Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menilai para pejabat publik dan pimpinan lembaga negara perlu meningkatkan kemampuan komunikasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Hal itu disampaikan Hasan saat menanggapi pentingnya pejabat pemerintah belajar menyampaikan informasi secara lebih efektif kepada publik.

"Pak Prabowo mau bikin program sekali lagi nih. Retreat lagi itu, mungkin staf khusus atau juru bicara kementerian untuk retreat komunikasi," kata Hasan.

Menurut Hasan, program tersebut bertujuan menyamakan langkah komunikasi di seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan.

Hasan menepis anggapan bahwa penguatan komunikasi dilakukan karena pemerintah memiliki masalah besar dalam komunikasi publik. Menurutnya, seluruh lini pemerintahan hanya perlu bergerak dengan ritme yang sama.

Ia menegaskan, kerja keras pemerintah dalam kebijakan dan pembangunan harus diimbangi komunikasi yang sama kuatnya agar pesan sampai ke masyarakat.

Hasan mengatakan komunikasi yang kuat diperlukan agar berbagai program pemerintah dapat dipahami publik secara utuh.

Dalam kesempatan itu, Hasan juga menyoroti mental pejabat pemerintah yang dinilainya kerap goyah akibat tekanan di media sosial.

Ia menilai kementerian dan lembaga sering kali langsung mundur hanya karena mendapat serangan atau kritik viral di media sosial.

Padahal menurutnya, banyak kebijakan pemerintah sudah dirancang secara matang dan teknokratis.

Selain keberanian, Hasan juga menilai pemerintah membutuhkan strategi komunikasi dan narasi yang lebih kuat di era media digital saat ini.

Hasan menyebut banyak informasi pemerintah gagal melekat di benak publik karena tidak dikemas dengan narasi yang jelas.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/G9YV_CCvsDY



#hasannasbi #prabowo #menteri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/667820/hasan-nasbi-ungkap-rencana-retreat-komunikasi-ala-presiden-prabowo-ini-pesertanya-rosi
Transkrip
00:00Bahkan sebenarnya kalau saya sempat sekilas mendengar apa yang dikatakan Bung Kodari,
00:05ia memberikan penekanan supaya homeless media ini juga bisa menjadi rujukan informasi,
00:10tetapi juga kalau nggak salah Bung Kodari mengatakan proses verifikasi.
00:15Bang Kodari itu orang yang menurut saya...
00:18Jadi harusnya itu ini masukan yang baik juga untuk homeless media.
00:21Bang Kodari itu justru beberapa kali ngundang teman-teman homeless media,
00:26justru penekanan pertama sama dia adalah kode etik jurnalistik.
00:31Bahkan beberapa kali kita diskusi, kita diskusi udah panjang kan.
00:34Mungkin sudah 2 bulan, 3 bulan terakhir kita diskusi,
00:37harusnya homeless media itu diperlakukan standar yang sama dengan teman-teman media.
00:44Mainstream.
00:44Media-media mainstream, media-media jurnalistik lainnya.
00:47Biar sama kualifikasinya gitu.
00:49Biar sama kualifikasinya.
00:51Jadi kalau soal kerjasama-kerjasama itu,
00:54saya bingung aja kenapa kerjasama dengan pemerintah dianggap jelek.
00:58Jeleknya di mana?
01:01Jeleknya di mana?
01:03Kalau misalnya, media ini kan juga bukan yayasan sosial kan?
01:09Media mainstream juga bukan yayasan sosial kan?
01:12Jadi bagian dari entitas bisnis juga.
01:14Entitas bisnis kan?
01:15Jadi dia bisa kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan pemerintah.
01:19Homeless media ini juga bukan yayasan sosial kan?
01:21Hanya tinggal pilihannya di masing-masing ruang redaksi.
01:24Apakah mereka mau menumbuhkan kepercayaan dari pembaca penontonnya?
01:28Itu pilihan.
01:29Tapi nggak ada jelek bagus atau jelek nih.
01:33Yang mau kolaborasi sama pemerintah juga nggak bisa dianggap jelek.
01:37Nggak adil menurut saya.
01:39Kalau misalnya dibilang kolaborasi bersama pemerintah,
01:41apakah memang ada niat untuk menyamakan opini?
01:44Menyamakan opini?
01:45Biar sama semua sejalan dengan...
01:46Bagaimana caranya menyamakan opini?
01:48Tapi kita bisa kasih opini dari tangan pertama?
01:50Iya.
01:52Ingin menyampaikan seluas-luasnya opini versi tangan pertama?
01:55Iya dong.
01:56Kan itu kepentingan pemerintah.
01:58Jadi homeless media nggak ngutip lagi dari kompas TV.
02:02Nggak ngutip lagi.
02:03Kalau ngutip gitu dapat publisir.
02:06Enggak tuh?
02:06Nah makanya.
02:07Jadi kita undang mereka aja dapat dari tangan pertama.
02:12Ini kan banyak hal-hal yang kita harus adaptasi.
02:15Ini idenya siapa?
02:16Idenya Bung Kodari atau Anda sebagai penasehat khusus Presiden?
02:19Kita diskusi panjang lah soal ini.
02:21Tapi Bung Kodari punya ide yang bold soal ini.
02:25Bahwa teman-teman ini harus bisa juga kita...
02:28Apa ya?
02:30Terangkul.
02:31Kita ajak kolaborasi.
02:34Kalau boleh mereka dapat informasinya langsung dari tangan pertama.
02:37Nggak ngutip dari media lagi.
02:39Bahkan sebenarnya mohon maaf ya.
02:41Ngutip dari media itu biasanya juga udah banyak loh.
02:43Kayak tadi.
02:44Bayangin homeless yang nggak diajak kemarin.
02:47Misalnya atau nggak diundang kemarin.
02:48Udah ngeliatnya dengan miring kan?
02:49Karena bahasanya rekrut.
02:52Ya kan tapi cuma satu media aja.
02:53Dua media.
02:54Tapi efeknya panjang.
02:55Teman-teman ini juga kena peer group pressure loh.
02:59Kena peer group pressure juga.
03:01Kena cancel culture juga.
03:03Menurut saya agak-agak kejam sih itu.
03:05Bung Hasan kan Anda banyak menitik beratkan soal bagaimana media sering cukup bias.
03:13Dan kemudian makanya ingin mengajak juga new media, homeless media untuk mendengarkan informasi yang pertama.
03:21Mendengarkan informasi dari tangan pertama.
03:24Semua belajar untuk bisa memberikan informasi dengan jernih.
03:29Tapi pertanyaan saya, Anda merasa perlu nggak para pejabat publik ini, kepala lembaga itu juga belajar cara berkomunikasi?
03:37Perlu dong.
03:39Pak Prabowo mau bikin program sekali lagi nih.
03:42Retreat lagi itu.
03:45Mungkin staf khusus atau jurubicara kementerian untuk retreat komunikasi.
03:51Jadi kita samakan gerak langkah kita soal komunikasi.
03:54Berarti memang Pak Prabowo merasa memang ada PR besar dari sisi komunikasi?
03:59Mungkin bahasanya bukan PR besar.
04:01Tapi semua sayap harus dikepakkan dengan sama.
04:04Jadi nggak cuma kerjanya yang ngebut.
04:06Nggak kerjanya yang kerja keras.
04:08Tapi komunikasinya juga harus kerja keras.
04:11Supaya yang kerja keras di sisi kebijakan, program, pembangunan, dan lain-lain ini juga tersampaikan dengan baik.
04:16Dengan baik gitu.
04:17Jadi akan ada retreat.
04:19Kita tuh butuh tiga hal kan.
04:20Nggak semua orang punya tiga-tiganya.
04:23Mungkin salah satu.
04:24Apa tiga hal tuh apa?
04:26Yang pertama sekarang itu butuh nyali.
04:30Pemerintah KL tuh butuh nyali.
04:32Kita tuh kadang-kadang langsung surut gara-gara dibully 20 orang langsung surut.
04:37Udah diem aja deh.
04:38Udah dibully kita gitu.
04:40Padahal ini penjelasan teknokratis sudah dihitung lama.
04:43Begitu ada orang yang salah paham.
04:44Tapi salah pahamnya disambut oleh viralitas.
04:47Kita mundur karena dibully.
04:49Nggak boleh gampang surut.
04:51Kita harus berani punya nyali untuk menjelaskan itu terus.
04:53Nggak usah pusing dengan bulian.
04:56Bukan berarti kita tondev.
04:58Tapi kita yakin dengan apa yang sudah kita hitung dari awal.
05:01Program.
05:01Jangan cepat mundur.
05:02Nyali.
05:03Yang kedua dengan banyaknya perkembangan media sekarang kita butuh strategi.
05:09Merangkul homeless media bagian dari strategi.
05:12Tapi bukan merekrut.
05:13Saya nggak terima itu kata-kata.
05:14Oke itu udah clear lah tadi kita kenaifikasi.
05:16Tapi itu bagian dari.
05:17Yang ketiga?
05:18Bagi strategi.
05:20Narasi.
05:22Jadi banyak berita kadang-kadang numpang lewat aja kan.
05:26Nggak nempel di kepala publik kan.
05:29Karena nggak diceritakan urgensinya apa.
05:32Oke.
05:33Jadi kurang berani?
05:35Dua kurang...
05:37Bukan kurang berani tapi kita harus punya tiga-tiganya.
05:39Oke.
05:40Harus lebih berani.
05:42Dua?
05:42Harus lebih berani.
05:43Tadi apa dua?
05:45Lebih punya strategi.
05:46Lebih punya strategi dan narasi.
05:48Narasi.
05:48Oke.
05:49Jadi kalau disingkat jadi lisan.
05:52Itu versi saya.
05:53Lisan itu apa?
05:54Lisan.
05:55Nyali.
05:55Oh.
05:56Strategi.
05:57Narasi.
05:58Setelah DFK sekarang lisan.
06:00Bapak ini memang ahli singkatan-singkatan ya.
06:03Selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan