Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Bagaimana nasib perang di Iran usai Donald Trump menunda serangan dan masih menunggu kesepakatan dengan Teheran?

Sementara di sisi lain, sekutu Amerika Serikat, Israel, murka dengan keputusan Trump yang tak kunjung menyerang kembali Iran.

Jadi, siapa penentu perang Iran, Trump atau Benjamin Netanyahu?

Kita bahas bersama Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo.

Baca Juga Prancis Jatuhi Sanksi Menteri Ekstremis Israel karena Penyiksaan Aktivis di https://www.kompas.tv/internasional/670666/prancis-jatuhi-sanksi-menteri-ekstremis-israel-karena-penyiksaan-aktivis

#trump #netanyahu #israel

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670677/full-netanyahu-murka-trump-tunda-serang-teheran-siapa-kendalikan-perang-iran-ini-analisis-pakar
Transkrip
00:00Lalu bagaimana nasib perang di Iran?
00:02Usai Presiden Trump menunda serangan dan masih menunggu kesepakatan dengan Teheran
00:05sementara sekutu AS Israel murka dengan keputusan Trump
00:09yang tak kunjung menyerang kembali Iran.
00:11Jadi siapa sebenarnya penentu perang Iran, Trump atau Netanyahu?
00:15Kita bahas sore ini bersama dengan pakar geopolitik dan keamanan nasional
00:18Wibawanto Nugroho Widodo.
00:20Selamat sore, Mas Wibawanto.
00:23Selamat sore, Mbak.
00:24Oke, jadi saya langsung aja, Mas.
00:26Jadi kira-kira siapa ini penentu perang Iran, Trump atau Netanyahu?
00:31Jadi pertanyaannya itu seharusnya bukan siapa penentu perang Iran.
00:36Tapi kita harus melihatnya secara strategik.
00:39Dan kita harus melihat bahwa pertanyaan yang lebih tepat itu adalah
00:43siapa yang menentukan eskalasi, siapa yang menentukan legitimasi
00:48dan siapa yang menentukan bagaimana perang di Iran itu berakhir.
00:53Itu poinnya.
00:53Dan kita harus melihatnya secara strategis artinya
00:56kita harus melihat secara kritis
00:58secara thinking in time, artinya historis
01:01dan juga secara sintesis, sistemik, dan kreatif
01:04dan juga futuristik.
01:05Kedepan sebenarnya seperti apa?
01:06Nah, poin pertama yang mau saya sampaikan di sini adalah
01:09bahwa Amerika dan Israel itu mempunyai
01:14persepsi, interest, dan strategic orientation yang sama di Timur Tengah.
01:20Di mana Israel berdiri tahun 1948, didukung penuh oleh Amerika Serikat yang saat itu posisinya adalah pengganti dari super power
01:30Inggris.
01:31Yang tujuannya adalah menjamin stabilitas dan keamanan Timur Tengah yang ditinggalkan oleh Inggris.
01:37Di mana akhirnya, walaupun Israel berdiri tahun 1948, diawali oleh perang dengan negara-negara Arab,
01:42berlanjut sampai tahun 1967, berlanjut lagi sampai tahun 1973, semua itu selesai.
01:48Bahkan dari tahun 1973 sampai 1979, Iran pun juga menjadi aliansi Amerika dan Israel
01:54yang juga bisa bergaul baik dengan negara P5, negara pemegang hak peto lainnya.
02:00Nah, tetapi tahun 1979 kan berubah Iran, Republik Islam Iran dengan orientasi geopolitik yang berbeda.
02:05Poin kedua adalah, caranya yang berbeda, ya itu dia poinnya, saya mau jelaskan.
02:14Yang kedua adalah, sekarang adalah caranya.
02:18Caranya bagaimana untuk bisa menjalankan interest yang sebenarnya sama di Timur Tengah ini.
02:24Kan gitu ya.
02:25Nah, sekarang kita harus melihat cara pikir Presiden Trump dan cara pikir dari Prime Minister Netanyahu.
02:31Cara kita berpikir, Prime Minister Netanyahu, itu adalah Iran itu sebagai ancaman yang eksistensial.
02:39Interesnya Prime Minister Netanyahu adalah memberikan determinannya maksimum, tidak kompromistis.
02:45Jadi tujuannya dari Tel Aviv itu adalah bukan membuat Iran itu mau bernegosiasi.
02:50Tapi inilah waktunya untuk memastikan bahwa orientasi geopolitik Iran itu berubah.
02:56Oke, Mas Bibawanto, tapi menariknya adalah pada saat menelpon kemarin dengan Trump,
03:06ini Netanyahu terlihat marah begitu ya, dan berpotensi nampaknya Israel ini akan bertindak sendiri.
03:12Nah, kira-kira apakah ini potensi ini akan sampai Israel ini berani untuk bertindak sendiri,
03:16mengabaikan Amerika Serikat untuk menyerang Iran?
03:20Sebelum Mbak mendapatkan jawaban itu, izinkan saya menjelaskan satu hal dulu yang terkait dengan jawaban itu.
03:26Yang berikutnya yang saya mau jelaskan itu adalah perspektif Presiden Trump saat ini adalah perspektif yang sistemik.
03:35Presiden Trump memahami apa yang menjadi concern dari Israel saat ini.
03:41Nah, tetapi kalau mengikuti semua apa yang diminta oleh Prime Minister Netanyahu,
03:46itu akan berat kepada kalkulasi geopolitik yang berat kepada point of view Tel Aviv.
03:53Tetapi kalau mengikuti semua yang dihitung oleh Amerika,
03:57dalam hal ini Amerika menghitung apa yang terjadi dalam domestik politik,
04:01menghitung apa yang menjadi pertimbang Rusia dan China,
04:03menghitung apa yang menjadi perhitungan geopolitik dari negara-negara Arab,
04:07itu akan berat ke Amerika.
04:08Nah, oleh karena itu yang terjadi nanti itu adalah yang namanya managed escalation itu Mbak Audrey.
04:15Artinya eskalasi yang bisa dikontrol tetap, itu yang Presiden Trump tekankan.
04:20Tetapi,
04:24Presiden Trump dan Prime Minister Taylor
04:27atau merajut yang namanya debtors maksimal kepada Iran.
04:31Melalui apa?
04:32Jadi artinya Amerika ini sangat bisa...
04:34Dan special operation and law intensity conflict.
04:38Prime Minister Netanyahu boleh saja itu men-shaping apa yang disebut sense of urgency.
04:42Boleh saja men-shaping ancaman yang ada saat ini gitu.
04:45Tapi Presiden Trump itu mempunyai otoritas.
04:47Jadi Prime Minister Netanyahu memberikan influence,
04:50Presiden Trump itu punya otoritas.
04:52Boleh saja Israel memulai peperangan,
04:54ya, battlefield,
04:54tetapi Amerika mempunyai power untuk menentukan eskalasi,
05:00pelebaran konflik, dan outcome dari perang ini.
05:02Itu poinnya tuh.
05:03Dan keduanya itu saling tergantung.
05:05Jadi, kita juga harus bersiap pada kemungkinan.
05:07Jika Israel memang memulai serangan ini,
05:09kemungkinan 50-50,
05:11Amerika juga yang tadinya mungkin tidak mau melanjutkan dengan cara high intensity,
05:14bisa terbawa dalam high intensity.
05:16Tapi apa yang disiapkan oleh Amerika saat ini adalah
05:18special operation and law intensive conflict
05:20dengan operasi intelijen, operasi cyber,
05:21dan operasi-operasi untuk memastikan bahwa
05:24orientasi geopolitik pemicairan saat ini berubah,
05:26walaupun resimanya tidak berganti.
05:27Dan Presiden Trump tidak akan berhenti, Mbak Audrey,
05:30sampai tahun 2028,
05:31masa jabatannya berakhir.
05:33Dan Prime Minister Netanyahu
05:34sebagai wartime Prime Minister
05:36akan memastikan bahwa
05:37Iran saat ini benar-benar habis gitu
05:40dalam konteks kemampuan untuk
05:43melawan,
05:44membuat merevisi Timur Tengah.
05:46Itu poinnya tuh.
05:47Oke.
05:47Kemarin juga ada menarik perjalanan.
05:49Jadi yang bisa mensahatin itu Amerika.
05:51Oke, Amerika ya.
05:52Makanya kemarin Trump ini sampai bilang
05:54Netanyahu akan melakukan apapun yang ia inginkan.
05:58Singkat aja, Mbak.
05:59Ya, gak apa-apa.
06:00Ya, gak apa-apa.
06:01Kalau Prime Minister Netanyahu
06:04melakukan apa saja yang
06:05Prime Netanyahu inginkan kan,
06:08maksudnya kan.
06:08Oke.
06:10Ya, artinya yang diinginkan oleh siapa maksudnya?
06:12Tadi pertanyaan, Mbak.
06:13Oke, karena
06:14Trump ini mengatakan Netanyahu
06:16akan melakukan apapun yang diinginkan Trump.
06:21Oh iya, itu kan seperti saya jelaskan sebelumnya
06:24bahwa mereka itu saling melengkapi begitu loh.
06:26Jadi Israel bisa memulai
06:27tapi yang menentukan eskalasi
06:29mensahatin operasi ini adalah Amerika.
06:31Itu poinnya.
06:31Oke, sudah kita tangkap poinnya.
06:33Terima kasih Mas Wibwanto untuk pandangannya.
06:35Selamat sore.
06:36Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar

Dianjurkan