KOMPAS.TV - Di tengah konflik dengan Iran yang belum usai, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertolak ke Beijing untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Trump menyatakan pembicaraan dalam agenda pertemuan yang disebut KTT Trump-Xi akan membahas banyak hal dan bukan hanya soal Iran.
Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping akan terjadi di tengah ekspektasi besar Trump untuk mengambil pengaruh Beijing atas upayanya dalam isu Selat Hormuz.
Selengkapnya kita bahas bersama Pakar Hubungan Internasional Synergi Policies, Dinna Prapto Raharja dan Dean Atase Pertahanan RI di Iran tahun 2009-2011, Mayjen Purnawirawan Budi Pramono.
Baca Juga Trump akan Bertemu Xi Jinping, Tiongkok: Bahas Hubungan dengan AS, Taiwan dan Iran | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/668722/trump-akan-bertemu-xi-jinping-tiongkok-bahas-hubungan-dengan-as-taiwan-dan-iran-kompas-petang
#trump #tiongkok #iran
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/668725/full-analisis-pakar-soal-trump-bertemu-xi-jinping-tiongkok-bantu-tekan-iran-setujui-syarat-damai
Trump menyatakan pembicaraan dalam agenda pertemuan yang disebut KTT Trump-Xi akan membahas banyak hal dan bukan hanya soal Iran.
Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping akan terjadi di tengah ekspektasi besar Trump untuk mengambil pengaruh Beijing atas upayanya dalam isu Selat Hormuz.
Selengkapnya kita bahas bersama Pakar Hubungan Internasional Synergi Policies, Dinna Prapto Raharja dan Dean Atase Pertahanan RI di Iran tahun 2009-2011, Mayjen Purnawirawan Budi Pramono.
Baca Juga Trump akan Bertemu Xi Jinping, Tiongkok: Bahas Hubungan dengan AS, Taiwan dan Iran | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/668722/trump-akan-bertemu-xi-jinping-tiongkok-bahas-hubungan-dengan-as-taiwan-dan-iran-kompas-petang
#trump #tiongkok #iran
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/668725/full-analisis-pakar-soal-trump-bertemu-xi-jinping-tiongkok-bantu-tekan-iran-setujui-syarat-damai
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Capo, capi ya!
00:16Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping
00:19akan terjadi di tengah ekspektasi besar Trump untuk mengambil pengaruh Beijing atas upayanya dalam isu Selat Hormuz.
00:26Selengkapnya kita bahas bersama pakar hubungan internasional Sinergi Polisis Dina Praptoraharja
00:31dan atas sepertahanan RI di Iran tahun 2009-2011 Maijen Purnawirawan Budi Pramono.
00:38Mbak Dina, Pak Budi selamat petang semua.
00:41Selamat petang.
00:42Selamat petang Mas.
00:43Baik, saya ingin ke Mbak Dina terlebih dahulu bahwa pertemuan antara Presiden Donald Trump
00:47dan Presiden Xi Jinping ini akan berlangsung tiga hari mulai esok.
00:52Apa yang sesungguhnya akan menjadi poin pembahasan?
00:54Mbak Dina, apakah konflik dengan Iran ini akan menjadi isu utama yang kemudian akan dibahas oleh kedua belah pihak?
01:01Kalau Trump mengatakan bahwa isu Iran ini tidak akan dibahas karena dia sudah menang,
01:06saya kira sebagai pembuka pembicaraan pastinya bukan isu Iran yang akan dibawa.
01:11Tetapi bahwa isu Iran pastinya akan muncul, menurut saya akan terjadi.
01:17Karena itu tak terhindarkan ya, menjadi satu poin yang secara kontekstual sedang berkembang
01:23dan buat publik di Amerika Serikat itu juga satu hal yang sangat menekan.
01:28Seperti tadi sudah digambarkan di statement dari Kongres,
01:33bagaimanapun juga soal gangguan terhadap perdagangan, juga akses energi,
01:40itu dampaknya betul-betul terasa sampai ke Amerika Serikat.
01:43Dan gambarannya adalah tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini saat ini.
01:49Jadi bagaimanapun juga isu soal Iran itu akan muncul, tapi bukan menjadi satu-satunya.
01:56Agenda utamanya menurut saya soal ekonomi ya, Trump ini membawa delegasi yang terdiri dari para pebisnis,
02:05pebisnis yang dianggap bisa mendesak pihak China untuk melakukan pembelian lebih banyak dari Amerika Serikat
02:14untuk menyeimbangkan defisit perdagangan antara kedua negara.
02:17Dan juga dari sisi Taiwan, isu yang akan diangkat,
02:22karena Trump baru saja juga memberikan konsesi senjata lagi kepada Taiwan ya,
02:27dengan dia berharap tetap berada di posisi yang lebih unggul daripada China terhadap Taiwan.
02:36Tapi menurut saya di situ gertakan saja sih,
02:41belum tentu akan ada sesuatu yang lebih mendasar,
02:44dia mau angkat isu hak asasi manusia misalnya di Taiwan,
02:48menurut saya nggak akan berangkat jauh,
02:49karena agenda utamanya pertama-tama adalah ekonomi dulu.
02:54Oke, tapi kalau kita lihat Mbak Dina,
02:59bahwa tadi memang betul konteks pembahasan antara Presiden Trump dengan Presiden Xi Jinping ini
03:05tidak akan langsung direct menuju ke konflik dengan Iran.
03:07Tapi apakah soal negosiasi yang kemudian selalu terhambat
03:12antara Amerika Serikat dengan Iran ini juga akan mungkin dibahas
03:16dalam poin pembahasan dengan Presiden Xi Jinping atau seperti apa?
03:20China bukan pemain asing lagi di Timur Tengah.
03:24Jadi kalau bicara soal China,
03:27kita tidak bisa menganggap dia sebagai kekuatan yang tidak punya kaki,
03:32tidak punya pengaruh,
03:33bahkan tidak punya pendukung juga di kawasan Timur Tengah.
03:37Dan saya bukan hanya bicara soal Iran ya,
03:40sebagai negara yang saat ini punya relasi,
03:44bahkan China boleh dikatakan punya dependensi tertentu lah,
03:47ketergantungan juga dari Iran, dari sisi energi.
03:51Tapi negara-negara lain,
03:52seperti Saudi,
03:54seperti Uni Emirat Arab,
03:55seperti Qatar,
03:57mereka sudah nengok ke China,
03:59dan mereka sudah punya skema kerjasama,
04:02baik itu soal senjata,
04:03baik itu soal teknologi,
04:04AI dengan China.
04:07Artinya,
04:09eksistensi China di Timur Tengah,
04:11itu adalah satu hal yang tak terhindarkan lagi sebenarnya
04:14untuk dibicarakan oleh Amerika Serikat.
04:17Jadi kalau mau diangkat dari sisi,
04:19tergantung mau diangkat dari sisi mana,
04:21kalau dari sisi energi,
04:23tentu ujung-ujungnya akan bicara soal Selat Hormuz,
04:25yang akhirnya ditutup,
04:27dan sekarang yang terjadi malah letupan,
04:30apa namanya,
04:31serangan dari kedua belah pihak,
04:33Amerika Serikat dan Iran.
04:34Tapi di sisi lain,
04:35kalau kita mau angkat dari tadi teknologi,
04:39kata kuncinya sebenarnya adalah,
04:41bahwa senjata Amerika Serikat,
04:43yang sudah mulai berkurang gara-gara perang dengan Iran,
04:46dan juga dengan Ukraina,
04:48di Ukraina dengan Rusia,
04:50itu butuh,
04:51apa namanya,
04:53rare earth mineral yang dikuasai 90% pengolahannya oleh China.
04:58Di sinilah kata kuncinya ya,
05:00jadi bahwa ternyata untuk mengisi ulang amunisi senjata Amerika Serikat,
05:06itu butuh bantuan dari China.
