Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kementerian Pertahanan merespons kekhawatiran pernyataan Tiongkok yang mengingatkan agar kerja sama pertahanan yang dibangun Indonesia tidak merugikan negara lain dan berorientasi pada perdamaian.

Pernyataan ini juga ditegaskan Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, dalam pertemuan dengan purnawirawan TNI di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jumat pagi.

Menhan juga menjelaskan soal kerja sama pertahanan RI dan Amerika Serikat yang disepakati di Pentagon.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, Rico Ricardo Sirait, menyebut pemerintah Indonesia menjalankan kerja sama pertahanan dengan negara mana pun berlandaskan politik luar negeri bebas aktif. Pemerintah Indonesia juga menjamin kedaulatan tiap negara.

Tiongkok memperingatkan Indonesia agar kerja sama pertahanan yang dijalin tidak merugikan negara lain dan harus berorientasi pada perdamaian serta stabilitas kawasan.

Pernyataan ini memunculkan pertanyaan, apakah ini menjadi sinyal Tiongkok menentang kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Lalu, bagaimana dampaknya terhadap geopolitik di kawasan Indo-Pasifik?

Hal ini akan dibahas bersama dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno, dan Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum UGM, Heribertus Jaka Triyana.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga Kemhan Tegaskan Kerja Sama Pertahanan RI-AS Berlandaskan Politik Bebas Aktif | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/665057/kemhan-tegaskan-kerja-sama-pertahanan-ri-as-berlandaskan-politik-bebas-aktif-kompas-petang

