KOMPAS.TV - Iran dan Amerika Serikat dikabarkan hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Pemerintah Iran melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Ismail Baghaei, mengonfirmasi bahwa kedua negara tengah mendiskusikan sejumlah poin nota kesepahaman.
Iran menyatakan tengah memfinalisasi nota kesepahaman tersebut yang memuat 14 poin, salah satunya terkait Selat Hormuz.
Iran menyebut, dalam waktu 30 hingga 60 hari, rincian kesepakatan akan dibahas sebelum kesepakatan akhir tercapai.
Senada dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial Truth Social menulis bahwa sebuah kesepakatan benar-benar tengah dinegosiasikan dalam nota kesepahaman untuk damai.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump juga menulis bahwa aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut sedang dibahas dan akan segera diumumkan.
Selain banyak elemen lain dalam perjanjian tersebut, Selat Hormuz disebut akan dibuka kembali.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, juga menyinggung progres tersebut di tengah kunjungannya ke India.
Namun, Rubio menegaskan tujuan utama Amerika Serikat tidak berubah, yakni tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, Angkatan Laut Kerajaan Inggris bersiap memulai operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz segera setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan.
Jika kesepakatan damai ini benar-benar tercapai, apakah hal tersebut akan menjadi momentum untuk mengakhiri seluruh bentuk serangan?
Apakah ini dapat menjadi jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan, baik di Iran maupun kawasan Timur Tengah?
Hal tersebut dibahas bersama Guru Besar Keamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia, Angel Damayanti, serta Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.
Baca Juga 9 WNI Tiba di Indonesia, Menlu Sugiono: Terima Kasih Pemerintah Turki Ikut Bantu di https://www.kompas.tv/nasional/670801/9-wni-tiba-di-indonesia-menlu-sugiono-terima-kasih-pemerintah-turki-ikut-bantu
#as #trump #iran #perang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670805/full-peneliti-dan-guru-besar-soal-iran-as-hampir-capai-perdamaian-jamin-tak-saling-serang-lagi
Pemerintah Iran melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Ismail Baghaei, mengonfirmasi bahwa kedua negara tengah mendiskusikan sejumlah poin nota kesepahaman.
Iran menyatakan tengah memfinalisasi nota kesepahaman tersebut yang memuat 14 poin, salah satunya terkait Selat Hormuz.
Iran menyebut, dalam waktu 30 hingga 60 hari, rincian kesepakatan akan dibahas sebelum kesepakatan akhir tercapai.
Senada dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial Truth Social menulis bahwa sebuah kesepakatan benar-benar tengah dinegosiasikan dalam nota kesepahaman untuk damai.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump juga menulis bahwa aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut sedang dibahas dan akan segera diumumkan.
Selain banyak elemen lain dalam perjanjian tersebut, Selat Hormuz disebut akan dibuka kembali.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, juga menyinggung progres tersebut di tengah kunjungannya ke India.
Namun, Rubio menegaskan tujuan utama Amerika Serikat tidak berubah, yakni tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, Angkatan Laut Kerajaan Inggris bersiap memulai operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz segera setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan.
Jika kesepakatan damai ini benar-benar tercapai, apakah hal tersebut akan menjadi momentum untuk mengakhiri seluruh bentuk serangan?
Apakah ini dapat menjadi jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan, baik di Iran maupun kawasan Timur Tengah?
Hal tersebut dibahas bersama Guru Besar Keamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia, Angel Damayanti, serta Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.
Baca Juga 9 WNI Tiba di Indonesia, Menlu Sugiono: Terima Kasih Pemerintah Turki Ikut Bantu di https://www.kompas.tv/nasional/670801/9-wni-tiba-di-indonesia-menlu-sugiono-terima-kasih-pemerintah-turki-ikut-bantu
#as #trump #iran #perang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670805/full-peneliti-dan-guru-besar-soal-iran-as-hampir-capai-perdamaian-jamin-tak-saling-serang-lagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:01Saudara Presiden Amerika Serikat Donald Trump bilang Selat Hormuz akan dibuka dan segera umumkan kesepakatan yang dicapai dengan Iran.
