kita lihat, apa solusi pemerintah?
28:59Perubaya mengeluarkan bond stabilisasi fund,
29:032 triliun setiap hari.
29:07Itu aneh.
29:09Saya tidak yakin ini bisa berhasil.
29:12Kalau nanti ini tidak berhasil,
29:15kita pasti akan jauh makin dalam krisisnya.
29:19Ini bond stabilisasi fund ini,
29:21ini dia beli atau dia jual?
29:23Ini beda loh.
29:24Kalau dia bilang, saya mengeluarkan 2 triliun,
29:27artinya dia membeli.
29:29Kalau Anda membeli surat utang negara,
29:32artinya apa?
29:32Mereka suplai naik, Pak.
29:34Harga naik, yield turunnya.
29:38Kalau yield turun, gap makin besar dengan treasury.
29:42Terbalik.
29:43Apa yang dilakukan oleh Perubaya terbalik.
29:45Makanya saya bilang, Perubaya tidak paham ekonomi.
29:50Justru seharusnya kita kembali,
29:53membuat gap.
29:55Bukan semakin mengecil,
29:57tapi untuk meng-cover risk premium,
29:59karena memegang rupiah dari risikonya,
30:01harus memberikan yield yang lebih tinggi.
30:03Proferi, anyway.
30:04Bukan yang lebih rendah.
30:06Dan Anda lihat sekarang,
30:07all over the world,
30:08curve yield curve,
30:10all over the world,
30:11negara,
30:11itu shifting up, bos.
30:13Makanya,
30:1450 basis point kemarin,
30:15yang dinaikkan oleh BI,
30:16menurut saya,
30:17Peri tahu,
30:18bahwa ini tidak akan bekerja.
30:19Karena apa?
30:20Kalau ini untuk memerangi inflasi,
30:22cost-pust inflation, bos.
30:23Tidak bisa dengan moniter.
30:24Ya kan ya?
30:25Tapi karena dia diserang di DPR,
30:27ya kan?
30:27bahwa Anda sebetulnya ngapain aja.
30:29Ini pun salah,
30:31menyerang Peri.
30:32Boroknya itu bukan di monitor,
30:33tapi di fiskal.
30:34Tapi di fiskal boroknya katanya.
30:36Oke, thanks Proferi.
30:37Cuma saya mau coba bikin sedikit komplit.
30:40Sementara ada trade-off itu,
30:41yang dihadapi oleh KemenQ kita sama BI.
30:44Kenapa pada ngeluarin SRBI?
30:46Yang diperjuangkan ya,
30:47jadi kita ada trade-off ini.
30:48Mau ongkos biaya bunga negara kita masih terkendali,
30:53atau mau rupiah kita kuat?
30:55Jadi salah satu penyebab kita rupiah melemah ini sekarang,
30:57gara-gara,
30:58ya tadi tuh,
30:59Bond Stabilization Fund,
31:00tujuannya apa?
31:01Supaya ongkos bunga dari APBN kita,
31:04itu gak naik banyak.
31:05Jadi ini juga nih,
31:06kita mesti aware nih,
31:07bahwa ada yang diperjuangkan pemerintah,
31:09yang memang eventually,
31:10saya setuju sama Proferi tadi,
31:13by the end.
31:13Tapi memang by the end,
31:15yang harus dilakukan sama pasar sekarang,
31:18ini gejolaknya ini bisa permanen,
31:19bisa lama.
31:20Jadi memang bunganya harus dinaikkan,
31:23kurva imbal hasilnya harus dibikin steep,
31:24harus dinaikkan ke atas.
31:25Seek-seek-seek.
31:26Tapi di sini kita mesti ngerti juga,
31:28itu ada pemerintah,
31:29sebenarnya harus jaga daya bunga.
31:32Masalah kita ini sebenarnya sederhana saja.
31:35Andaikan Presiden kita,
31:36mau mengkoreksi,
31:38program populasi yang terlalu banyak,
31:39menyerap anggaran itu.
31:41Makanya saya bingung.
31:42Sebenarnya pasar dan investor.
31:43Ini masih konsen soal fiskal,
31:45nanti kita lanjutkan program,
31:46sebenarnya pasar maunya cuma itu saja.
31:48sem Nok telah mengenai—
31:48ya.Yo
31:50memorial nih. Terima
31:56kasih. Terima
Komentar

Dianjurkan