00:00Pertahanan yang dijalin tidak boleh merugikan negara lain dan harus berorientasi pada perdamaian dan stabilitas kawasan.
00:07Apakah ini sinyal Tiongkok menentang kerjasama pertahanan Indonesia dan AS?
00:12Bagaimana dampaknya terhadap geopolitik di kawasan Indo-Pasifik?
00:16Kita bahas bersama dosen ilmu politik Universitas Udaya Naefata Filomeno
00:20dan Guru Besar Hukum Internasional FHUGM, Heribartus Jakatriana.
00:24Selamat petang semuanya.
00:27Selamat petang, Mbak.
00:28Mas Efata, selamat.
00:32Ketika Tiongkok sudah menekankan kerjasama pertahanan tidak boleh merugikan pihak ketiga manapun.
00:36Bagaimana kita harus menerjemahkan pernyataan ini?
00:39Seberapa serius sebenarnya peringatan yang sudah dilontarkan oleh Tiongkok?
00:47Pertama, kita bisa melihat bahwa JioGiak menggunakan forum konferensi pers reguler,
00:55bukan satu langkah damat tertutup.
00:58Artinya bisa kita lihat bahwa pesan ini dikonsumsi untuk publik ASEAN.
01:03Jadi, Cina ingin memperingatkan Jakarta, Hanoi, dan Manila secara bersamaan.
01:08Dan juga harapan besarnya nanti ke depannya Indonesia berada pada posisi yang cukup strategis.
01:15Jangan sampai terjerembak nanti dalam keinginan-keinginan atau satu trap-trap yang nanti dilaksanakan dalam beberapa kerjasama,
01:23terutama dengan Amerika Serikat.
01:25Kita tahu bahwa Cina juga menyampaikan pesan ini karena Cina mendominasi kurang lebih 41,1 impor, non-migas di Indonesia.
01:34Dengan nilai yang sangat luar biasa.
01:36Itu berbeda jauh dengan Amerika Serikat, hanya 4,73 persen ya.
01:40Nah, ekspor kita ke Cina juga lama-lama terus meningkat.
01:44Dan yang FDI nomor satu di Indonesia ini kan Hong Kong.
01:47Kalau Hong Kong digabung dengan Cina, itu kan otomatis pusaran perekonomian kita memang masih banyak saat ini bekerjasama dengan Cina
01:55itu sendiri.
01:56Dan Cina menganggap bahwa Indonesia harus berada pada posisi netral.
02:02Terlebih sebelum itu, Indonesia juga sudah meneretangani beberapa perjanjian-perjanjian.
02:07Salah satunya adalah perjanjian terhadap ASEAN.
02:10Itu sendiri yang diharapkan nanti ke depannya tidak terikut dalam eskalasi-eskalasi politik tingkat lanjut.
02:16Salah satunya yang sekarang terjadi di Iran itu sendiri.
02:18Dan kita tahu bahwa perjanjian yang dilaksanakan dengan Amerika Serikat,
02:22salah satunya adalah overflight blanket yang ditakutkan nanti malah akan menyebabkan eskalasi militer yang cukup signifikan,
02:29khususnya di daerah Selat Malaka.
02:31Dan itu adalah kekhawatiran yang wajar untuk Tiongkok?
02:37Ya, ini adalah kekhawatiran yang sebenarnya sudah dibaca oleh Tiongkok ya.
02:42Salah satunya bukan cuma terkait dengan overflight blanket,
02:45ada juga beberapa catatan-catatan ya.
02:47Salah satunya Amerika Serikat ini meminta larangan entitas bagi Cina ya di rantai pasok baterai.
02:54Kita tahu kan bahwa Indonesia ini salah satu supplier mentah dari nikel.
02:58Dan pengayaannya itu biasanya kita beli lagi dari Cina gitu.
03:03Kurang lebih kita 75 persen gitu.
03:06Mineral pemurnian yang dilakukan oleh Cina itu kita beli lagi dan akhirnya kita jual.
03:10Nah, ketika hal ini nanti ke depannya malah membuat Jakarta ini berpihak,
03:14ini yang malah membuat Tiongkok merasa bahwa posisi-posisi strategis dari Indonesia ke depannya bisa terancam.
03:21Itu yang disampaikan oleh Cina.
03:23Mereka mengharapkan agar sendiri bergerak pada posisi-posisi yang cukup netral
03:28untuk memahami dinamika geopolitik yang semakin tidak pasti ini.