00:09Iran pun bilang detail kesepakatan itu akan dibahas hingga 60 hari ke depan.
00:13Lalu apakah ini bisa jadi jaminan tidak akan ada lagi serangan balik atau baik di Iran maupun di wilayah Timur
00:20Tengah.
00:20Kita bahas bersama Guru Besar Keamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia Angel Damayanti dan peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah
00:29Kusuma Somantri.
00:31Selamat malam Mbak Angel, Mbak Aisyah.
00:33Selamat malam Mas Radi.
00:36Saya ke Mbak Angel dulu, kalau akhirnya tercapai kira-kira mampukah kesepakatan ini menjamin Amerika Serikat dan Israel gak akan
00:43saling serang lagi Mbak Angel?
00:48Satu Mas, saya sendiri belum yakin kesepakatan ini bisa tercapai Mas, itu dulu.
00:54Artinya gini, dengan 14 poinnya Iran dan 10 kalau gak salah dari Amerika ya.
01:03Dua yang paling berat sebenarnya.
01:05Satu tentang pengelolaan selat hormus, dan yang kedua tentang penggunaan uranium untuk Iran.
01:14Atau yang kalau dalam bahasanya ini pengayaan uranium gitu ya.
01:18Dua poinnya ini kan yang paling berat.
01:20Ya, enrichment.
01:21Dua poinnya ini paling tidak bisa disetujui.
01:24Yang lain-lainnya ya itu mungkin masih negosiable gitu ya.
01:28Tentang penutupan pangkalan militer Amerika dan lain sebagainya.
01:34Atau penghentian proksi dan lain sebagainya.
01:36Mungkin itu negosiable.
01:36Tapi yang dua ini kan buat Iran itu memang sangat penting.
01:42Terutama yang pengayaan uranium.
01:44Dan di sisi lain tentang selat hormus buat Amerika.
01:48Dengan atas nama freedom of navigation lah.
01:51Atas nama melindungi.
01:54Katakanlah kepentingan mi energi atau kepentingan negara-negara kawasan dan sebagainya.
02:00Itu penting banget tuh buat Amerika.
02:02Sehingga poin kesepakatan itu saja saya masih agak ragu.
02:06Mas Olaupun dibilang dalam 60 hari.
02:07Dan itu artinya kan mudah-mudahan dalam 60 hari ini tidak ada serang-serangan ya.
02:11Artinya ada gencatan senjata lah selama 60 hari itu.
02:14Pun dengan catatan misalnya, kita kan gak tahu Israel akan bagaimana.
02:19Nah kemudian proksi-proksi katakanlah Hezbollah atau negara-negara kawasan gitu ya.
02:27Arab Saudi, Uni Emirat Arab.
02:30Ini kan responsnya juga beda-beda ya mas.
02:32Mudah-mudahan semua menahan diri.
02:34Asumsikanlah skenario yang the best.
02:37Semua bisa menahan diri dan gencatan senjata.
02:40Benar-benar 60 hari berhasil.
02:42Dan 60 hari kemudian tercapai kesepakatan.
02:44Ya itu saja sudah langkah bagus dan tinggal dijaga ke depannya memang tidak ada lagi.
02:50Karena gini mas, kesepakatan ini hanya baru antara Amerika dengan Iran.
02:54Kita belum bicara tentang Iran dengan Israel.
02:57Nah itu tugas berat lagi tuh yang harus dilakukan oleh negara-negara di kawasan.
03:02Sehingga ya mungkin kita bicaranya step by step ya mas.
03:06Gak bisa langsung kita lihat nama ini ke depan.
03:08Mungkin itu jawaban saya mas.
03:09Oke, nah kalau saya coba enlarge bahasan yang dikatakan oleh Mbak Angel tadi.
