Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama


JAKARTA, KOMPAS.TV Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah, sekaligus mempertahankan ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan global. Keputusan menaikkan BI-Rate sejalan dengan fokus kebijakan moneter 2026 yang pro-stabilitas, demi memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak global.

Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun masih diyakini berada di kisaran asumsi makro yang telah disepakati pemerintah dan DPR, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Menurut Perry, tekanan terhadap mata uang domestik biasanya meningkat pada periode April hingga Juni, seiring tingginya kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, hingga kebutuhan perjalanan haji.

Seberapa besar langkah ini akan memengaruhi stabilitas rupiah?

Kita langsung bahas bersama Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Baca Juga Kronologi BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,25 Persen di Tengah Ketidakpastian Global di https://www.kompas.tv/nasional/670263/kronologi-bi-naikkan-suku-bunga-jadi-5-25-persen-di-tengah-ketidakpastian-global

#rupiah #ekonomi #sukubunga #bankindonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/670264/full-ekonom-soal-bi-naikkan-suku-bunga-jadi-5-25-persen-untuk-jaga-nilai-tukar-rupiah
Transkrip
00:26PEMBICARA 1
00:50PEMBICARA 1
01:05PEMBICARA 1
01:14PEMBICARA 1
01:25PEMBICARA 1
01:26PEMBICARA 1
01:27PEMBICARA 1
01:58PEMBICARA 1
02:27PEMBICARA 1
02:40PEMBICARA 1
02:41PEMBICARA 1
02:49PEMBICARA 1
02:50PEMBICARA 1
03:01PEMBICARA 1
03:30PEMBICARA 1
03:31PEMBICARA 1
03:34PEMBICARA 1
03:57PEMBICARA 1
04:08PEMBICARA 1
04:09PEMBICARA 1
04:24PEMBICARA 1
04:29PEMBICARA 1
04:38PEMBICARA 1
04:54PEMBICARA 1
04:56satu yang dimana kita
04:58yang dirilis oleh BPS 5,61%
05:01gitu ya, tapi
05:02setelah rilis data pertumbuhan ekonomi
05:04kuartal satu, kondisi
05:06di pasar kuat kita justru malah terus
05:08melemah, jadi artinya
05:09investor pun juga tidak melulu melihat
05:12kondisi pertumbuhan ekonomi, tapi juga
05:14melihat forward looking ke depannya, bagaimana
05:16persepsi dari investor itu juga
05:18melihat dari sisi kondisi stabilitas, kredibilitas
05:20kebijakan dari
05:22semua otoritas, dan juga bagaimana
05:24respon kebijakan, merespon
05:26apa yang dilihat di lapangan
05:28Mas Joshua, sebelumnya
05:30Gubernur BI sempat bilang bahwa optimis
05:32rupiah akan menguat dalam kurun
05:34waktu, ataupun di semester 2 tahun ini
05:36artinya ini masih, ataupun
05:38sudah tinggal beberapa bulan lagi
05:40apakah optimisme BI bisa
05:42berkuat rupiah dalam kurun waktu
05:44beberapa bulan saja, menurut Anda masuk akal
05:46kalau kita melihat kondisi sekarang, dan juga geopolitik
05:48juga yang masih terus memanas?
05:51Dalam kondisi normal
05:52saya sepakat bahwa
05:54kuartal kedua adalah merupakan siklus
05:56permintaan falas domestik yang
05:58cenderung meningkat, karena ada
05:59dividen payment, repatriasi, dan juga
06:01musim haji, namun karena
06:04ada siklus yang normal ya
06:06tidak normal karena ada geopolitik
06:08yang dimana memang hari ini
06:10tadi malam memang
06:11sentimennya membaik lagi, tapi
06:14kita tidak tahu besok
06:15besok malam, ataupun nanti
06:17malam lagi kondisinya apakah bisa berubah lagi
06:20atau tidak, karena sentimen geopolitik di
06:22Timur Tengah ini bisa berubah kapan saja
06:24jadi kita tidak bisa memastikan
06:26apakah kondisinya akan terus membaik
06:29di Timur Tengah atau tidak, tentunya
06:31yang bisa kita pastikan, yang bisa kita harapkan
06:34adalah kita terus memitigasi
06:36segala macam skenario yang ada
06:38artinya kita tidak bisa
06:42seperti yang diperkirakan juga
06:44pada saat pemerintah memperkirakan
06:46sebelumnya COVID-19 ini hanya berjalan
06:48dua bulan, tiga bulan saja
06:50kita harus menggunakan skenario yang terburuk
06:52sehingga oleh sebab itu kami melihat bahwa
06:55kondisi yang respon kebijakan yang sudah diambil oleh Bank Indonesia saat ini
06:59ini memang tidak cukup
07:02diperlukan juga koordinasi kebijakan dari sisi fiskal
07:06kembali lagi
07:08kebijakan ataupun seperti yang disampaikan oleh
07:11di DPR Komisi 11
07:12yang sepertinya menyudutkan Bank Indonesia
07:17yang sepertinya ini kita harus lebih
07:19gali lebih dalam lagi
07:20penyebabnya apa sih sebenarnya
07:22karena kalau kita lihat sebenarnya kan
07:24dari sisi penyebabnya kan kita lihat koreksi di pasar saham
07:28koreksi di pasar obligasi
07:30kita ke dalam lebih dalam lagi
07:33kenapa? assessment dari MSCI
07:35assessment dari credit rating agencies
07:36apa itu penyebabnya?
07:38berarti kan ada permasalahan dari sisi reformasi di pasar modal
07:41dari sisi kebijakan fiskal kita
07:44jadi apakah memang ada masalah dari sisi kebijakan monetarnya?
07:47jadi kita harus lebih objektif
07:50jangan karena BI di depan
07:53sebagai garda depan untuk menjaga nilai tukar rupiah
07:56jadi DPR langsung menyalahkan Bank Indonesia
08:00jadi kita DPR Komisi 11 pun juga perlu harus melihatnya
08:03lebih objektif lagi gitu ya
08:05jadi kita harus melihat lagi secara objektif
08:07dan ini kembali lagi diperlukan koordinasi kebijakan
08:11jadi BI sudah menaikkan tingkat hubungannya
08:13kita perlu lihat evaluasi juga
08:15dari sisi kebijakan fiskal kebijakan pemerintah lainnya
08:17apa yang harus diperbaiki juga
08:20jadi tidak hanya semat-mata hanya mengadalkan dari sisi kebijakan BI
08:23karena isu utamanya bukan dari sisi kebijakan monetar
08:27oke berarti artinya hingga saat ini yang kita bisa pantau adalah
08:30Bank Indonesia sudah melakukan semaksimal mungkin
08:33termasuk juga ada 7 strategi dari Bank Indonesia untuk stabilisasi rupiah
08:38dan tampaknya juga kemarin sudah bekerja begitu rupiah menguat tipis
08:41ke 17.600an
08:43namun seperti Mas Joshua tadi
08:45bahwa koordinasi secara sisi fiskal
08:48juga memang diperlukan dalam hal ini
08:49sehingga rupiah bisa kembali menguat
08:52terima kasih
08:52Kepala Ekonomi Bank Permata Joshua Pardede
08:55atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis
08:56Mas Joshua, sehat selalu
08:58Terima kasih
08:58Terima kasih
09:00Terima kasih
Komentar

Dianjurkan