#kemhan #as #pertahanan #tni #tiongkok

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/665062/full-guru-besar-dan-dosen-politik-soal-ri-as-jalin-kerja-sama-pertahanan-tingkok-gerah
Transkrip
00:00Pertahanan yang dijalin tidak boleh merugikan negara lain dan harus berorientasi pada perdamaian dan stabilitas kawasan.
00:07Apakah ini sinyal Tiongkok menentang kerjasama pertahanan Indonesia dan AS?
00:12Bagaimana dampaknya terhadap geopolitik di kawasan Indo-Pasifik?
00:16Kita bahas bersama dosen ilmu politik Universitas Udaya Naefata Filomeno
00:20dan Guru Besar Hukum Internasional FHUGM, Heribartus Jakatriana.
00:24Selamat petang semuanya.
00:27Selamat petang, Mbak.
00:28Mas Efata, selamat.
00:32Ketika Tiongkok sudah menekankan kerjasama pertahanan tidak boleh merugikan pihak ketiga manapun.
00:36Bagaimana kita harus menerjemahkan pernyataan ini?
00:39Seberapa serius sebenarnya peringatan yang sudah dilontarkan oleh Tiongkok?
00:47Pertama, kita bisa melihat bahwa JioGiak menggunakan forum konferensi pers reguler,
00:55bukan satu langkah damat tertutup.
00:58Artinya bisa kita lihat bahwa pesan ini dikonsumsi untuk publik ASEAN.
01:03Jadi, Cina ingin memperingatkan Jakarta, Hanoi, dan Manila secara bersamaan.
01:08Dan juga harapan besarnya nanti ke depannya Indonesia berada pada posisi yang cukup strategis.
01:15Jangan sampai terjerembak nanti dalam keinginan-keinginan atau satu trap-trap yang nanti dilaksanakan dalam beberapa kerjasama,
01:23terutama dengan Amerika Serikat.
01:25Kita tahu bahwa Cina juga menyampaikan pesan ini karena Cina mendominasi kurang lebih 41,1 impor, non-migas di Indonesia.
01:34Dengan nilai yang sangat luar biasa.
01:36Itu berbeda jauh dengan Amerika Serikat, hanya 4,73 persen ya.
01:40Nah, ekspor kita ke Cina juga lama-lama terus meningkat.
01:44Dan yang FDI nomor satu di Indonesia ini kan Hong Kong.
01:47Kalau Hong Kong digabung dengan Cina, itu kan otomatis pusaran perekonomian kita memang masih banyak saat ini bekerjasama dengan Cina
01:55itu sendiri.
01:56Dan Cina menganggap bahwa Indonesia harus berada pada posisi netral.
02:02Terlebih sebelum itu, Indonesia juga sudah meneretangani beberapa perjanjian-perjanjian.
02:07Salah satunya adalah perjanjian terhadap ASEAN.
02:10Itu sendiri yang diharapkan nanti ke depannya tidak terikut dalam eskalasi-eskalasi politik tingkat lanjut.
02:16Salah satunya yang sekarang terjadi di Iran itu sendiri.
02:18Dan kita tahu bahwa perjanjian yang dilaksanakan dengan Amerika Serikat,
02:22salah satunya adalah overflight blanket yang ditakutkan nanti malah akan menyebabkan eskalasi militer yang cukup signifikan,
02:29khususnya di daerah Selat Malaka.
02:31Dan itu adalah kekhawatiran yang wajar untuk Tiongkok?
02:37Ya, ini adalah kekhawatiran yang sebenarnya sudah dibaca oleh Tiongkok ya.
02:42Salah satunya bukan cuma terkait dengan overflight blanket,
02:45ada juga beberapa catatan-catatan ya.
02:47Salah satunya Amerika Serikat ini meminta larangan entitas bagi Cina ya di rantai pasok baterai.
02:54Kita tahu kan bahwa Indonesia ini salah satu supplier mentah dari nikel.
02:58Dan pengayaannya itu biasanya kita beli lagi dari Cina gitu.
03:03Kurang lebih kita 75 persen gitu.
03:06Mineral pemurnian yang dilakukan oleh Cina itu kita beli lagi dan akhirnya kita jual.
03:10Nah, ketika hal ini nanti ke depannya malah membuat Jakarta ini berpihak,
03:14ini yang malah membuat Tiongkok merasa bahwa posisi-posisi strategis dari Indonesia ke depannya bisa terancam.
03:21Itu yang disampaikan oleh Cina.
03:23Mereka mengharapkan agar sendiri bergerak pada posisi-posisi yang cukup netral
03:28untuk memahami dinamika geopolitik yang semakin tidak pasti ini.
03:31Kalau Prof. Jaka sebenarnya melihatnya apakah Indonesia dalam posisi juga harus mengambil perjanjian ini,
03:38menyepakati perjanjian ini, pemberian akses dalam rangka menghadapi Tiongkok
03:44atau memperkuat posisi kita di Indo-Pasifik?
03:49Pertama yang harus kita perhatikan dan juga kita harus nilai secara fair dan objektif adalah
03:55pertama, apa yang disampaikan Tiongkok itu adalah pernyataan politik
03:59yang memiliki dimensi terkait dengan ukuran-ukuran kepentingan masing-masing negara,
04:05terutama Tiongkok terhadap Indonesia, Tiongkok terhadap ASEAN,
04:09dan juga Tiongkok terhadap kawasan,
04:11serta Tiongkok terhadap kehadiran Amerika di kawasan itu sendiri.
04:15Lalu yang kedua, apakah ini memiliki dimensi legal?
04:18Saya kira apa yang disampaikan Tiongkok itu tidak memiliki dimensi legal yuridis yang mengikat.
04:25Kenapa? Karena yang namanya perjanjian bilateral antar negara
04:29untuk memanfaatkan kedaulatan wilayah itu menjadi hak dari negara yang bersangkutan.
04:35Sepanjang, satu, itu dilaksanakan dengan itikat baik.
04:39Dua, redefinisi dari kepentingan nasional dari masing-masing negara
04:42yang melakukan perjanjian bilateral itu seperti apa.
04:46Lalu yang ketiga, bagaimana perjanjian itu dilaksanakan juga
04:49untuk membawa spirit dari apa yang disepakati di kawasan, yaitu ASEAN.
04:54Nah, dari sini bisa melihat bahwa,
04:57pertama, apa yang dikhawatirkan oleh Tiongkok itu adalah kehadiran kekuatan militer Amerika di kawasan.
05:04Yang ini bisa mendegredisikan apa yang disebut sebagai spirit netralitas yang terbangun di kawasan ASEAN.
05:11Saya kira ini wajar. Kenapa?
05:13Karena kehadiran Cina di Laut Cina Selatan itu juga menjadi sebuah isu yang tidak selesai atau belum selesai sampai saat
05:20sekarang.
05:21Sehingga, bagaimana saat sekarang pemerintah kita itu dapat mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan
05:27bahwa apa yang dimaksud dengan kepentingan netralitas dari Cina
05:31terkait dengan kehadiran militer Amerika di Indonesia itu tidak terjadi.
05:35Itu yang harus dijawab dan itu yang harus dikomunikasikan.
05:39Dengan misalnya adalah tidak akan ada hadirnya pangkalan militer Amerika di Indonesia.
05:44Satu.
05:44Lalu yang kedua, bagaimana kerjasama militer antara Indonesia dengan Amerika
05:49betul-betul dapat dikomunikasikan terkait dengan upgrade, update teknologi militer.
05:55Satu.
05:55Lalu yang kedua, terkait dengan sharing responsibility terkait dengan data militer
06:00yang ini menjadi domain dari Indonesia dan Amerika
06:03dan ini harus diketahui supaya tidak terjadi kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu
06:07di antara Indonesia, Tiongkok dengan Amerika.
06:11Prof. Jaka, tapi ketika Tiongkok juga bilang kalau ini adalah tanggung jawab kolektif
06:15semua harus menahan diri, partisipasi yang bisa mengancam ke daud latan wilayah anggota ASEAN.
06:19Kalau kesepakatan ini tercapai sebenarnya, apakah ada aturan internasional
06:23yang berpotensi dilanggar juga oleh Indonesia?
06:28Kekhawatiran Tiongkok wajar.
06:29Itu adalah sebagai seni diplomasi untuk mengingatkan dan juga untuk menjaga kepentingan nasionalnya.
06:34Kepentingan nasional Cina itu apa?
06:36Satu, adalah di Laut Cina Selatan.
06:38Dua, seperti yang dikatakan Mas Efratah tadi,
06:40kepentingan ekonomi Cina di kawasan juga sangat tinggi.
06:43Saya kira ini adalah pressure diplomatik yang harus kita pahami
06:48dasar hukumnya itu ada satu kebebasan di antara para pihak
06:51untuk meredefinisikan kedaulatannya.
06:54Terkait dengan kerjasama udara,
06:57tadi disampaikan oleh Mas Efratah,
06:59saya sepakat bahwa yang namanya kedaulatan itu tidak sama dengan isolasi.
07:04Kedaulatan bukan isolasi.
07:06Kedaulatan itu adalah bagaimana negara memanfaatkan
07:09dan mengelola kedaulatan wilayah udara
07:11untuk kepentingan nasional kita.
07:13Sekarang mari kita lihat, mari kita timbang.
07:15Bagaimana kepentingan nasional Indonesia terhadap Amerika?
07:18Satu, bagaimana kepentingan nasional Indonesia terhadap Tiongkok atau Cina?
07:21Dua, dan bagaimana saat sekarang Indonesia,
07:23pemerintah wajib meredefinisikan
07:26kepentingan nasionalnya untuk negara-negara di kawasan.
07:29Sehingga win-win solutions ataupun apa itu penerjemahan kebijakan
07:34di dalam perundingan-perundingan ini
07:36wajib dikomunikasikan dengan para pihak
07:39sehingga, sekali lagi, ini tidak merugikan masing-masing
07:42dan menimbulkan kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu.
07:45Indonesia perlu melakukan memeluk satu dan yang lainnya
07:48secara sama dan setara dan dikomunikasikan dengan baik.
07:51Nah, soal kemungkinan ada kecurigaan kalau menurut Anda,
07:54Mas Ewa, atau apakah sebenarnya perjanjian ini
07:55berpotensi menimpulkan kesan
07:57kalau kita tidak sepenuhnya lagi adalah negara non-blok?
08:02Ya, bahwa kita coba breakdown ya
08:05dari sisi strategis MDCP ya,
08:08itu sebenarnya berangkat dari MNNA ya,
08:13Major Non-Natal Ally ya,
08:15jadi di sana memang secara politis
08:18tidak benar-benar sangat mengikat ya,
08:21tidak benar-benar nanti Indonesia akhirnya menjadi NATO.
08:23Tetapi, ada transfer teknologi yang lebih tinggi,
08:27ada akses alutsista yang lebih luas ya,
08:29tanpa harus dideklarasikan kepada publik begitu.
08:32Nah, kita ambil contoh,
08:33akan nanti di lapertan satunya nanti,
08:37kedepannya akan ada pengembangan drone bawah air ya,
08:41yang tentunya nanti kedepan ini bisa meningkatkan tensi
08:43di wilayah Laut Cina Selatan begitu.
08:45Ada coastal defense system dan juga warfare
08:49yang akhirnya nanti akan diberikan Amerika kepada kita.
08:51Dan tentu dalam merespon grey zone aggression di Cina dan Tuna,
08:57ini sebenarnya cocok untuk postur angkatan laut
08:59yang sifatnya bertahan ya, defensif gitu.
09:02Nah, maka Indonesia menganggap bahwa ini jauh lebih strategis.
09:04Tetapi untuk Cina tentu ini sangat berbahaya.
09:07Selanjutnya dari pilar yang selanjutnya yaitu,
09:11keterangan ya, kurang lebih mencatat 170-an kegiatan ya,
09:16latihan super Garuda Shield ini,
09:17akhirnya sudah melibatkan 13 negara lintas domain.
09:21Nah, ini kan tentu sudah tidak main-main lagi gitu.
09:23Garuda Shield ini sangat-sangat begitu,
09:26sangat menciptakan deterrence by air hassle gitu.
09:29Maka Cina pun merasa bahwa,
09:31oh jangan sampai nanti kedepannya malah kita,
09:33kita begitu sangat dekat ya dengan Amerika.
09:35Dan yang bisa kita lihat nanti,
09:38kalau misalkan overflight clearance ya nanti disetujui,
09:41ini pesawat P-8A Poseidon itu bisa terbang 18 jam non-stop di atas laut Natuna gitu.
09:49Nah, ini tentu merupakan pesawat ingtai yang terbaik dimiliki oleh Amerika Serikat.
09:54Oke.
09:55Nah, tujuan ini dari jalur-jalur perdagangan yang ada selama ini di bawah
10:00untuk mengaliri perekonomian yang ada di Cina,
10:03lebih cekik ya.
10:03Oke, dan itu yang menjadi kekhawatiran ada kepentingan
10:07yang kok kejauh yang terganggu ya Mas Evata.
10:09Mas Evata Filomeno, dosen ilmu politik Universitas Udaya
10:12dan Prof. Jakarta Triana Guru Besar Hukum Internasional FHUGM.
10:16Terima kasih sudah berbagi bersama kami.
10:17Siasat selalu semuanya.
10:20Siasat selalu, Mbak.
10:21Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan