Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
KOMPAS.TV - Negosiasi Iran dan Amerika Serikat kembali mandek. Meski diplomasi masih diutamakan, namun kedua belah pihak telah mempersiapkan pasukan militer. Lalu, apakah Iran dan AS akan menahan diri di tengah permintaan Tiongkok untuk menghentikan perang?

Kita bahas bersama Marsma TNI Purnawirawan Agung Sasongkojati, pakar strategi PPAU sekaligus alumni US Air War College, dan pakar intelijen Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas.

#PPAU #negoisasi #AS-IRAN

Baca Juga Anggota MPR Soroti Kontroversi Cerdas Cermat di Kalbar dan Minta Diulang | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/668454/anggota-mpr-soroti-kontroversi-cerdas-cermat-di-kalbar-dan-minta-diulang-sapa-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/668468/pakar-strategi-ppau-pakar-intelijen-cide-bahas-soal-negoisasi-iran-as-mandek-susun-strategi
Transkrip
00:01Negosiasi Iran dan Amerika Serikat kembali mandek meski diplomasi masih diutamakan, namun kedua belah pihak telah mempersiapkan pasukan militer.
00:10Lalu apakah Iran dan Amerika Serikat akan menahan diri di tengah permintaan Tiongkok untuk berhenti perang?
00:16Kita bahas bersama Mars Mateni Puntawirawan Agung Sasongkojati, Pakar Strategi PPAU Alumni US Air World College dan Pakar Intelligence Center
00:25for Intermastic and Diplomatic Engagement atau CIDE Anton Aliyabas.
00:30Pak Agung, Pak Anton selamat petang semua.
00:32Selamat petang Mas.
00:34Selamat petang.
00:35Baik, saya ingin ke Pak Agung terlebih dahulu setelah proposal Iran ini ditolak.
00:39Iran kembali menekan Amerika Serikat dan mengatakan bahwa militernya siap dalam mode tempur.
00:45Apakah pernyataan ini membuka peluang bahwa di Timur Tengah akan kembali perang terjadi antara Amerika Serikat dengan Iran?
00:58Soal perang kembali itu kemungkinan adalah kemungkinan yang sangat kecil.
01:04Karena masalah yang terjadi dengan perang adalah timbulnya justru yang dihindari oleh kedua belah pihak.
01:12Ya, jadi Amerika memiliki supermasi konvensional yang mutlak.
01:18Namun mereka terbukti kesulitan menghadapi taktik perang asimetris Iran dengan drone murah dan rudal jelajah serta rudal pantai yang sekarang
01:30membuat kapal-kapal tidak bisa mendekat.
01:33Serta rudal-ruda lain yang di fasilitas bawah tanah yang sudah terbukti membuat berpikir ulang untuk tidak mudah menyerang.
01:41Namun kita tahu bahwa Iran tetap pada pendidikan yang menolak pembukaan fasilitas nuklir di Natan dan Fordo.
01:47Yang ini menurut Washington, wah ini harus, ini nggak bisa untuk perdamaian kalau ini tidak dikerjakan.
01:53Kemudian Trump itu mengancam untuk melancarkan gelombang saran baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.
01:59Namun sebetulnya militer Amerika sendiri mengakui bahwa sebetulnya masih banyak target militer yang belum bisa dihancukkan ataupun yang dihancukkan hanya
02:10target palsu.
02:11Karena dari New York Times juga dapat bocoran dari CIA bahwa sebetulnya 70% daripada rudal Iran itu masih utuh.
02:17Nah, kita lihat sisi lain, perang ini juga melibatkan China dan Rusia yang tentu tidak akan mendiamkan hal ini.
02:27Makanya kita akan melihat kunjungan Trump minggu depan, dia akan melihat bagiannya China dan Rusia.
02:32Apakah dia bisa melobi? Karena kalau dengan bantuan China dan Rusia, maka apapun yang dilakukan oleh Trump,
02:38seperti mengelangi lagi peserangan-serangan, jatuhnya lagi sama saja.
02:42Kalau kita menggunakan palu untuk mengukul persoalan, maka hasilnya ya palu juga tidak ada.
02:49Dan Amerika sudah menggunakan blokade sebagai alternatif cara untuk menekan.
02:54Jadi saat ini menurut saya kelihatannya belum sampai titik di mana akan terjadi serangan kembali ataupun perang ini.
03:02Karena ini masih tit and tat untuk diplomasi dengan koersif militer.
03:05Oke, analisa dari Pak Agung bahwa perang itu peluang terjadinya sangat kecil di Timur Tengah.
03:12Dan kita tahu juga bahwa syarat Iran ini tidak banyak berubah sebenarnya yang kemudian tertuang di dalam proposal.
03:17Saya ingin ke Pak Anton, apakah kemudian artinya syarat-syarat yang kemudian diberikan oleh Iran ke Amerika Serikat,
03:23termasuk juga negosiasi, tujuannya hanya untuk menguruh waktu, untuk menyusun strategi?
03:27Atau seperti apa Pak Anton?
03:29Ya enggak, gini Mas, satu memang kalau kita lihat tentang perang antara Iran dan Amerika Serikat ini sebenarnya jadi ada
03:37paradoks ya.
03:38Tadi disebutkan oleh Trump bahwa Trump itu memiliki, Amerika Serikat itu memiliki kekuatan militer terbesar di dunia.
03:45Tapi kenyataannya kekuatan itu, superioritas itu tidak banyak bisa mengubah kenyataan yang terjadi di meja perundingan.
03:53Dan kata lain, dia tidak bisa memaksa Iran untuk bertukup lutut.
03:56Itu kemudian menjadi paradoks, itu yang satu.
03:58Kedua, bahwa namanya juga negosiasi, walaupun tidak secara langsung pertukaran ide, pertukaran apa namanya, proposal adalah lumrah.
04:07Jadi bagaimana kemudian ada saling berbalas proposal itu kemudian terjadi ya sampai saat ini.
04:14Mulai dari 5, 10, dan terakhir sekarang 14 misalnya, sama-sama 14 poin gitu.
04:20Jadi itu yang kedua.
04:21Yang ketiga memang menjadi ada beberapa hal yang menjadi kunci ya dalam kenapa kemudian proses pertukaran proposal menjadi pelik.
04:29Satu, titik temu yang sulit kemudian dilakukan adalah misalnya soal nuklir.
04:35Yang satu, ingin menghendaki semuanya diambil, apa namanya, dihentikan dengan durasi tertentu gitu.
04:41Satunya tidak.
04:42Belum lagi misalnya soal selat hormus juga berbeda pendapat.
04:45Dan ketiga adalah soal reparasi.
04:47Reparasi ini tidak ada kejadian misalnya Amerika Serikat membayar reparasi.
04:50Tapi kan kemudian Iran mengotot untuk meminta reparasi.
04:53Dan ini yang kemudian jadi pelik perundingannya gitu.
04:56Jadi, tapi bagi saya, menyambung tadi pernyatannya Pak Agung, apakah perang di depan mata, ya mungkin perangnya tidak lagi kayak
05:03dulu.
05:04Tapi kemudian perang-perang kecil ya.
05:06Jadi perang terbatas, asli saling serangnya cuma hanya sebentar-sebentar gitu.
05:09Mungkin itu yang kemudian akan terjadi, Mas Tipo.
05:12Ya, dan negosiasi ini sebenarnya sudah dilakukan ya.
05:15Pak Anton berulang kali, termasuk juga rentang durasi ini sebenarnya sudah cukup lama.
05:18Melihat kerugian yang kemudian dialami oleh dunia, apakah membuka peluang Tiongkok dan juga Rusia untuk kemudian bergerak menjadi mediator untuk
05:28kedua negara atau seperti apa?
05:31Tapi memang saya melihatnya bahwa dua negara tadi yang disebutkan, baik Cina maupun Rusia itu sama-sama menikmati keuntungan sebenarnya.
05:38Oke.
05:39Keuntungan dari perang ini.
05:40Kenapa? Karena sebelumnya mereka mendapat tekanan dari Amerika Serikat, tapi kekini Amerika Serikat memiliki distraksi sehingga tekanan kepada mereka itu
05:48bergeser gitu.
05:49Jadi berkurang gitu.
05:50Jadi Cina dalam hal ini tentu saja mendapatkan keuntungan.
05:53Kalau misalnya kita mau melihat nanti yang pertemuan dua hari lagi nih, tinggal 14-15, misalnya itu kan kunjungan pertama
05:59dalam sembilan tahun ya, Presiden Amerika datang.
06:02Dan sebenarnya kan perbincangan cuma 3T sebenarnya, ada trade, ada teknologi, dan kemungkinan ada Taiwan gitu.
06:08Tapi kemudian mungkin ada Iran yang akan masuk. Kenapa? Karena Iran kemudian diundang sebelum pertemuan.
06:13Bisa jadi kemudian yang sebelumnya Cina itu kan berada di belakang, tidak ingin menunjukkan sikap yang proaktif, berbeda dengan Rusia
06:21misalnya.
06:22Nah kini dia ingin maju ke depan terlihat. Dan ini saya pikir Cina akan memainkan peranan, menawarkan, mau difasilitasi sama
06:30saya atau tidak gitu.
06:31Karena apa? Karena Cina juga punya hubungan erat dengan Iran. Kenapa? Karena 53 persen misalnya minyak yang melintas serat.
06:37Hormus itu ke sana. Kedua, pasar dari minyak Iran itu yang paling besar ada di mana? Ada di Cina gitu.
06:42Nah itu. Rusia juga demikian. Rusia ikut menikmati. Bahkan saling tukar menukar teknologi itu adalah hal yang nyata yang bisa
06:48kita lihat.
06:49Jadi keduanya ini punya hubungan yang erat. Tapi saya melihatnya adalah bisa jadi kemudian Iran juga memanfaatkan kerjasama yang keadaan
06:57mereka tidak hanya sekedar untuk back up veto.
07:00Tapi juga untuk dapat mampu memberikan assurance. Karena assurance itulah yang kemudian tidak bisa didapatkan dari Pakistan.
07:06Kenapa Pakistan dengan Amerika Serikatnya agak jomplang powernya?
07:09Sementara kalau misalnya Amerika Serikat dengan Cina atau Amerika Serikat dengan Rusia itu cenderung setara.
07:15Jadi bisa jadi assurance atau jaminan itu bisa diberikan oleh Amerika Serikat kepada negara pihak ketiga dalam hal ini adalah
07:22Cina atau Rusia.
07:24Jadi saya melihat bahwa bisa jadi dua negara ini itu akan memainkan peranan yang cukup signifikan.
07:30Ataupun juga kita bisa lihat sebagai sebuah game changer.
07:34Apakah kemudian nanti misalnya pertemuan tanggal 14-15 itu berhasil mengubah konstelasi perang Iran Amerika Serikat atau tidak?
07:41Oke, saya ingin ke Pak Agung analisa Anda. Pak Agung terkait rencana pertemuan antara Donald Trump dan juga si Jinping
07:48ataupun antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.
07:51Apakah di momen itu nanti Tiongkok akan mulai menggunakan pengaruhnya terkait dengan apa yang kemudian terjadi di Timur Tengah?
08:00Oke, jadi kepentingan Cina dalam konflik Amerika Serikat dan Iran ini didorong oleh kebutuhan mendesak.
08:06Akan apa keamanan energi dan keinginan untuk memperluas pengaruh geopolitiknya melalui inisiatif Black and Road?
08:12Kita tahu bahwa Cina adalah mitra dagang terbesar seperti dikatakan oleh Pak Anton, Iran dan pembeli utama minyak mereka melalui
08:18jalur yang sering menghindari sanksi Amerika.
08:20Namun sekarang gangguan di Selatan Hormuz ini sangat berduikan ekonomi Cina yang sedang berjuang dengan volatilitas ya.
08:27Harga pasca pandemi kemarin masih masih ada efeknya sampai sekarang ini.
08:31Karena itu Beijing punya inisiatif kuat untuk melihat dieskalasi agar pasokan minyak tetap lancar dan murah ya.
08:38Namun sejauh mana Beijing punya inisiatif untuk menjadi mediator yang tulus itu soal lain ya.
08:43Karena Cina menikmati posisi dimana Amerika Serikat saat ini terjebak dalam konflik yang menguras sumber daya di Timur Tengah.
08:51Jadi dia menikmati ini sebetulnya.
08:52Sehingga tekanan Amerika di Laut Cina Selatan jadi berkurang.
08:56Nah, inisiatif Cina sebagai mediator kemudian besar bersifat transaksional ya.
09:00Mereka hanya akan benar-benar menekan Iran jika Amerika memberikan konsesi yang setara.
09:04Masalah tarif dagang atau isu Taiwan.
09:07Karena Beijing ingin terlihat sebagai kekuatan perdamaian yang kontras dengan pendekatan Minister Stake Washington.
09:12Biar dilihat oleh dunia bahwa Cina beda dengan Washington.
09:16Namun di balik layar mereka lebih senang sebetulnya mematasi situasi dengan kontrak minyak jangka panjang.
09:20Dengan harga diskon teran.
09:22Dengan imbalan perlindungan diplomatik di BPU yaitu hak veto seperti yang di Indonesia.
09:26Nah, sebagai kesimpulan Cina itu ibarat burung bangka yang terbang di atas sunat tempur.
09:31Mereka gak mau ikut perang tapi ambil sasisanya.
09:33Jadi, Beijing sedang merusak hegemoni Amerika dengan menawarkan paks sinika untuk menggantikan paks americana di beberapa bagian dunia.
09:43Tidak di dunia barat tapi di dunia lainnya pilihannya adalah mari ikut paks sinika.
09:48Jadi, apa?
09:49Emporiumnya Cina melalui perdagangan bukan bom.
09:54Jadi, Cina tidak punya inisentif untuk menjadi mediator jujur.
09:57Mereka mau jadi mediator yang diuntungkan.
10:00Inisentif adalah minyak murah.
10:02Semakin Iran ditekan Amerika, semakin murah harga minyak yang dijual ke Cina.
10:06Dia akan pura-pura membantu Trump.
10:07Tapi, aslinya mereka sedang memperkuat cengkeraman ekonomi di Teheran.
10:11Cina adalah akan mau ngantong dari kejauhan.
10:14Dia cari apa yang menguntungkan bagi dia.
10:16Dan, jadi dia betul-betul jadi perdamaian.
10:18Kalau perdamaian itu menguntungkan, baru dia.
10:20Kalau tidak, tidak damai itu lebih untung bagi dia.
10:23Oke.
10:23Oke, saya ingin tanyakan ke Mas Anton.
10:26Artinya ini cukup menarik ketika Tiongkok sebenarnya meminta agar perang ini dihentikan.
10:29Tetapi, justru analisa Pak Agung dan Pak Anton ini melihat bahwa Tiongkok justru meraih keuntungan juga sebenarnya dari perang ini.
10:36Pertanyaan saya, kalau memang kondisi seperti ini, negosiasi akan tarik ulur sampai kapan, Pak Anton?
10:42Ya, kalau negosiasi tarik ulur sampai kapan, sampai kemudian, apa namanya,
10:48mereka sebenarnya lelahnya seperti apa, itu satu, gitu.
10:51Karena kan itu menjadi penting kalau ada kelelahan.
10:53Kedua, seberapa besar kemudian tekanan yang datang ke mereka.
10:57Itu yang kedua.
10:58Karena bagi saya, kebuntuan perang ini itu menunjukkan ada indikasi,
11:04dimulainya pergeseran ya, pergeseran tatanan internasional.
11:07Kenapa?
11:07Karena kemudian, baik China maupun Rusia sama-sama memanfaatkan kegagalan Washington
11:13untuk memperluas pengaruh mereka di kawasan, gitu.
11:16Itu yang bagi saya menjadi penting.
11:17Kenapa? Karena kemudian, misalnya, sekutu-sekutu terdekat mereka, ada misalnya, ada Arab Saudi, Pakistan,
11:23udah mulai main dua kaki, gitu.
11:25Ini kan menjadi penting.
11:26Anda tahu, seperti kita bicara, misalnya, negara di kawasan Timur Tengah,
11:31Arab Saudi cukup dominan.
11:32Tapi bagaimana kemudian ada perpecahan, misalnya, antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi,
11:36terkait OPEC, misalnya.
11:37Lalu juga dengan Pakistan.
11:38Ada kabar terakhir bahwa ada pesawat-pesawat tempur milik Iran,
11:43kemudian disimpan, menggunakan fasilitas Pakistan, misalnya.
11:49Itu kan menjadi penting.
11:50Bagaimana kemudian, sekuat apa kemudian Amerika Serikat bisa memaintain kondisi geopolitik yang Weber buat mereka,
11:56bukan Weber kemudian buat China, pasca dari konflik ini.
12:00Ini yang kemudian bagi saya menjadi krusial.
12:03Kalau mau langsung, mau lambat atau tidak, mau cepat atau lambat,
12:07kemudian bisa jadi pengaruh Amerika.
12:09Dominasi Amerika di kawasan ini mulai bergeser, cenderung keadaan China, gitu.
12:13Jadi, kalau misalnya mau sampai kapan, ya sekuat apa.
12:16Dan masalahnya kan Amerika Serikat juga, apalagi Trump ini kan berhitung dengan waktu,
12:20bagaimana dia bisa mendapat sebuah kemenangan yang itu bisa terukur,
12:24karena ini akan digunakan sebagai bahan kampanye di Pemilu Selanadi di November.
12:29Ini yang selalu dikejar oleh Trump.
12:30Bagaimana keamanan, kemenangan itu, kemudian secara kasat mata itu bisa dilihat, diukur.
12:35Salah satunya apa?
12:36Salah satunya adalah dengan perjanjian damai,
12:39yang ini yang coba untuk dikejar dan dikebut oleh Trump.
12:42Tapi di sisi lain, Iran itu tahu bahwa waktu itu berpihak sama dia.
12:46Saya makin lama mendipik, sebenarnya yang lebih banyak butuh itu Trump, bukan saya.
12:50Saya sudah lama disangsi dan lain-lain.
12:52Ini yang kemudian, Iran cukup percaya diri,
12:54apalagi ditambah dengan adanya China dan adanya Rusia di belakang Iran.
13:00Dan itulah kenapa kemudian Iran berani untuk menggunakan strategi buying time.
13:04Dan itu juga apply dengan perang asimetris yang berlaku sekarang.
13:08Oke, baik. Saya ingin ke Pak Agung bahwa sebelumnya Presiden Donald Trump juga menyebut,
13:13militernya ini bisa dikatakan yang terbaik.
13:15Dan juga sudah ada sebenarnya sejumlah ultimatum atau mungkin ancaman kepada Iran.
13:20Tapi apakah melihat analisa dari Pak Agung dan juga Pak Anton,
13:23artinya apa yang kemudian disampaikan oleh Trump,
13:25ini hanya sekedar ancaman saja?
13:28Hanya sekedar gertak sambal atau seperti apa, Pak Agung?
13:32Itu hanya nadar, apa ya, nadar omong kosongnya Trump saja menurut saya.
13:39Karena dia kayak gini,
13:42nah paling begini ya,
13:43nanti dari pasca pertemuan Trump dengan si Jinping,
13:46nanti skenario paling mungkin itu adalah genjatan senjata transaksional.
13:49Jangka pendek daripada deskalisi permanen.
13:52Karena yang ngarep betul ini genjatan senjata biar naik itu kan Amerika ya.
13:56Tapi kan nggak ketemu,
13:57akhirnya nanti bukan deskalisi permanen,
14:00tapi genjatan transaksional.
14:02Cina, skenario pertama itu Cina mungkin setuju
14:04untuk menggunakan pengaruhnya memujuk Iran,
14:05membuka melihat satormus,
14:07dengan imbalan pelanggaran saksi teknologi,
14:09perusahaan Cina seperti Huawei,
14:11penghapusan sebagian tarif impor,
14:13dan sehingga memberikan kemenangan politik cepat bagi Trump,
14:15sehingga bisa bilang sebelum pilih selesai,
14:18serta stabilitas energi bagi si Jinping.
14:20Dan tentu Iran juga senang ya,
14:22dapat banyak insentif dari situ.
14:25Yang kedua lebih suram ya.
14:27Jadi, sangat jauh sedikit,
14:28pertemuan itu buntu,
14:29di mana Cina memanfaatkan situasi
14:31memperkuat pengaruh geopolitiknya
14:33dengan mendukung ekonomi Iran
14:34lewat pembayaran non-dolar,
14:36mempercepat proses di dolar-dolar,
14:37dan memperoleh insumen ekonomi Amerika.
14:40Cina tidak akan mendorong deskalasi,
14:43melainkan Amerika terus berdarah di Timur Tengah
14:45bahwa era unipolar sudah berakhir.
14:47Akhirnya, keputusannya akan bergantung
14:49pada seberapa besar sakit ekonomi dari China
14:51akibat harga minyak tinggi,
14:52dibandingkan keuntungan strategis
14:54melemahkan ekonomi Amerika.
14:55Tapi yang paling jelas,
14:56Amerika yang akan berdarah-darah,
14:58dan Trump kemungkinan akan mengalami
15:01masalah besar dengan karir politiknya,
15:03dan Republik juga yang pendukungnya.
15:05Oke, saya ingin ke Pak Anton,
15:07ada pernyataan Pak Agung yang menarik,
15:08bahwa ancaman,
15:10ataupun ultimatum Presiden Amerika Serikat,
15:13Donald Trump disebut sebagai
15:14gertak omong kosong.
15:15Anda sepakat dengan pernyataan ini, Pak Anton?
15:18Iya, dan itu kan sebenarnya yang berulang kali ya,
15:21berulang kali dilakukan oleh Trump,
15:23kalau misalnya dalam kajian,
15:24itu dibilangnya diplomasi koersif,
15:26dia ingin berdiplomasi,
15:28tapi kemudian ada benar-benar ada ancaman,
15:30gitu, dan itu memang dilakukan,
15:31walaupun juga misalnya,
15:32kita bisa lihat,
15:33ada sejumlah laporan,
15:35misalnya ada sortie pesawat,
15:37sudah mulai banyak,
15:38gitu, termasuk juga misalnya,
15:40untuk fuel, ya,
15:42jadi karena bahan bakar, gitu,
15:43jadi, karena bagaimanapun juga,
15:44kalau misalnya ini nanti akan melakukan serangan,
15:46apalagi misalnya Israel sudah disebutkan,
15:49sudah mengajukan proposal
15:50untuk melakukan serangan kembali,
15:52di dalam 2-3 minggu,
15:53panjang 2-3 minggu,
15:54untuk menyerang Teheran, gitu,
15:56ya, tentu saja,
15:56tahan bakar menjadi kunci,
15:58jadi, ada sejumlah laporan bilang,
16:00ada sortie pesawat yang sudah bulak-balik
16:02di kawasan timur tengah cukup tinggi,
16:04tapi kan problemnya adalah,
16:05ketika misalnya untuk melakukan serangan,
16:06itu kan butuh dukungan dari,
16:08dari negara-negara kawasan,
16:10termasuk juga penggunaan ruang udara,
16:11misalnya Riyad,
16:13dalam hal ini Arab Saudi,
16:14dia itu sudah memberi sinyal,
16:15main dua kaki,
16:16sudah main aman,
16:17dia sempat untuk kemudian melarang,
16:19tapi kemudian ada laporan,
16:20yang kemudian diizinkan,
16:21dan artinya apa?
16:22Belum ada satu suara nih,
16:23gitu ya,
16:24kawasan,
16:24negara-kawasan,
16:25untuk kalau misalnya nanti akan ada serangan,
16:27kembali,
16:28dibuka serangan kembali,
16:29gitu,
16:29jadi bagi saya,
16:30memang sejauh ini,
16:32gitu,
16:33telah berulang kali,
16:34memberikan deadline,
16:35tapi kemudian deadline-nya tidak dilakukan,
16:37karena dia jelas berhitung,
16:38ketika ini akan serangan lagi,
16:39dilakukan,
16:40karena kemudian kalau serangan ini dilakukan,
16:42tentu saja eskalasi akan jauh lebih tidak terkendali,
16:44kenapa?
16:45Karena minyak ini,
16:46jadi sudah banyak yang menyatakan,
16:49bahwa,
16:49ini ketika kita bicara dengan krisis minyak,
16:51ini sudah pada point of no return,
16:53artinya apa?
16:53Yang akan masuk pada fase eskalasi berbahaya,
16:56tapi,
16:57gitu,
16:57tapi kalau misalnya Trump gagal,
16:58misalnya menekan Iran,
16:59bisa jadi kemudian Iran akan menjadi kekuatan alternatif baru,
17:02gitu ya,
17:03kenapa?
17:03Karena dia menunjukkan,
17:04sudah disangsi lebih lama,
17:06Amerika,
17:07melawannya Amerika yang,
17:08notabene kekuatan militer terbesar di dunia,
17:10tapi tidak membuat dia takluk,
17:12gitu,
17:12ini kan menjadi,
17:13apa namanya,
17:13dia akan menjadi sebuah,
17:14bisa jadi menjadi poros baru di,
17:16kawasan timur tengah,
17:17gitu,
17:17jadi kalau misalnya lihat,
17:18apakah ini ancamannya,
17:20memang sejauhnya sebagai bluffing,
17:22tapi bagi saya itu,
17:22adalah bentuk ya,
17:24memang bentuk model diplomasi,
17:25yang benar,
17:26apa,
17:26menyertakan ancaman dalam diplomasinya,
17:28dan itu memang style-nya Trump bagi saya.
17:30Baik,
17:31kita sudah dapat poinnya,
17:31terima kasih Pak Anton Ali Abbas,
17:33dan juga Pak Agung Sasongko Jati,
17:35telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar

Dianjurkan