00:00Bahkan sebenarnya kalau saya sempat sekilas mendengar apa yang dikatakan Bung Kodari,
00:05ia memberikan penekanan supaya homeless media ini juga bisa menjadi rujukan informasi,
00:10tetapi juga kalau nggak salah Bung Kodari mengatakan proses verifikasi.
00:15Bang Kodari itu orang yang menurut saya...
00:18Jadi harusnya itu ini masukan yang baik juga untuk homeless media.
00:21Bang Kodari itu justru beberapa kali ngundang teman-teman homeless media,
00:26justru penekanan pertama sama dia adalah kode etik jurnalistik.
00:31Bahkan beberapa kali kita diskusi, kita diskusi udah panjang kan.
00:34Mungkin sudah 2 bulan, 3 bulan terakhir kita diskusi,
00:37harusnya homeless media itu diperlakukan standar yang sama dengan teman-teman media.
00:44Mainstream.
00:44Media-media mainstream, media-media jurnalistik lainnya.
00:47Biar sama kualifikasinya gitu.
00:49Biar sama kualifikasinya.
00:51Jadi kalau soal kerjasama-kerjasama itu,
00:54saya bingung aja kenapa kerjasama dengan pemerintah dianggap jelek.
00:58Jeleknya di mana?
01:01Jeleknya di mana?
01:03Kalau misalnya, media ini kan juga bukan yayasan sosial kan?
01:09Media mainstream juga bukan yayasan sosial kan?
01:12Jadi bagian dari entitas bisnis juga.
01:14Entitas bisnis kan?
01:15Jadi dia bisa kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan pemerintah.
01:19Homeless media ini juga bukan yayasan sosial kan?
01:21Hanya tinggal pilihannya di masing-masing ruang redaksi.
01:24Apakah mereka mau menumbuhkan kepercayaan dari pembaca penontonnya?
01:28Itu pilihan.
01:29Tapi nggak ada jelek bagus atau jelek nih.
01:33Yang mau kolaborasi sama pemerintah juga nggak bisa dianggap jelek.
01:37Nggak adil menurut saya.
01:39Kalau misalnya dibilang kolaborasi bersama pemerintah,
01:41apakah memang ada niat untuk menyamakan opini?
01:44Menyamakan opini?
01:45Biar sama semua sejalan dengan...
01:46Bagaimana caranya menyamakan opini?
01:48Tapi kita bisa kasih opini dari tangan pertama?
01:50Iya.
01:52Ingin menyampaikan seluas-luasnya opini versi tangan pertama?
01:55Iya dong.
01:56Kan itu kepentingan pemerintah.
01:58Jadi homeless media nggak ngutip lagi dari kompas TV.
02:02Nggak ngutip lagi.
02:03Kalau ngutip gitu dapat publisir.
02:06Enggak tuh?
02:06Nah makanya.
02:07Jadi kita undang mereka aja dapat dari tangan pertama.
02:12Ini kan banyak hal-hal yang kita harus adaptasi.
02:15Ini idenya siapa?
02:16Idenya Bung Kodari atau Anda sebagai penasehat khusus Presiden?
02:19Kita diskusi panjang lah soal ini.
02:21Tapi Bung Kodari punya ide yang bold soal ini.
02:25Bahwa teman-teman ini harus bisa juga kita...
02:28Apa ya?
02:30Terangkul.
02:31Kita ajak kolaborasi.
02:34Kalau boleh mereka dapat informasinya langsung dari tangan pertama.
02:37Nggak ngutip dari media lagi.
02:39Bahkan sebenarnya mohon maaf ya.
02:41Ngutip dari media itu biasanya juga udah banyak loh.
02:43Kayak tadi.
02:44Bayangin homeless yang nggak diajak kemarin.
02:47Misalnya atau nggak diundang kemarin.
02:48Udah ngeliatnya dengan miring kan?
02:49Karena bahasanya rekrut.
02:52Ya kan tapi cuma satu media aja.
02:53Dua media.
02:54Tapi efeknya panjang.
02:55Teman-teman ini juga kena peer group pressure loh.
02:59Kena peer group pressure juga.
03:01Kena cancel culture juga.
03:03Menurut saya agak-agak kejam sih itu.
03:05Bung Hasan kan Anda banyak menitik beratkan soal bagaimana media sering cukup bias.
03:13Dan kemudian makanya ingin mengajak juga new media, homeless media untuk mendengarkan informasi yang pertama.
03:21Mendengarkan informasi dari tangan pertama.
03:24Semua belajar untuk bisa memberikan informasi dengan jernih.
03:29Tapi pertanyaan saya, Anda merasa perlu nggak para pejabat publik ini, kepala lembaga itu juga belajar cara berkomunikasi?
03:37Perlu dong.
03:39Pak Prabowo mau bikin program sekali lagi nih.
03:42Retreat lagi itu.
03:45Mungkin staf khusus atau jurubicara kementerian untuk retreat komunikasi.
03:51Jadi kita samakan gerak langkah kita soal komunikasi.
03:54Berarti memang Pak Prabowo merasa memang ada PR besar dari sisi komunikasi?
03:59Mungkin bahasanya bukan PR besar.
04:01Tapi semua sayap harus dikepakkan dengan sama.
04:04Jadi nggak cuma kerjanya yang ngebut.
04:06Nggak kerjanya yang kerja keras.
04:08Tapi komunikasinya juga harus kerja keras.
04:11Supaya yang kerja keras di sisi kebijakan, program, pembangunan, dan lain-lain ini juga tersampaikan dengan baik.
04:16Dengan baik gitu.
04:17Jadi akan ada retreat.
04:19Kita tuh butuh tiga hal kan.
04:20Nggak semua orang punya tiga-tiganya.
04:23Mungkin salah satu.
04:24Apa tiga hal tuh apa?
04:26Yang pertama sekarang itu butuh nyali.
04:30Pemerintah KL tuh butuh nyali.
04:32Kita tuh kadang-kadang langsung surut gara-gara dibully 20 orang langsung surut.
04:37Udah diem aja deh.
04:38Udah dibully kita gitu.
04:40Padahal ini penjelasan teknokratis sudah dihitung lama.
04:43Begitu ada orang yang salah paham.
04:44Tapi salah pahamnya disambut oleh viralitas.
04:47Kita mundur karena dibully.
04:49Nggak boleh gampang surut.
04:51Kita harus berani punya nyali untuk menjelaskan itu terus.
04:53Nggak usah pusing dengan bulian.
04:56Bukan berarti kita tondev.
04:58Tapi kita yakin dengan apa yang sudah kita hitung dari awal.
05:01Program.
05:01Jangan cepat mundur.
05:02Nyali.
05:03Yang kedua dengan banyaknya perkembangan media sekarang kita butuh strategi.
05:09Merangkul homeless media bagian dari strategi.
05:12Tapi bukan merekrut.
05:13Saya nggak terima itu kata-kata.
05:14Oke itu udah clear lah tadi kita kenaifikasi.
05:16Tapi itu bagian dari.
05:17Yang ketiga?
05:18Bagi strategi.
05:20Narasi.
05:22Jadi banyak berita kadang-kadang numpang lewat aja kan.
05:26Nggak nempel di kepala publik kan.
05:29Karena nggak diceritakan urgensinya apa.
05:32Oke.
05:33Jadi kurang berani?
05:35Dua kurang...
05:37Bukan kurang berani tapi kita harus punya tiga-tiganya.
05:39Oke.
05:40Harus lebih berani.
05:42Dua?
05:42Harus lebih berani.
05:43Tadi apa dua?
05:45Lebih punya strategi.
05:46Lebih punya strategi dan narasi.
05:48Narasi.
05:48Oke.
05:49Jadi kalau disingkat jadi lisan.
05:52Itu versi saya.
05:53Lisan itu apa?
05:54Lisan.
05:55Nyali.
05:55Oh.
05:56Strategi.
05:57Narasi.
05:58Setelah DFK sekarang lisan.
06:00Bapak ini memang ahli singkatan-singkatan ya.
06:03Selamat menikmati.
Komentar