05:08Oke, itu menarik bahwa,
05:10nampaknya Tiongkok juga bisa disebut,
05:12di tengah deadlock ini,
05:13menjadi kunci kemenangan Trump,
05:15ataupun Amerika Serikat,
05:16di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah.
05:19Tapi pertanyaannya,
05:20Mbak Dina,
05:21jika nanti mungkin ada kesepakatan antara Trump,
05:24dan juga si Jinping,
05:25Tiongkok ini akan meminta imbalan apa,
05:27ke Amerika Serikat,
05:28jika nanti Tiongkok membantu Amerika Serikat dalam konflik yang terjadi ini.
05:34Yang dikejar China saat ini adalah sesuatu yang sifatnya short term deal.
05:39Saya melihat bahwa,
05:40nggak mungkin ada satu konsesi jangka panjang,
05:44karena Trump sudah mempersiapkan sesuatu yang lebih jangka panjang,
05:47seperti misalnya pembentukan Board of Trade,
05:49yang fungsinya itu adalah untuk mengawasi,
05:52apa namanya,
05:53perdagangan antara kedua negara,
05:54supaya tidak terjadi defisit ke depannya.
05:56Nah, si Jinping pasti akan menghindar dari mengikatkan dirinya pada Board of Trade macam ini.
06:03Yang dia cari pertama pasti deal,
06:05kalau dia menyediakan rare earth mineral access misalnya,
06:09maka Amerika Serikat juga harus menyerahkan konsesi,
06:11misalnya soal AI technology.
06:16Kebetulan kan diajak nih,
06:17Nvidia, kemudian Tesla,
06:20Apple gitu,
06:21untuk ke Amerika Serikat,
06:23sorry,
06:24untuk ke China.
06:25Dan China ini kan ingin supaya ke depannya,
06:29akses untuk produk-produk dari China,
06:32termasuk juga pengembangan AI,
06:33itu tidak dihambat oleh Amerika Serikat,
06:36bisa masuk juga ke pasar Amerika Serikat,
06:38dan ke negara-negara lain yang China tuju, gitu.
06:42Jadi, saya kira yang akan tetap dijaga adalah itu.
06:46Kalau nggak ada titik temu,
06:47saya kira tetap akan di anu aja,
06:49diayun waktunya.
06:50Oke, saya ingin ke Pak Budi bahwa sebelumnya,
06:52Presiden Trump menekankan,
06:54Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan apapun terkait konflik dengan Iran.
06:58Tapi dalam pertemuan nanti,
07:00Pak Budi,
07:00antara Trump dan juga Xi Jinping,
07:02mungkin tidak justru Amerika Serikat meminta bantuan,
07:05kepada Tiongkok untuk sama-sama menekan Iran.
07:08Sangat mungkin.
07:10Itulah salah satu background,
07:12kenapa baik Amerika maupun China,
07:16ya dalam hal ini Amerika,
07:17karena ditanyakan Amerika,
07:18yang memang willingness-nya tinggi untuk ketemuan itu.
07:22Amerika sadar benar,
07:24bahwa bagaimana hubungan dan kedekatan antara China dan Iran dalam hal ini,
07:29terutama in term of economy.
07:32Dan ini juga,
07:34below the surface,
07:35tidak menutup kemungkinan,
07:37yang namanya cyber,
07:38yang namanya kemudian satelit,
07:41yang namanya juga,
07:42what you call it,
07:43electronic warfare,
07:44yang namanya juga ekonomi,
07:47BRI, dan lain sebagainya.
07:49Ini kan salah satu bentuk-bentuk kedekatan,
07:52bagaimana antara Iran dan China dalam hal ini,
07:56terutama pasokan energi.
07:58Jadi, menurut saya,
08:00China ini tidak akan melepaskan Iran,
08:03tetap akan,
08:05pay attention terhadap Iran dalam hal ini.
08:08Dan dia akan melihat Amerika,
08:12ini hati-hati,
08:14China ini melihat ini hati-hati.
08:15Dia tidak akan face-to-face dan
08:19merusak secara utuh hubungannya dengan Amerika.
08:23Kenapa demikian?
08:24Karena selain dia juga ada economic ties,
08:28hubungan secara ekonomi,
08:30China juga ada Taiwan di sana.
08:33Taiwan ini adalah center gravity-nya China.
08:37Everybody knows about it.
08:38Dan ini bagi China,
08:42dalam hal ini,
08:42kalau Amerika sibuk,
08:45little bit busy ya,
08:46di Middle East,
08:47ini sangat menguntungkan.
08:48Dia tidak akan sibuk-sibuk lagi dengan Indopacom.
08:51tidak sibuk-sibuk lagi dia backup Taiwan.
08:55Tapi,
08:56di sisi lain,
08:57Amerika punya kartu,
08:59kalau misalnya,
09:00China tidak nurut dengan Amerika,
09:03maka dia akan kembali backup Taiwan full.
09:06Oke, artinya,
09:07artinya ini bisa dikatakan sebagai mungkin,
09:10jalan buntu,
09:11yang kemudian ditemui oleh Trump,
09:12sehingga mau tidak mau,
09:13harus menemui Tiongkok,
09:14untuk dapat memenangkan perperangan ini dengan Iran.
09:17Seperti itu Pak Budi?
09:18Mas, maaf.
09:21Biasanya saya selalu bilang,
09:22there is the light at the end of the tunnel.
09:25Kali ini,
09:26meskipun nanti 14 sampai 15 ini diselenggarakan,
09:29saya akan bilang,
09:30there is no light at the end of the tunnel.
09:32Tidak ada secercah cahaya pun,
09:34di lorong gelapnya yang kita sudah lalai.
09:37Tapi,
09:37bukan berarti,
09:39tidak ada celah diplomasi.
09:41Tetap tentunya ada,
09:42karena ini juga semuanya kan bagian daripada,
09:44diplomasi militeri,
09:46koersif diplomasi.
09:47Oke,
09:48tapi kalau kita melihat Mbak Dina,
09:51terus terkait situasi politik yang kemudian saat ini,
09:53nampaknya eskalasinya cukup tinggi.
09:55Sebenarnya posisi Iran ini,
09:56apakah terancam,
09:58dengan pertemuan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok,
10:00atau seperti apa?
10:00Karena sebelumnya Iran juga menyebut bahwa Tiongkok ini paham,
10:03sebenarnya posisi perang ini dipaksakan.
10:07Saya tidak melihat Iran merasa terancam,
10:10dengan pertemuan ini.
10:11Pertama,
10:12mereka sudah menemui terlebih dahulu pihak China,
10:15sebelum Trump datang.
10:16Kemudian yang kedua,
10:18kalau dilihat dari komposisi delegasi Amerika Serikat yang datang ke Beijing,
10:24itu adalah orang-orang yang hawkish gitu ya.
10:27Orang-orang yang selama ini sangat dikenal anti terhadap China.
10:30Sehingga posisi China,
10:33bahkan ya untuk Secretary of State Rubio,
10:36itu kan sampai memaksakan diri untuk hadir,
10:38walaupun dilarang untuk hadir,
10:40di ban ya untuk hadir di sana,
10:42karena dia selalu punya posisi yang berseberangan dengan China gitu.
10:48Artinya,
10:48kemungkinan ada suasana yang lebih bersahabat,
10:52dan menemukan titik temu,
10:54itu sebenarnya kecil.
10:56Kemudian yang ketiga,
10:58kalau kita lihat lagi hubungan bilateralnya aja deh,
11:02karena Trump kan bilang ini soal hubungan bilateral antara Amerika Serikat dengan China.
11:06Yang berkembang akibat perang Iran ini adalah bukan lagi interdependensi,
11:12atau saling ketergantungan antara Amerika Serikat dengan China,
11:15tapi makin kelihatan justru polar yang bertolak belakang antara Amerika Serikat dengan China.
11:21Dan kalau China mempertahankan national interest-nya,
11:25kepentingan nasionalnya,
11:26tentu esensinya adalah untuk tidak melakukan negosiasi saat ini.
11:31Karena situasi belum cukup exhausted gitu ya,
11:35belum sampai titik habis,
11:37dan Amerika Serikat ini memang musuh utamanya saat ini adalah waktu.
11:42Oke.
11:43Oke.
11:43Saya ingin ke Pak Budi lagi bahwa tadi ada pernyataan yang menarik,
11:48bahwa Pak Budi mengatakan Tiongkok ini akan bersikap hati-hati kepada Amerika Serikat,
11:53karena kita tahu backgroundnya juga Tiongkok ini memang sangat dekat dengan Iran.
11:57Tetapi pertanyaannya apakah mungkin Tiongkok akan melepas pengaruhnya di Iran,
12:00mengingat Iran pemasok utama energi ke Tiongkok saat bertemu nanti
12:04antara Presiden Trump dan juga Presiden Xi Jinping?
12:07Tidak mungkin, Mas.
12:09Tidak mungkin, ya?
12:09Jadi kalau menurut saya,
12:10kalau menurut saya dia akan berada pada posisi in between.
12:15Kenapa demikian?
12:16Begini, Mas.
12:17Ini semua kan dipengaruhi dengan sitemen-sitemen yang saya bilang
12:20military diplomacy, koersi military diplomacy apa.
12:24Kan Trump barusan mengatakan bahwa
12:27sudah ada kata-kata keluar bahwa
12:29akan menyerang secara nuklir dan lain sebagainya.
12:32Sedangkan apa balasannya Iran?
12:34Baru tanggal 11 sampai 12 kemarin,
12:36Ibrahim, salah satu ahli penasehat,
12:39mengatakan bahwa
12:40kalau memang terpaksa,
12:42maka Iran itu dengan sangat mudah.
12:44Selalu saya sampaikan just matter of pushing the button.
12:47Ini hanya masalah pencet tombol saja.
12:51Nah, ini sudah ditekankan sama Ibrahim.
12:53Dan bahkan 2024, kalau nggak salah,
12:55Kamal itu setelah balik ke Presiden,
12:58juga menyatakan saat itu siap untuk menggunakan nuklir for weapon.
13:01Tapi, almarhum Kome ini melarang.
13:05Jangan.
13:06Velayat efaki tidak begitu.
13:08Jangan.
13:08Doktrin saya, doktrin kita tidak ada preemptive strike.
13:12Kita hanya membalas dan menyakitkan
13:15dan berkepanjangan apabila dia menyerang.
13:18Nah, saat itu sudah tidak boleh.
13:202024.
13:21Nah, baru kemarin 11 sampai 12 Mei,
13:24Ibrahim menyatakan bahwa
13:26dia siap apabila memang diganggu oleh Israel
13:28dan sekali lagi apa fasilitas energi
13:31dan hal-hal yang sangat krusial ya,
13:35center of gravity-nya
13:36atau katakanlah national interest
13:37baik vital interest,
13:40important interest,
13:41marginal interest,
13:42ataupun survival interest-nya dia terganggu.
13:44maka, ya, nuklirlah akan bicara.
13:47Karena dari 60 untuk mengubah 90,
13:50kata dia,
13:51meskipun saya berasumsi
13:52ya, itu kan takes energy, takes time.
13:55Tapi, kalau sudah VIP dari Iran mengatakan begitu,
13:59nah, situasi inilah, Mas,
14:00yang semakin membuat yang Mas tanyakan.
14:03Tapi, tadi jawaban saya,
14:05dia tidak akan melepas.
14:06Oke, Tiongkok tidak akan melepas hubungan baik dengan Iran.
14:08Tapi, pertanyaannya, Pak Budi,
14:09ada yang menarik bahwa jelang pertemuan
14:11antara Presiden Trump dan juga Presiden Xi Jinping,
14:14Iran memperlihatkan video latihan militer
14:17selama kurang lebih mungkin lima hari.