03:14Saya kan Mbak Aisyah kalau gitu.
03:15Kita tahu beberapa waktu lalu.
03:17Netanyahu sempat bilang atau juga sempat berang gitu ya.
03:20Sempat marah gitu.
03:21Karena Donald Trump gak ingin lagi serang Iran katanya.
03:23Nah bagaimana kira-kira Israel akan berstrategi lagi dengan proses negosiasi ini Mbak Aisyah?
03:30Ya makasih Mas Radhi.
03:31Nah ini cukup lari kalau kita lihat ya.
03:33Karena memang kadang-kadang kita tuh mengkategorisasikan Amerika Serikat dan Israel sebagai satu negara dengan satu kepentingan yang sama.
03:41Tapi sebenarnya kepentingan mereka berbeda di Timur Tengah.
03:44Saya kira di sini yang menjadi proponen dari peperangan ini itu adalah Israel.
03:49Dan kadang-kadang di tengah pembicaraan mengenai perang ini narasi tentang Israelnya ini hilang gitu.
03:54Kita hanya fokus ke Amerika Serikat dengan Iran.
03:57Tetapi kita lihat sebenarnya Israel sendiri sekarang juga sedang berada di dalam garis penentuan nih Mas.
04:03Karena sebentar lagi di bulan Oktober nanti Israel ini akan mengalami pemilu.
04:07Sementara kemudian kita lihat sebenarnya Benjamin Nathan Yahweh ini kan merupakan salah satu pemimpin yang sebenarnya memiliki basis dukungan di
04:14masyarakat sayap kanan ekstrim di Israel.
04:18Dan apa yang kemudian jarang kita lihat di media-media barat gitu.
04:21Itu sebenarnya di Israel sendiri hampir tiap hari sekarang ada demonstrasi anti perang di dalam Israelnya gitu.
04:27Jadi sebenarnya posisi dari Benjamin Nathan Yahweh sekarang itu agak-agak bergoyang sedikit di dalam negerinya.
04:34Nah sementara dari partai politik lawannya yaitu dari aliansi ya Yair Lapid dan kemudian Naftali Bennett itu juga sekarang sudah
04:41mulai bergerak.
04:42Dan sekarang kita lihat bahwa dari segi polling perlebutan kursi itu sekitar 50-50.
04:47Makanya saya kira disini sebenarnya Benjamin Nathan Yahweh ini juga berusaha keras untuk appeasing pemilih di dalam negerinya.
04:54Agar dia bisa mensecure kursi pemilunya terlebih dahulu sebelum bisa melakukan apapun disitu.
04:59Jadi sebenarnya disini ada perdebatan politik dalam negeri juga.
05:02Nah selain itu saya kira disini Amerika Serikat dan Iran ini kan berada di dalam yang namanya adalah escalation trap.
05:08Kalau kita lihat dari segi negosiasi sebenarnya kedua negara ini berada di dalam situasi yang bisa dijelaskan dari teori.
05:15Namanya adalah Prisoner's Game Security Dilemma gitu ya.
05:20Nah kalau kita lihat disini apa yang muncul adalah kedua negara masih berusaha untuk kemudian menaikkan tangga ekskalasi.
05:26Tapi mereka berusaha juga untuk melihat ada potensi lain yang sebenarnya lebih menguntungkan yaitu adalah melakukan negosiasi.
05:33Masalahnya kedua negara ini tidak bisa melakukan negosiasi karena merasa bahwa mereka memiliki trust deficit atau deficit kekuatan kekuatan yang
05:41besar.
05:42Nah saya kira sebenarnya Israel ini memanfaatkan hal ini untuk bisa meminta baik itu Amerika Serikat ya
05:49ataupun kemudian negara-negara lain di kawasan Timur Tengah untuk kemudian melanjutkan peperangan dibandingkan dengan pergi ke meja negosiasi.