03:31Kalau Prof. Jaka sebenarnya melihatnya apakah Indonesia dalam posisi juga harus mengambil perjanjian ini,
03:38menyepakati perjanjian ini, pemberian akses dalam rangka menghadapi Tiongkok
03:44atau memperkuat posisi kita di Indo-Pasifik?
03:49Pertama yang harus kita perhatikan dan juga kita harus nilai secara fair dan objektif adalah
03:55pertama, apa yang disampaikan Tiongkok itu adalah pernyataan politik
03:59yang memiliki dimensi terkait dengan ukuran-ukuran kepentingan masing-masing negara,
04:05terutama Tiongkok terhadap Indonesia, Tiongkok terhadap ASEAN,
04:09dan juga Tiongkok terhadap kawasan,
04:11serta Tiongkok terhadap kehadiran Amerika di kawasan itu sendiri.
04:15Lalu yang kedua, apakah ini memiliki dimensi legal?
04:18Saya kira apa yang disampaikan Tiongkok itu tidak memiliki dimensi legal yuridis yang mengikat.
04:25Kenapa? Karena yang namanya perjanjian bilateral antar negara
04:29untuk memanfaatkan kedaulatan wilayah itu menjadi hak dari negara yang bersangkutan.
04:35Sepanjang, satu, itu dilaksanakan dengan itikat baik.
04:39Dua, redefinisi dari kepentingan nasional dari masing-masing negara
04:42yang melakukan perjanjian bilateral itu seperti apa.
04:46Lalu yang ketiga, bagaimana perjanjian itu dilaksanakan juga
04:49untuk membawa spirit dari apa yang disepakati di kawasan, yaitu ASEAN.
04:54Nah, dari sini bisa melihat bahwa,
04:57pertama, apa yang dikhawatirkan oleh Tiongkok itu adalah kehadiran kekuatan militer Amerika di kawasan.
05:04Yang ini bisa mendegredisikan apa yang disebut sebagai spirit netralitas yang terbangun di kawasan ASEAN.
05:11Saya kira ini wajar. Kenapa?
05:13Karena kehadiran Cina di Laut Cina Selatan itu juga menjadi sebuah isu yang tidak selesai atau belum selesai sampai saat
05:20sekarang.
05:21Sehingga, bagaimana saat sekarang pemerintah kita itu dapat mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan
05:27bahwa apa yang dimaksud dengan kepentingan netralitas dari Cina
05:31terkait dengan kehadiran militer Amerika di Indonesia itu tidak terjadi.
05:35Itu yang harus dijawab dan itu yang harus dikomunikasikan.
05:39Dengan misalnya adalah tidak akan ada hadirnya pangkalan militer Amerika di Indonesia.
05:44Satu.
05:44Lalu yang kedua, bagaimana kerjasama militer antara Indonesia dengan Amerika
05:49betul-betul dapat dikomunikasikan terkait dengan upgrade, update teknologi militer.
05:55Satu.
05:55Lalu yang kedua, terkait dengan sharing responsibility terkait dengan data militer
06:00yang ini menjadi domain dari Indonesia dan Amerika
06:03dan ini harus diketahui supaya tidak terjadi kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu
06:07di antara Indonesia, Tiongkok dengan Amerika.
06:11Prof. Jaka, tapi ketika Tiongkok juga bilang kalau ini adalah tanggung jawab kolektif
06:15semua harus menahan diri, partisipasi yang bisa mengancam ke daud latan wilayah anggota ASEAN.
06:19Kalau kesepakatan ini tercapai sebenarnya, apakah ada aturan internasional
06:23yang berpotensi dilanggar juga oleh Indonesia?
06:28Kekhawatiran Tiongkok wajar.
06:29Itu adalah sebagai seni diplomasi untuk mengingatkan dan juga untuk menjaga kepentingan nasionalnya.
06:34Kepentingan nasional Cina itu apa?
06:36Satu, adalah di Laut Cina Selatan.
06:38Dua, seperti yang dikatakan Mas Efratah tadi,
06:40kepentingan ekonomi Cina di kawasan juga sangat tinggi.
06:43Saya kira ini adalah pressure diplomatik yang harus kita pahami
06:48dasar hukumnya itu ada satu kebebasan di antara para pihak
06:51untuk meredefinisikan kedaulatannya.
06:54Terkait dengan kerjasama udara,
06:57tadi disampaikan oleh Mas Efratah,
06:59saya sepakat bahwa yang namanya kedaulatan itu tidak sama dengan isolasi.
07:04Kedaulatan bukan isolasi.
07:06Kedaulatan itu adalah bagaimana negara memanfaatkan
07:09dan mengelola kedaulatan wilayah udara
07:11untuk kepentingan nasional kita.
07:13Sekarang mari kita lihat, mari kita timbang.
07:15Bagaimana kepentingan nasional Indonesia terhadap Amerika?
07:18Satu, bagaimana kepentingan nasional Indonesia terhadap Tiongkok atau Cina?
07:21Dua, dan bagaimana saat sekarang Indonesia,
07:23pemerintah wajib meredefinisikan
07:26kepentingan nasionalnya untuk negara-negara di kawasan.
07:29Sehingga win-win solutions ataupun apa itu penerjemahan kebijakan
07:34di dalam perundingan-perundingan ini
07:36wajib dikomunikasikan dengan para pihak
07:39sehingga, sekali lagi, ini tidak merugikan masing-masing
07:42dan menimbulkan kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu.
07:45Indonesia perlu melakukan memeluk satu dan yang lainnya
07:48secara sama dan setara dan dikomunikasikan dengan baik.
07:51Nah, soal kemungkinan ada kecurigaan kalau menurut Anda,
07:54Mas Ewa, atau apakah sebenarnya perjanjian ini
07:55berpotensi menimpulkan kesan
07:57kalau kita tidak sepenuhnya lagi adalah negara non-blok?
08:02Ya, bahwa kita coba breakdown ya
08:05dari sisi strategis MDCP ya,
08:08itu sebenarnya berangkat dari MNNA ya,
08:13Major Non-Natal Ally ya,
08:15jadi di sana memang secara politis
08:18tidak benar-benar sangat mengikat ya,
08:21tidak benar-benar nanti Indonesia akhirnya menjadi NATO.
08:23Tetapi, ada transfer teknologi yang lebih tinggi,
08:27ada akses alutsista yang lebih luas ya,
08:29tanpa harus dideklarasikan kepada publik begitu.
08:32Nah, kita ambil contoh,
08:33akan nanti di lapertan satunya nanti,
08:37kedepannya akan ada pengembangan drone bawah air ya,
08:41yang tentunya nanti kedepan ini bisa meningkatkan tensi
08:43di wilayah Laut Cina Selatan begitu.
08:45Ada coastal defense system dan juga warfare
08:49yang akhirnya nanti akan diberikan Amerika kepada kita.
08:51Dan tentu dalam merespon grey zone aggression di Cina dan Tuna,
08:57ini sebenarnya cocok untuk postur angkatan laut
08:59yang sifatnya bertahan ya, defensif gitu.
09:02Nah, maka Indonesia menganggap bahwa ini jauh lebih strategis.
09:04Tetapi untuk Cina tentu ini sangat berbahaya.
09:07Selanjutnya dari pilar yang selanjutnya yaitu,
09:11keterangan ya, kurang lebih mencatat 170-an kegiatan ya,
09:16latihan super Garuda Shield ini,
09:17akhirnya sudah melibatkan 13 negara lintas domain.
09:21Nah, ini kan tentu sudah tidak main-main lagi gitu.
09:23Garuda Shield ini sangat-sangat begitu,
09:26sangat menciptakan deterrence by air hassle gitu.
09:29Maka Cina pun merasa bahwa,
09:31oh jangan sampai nanti kedepannya malah kita,
09:33kita begitu sangat dekat ya dengan Amerika.
09:35Dan yang bisa kita lihat nanti,
09:38kalau misalkan overflight clearance ya nanti disetujui,
09:41ini pesawat P-8A Poseidon itu bisa terbang 18 jam non-stop di atas laut Natuna gitu.
09:49Nah, ini tentu merupakan pesawat ingtai yang terbaik dimiliki oleh Amerika Serikat.
09:54Oke.
09:55Nah, tujuan ini dari jalur-jalur perdagangan yang ada selama ini di bawah
10:00untuk mengaliri perekonomian yang ada di Cina,
10:03lebih cekik ya.
10:03Oke, dan itu yang menjadi kekhawatiran ada kepentingan
10:07yang kok kejauh yang terganggu ya Mas Evata.
10:09Mas Evata Filomeno, dosen ilmu politik Universitas Udaya
10:12dan Prof. Jakarta Triana Guru Besar Hukum Internasional FHUGM.
10:16Terima kasih sudah berbagi bersama kami.
10:17Siasat selalu semuanya.
10:20Siasat selalu, Mbak.
10:21Terima kasih.
Komentar