14:19Anda menafsirkannya ini seperti apa?
14:22Ini adalah part of the military campaign.
14:25Ini kan juga ditunjukkan seluruh negara itu begitu, Mas.
14:28Ketika dia bicara military diplomacy,
14:31coercive military diplomacy,
14:32bagaimana juga si, siapa,
14:35Turki, bagaimana dia latihan menunjukkan drone-drone barunya.
14:39Kenapa? Karena dia sudah mulai terancam
14:41dengan, apa itu, statement-statement Israel.
14:44Bagaimana juga,
14:45emang kita tidak tahu, Mas,
14:47bagaimana lesion learn,
14:48bagaimana duduk di,
14:49terusan Suez,
14:50bagaimana kerjasama Perancis dan Inggris
14:53kemudian terbuka,
14:54Kamala Bonnasser,
14:55sehingga akhirnya kembali lagi,
14:57nasionalisasi kembali,
14:58karena Amerika saat itu sama Rusia bersatu,
15:00agar tidak didominasi oleh Inggris dan Paris saat itu.
15:04Nah, sekarang kan terjadi lagi,
15:06bagaimana Inggris lewat Laut Merah,
15:08kemudian ke Telu Aden,
15:11dan juga, sorry, Perancis ya,
15:13kemudian Inggris lewat dari sisi lain.
15:14Tapi mungkin tidak, Pak Budi,
15:15video ini ditujukan kepertemuan antara Trump dan juga si Jinping.
15:21Sangat.
15:21Inilah namanya, Mas,
15:24psikologic warfare.
15:24Jadi, apapun yang dilakukan dengan latihan-latihan seperti ini,
15:30menunjukkan eksistensi dia.
15:32Jadi, kalau seandainya yang diterapkan oleh Amerika ini adalah
15:36co-exist with coercive,
15:39maka dia siap.
15:41Padahal yang diinginkan oleh Iran adalah
15:42co-exist with no coercive.
15:44Kalau kita misalnya berdampingan,
15:46jangan kekerasan dipakai,
15:48berbarengan si Mulsterny dengan menekan hubungan kita.
15:52Oke, terakhir mungkin saya ingin ke,
15:54Mbak Dina, singkat saja,
15:56ketika memang Tiongkok tidak akan melepaskan hubungan baik dengan Iran,
16:00apa sebenarnya daya tawar terbesar Amerika Serikat
16:03untuk dapat mendekati Tiongkok?
16:06Ekonomi.
16:07Ekonomi.
16:08Satu-satunya yang bisa.
16:09Betul, ekonomi.
16:10Karena China itu kepentingannya selama ini selalu menahan diri,
16:14kemudian paling banter terakhir itu dengan inisiatif Bahrain
16:17di Dewan Keamanan PBB
16:19hanya menunjukkan posisi abstain ya,
16:22ketika berusaha mengecam Iran.
16:26kuncinya sebenarnya
16:28China berusaha untuk tetap mempertahankan kekuatan dia untuk ekspor.
16:32Selama ekonomi jalan terus,
16:34dan dia bisa mempertahankan surplus
16:36yang di kuartal pertama ini
16:38tetap surplus besar sekali gitu kan,
16:41lebih dari 1 triliun,
16:42itu adalah satu kemenangan buat China.
16:45Jadi, kali ini Amerika Serikat harus memutar otak
16:48bagaimana caranya supaya mendapatkan yield lah dari China.
16:52Baik, tentu kita akan sama-sama melihat
16:54seperti apa nanti pertemuan yang cukup bersejarah,
16:57karena terakhir ini dilakukan tahun 2017
16:59antara Presiden Trump dan juga Presiden Xi Jinping.
17:02Terima kasih Mbak Dina Prapto dan juga
17:03Mai Jenteni Puna Wirawan Budi Pramono
17:06telah bergabung di Kompas Petang.
17:08Terima kasih Mas.
17:09Masuré.
17:09Có bahagia.
17:10Buah bici.
Komentar