05:57Karena balik lagi ya tujuan utama Israel untuk mengganti rezim serta kemudian untuk melemahkan kapasitas Iran di kawasan Timur Tengah
06:05itu masih belum tercapai.
06:06Oke saya kembali ke Mbak Angel.
06:10Tadi dikatakan isu program nuklir Iran ya Enrich Uranium ini masih jadi sticking point besar ya begitu untuk meraih kesepakatan
06:18yang lebih reliable lagi,
06:22lebih konsisten lagi di antara kedua belah pihak.
06:25Nah saya ingin bertanya apakah dalam 60 hari ini ada peluang kesepakatan subtantif atau hanya ditunda?
06:31Dan apa yang harus diantisipasi oleh Iran bukan dari Amerika Serikat melainkan dari Israel kali ini?
06:39Gini Mas, bicara tentang pengayaan uranium, Iran kan sudah beberapa kali yang menyebutkan ini sebenarnya untuk kebutuhan dalam negeri.
06:47Katakanlah untuk listrik gitu ya atau kebutuhan energi dalam negeri.
06:50Dan sebelumnya kan Iran juga diawasi oleh IAE, dulu juga Amerika sempat membuat apa itu, ada gabungan yang kemudian Trump
07:00keluar tuh untuk GCPOE ya,
07:02yang untuk mengawas tentang pengayaan uranium ini.
07:05Dan Mas, ini kan dulu dibentuknya di tahun 50-an, 60-an itu yang mensupport itu Amerika gitu ya.
07:15Tapi kemudian karena ada revolusi Iran tahun 79 terus Amerika jadi berbeda sikapnya gitu ya terhadap pengayaan uranium.
07:21Artinya gini, tentang uranium atau pengayaan uranium ini, saya melihatnya itu ibarat pisau Mas.
07:32Pisau itu ada di tangan siapa?
07:34Kalau pisau itu ada di tangan teman kita, sahabat kita, mungkin kita gak akan melihat itu sebagai ancaman.
07:41Tapi ketika pisau itu ada di tangan musuh kita atau orang yang gak suka sama kita, kita akan melihat pisau
07:48di tangan itu sebagai ancaman.
07:49Ya, sebenarnya bukan pisaunya yang jadi masalah, tapi siapa yang memegang pisau ini?
07:55Siapa yang memegang pisaunya, ya.
07:57Artinya ketika Israel melihat Iran punya uranium, nah masalahnya Iran dan Israel saat ini tidak dalam hubungan yang baik-baik
08:07saja.
08:08Kalau itu terjadi di tahun, let's say tahun sebelum 79 saja, Israel mungkin tidak akan menganggap ini sebagai ancaman.
08:15Tapi setelah 79 ada pergantian rezim, disitulah baik Israel maupun Amerika, karena Amerika teman dekatnya Israel, akan melihat uranium yang
08:27ada di tangan Iran itu sebagai ancaman.
08:30Itu menurut saya, Mbak Rady.
08:31Baik, saya kembali ke Donald Trump kalau begitu, Amerika Serikat.
08:36Sekarang kita bicara tentang pemimpin dunia yang sepertinya saat ini paling tidak konsisten omongannya, paling tidak pernah bisa dipegang begitu
08:46ya.
08:46Nah, saya ingin analisis Anda juga terhadap pernyataan Donald Trump sebenarnya, bahwa kesepakatan dengan Iran ini largely negotiated dan Selat
08:55Hormuz akan dibuka.
08:56Nah, apakah ini lebih bersifat political signaling dari Trump atau memang ada kemajuan substantif sebenarnya?
09:04Ya, makasih Mas Radina, ini cukup menarik ya.
09:07Kalau kita bicara Trump sepertinya tidak akan ada habisnya.
09:09Karena pertama gini, kalau kita lihat memang Donald Trump ini, ini sering digadang-gadang sebagai pemimpin yang sebenarnya unpredictable.
09:16Tapi, kalau kita lihat polanya, sebenarnya ada nih hal yang bisa kita analisis dari apa yang dilakukan oleh Donald Trump.
09:22Yang pertama adalah Donald Trump selalu signaling kemenangan setiap kali kemudian yield di Amerika itu naik dan kemudian harga-harga
09:30barang itu kemudian mulai meningkat ya.
09:33Kayak misalnya energi, bahan pangan, dan lain-lain.
09:34Itu dilakukan untuk kemudian bisa menurunkan harga pasar secara natural.
09:38Lalu yang kedua, sebenarnya kita lihat, Trump ini melihat dirinya sebagai seorang dealmaker.
09:43Tetapi dealmaker yang seperti apa?
09:44Nah, kita lihat sebenarnya ada strategi tertentu yang dimanikan oleh Donald Trump di sini.
09:47Yang pertama dia akan mengirimkan sebenarnya proposal yang kemudian outrageous, yang luar biasa kemudian tidak masuk akal.
09:55Dan ini kemudian yang kita lihat, kata-kata terkait kemudian serangan, penggunaan senjata nuklir, dan lain-lain.
10:01Itu yang dilakukan oleh Donald Trump.
10:02Dan kemudian setelah Donald Trump membiarkan efeknya sinking, ada keributan yang terjadi akibat dari statement-statementnya,
10:10yang dilakukan oleh Donald Trump adalah menarik statement tersebut,
10:13kemudian dia memasukkan statement yang sebenarnya menjadi inti dari negosiasi mereka.
10:18Dalam hal ini, diinginkan oleh Donald Trump berhentinya perang dan masalah pengayaan nuklir Iran.
10:24Dan kita lihat di sini, sebenarnya kan masalah nuklir ini sudah selesai,
10:27harusnya di tahun 2015 ketika GCPOA itu ditanggah tangani.
10:31Atau bahkan kemudian ketika kita bicara di tahun 2025,
10:34ketika Iran ini setuju untuk melakukan zero stop piling uranium,
10:37dan saat itu Iran juga kemudian bersedia memasukkan asesor dari Amerika Serikat dan IAEA
10:43untuk masuk ke dalam Iran itu sendiri.
10:45Jadi saya rasa sebelum perang ini dimulai, itu sudah tidak ada masalah.
10:49Nah sekarang Donald Trump ini sadar betul bahwa di dalam negeri dia sedang kesulitan
10:53untuk mendapatkan approval rate.
10:54Karena terakhir kita tahu bahwa Donald Trump ini hanya 29% kira-kira
10:59yang sekarang setuju terhadap perang ini.
11:01Jadi bayangkan itu jumlahnya sangat sedikit.
11:02Dan 69% dari masyarakat Amerika Serikat itu tidak setuju
11:06dengan cara Donald Trump handling urusan dalam negeri selama perangnya berlangsung.
11:10Jadi sebenarnya ya, Donald Trump sekarang sedang berusaha untuk membuat
11:13perangnya terlihat legitimate dengan cara apa?
11:16Untuk memenangkan salah satu saja strategic objective yang disebutkan di awal.
11:20Karena di awal peperangan ini, nggak jelas nih apa yang diinginkan oleh Amerika Serikat.
11:23Akhirnya masalah ini, karena dianggap sebagai masalah yang paling negotiable dengan Iran,
11:28itu dianggap masalahnya yang di sini kita lihat adalah
11:30semakin Amerika Serikat keras terhadap program nuklir Iran
11:34dan semakin Amerika Serikat ini mengancam,
11:36menggunakan kemudian nuklir sebagai leverage ancaman terhadap Iran,
11:40semakin besar juga kemudian kemungkinan Iran akan mempertahankan program nuklirnya.
11:45Jadi kita lihat sebenarnya ada ironi dan paradoks yang terjadi
11:48dari strategi Amerika Serikat sendiri di situ.
11:50Ya, saya kembali ke Mbak Angel.
11:52Tadi sempat disinggung soal approval rate di Amerika Serikat
11:56bahwa Donald Trump sekarang sudah berada di angka 29 persen ya.
12:01Ini jatuh jauh di bawah perkiraan sebelumnya sepertinya.
12:05Nah ini ada juga para analis yang mengatakan
12:07Memorandum of Understanding atau MOU Hormuz antara AS dan Iran
12:11hanyalah gencatan sejata untuk membeli waktu bukan kesepakatan nyata.
12:15Nah apakah ini juga berpengaruh tadi terhadap approval rate-nya Donald Trump
12:19ketika Selat Hormuz tidak bisa diotak-atik lagi Donald Trump?
12:22Mbak Angel?
12:25Iya. Saya melihat, saya sepakat dengan kata Mbak Isa tadi
12:28bahwa ini memang menjadi momentum untuk Trump terutama
12:32menaikkan kembali trust dari publik di dalam negerinya Amerika gitu.
12:38Apalagi ini sudah menjelang November.
12:40Bahkan kayaknya ini bulan-bulan ini atau bulan depan sudah mulai yang primary.
12:43Artinya masing-masing partai harus sudah mempersiapkan calonnya gitu ya.
12:46Baru nanti di November itu ada pemilu selam.
12:51Nah ya ini kesempatan untuk Trump membuktikan kepada publik di dalam negeri
12:55bahwa Trump bisa dipercaya bahwa Trump bisa atau Amerika bisa memenangkan kesepakatan
13:04karena gini, berhasilnya kesepakatan ini, ini tentu akan membuat publik percaya
13:08bahwa Trump itu bukan cuma sekedar presiden perang
13:12tapi Trump juga menjadi dealmaker.
13:15Orang yang bisa menciptakan atau membuat kesepakatan yang selama ini
13:19bermasalah gitu antara Amerika dengan Iran
13:21dan Trump adalah orang yang bisa melakukan itu.
13:24Ini akan membuat titik balik ya Trump sehingga dia bisa naik lagi
13:31rasa percaya publik terhadap Trump
13:33dan Trump diharapkan ya tentu dia bisa menang lagi gitu ya.
13:37Nah artinya memang momennya di sini bagaimana Trump bisa mengubah situasi
13:43yang tadinya dia dikenal hanya sebagai presiden perang yang tidak banyak disetujui
13:48oleh publik dalam negeri tapi kalau dia berhasil apalagi dengan narasi-narasinya
13:53yang begitu meyakinkan retorika-retorika yang seakan-akan
13:57oh Iran mau sekali bersepakat dengan kami
14:00Iran sudah tinggal ya sedikit lagi kami akan mencapai kesepakatan dan lain sebagainya gitu ya
14:05walaupun saya melihatnya sekali lagi ya tadi disampakkan Mas Hadi juga
14:11retorikanya Trump ini
14:14saya nggak tahu menurut saya dipercaya gitu ya
14:16pagi dele sui tempe katanya
14:18tapi ya dan itulah permainannya Trump
14:21dan Trump itu seperti tanpa dosa atau tanpa rasa bersalah
14:24kalaupun dia ngomong A kemarin dan hari ini ngomong Z itu
14:27dia kayak nggak ada rasa penyesalan gitu
14:30tapi ya ahliannya dia yang menurut narasi
14:33tapi sekali lagi ya kita lihat aja Mas
14:35apakah dia bisa benar-benar jadi deal gamer
14:39bisa sebagai orang yang mencapai kesepakatan antara Amerika dan Iran
14:43atau bagaimana?
14:45kita tunggu aja Mas nanti
14:46selain Presiden Amerika Serikat
14:47Trump ini kan pengusaha, pedagang lah boleh dibilang
14:50jadi asalkan sepertinya dia bisa cuan
14:53sepertinya approval rate nggak terlalu berarti buat dia
14:55asalkan Selatan Hormuz bisa dibuka
14:57tapi ya itu juga meskipun itu juga berpengaruh
14:59untuk approval rate dia di Milusola nanti
15:02saya terakhir ke masing-masing narasumber
15:04saya ke Mbak Aisyah dulu
15:05dari perspektif intelligence dulu
15:07di tengah upaya kesepakatan ini
15:09saya ingin tanya bagaimana juga peran-peran dari proksi Iran
15:12Rusia dan Tiongkok yang bermain di tahap ini
15:15Mbak Aisyah
15:18ya kalau kita lihat disini sebenarnya kita di tengah perang
15:21kadang-kadang kita melupakan kalau Iran
15:23sebenarnya salah satu kekuatannya ini memiliki proksi-proksi di timur tengah ya
15:27termasuk diantaranya adalah Hezbollah
15:28kemudian ada Houthi
15:30dan kemudian kita tahu ada proksi-proksi Iran juga di Irak gitu
15:33nah sejauh ini saya kira sebenarnya
15:35meskipun sudah ada pernyataan dari Houthi ya
15:38terkait kemudian bergabungnya mereka ke perangan ini
15:40tetapi belum ada sebenarnya aksi nyata yang ditunjukkan
15:43begitu juga dengan proksi Iran yang ada di apa namanya Irak ya
15:47kecuali yang sekarang kita tahu menjadi aktif war zone
15:49adalah wilayah Lebanon Selatan
15:51dimana kemudian Hezbollah
15:52nah saya kira sebenarnya Iran sejauh ini
15:55belum mengaktifasi apa namanya proksi-proksinya
15:58untuk terlibat lebih jauh di dalam peperangan ini
16:00nah kalau misalnya seandainya kedua negara
16:03masih tetap berada di dalam tangga ekskalasi
16:05yang terus meningkat
16:06dan kemudian Selat Hormuz ini menjadi salah satu titik panas
16:09kalau Amerika Serikat berhasil misalnya ya
16:12melakukan gangguan di titik Hormuz
16:14dan mencoba untuk membuka paksa titik tersebut ya
16:18yang dilakukan adalah sebenarnya tinggal menciptakan
16:20sebuah gangguan di Bab El-Mendep
16:22yang kita tahu sebenarnya Bab El-Mendep itu merupakan
16:24jalan keluar dari terusan Suez
16:2612% dari total trade dunia
16:28itu melewati ya jalur Bab El-Mendep
16:30dan ini cukup menarik
16:31karena saya kira sebenarnya Iran ini memiliki
16:33sebenarnya kunci-kuncian ekonomi
16:35yang sebenarnya cukup besar di dalam kawasan
16:38nah kalau misalnya seandainya ya
16:40perang ini masih terus berlanjut
16:41saya kira sebenarnya Iran bisa saja
16:43kemudian melakukan ya
16:44gangguan-gangguan di kawasan
16:45yang menyebabkan konfliknya itu
16:47menjadi melebar ke konflik kawasan
16:48lalu yang kedua saya kira disini
16:50untuk negara-negara teluk
16:52nah ini cukup menarik
16:53karena kita lihat sebenarnya negara teluk
16:54posisinya ini cukup unik
16:56mereka ini berusaha untuk membuka Selat Hormuz
16:59karena ada pragmatisme juga
17:00karena mereka ini kan berusaha untuk ya
17:02membuat perekonomian mereka menjadi berkembang
17:04dan diversifikasi dari minyak
17:06tetapi permasalahannya memang
17:07sebagian besar ekonomi mereka itu
17:08masih sangat bergantung dengan industri minyak mereka
17:11pressure yang dilakukan oleh Amerika Serikat
17:13terhadap Iran
17:14itu akan berdampak juga
17:15ketika Iran melakukan retaliasi
17:16dengan melutup Selat Hormuz
17:17termasuk diantaranya adalah
17:19kapasitas storage production
17:20yang akan terus berkurang gitu
17:22jadi saya rasa sekarang yang dilakukan
17:24ya ini berusaha untuk melakukan hedging
17:26terhadap Iran gitu
17:28jadi bagaimana caranya
17:29akhirnya mereka menyediakan
17:30sebenarnya sebagian ruang
17:31ketika Amerika Serikat ini
17:32kalah di dalam peperangan ini
17:34ya pertanyaan yang sama kurang lebih
17:36ke Mbak Anjel
17:37singkat saja Mbak Anjel
17:38terakhir kita punya waktu sedikit
17:40kalau dari perspektifnya
17:42keamanan internasional
17:43kita tahu kan proksi Iran
17:44maupun juga proksi Amerika Serikat
17:46ini juga sering memberikan ancaman
17:47keamanan internasional sebenarnya
17:48belum lagi dari
17:49apa proksinya Rusia dan Tiongkok
17:52juga yang punya apa ya
17:54apa intelligence luar biasa
17:56yang juga seringkali merepotkan
17:58keamanan internasional
18:00Anda melihatnya bagaimana
18:02dalam tahap ini
18:03masing-masing proksi ini
18:04saya melihatnya gini
18:06kemarin si Jinping
18:08sudah ketemu Amerika
18:09Trump
18:10dan kemudian ketemu juga
18:11dengan Putin gitu ya
18:13dan sampai hari ini
18:15China atau Rusia
18:17belum banyak terlibat
18:18menjadi medisor
18:20atau berusaha untuk
18:20mendamaikan antara
18:22Amerika dengan Iran
18:23ditambah lagi gini mas
18:25Amerika itu
18:25ke-distract dengan
18:27begitu banyaknya tantangan
18:29di kawasan timur tengah
18:31ada Iran
18:31katakanlah Selat Hormuz
18:33di negara-negara Eropa
18:35ada Rusia
18:35Ukraina
18:36di kawasan Asia Pasifik
18:39ada China
18:39Tiongkok
18:40dengan Taiwan
18:40dan Laut Cina Selatan
18:42sehingga
18:42ketika Amerika terlalu fokus
18:44pada kawasan timur tengah
18:46Selat Hormuz
18:46Rusia dan China
18:47bisa memainkan peranan mereka
18:49di kawasan
18:49di Eropa
18:50dan di Indo Pasifik
18:52atau Asia Pasifik
18:52dan ini menguntungkan
18:53buat mereka
18:54sehingga mereka
18:55selain urusan minyak
18:56Rusia juga jual minyak
18:57secara
18:59lewat ghost fleet-nya dia
19:00China juga diuntungkan
19:02dengan katakanlah
19:05tadi fokusnya Amerika
19:06ke timur tengah
19:07sehingga saya melihatnya
19:08China dan Rusia
19:10mungkin akan
19:10status quo
19:12dengan memaintain
19:12sudah biarkan saja
19:13situasi seperti ini
19:14Amerika tetap dengan
19:16fokusnya di timur tengah
19:17sehingga kita bisa
19:18menikmati situasi-situasi
19:20yang tadi
19:20entah di Pasifik
19:21atau di Eropa
19:24kalau Rusia punya
19:26minyak juga
19:26bisa lebih leluasa
19:28untuk menjual minyaknya
19:29dengan terganggu
19:30Selat Hormuz
19:30di sisi lain
19:31Tiongkok juga yang punya
19:33produksi mobil listrik besar
19:35punya keuntungan tersendiri
19:36dari situasi seperti ini
19:37baik terima kasih
19:38analisis yang menarik
19:40dari Mbak Aisyah
19:40terima kasih guru besar
19:41sorry
19:42dari Mbak Angel
19:43guru besar keamanan
19:44internasional
19:44Universitas Kristen Indonesia
19:45Angel Damayanti
19:46dan juga peneliti senior
19:47Indo-Pacific Strategic Intelligence
19:48Aisyah Kusuma Sumatri
19:49terima kasih Mbak
19:50sudah berbagi prospektifnya
19:52selama hari ini
19:53di Sampai Indonesia Malam
19:53sampai jumpa lagi
19:54selamat malam
19:55selamat menikmati
Komentar