Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Franka Makarim mengaku tidak mengetahui adanya privilege khusus yang dimiliki sang suami, yakni Nadiem Makarim saat menjabat sebagai Mendikbudristek 2019-2024 di era pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Namun, Franka mengakui Nadiem bukan sosok yang sempurna, termasuk dalam cara berkomunikasi dan budaya kerja saat berada di lingkungan pemerintahan.

Menurut Franka, cara kerja dan pendekatan Nadiem dalam menyelesaikan masalah kemungkinan sempat dianggap kurang sesuai di lingkungan birokrasi pemerintahan.

Ia mengatakan hal tersebut sudah banyak direfleksikan oleh Nadiem selama satu tahun terakhir.

Meski demikian, Franka tetap meyakini seluruh langkah yang dilakukan suaminya selama menjabat berangkat dari niat baik dan upaya menjalankan visi pemerintahan.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rsUqbkMCeog



#nadiemmakarim #mendikbudristek #chromebook

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/670613/dikaitkan-dengan-privilege-jokowi-franka-buka-suara-soal-nadiem-makarim-rosi
Transkrip
00:00Mas Tadum juga dalam persidangan menyebut bahwa ini adalah amanat dari Presiden.
00:06Pada waktu itu Presiden Jokowi pada rapat paripurna yang pertama menyebutkan pentingnya digitalisasi dunia pendidikan.
00:16Apakah dengan membawa nama Presiden merasa perlu untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan adalah perintah Presiden
00:26dan bukan hal yang diluar perintah Presiden? Apakah mesej ini yang mau disampaikan?
00:38Saya rasa pada saat itu Mas Nadiem hanya ingin menegaskan bahwa tugas dari seorang Menteri adalah menjalankan visi dan misi.
00:49Dan itu benar-benar sudah diupayakan selama lima tahun dengan sepenuh tenaga dan sepenuh hati dengan semua ketidaksempurnaannya sekali lagi.
00:59Tapi sesuai dengan fakta persidangan sekali lagi apa yang dituduhkan tidak ada yang terbukti, tidak ada salah prosedur, tidak ada
01:09aliran dana
01:10dan ya laptop dan semua alat TIK ini masih dipakai oleh guru-guru dan murid di seluruh Indonesia.
01:19Sebagai seorang bintangnya di kabinet reode lalu, Anda merasa ditinggalkan nggak?
01:27Bahwa dulu suami saya diminta, dibanggakan, bahkan cukup dielulukan.
01:34Dan ketika sampai di satu proses persidangan, merasa sendiri.
01:44Mungkin kami di awal merasa sering sekali sendirian gitu ya.
01:50Tapi juga kami mengerti bahwa ini adalah akibat fakta persidangan belum keluar sama sekali.
01:57Tapi sekali lagi seperti yang Mbak Rosi tadi juga bilang bahwa dukungan doa sudah begitu besar itu adalah berkat yang
02:06tidak akan pernah kami bisa sangka.
02:09Dan juga berterima kasih.
02:12Tapi kalau saya boleh tambahkan Mbak Rosi,
02:16yang paling memprihatinkan dan menyakitkan untuk saya adalah
02:21bagaimana niat baik suami saya dijadikan senjata yang diputarbalikan.
02:28Bahwa yang pertama, sebelum dia menjadi menteri,
02:34investasi dari perusahaan yang besar itu sudah masuk lebih dari 70%.
02:41Mas Nadiem melepaskan jabatannya sehari sebelum dilantik.
02:46Dan itu dianggap menjadi satu pura-pura
02:50supaya dia bisa menutupi konflik kepentingan ini.
02:56Pada saat dia tidak ada, jelas tidak ada aliran dana
03:02selama dia menjabat dan itu terbukti di persidangan,
03:07itu dianggap dia itu sangat lihai.
03:10Untuk menemunyikan kejahatan.
03:11Untuk menemunyikan kejahatan, kata Jaksa.
03:14Betul.
03:15Yang menerima dan mengakui menerima bahkan tidak diusut.
03:19Dan yang terakhir mbak, bagaimana kejujuran dan niat dia untuk melaporkan semuanya secara terbuka di SPT dan LKHPN
03:30tiba-tiba menjadi satu alat yang dipakai untuk membangun narasi bahwa dia korupsi besar-besaran.
03:40Jadi untuk saya, kenapa setiap niat baik itu diputar balikan jadi senjata untuk mendolimi suami saya?
04:03Saya merasa apa yang terjadi adalah satu bentuk perjalanan hidup yang lumayan berat
04:17dan sampai sekarang saya masih tidak mengerti kenapa.
04:24Selalu ada pertanyaan, masih ada pertanyaan besar ya.
04:28Kenapa ini terjadi?
04:30Dari lima tahun perjalanan dengan jalur hidup yang cemerlang,
04:36tiba-tiba out of sudden duduk sebagai pesakitan.
04:39Ada banyak hikmah yang kami juga dapat dari sini Mbak Rosy.
04:49Tapi untuk melihat anak-anak saya, empat anak saya harus dipisahkan dari ayahnya.
04:55Untuk satu tuduhan yang tidak berdasar dan tidak terbukti, itu buat saya sangat berat.
05:07Andaikan dulu menolak permintaan jadi menteri,
05:11seorang lulusan Harvard, pengusaha sukses, diidolakan di mana-mana,
05:17menjadi menteri juga menjadi menteri yang populer.
05:22Andaikan bisa menolak waktu itu,
05:25harusnya reputasi Mas Nadiem tidak sehancur sekarang ya.
05:32Saya tahu Nadiem tidak pernah menyesal mengambil amanah itu Mbak.
05:38Saya pun tidak menyesalkan, jujur.
05:41Karena kami benar-benar bisa melihat bahwa pengabdian yang dia lakukan selama lima tahun itu,
05:50berdampak nyata.
05:51Terutama justru karena di satu minggu ini begitu banyak guru-guru,
05:59mahasiswa, dan juga driver gitu ya.
06:03Bahkan yang mengungkapkan cerita-cerita nyata bagaimana kebijakan-kebijakan
06:11dan upaya yang dilakukan oleh Mas Nadiem dan seluruh kementeriannya
06:14dengan sepenuh hati itu berdampak baik gitu.
06:18Contohnya dalam persidangan,
06:21itu kan ada tujuh guru Mbak datang dari Aceh sampai Papua.
06:26Satu kepala sekolah, Pak Arbi namanya,
06:30beliau bilang sekolah saya itu tadinya sekolah buangan,
06:34jadi sekolah pilihan.
06:37Dan itu terjadi karena ada akses untuk laptop,
06:42untuk alat TIK, dan lain-lain program-program lain.
06:45Bahkan dia pun membawa itu laptop Chromebook
06:48di depan majelis hakim dan ditunjukkan itu bisa dipakai offline.
06:53Nah, selain daripada itu ada satu cerita Mbak kalau boleh,
06:59mahasiswi namanya Mbak Utari,
07:01saya juga baru lihat dua hari yang lalu gitu.
07:04Dia mengunggah bahwa dia dari Kalimantan
07:08ikut program kampus merdeka,
07:13ada sertifikasi, ada dia mengajar,
07:15dan itu membuka bagaimana dia melihat pentingnya bekerja
07:20dibandingkan hanya berjalan di dalam kampus gitu.
07:24Semua itu adalah cerita-cerita yang
07:27akhirnya muncul,
07:29dan datang dari orang-orang yang lebih berkompeten dari saya
07:32untuk mengatakan ini semua.
07:34Dan Anda di sini juga ingin memberikan klarifikasi
07:37bahwa itu tidak digerakkan oleh pihak yang terkait dengan Nadi Makarin.
07:44Mereka secara pure datang, secara sukarela untuk memberikan kesaksian.
07:49Apakah menurut Franka ini terjadi karena melihat tuntutan yang sedemikian fantastis?
07:54Saya rasa seperti yang tadi saya juga sempat ungkapkan,
07:59jarak itu tadi, Mbak Rosi,
08:01antara kebenaran dan fakta yang ada
08:05dengan jumlah tuntutan yang diinginkan
08:10dan diharapkan oleh pihak mereka.
08:12dan menurut Franka.
08:13Apakah menurut Franka ini terjadi?
08:15Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan