00:00Perempuan adat Enggros menjaga hutan perempuan sebagai sumber kehidupan dan ruang budaya di Teluk Yoteva, Jayapura, Papua.
00:09Di tengah keterbatasan, mama-mama adat terus berjuang menjaga hutan yang menjadi penopang hidup mereka.
00:15Lalu, seperti apa peran dan juga tantangan yang dihadapi perempuan adat di Enggros?
00:21Berikut liputan selengkapnya didukung oleh Internews, Earth Journalism Network.
00:27Hutan perempuan itu adalah dapur bagi kami, masyarakat kampung Enggros, dan hutan perempuan juga adalah ibu bagi kami, masyarakat kampung
00:37Enggros.
00:41Bagi perempuan adat Enggros, hutan menjadi sumber kehidupan.
00:49Dari hutan, mereka mendapatkan bahan konsumsi dan penghasilan.
00:54Hutan perempuan di kampung Enggros, Abepura, kota Jayapura, memiliki luas sekitar 32,9 hektare dan menjadi ruang hidup yang dijaga
01:03oleh perempuan adat.
01:07Sebagian dikelola BBK, SDA, dan sebagian lainnya merupakan hutan lindung.
01:13Di sini, hanya perempuan yang boleh masuk.
01:17Kehadiran mereka menjadi penanda wilayah yang dilindungi.
01:23Tidak ada laki-laki yang diperbolehkan masuk, dan pelanggaran terhadap aturan ini dikenai sanksi adat.
01:30Saya pikir itu peran yang paling utama, peran penting perempuan ketika menjaga hutan itu dengan budaya kami.
01:36Yaitu ketika perempuan ada di dalam, tidak menggunakan busana, kami mencari, berarti kami mengklaim tempat itu menjadi milik kami.
01:45Namun, kini hutan perempuan menghadapi ancaman serius.
01:49Sampah menjadi persoalan utama.
01:53Limba rumah tangga, plastik, hingga limba cair dari kota terbawa aliran sungai dan berakhir di kawasan manggroof.
02:01Sekali lagi, bicara sampah ini bicara habit, bicara karakter, bicara hulu, bicara hilir.
02:07Harus dilaksanakan sama-sama.
02:09Nah, selama ini yang masih kencang dilakukan, mungkin masih hilir ya.
02:14Masih dibawa.
02:15Kami hanya membersihkan, membersihkan, membersihkan.
02:18Dan para karakter manusianya masih seperti itu, membuang sampah sembarangan.
02:26Pembangunan infrastruktur di pesisir turut menekan ekosistem.
02:31Penebangan manggroof dan limbah dari aktivitas manusia semakin mengerus ruang hidup masyarakat adat.
02:38Di tengah kondisi ini, Mama Nela sebagai perempuan adat tetap bergerak membersihkan sampah,
02:46menanam kembali manggroof dan menjaga hutan dengan segala keterbatasan.
02:52Yang dulunya mereka mencari, pulang bawa banyak ikan, bawa banyak kerang.
02:57Hari ini mereka pulang bawa sedikit, yang banyak sampah.
03:02Kasih dong ke sana lagi, sebelah kantin, sebelahnya, duduk nih sebelahnya lagi. Naik, naik, naik.
03:07Upaya Mama Nela untuk melestarikan ekosistem di Teluk Yuteva
03:11juga mendapat apresiasi dari Badan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua.
03:16Di setiap kesempatan, saya selalu menyampaikan apresiasi kami ini terhadap komunitas mama-mama
03:23yang menjaga hutan perempuan ini.
03:29Beberapa mama-mama juga ikut terlibat patroli, menjaga gangguan atau tekanan terhadap hutan manggroof tersebut.
03:39Mereka menjadi garda depan dalam perlindungan kawasan meski belum banyak yang terlibat.
03:45Kondisi ini membuat perjuangan menjaga hutan masih bertumpu pada kelompok kecil
03:50di tengah tekanan yang terus meningkat.
03:55Sampah yang berasal dari aktivitas perkotaan, rumah tangga, pasar, hingga usaha
04:01terus mengalir di sepanjang sungai tanpa kendali.
04:05Untuk itu, perda nomor 13 tahun 2017 harus ditegakkan
04:10dan bukan sekedar aturan di atas kertas.
04:13Satpol PP dan DLHK Papua pun dituntut tegas dari hulu ke hilir
04:19karena tanpa penindakan, hutan perempuan akan terus tergerus.
04:25Dari akar manggroof, mereka menjaga kehidupan.
04:29Di tengah ancaman, mereka merawat harapan.
04:32Perempuan adat berdiri menjaga warisan
04:35agar hutan perempuan tetap lestari untuk masa depan.
Komentar