00:00Rekaman pada hari Jumat menunjukkan sejumlah kapal kargo dan tenker minyak terhenti di Selat Hormuz
00:06karena jalur air tersebut tetap ditutup oleh Korps Guarda Revolusi Iran.
00:11Kantor berita Fars melaporkan bahwa ratusan kapal menunggu di Selat Hormuz
00:16untuk mendapatkan izin transit melalui perairan Iran.
00:20Kepala Badan Energi Internasional memperingatkan pada hari Kamis
00:24bahwa pasar energi dapat kehilangan sekitar 13 juta barel minyak per hari
00:30karena gangguan navigasi di Selat tersebut.
00:38Iran dan Amerika Serikat saling unjuk kekuatan demi mengamankan dominasi mereka di Selat Hormuz.
00:46Bagaimana nasib gencatan senjata sudah bersama kami?
00:49Pakar Militer dan Intelijen UI Stanislaus Rianta,
00:53Selamat siang Mas Stanis.
00:55Selamat siang Mbak.
00:57Mas Stanis, ALIRGC ini menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz
01:01sebagai aksi balasan langsung atas tindakan Amerika Serikat.
01:05Bagaimana Anda melihat ini?
01:07Ya ini akhirnya kan saling-saling balas ya.
01:10Iran kemudian menangkap kapal, menyita kapal.
01:12Amerika juga menyita kapal bahkan sampai jauh ke sekitar Selat India.
01:19Selat India ini kan sampai kemana-mana akhirnya.
01:22Nah ini balas, aksi saling balas antara Iran dan Amerika ini sudah sangat tidak sehat
01:28dan melenceng dari apa yang tujuan Amerika pertama kali melakukan serangan Iran
01:33yang isunya adalah saat itu adalah uranium nuklir.
01:36Dan ini kan akhirnya menunjukkan bahwa sebenarnya kepentingan-kepentingan dari perang ini
01:40sebenarnya kan tidak murni seperti yang disampaikan pertama kali
01:42tapi sudah mendapat kemana-mana untuk menunjukkan kekuatan masing-masing.
01:46Bahkan Iran juga sudah kita duga sebelumnya bahwa perang ini akan menciptakan sistem baru,
01:52sistem ekonomi baru di Selat Hormus bagi Iran yaitu mendapatkan keuntungan dari penarikan biaya.
01:58Jadi menjadi kacau suasana dan ini ancaman bagi energi dunia, ketersediaan energi di dunia.
02:05Saya kira jika ini tidak berhenti dalam waktu cepat ini sangat berbahaya bagi kita semua.
02:09Oke artinya begini, kalau tadi dikatakan ini tidak murni kemana-mana, berbahaya,
02:14lantas resiko apa yang mungkin terjadi let's say dalam waktu dekat maupun juga jangka panjang Mas Tanis?
02:22Ya kalau dalam kita lihat siapa pihak yang terkena resiko itu, sebenarnya kan ini Amerika yang terkena resiko ya.
02:28Saya melihat bahwa Amerika sebenarnya sedang mencari-cari exit strategi, ingin berhenti dari perang ini.
02:35Trump akan menghadapi pemilu selah.
02:37Saya kira waktunya sudah sangat mepet ya.
02:39Tekanan politik cukup kuat dari dalam negeri, tekanan ekonomi cukup kuat.
02:42Sehingga dia mencari exit strategi seperti apa.
02:46Jeda ternyata tidak membahakan hasil, bahkan Trump mengumumkan jeda sepihak.
02:51Iran tidak mau seperti itu.
02:52Nah memang jeda sepihak Amerika ini sebenarnya kan seperti mau exit strategi dari Iran sebenarnya.
02:59Karena permusuhan ini susah sekali untuk dihentikan dan damailah seketika.
03:04Jadi kalau misalnya permusuhan tidak bisa dihentikan, orangnya juga sudah dihentikan,
03:08maka langkah terpik sebenarnya jeda.
03:11Tapi jeda ini kan tidak disepakati.
03:13Amerika pengen jeda, Iran tidak.
03:14Jadi nanti jeda sepihak.
03:15Amerika mengatakan jeda, tetapi tetap melakukan serangan kecil-kecilan,
03:20semua radis supaya tidak kehilangan muka.
03:22Itu risiko yang tertinggi di Amerika, kehilangan muka sehingga Trump akan bahaya terancam di Indonesia.
03:28Sementara Iran sudah cukup lama dia dalam menyiapkan untuk perang seperti ini,
03:33bahkan dalam kondisi terblokade, kemudian di embargo selama 40 tahun,
03:39mereka justru mandiri termasuk dalam persenjataan sehingga mereka sudah siap.
03:43Ketika perang itu dilakukan di Slatormu sebenarnya lebih banyak menguntungkan Iran.
03:47Iran menguasai medan, dia bisa membuat sistem baru, ekonomi baru.
03:51Tapi dampak yang paling berbahaya, yang paling menugikan sebenarnya adalah terhadap dunia,
03:57yaitu persediaan energi.
03:59Ketersediaan energi ini yang sangat berbahaya.
04:02Kita di Indonesia saja sudah tarik BPM-6CD sudah naik, sangat tinggi.
04:07Saya kira itu dampak langsung dari perang Iran-Amerika.
04:10Jadi kalau tidak segera dihentikan dampaknya akan kemana-mana.
04:13Karena nanti rentetannya terhadap logistik, gak pernah akan naik.
04:16Kemudian tentu ketika ekonomi menjadi sulit, potensi gangguan keamalan juga cukup tinggi.
04:22Termasuk naiknya intensitas gangguan terorisme di negara Eropa sudah mulai muncul juga
04:27gara-gara perang Iran-Amerika ini.
04:30Oke, tujuan perangnya sudah kemana-mana, tidak lagi fokus.
04:34Lantas itu juga berapa kepada dunia yang juga tadi bisa merambat kemana-mana juga.
04:39Oke, Mas Tanis, Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Trump gak menganggap penyitaan ini
04:44sebagai pelanggaran kerangka genjata-senjata karena kedua kapal itu bukan milik AS maupun juga Israel.
04:49Tapi menegaskan bahwa tindakan Iran sebagai aksi perompakan.
04:53Menurut Anda apakah AS akan bertindak setelah penyitaan meski bukan kapal miliknya?
05:00Ya, ini kan tergantung wilayahnya di mana.
05:02Kalau wilayahnya di Selat Hormuz ya Iran memang mempunyai kendali.
05:05Tapi kalau di wilayah perairan internasional saya kira Amerika juga terlalu berlebihan
05:09kalau dia mengklaim bisa melakukan apapun untuk kepentingan dia.
05:14Ini menjadi tidak sehat karena dua pihak saling klaim.
05:18Jadi sebaiknya memang ada pihak ketiga yang menjadi penengah supaya adil.
05:23Jadi harapan kita kan sebenarnya pada BPP ya.
05:26Tapi BPP kan nampaknya tidak ada gaunya, tidak ada suaranya terhadap masalah ini.
05:31Nyaris tidak ada aksi apapun di saat perang seperti ini dan bahkan dunia krisis energi.
05:36Jadi klaim-klaim Amerika itu tentu menunjukkan powernya, menunjukkan pengaruhnya.
05:43Iran juga sama seperti itu.
05:44Selama perang ini masih berlangsung itu akan terjadi terus.
05:49Ini ibadinya seperti ini.
05:50Ketika ada dua orang berkelahi di dalam rumah,
05:53masih anak kecil misalnya berada di dalam rumah,
05:55tidak ada yang nonton, mereka biasanya keluar rumah itu.
05:57di pinggir jalan supaya ada yang nonton, supaya ada perhatian.
06:01Ada perhatian, kemudian bisa melibatkan banyak.
06:03Iya, itu analoginya seperti itu.
06:05Ini kan mereka menggeser ke Selat Hormus supaya banyak yang terlibat.
06:09Karena banyak sekali kepentingan asin di Selat Hormus.
06:12Kalau perangnya hanya di Iran, mungkin tidak banyak yang terlibat.
06:15Termasuk dampaknya mungkin hanya untuk Iran dan Amerika saja.
06:18Ancaman-ancaman Amerika yang mengatakan ingin melakukan pendaratan,
06:22pendaratan pantai, kemudian menunjukkan lindung.
06:23Ini enggak terjadi, enggak terjadi hanya kertakan saja.
06:26Tapi begitu memindahkan medannya ke laut, ini semua kemana-mana dan dampaknya di seluruh dunia mengalami.
06:33Ini karanya geseran tempat ini cukup berhasil, terutama bagi Amerika untuk menarik perhatian dunia.
06:41Oke, Mas Tadis, ini kan juga kita tahu bahwa upaya perdamaian juga mandek.
06:45Apakah dengan adanya kejadian tersebut, ini kayaknya jadi semacam Iran nih punya pancingan
06:51untuk melihat bagaimana reaksi AS nantinya?
06:54Meskipun kapal tersebut kan memang Iran yang menduga, ini diduga terkait dengan Israel, seperti itu.
07:01Ya, ini kan menjadi agak abu-abu karena kita juga tidak mendapatkan pernyataan.
07:09Mereka tidak memberikan pernyataan apapun ini, kecuali Iran dan Amerika yang standar-standar saja.
07:13Tapi pemilik kapal kan tidak memberikan pernyataan apapun.
07:16Dua kapal yang diserang oleh Iran, kapal Israel, kemudian Amerika juga melakukan balasan.
07:22Ini kan seperti ada pihak-pihak yang bermain di belakang ini.
07:26Jadi kalau kita melihat perang Amerika-Iran, itu tidak bisa hanya melihat berdua entitas itu.
07:30Tapi siapa yang aktor, mana saja yang berada di balik itu.
07:34Israel misalnya, salah satu aktor terkuat, cukup mengganggu Iran.
07:38Jadi apapun yang provokasi-provokasi yang dilakukan oleh Israel, pasti akan dibalas oleh Iran.
07:43Kemudian ada aktor lain, misalnya China.
07:46China juga telah beberapa informasi menyebutkan dia menyuplai senjata untuk Iran.
07:50Kemudian dia sekarang malah membeli minyak cukup besar dari Iran.
07:54Ini kan cukup mengganggu Amerika.
07:57Sehingga Amerika juga melakukan tindakan-tindakan.
07:59Jadi di dalam perang ini ada yang dirugikan, tetapi ada juga aktor-aktor yang diuntungkan.
08:05Itulah yang bermain sebenarnya.
08:06Oke, Mas Tani, selantas begini.
08:10Saling tekan di area laut, di area perairan, ini bisa menjadi konflik yang sebesar apa,
08:16seterbuka apa antara kedua pihak ini, Iran maupun juga AS.
08:20Kemudian apakah akan berubah juga jadi berebut kendali di Selat Hormuz?
08:24Apakah ini juga bisa dilihat jadi bagian strategi untuk posisi tawar di perundingan nantinya?
08:30Ya, saya melihat ini Amerika mungkin ketika menggeser perang ini ke Selat Hormuz,
08:35dia akan lebih diuntungkan secara alusista.
08:37Kalau sebelumnya dia ingin perang darat, kemudian melakukan penerjunan, cukup berbahaya.
08:42Karena Iran juga sudah menyiapkan klaim, Iran kan 1 juta lebih milisi siap menyambut pasukan darat dan pasukan udara Amerika.
08:50Jadi pasti akan banyak korban jiwa.
08:52Nah, ketika digeser ke Selat Hormuz, ini keuntungan bagi Amerika sebenarnya,
08:55karena secara alusista dia merasa akan menang.
08:59Tetapi Iran itu juga menguasai wilayah.
09:01Dan dia juga mempunyai strategi-strategi karena sebagai pemilik teritorial di situ.
09:05Nah, Amerika kan dengan menggeser ini ke Selat Hormuz, akhirnya akan mendapatkan perhatian dunia.
09:13Dia mencoba untuk menarik perhatian dari berbagai pihak yang selama ini tidak didapatkan.
09:19Negara-negara Eropa, negara-negara sekutu mereka itu nyaris tidak ada yang membantu
09:23atau melakukan pernyataan resmi untuk membantu Amerika dan melawan Iran.
09:27Nyaris tidak ada.
09:28Bahkan negara-negara NATO yang sekutu dari Amerika pun tidak ada.
09:32Jadi ini sebenarnya pergeseran ini adalah untuk meningkatkan dampak,
09:38kemudian mencari dukungan dari pihak lain.
09:42Tapi sampai saat ini kan tidak ada yang merespon.
09:45Nah, ini kan yang bahaya adalah ketika situasi terus seperti ini,
09:49ini kerugian bagi dunia.
09:52Jadi harus ada yang segera mengeluhkan intervensi supaya tidak seperti ini,
09:58minimal Selat Hormuz dibuka lagi.
09:59atau ada pihak yang melakukan penjagaan di situ untuk supaya lebih netral.
10:05Tapi kalau dengan saling blokade seperti ini,
10:07apakah artinya upaya perdamaian walaupun juga negosiasi dan lain sebagainya,
10:12perundingan bahkan ini kayaknya jadi semakin jauh atau bagaimana Mas Tanis?
10:16Iya, karena yang mempeluhkado negara kuat kan.
10:18Kalau yang blokade itu negaranya kecil,
10:20kita cari entitas yang lebih gede untuk segera menekan mereka untuk minggir bisa dilakukan.
10:24Tapi ini kan negara kuat yang bahkan PBB pun tidak ada suaranya gitu.
10:28Kesulitannya di situ.
10:29Amerika merasa super power, dia di PBB juga punya hak veto,
10:33sehingga nyari tidak ada yang melakukan intervensi.
10:36Negara-negara lain wait and see.
10:38Apalagi Eropa, negara-Eropa, negara NATO,
10:40mereka tidak ingin ikut di dalam rang ini,
10:42karena negara-negara NATO itu tahu benar bahwa Iran itu mempunyai peluru kendali
10:48yang mampu menjangkau negara mereka.
10:50Jarak antara Iran dengan negara NATO itu sekitar 3.000 km.
10:54Sementara peluru kendalinya bisa 4.000 km.
10:564.000 km ini kan berbahaya, makanya mereka wait and see.
10:59Saya kira itu yang menjadi penyebab mereka tidak mau ikut-ikut,
11:02karena Iran juga bisa nekat.
11:04Nah kan berbahaya ketika nanti saling klaim, saling mengendalikan ini,
11:08kemudian tidak ada pihak yang bisa mengatasi ini.
11:11Karena PNP sudah tidak bisa diharapkan,
11:14maka sebaiknya harus ada perkumpulan atau kekuatan dari berbagai negara
11:20yang berhimpun menjadi satu untuk melakukan tekanan terhadap Amerika dan Iran
11:24supaya tidak melakukan perang atau aksi-aksi di selat-selat
11:29atau wilayah internasional yang itu cukup mengganggu perekonomian dunia.
11:33Oke, itu tadi ya soal bagaimana kedua belah pihak ini merasa punya power,
11:37termasuk juga bagaimana mereka sering berada di selat hormus.
11:40Mas Tanis, nanti kita lanjutkan kembali
11:42dan saudara tetap bersama kami di Breaking News Kompas TV.
Komentar