Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik, koreksi, hingga permintaan maaf dalam menyikapi polemik di ruang publik.

Menurut Hasan, sebagian kesalahpahaman publik muncul karena penjelasan pemerintah yang kurang tepat sejak awal.

Saat ditanya apakah pemerintah memiliki kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan, Hasan menyebut hal tersebut sudah beberapa kali dilakukan oleh para pejabat pemerintah.

Hasan menilai permintaan maaf maupun koreksi seharusnya tidak dipandang negatif dalam sistem pemerintahan.

"Jadi, itu akan selalu ada kok. Mengoreksi, minta maaf, itu akan selalu ada. Dan bukan berarti minta maaf itu juga sesuatu yang jelek," kata Hasan.

Ia juga menegaskan bahwa sikap terbuka terhadap koreksi merupakan hal yang wajar.

Menurut Hasan, bahkan kebijakan yang tidak bermasalah pun tetap bisa menjadi bahan evaluasi dan koreksi.

Dalam kesempatan itu, Hasan juga menyinggung kebijakan efisiensi di kementerian dan lembaga yang menurutnya tetap harus berjalan tanpa mengurangi pelayanan publik.

Menurutnya, efisiensi dilakukan dengan memastikan layanan masyarakat tetap optimal.

Ia menegaskan penguatan komunikasi pemerintah ke depan akan difokuskan pada penjelasan yang lebih kuat dan realistis dalam menghadapi kritik publik.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/G9YV_CCvsDY



#hasannasbi #prabowo #kabinet

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/667818/tegaskan-pemerintah-terbuka-hasan-nasbi-menteri-menteri-banyak-mengoreksi-rosi
Transkrip
00:00Itu pasti tuh, udah sampai di level itu tuh orangnya pasti itu.
00:04Tapi bagaimana Anda memberikan masukan ketika tahu bahwa itu tidak doable sekarang?
00:08Yang mana misalnya?
00:09Kan tadi tidak bisa berubah pendirian, tapi Anda tahu bahwa ini belum...
00:13Bukan tidak bisa mudah, tidak mudah berubah.
00:15Jadi tapi ketika ada masukan-masukan, Presiden challenge balik masukan kita,
00:19terus dia bilang, tapi coba, coba bikin kajiannya, coba bikin ininya,
00:26coba bikin apa sebenarnya rangkuman-rangkumannya.
00:29Nanti presentasi lagi ke saya.
00:31Jadi ada titik di mana Presiden itu kemudian memikirkan usulan-usulan yang tadi masuk,
00:38walaupun awalnya di challenge.
00:40Penghasan, Anda tidak perlu sebut lama, tapi pernah sebagai orang yang ingin meluruskan
00:45atau supaya orang tidak salah paham pada kebijakan pemerintah dalam hal ini programnya Presiden,
00:51pernah nggak Anda merasa, aduh kok ngomongnya kayak gini sih?
00:55Nggak, kita harus belajar kayak gitu.
00:57Kita nggak bisa sok paten-sok paten sendiri.
01:00Tapi pasti ada dong yang misalnya.
01:02Nggak, menurut saya gini, ada masa di mana mungkin, ya mungkin kekeliruan atau apa itu memang harus terjadi.
01:13Dan ada masa kita juga harus paham, mungkin orang itu, menteri itu, dia nggak punya pilihan lain.
01:19Tapi gini loh, kalau itu seri, katakan itu harus terjadi, tapi itu kan bisa melemahkan trust.
01:28Ya kita harus segera perbaikikan.
01:29Karena menurut saya trust itu bukan karena kesalahan, tapi karena bad intention.
01:36Sama aja kayak kita berumah tangga, kesalahan, tapi kalau kita tahu itu kesalahan bukan karena bad intention.
01:44Bukan karena maksud jahat atau maksud buruk, kita masih bisa perbaiki itu.
01:50Beda dengan kalau ada maksud jahat, maksud buruk itu tentu mungkin akan lebih sulit untuk diperbaiki.
01:56Jadi sekarang kalau bicara kita...
01:58Jadi saya ini mazhabnya realistis, jadi yang ideal-ideal semua serubah sempurna, nilainya harus seratus itu sudah lama saya tinggalkan.
02:06Bahkan pejabat publik dibully itu mungkin sebuah keniscahayaan.
02:12Udah giliran aja itu, anggota kabinet dibully itu udah giliran aja.
02:16Dan jangan patah semangat juga gara-gara pas gilirannya dia bully.
02:20Jangan juga merasa jelek, buruk, atau rendah kemudian karena dibully.
02:25Jadi memang sudah waktunya juga mungkin udah muter dia.
02:29Dari Menteri A, Menteri B, Menteri C, udah muter aja itu buat dibully.
02:33Jadi kalau seperti judul Rosi pada malam hari ini, bedah gaya komunikasi istana.
02:37Apa yang kita akan lihat berbeda dari gaya komunikasi istana?
02:41Emang harus berbeda?
02:43I don't know, buktinya kan Anda masuk.
02:45Kalau misalnya nggak berbeda, ngapain Anda masuk?
02:46Untuk menambah tenaga bukan buat mengubah?
02:49Ya makanya apa yang kita bisa lihat sesuatu oke, pantas.
02:56Urangawa ini ada di sini.
02:58Seperti yang waktu itu bocoran dari Pak Yusuf Wanandi di sini, di studio ini waktu Imlek.
03:04Katanya Hasan Nasbi akan masuk lagi.
03:06Urangawa ternyata masuk lagi sebagai penasehat khusus Presiden.
03:09Saya nggak berani bilang berbeda, tapi mungkin akan lebih cepat, akan lebih taktis, akan lebih, apa ya, bahasa itu boleh
03:22nggak dipakai misalnya?
03:23Bahasa agresif itu boleh nggak dipakai gitu?
03:27Bukan ofensif, tapi ya lebih agresif lah.
03:31Untuk menyampaikan sesuatu ke masyarakat.
03:34Jadi modelnya bukan model, udah diamin aja dulu, nanti sampai hilang isunya.
03:41Nggak, kita mau masyarakat mengerti supaya tidak salah paham gitu.
03:45Supaya jangan kesalahpahaman itu menumpuk-numpuk.
03:47Tapi pada titik mana ya, Bung Hasan Nasbi?
03:50Apakah juga ada kebesaran hati untuk mengakui bahwa kesalahpahaman itu atau publik menangkap itu berbeda,
03:59karena pangkalnya itu memang salah dijelaskannya.
04:03Ada nggak satu titik mau dengan rendah hati mengatakan, ya ini memang harus kita koreksi?
04:08Lo kan beberapa kali ngoreksi.
04:10Contoh?
04:11Ya, Ibu Menteri PPA.
04:12Iya, itu kan makanya tadi saya apresiasi.
04:14Makanya banyak hal yang sudah dikoreksi kok gitu.
04:18Jadi menteri-menteri juga banyak yang sudah mengoreksi.
04:20Jadi itu akan selalu ada kok.
04:23Mengoreksi, minta maaf itu akan selalu ada.
04:26Dan bukan berarti minta maaf itu juga sesuatu yang jelek, bukan berarti kita ngoreksi juga sesuatu yang jelek.
04:32Terbuka kok.
04:33Mengoreksi itu tuh terbuka.
04:34Masalnya gini, yang nggak ada masalah aja, itu bisa dikoreksi.
04:39Jangankan yang ada masalah.
04:40Yang nggak ada masalah aja, bisa dikoreksi.
04:48Ketika, misalnya nih, berbagai macam kementerian dan lembaga efisiensi misalnya.
04:55Ada program prioritas juga efisiensi dulu.
05:01Oke.
05:02Ada, misalnya kayak gitu.
05:03Jadi itu kan program prioritas sebenarnya bisa jalan aja terus.
05:07Tapi juga ada penghematan di segala macam, tapi yang layanan kepada masyarakat tidak boleh berkurang.
05:14Jadi yang berkorban siapa?
05:15Yang berkorban, lidernya.
05:17Yang berkorban, pemimpin-pemimpinnya.
05:19Yang berkorban, ASN-ASN.
05:21Oke.
05:21Jadi sekali lagi, kalau bicara soal gaya komunikasi tanah, Anda melihat lebih pada memperkuat penjelasan?
05:30Memperkuat dan menambah SDM.
05:31Nah, menurut Anda, nanti idealnya itu seperti apa sih para jurubicara program presiden ini?
05:42Nah itu, Rosy.
05:44Kenapa harus tanya yang ideal, Rosy?
05:46Karena Anda tadi realistis ya?
05:48Iya.
05:49Jadi hadapi, yang memang harus kita hadapi, kita hadapi.
05:53Yang bisa kita jelaskan, jelaskan.
05:56Jadi maksudnya kita nggak boleh malas untuk menjelaskan.
05:59Nggak boleh tunggu-tunggu untuk menjelaskan.
06:02Sekali lagi, ini kayak pemain bola.
06:04Salah oper itu pasti kejadian juga.
06:06Bola kita tendang out itu juga pasti ada.
06:09Tiba-tiba gawang bobol juga pasti ada.
06:11Tapi yang harus kita pastikan bahwa secara keseluruhan permainan tim dalam 2x45 menit bagus dan menang.
06:20Oke.
06:21Terima kasih penasehat khusus presiden bidang komunikasi.
06:26Ini rasanya title yang nggak kaleng-kaleng.
06:29Karena rasanya...
06:30Semoga bisa saya jalankan dengan baik.
06:33Memberikan nasihat pada presiden itu luar biasa loh.
06:36Udah kasih nasihat?
06:38Sudah kasih masukan.
06:39Kayaknya ngasih nasihat itu kayaknya terlalu berat buat saya.
06:43Tapi ide, masukan, usul, sudah.
06:47Terima kasih Bung Hasan Nasbi.
06:49Good luck.
06:50Terima kasih.
06:50Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan