Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 menit yang lalu
MALANG, KOMPAS.TV - Di Pasar Sawojajar Kota Malang, sejumlah pedagang yang menyediakan kebutuhan pokok mengaku sudah tidak mendapatkan pasokan minyakita sejak beberapa pekan lalu. Di lapak-lapak pedagang, minyak goreng yang tersedia hanya minyak goreng dengan merek-merek tertentu.



Dijelaskan oleh Sari, pemilik toko kelontong, sulitnya mendapatkan minyakita terjadi bahkan sebelum lebaran lalu. Terakhir Sari mendapatkan minyakita dari rekannya dengan harga tinggi dan menjualnya di harga 18 hingga 19 ribu per liter.



"Terakhir habis lebaran terus hampir tiga minggu nggak jualan, itu dapat dari temen Rp 205 ribu kita jualnya Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu.



sementara itu Lila, pedagang lain di pasar ini juga menjelaskan, saat ini dirinya berjualan minyak goreng merek-merek lain. Menurut Lila setiap kali dirinya memesan minyakita pada distributor selalu kosong. Padahal menurut Lila, minyakita ini cukup banyak diminati. Selain ibu rumah tangga, minyakita banyak dibeli oleh penjual gorengan dan warung lalapan karena selisih harga yang lebih murah.



"Sebenernya banyak, biasanya dibuat orang jual gorengan, pedagang lalapan, mungkin karena harganya lebih murah dibandingkan merk lain." Terang Lila



selain minyakita yang sulit didapat, pedagang juga mengeluhkan sepinya pembeli karena harga beberapa merek minyak goreng juga naik hingga dua ribu per liter. Kenaikan harga ini juga berimbas pada turunnya daya beli masyarakat.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/665011/pedagang-pasar-di-malang-keluhkan-minyakita-sulit-didapat
Transkrip
00:00Di Basar Saujajar, Kota Malang, sejumlah pedagang yang menyediakan kebutuhan pokok mengaku
00:06sudah tidak mendapatkan pasokan minyak kita sejak beberapa pekan terakhir.
00:10Di lapak-lapak pedagang, minyak goreng yang tersedia hanya minyak goreng dengan merek-merek tertentu.
00:16Sari, salah satu pemilik toko Kelontong, menjelaskan,
00:19sulitnya mendapatkan minyak kita terjadi bahkan sebelum momen lebaran.
00:23Terakhir, ia mendapatkan minyak kita dari rekannya dengan harga tinggi
00:26dan menjualnya di harga Rp18.000 hingga Rp19.000 per liter.
00:32Terakhir, ya, habis lebaran.
00:35Sampai sekarang enggak ada ya?
00:36Ya, habis.
00:37Hampir, tiga minggu enggak jualan kali ya?
00:42Udah dua mingguan.
00:45Tapi untuk pembelian gimana, Bu?
00:47Banyak yang cari minyak kita atau?
00:49Banyak, barangnya itu susah.
00:52Itu dapat harga 205, kita juga kadang dapat.
01:01Sementara itu, Lila, pedagang lain di pasar ini juga menjelaskan
01:04saat ini dirinya berjualan minyak goreng merek lain.
01:07Menurutnya, setiap kali dirinya memesan minyak kita pada distributor,
01:10disebut selalu kosong.
01:12Padahal, menurutnya minyak kita ini cukup banyak diminati.
01:15Selain ibu rumah tangga, minyak kita banyak dibeli oleh penjual gorengan
01:19dan warung lalapan karena selisih harga yang lebih murah.
01:22Kalau peminatnya banyak, biasanya buat orang yang jual gorengan,
01:26terus siapa yang lalapan-lalapan itu kan pakenya minyak gitu.
01:29Mungkin agak harganya murah apa gimana, kakak.
01:32Tapi sekarang udah enggak ada.
01:33Enggak ada.
01:34Sudah coba nyari enggak?
01:36Nyarinya sih aku enggak masalah,
01:38kita ngambilnya dari yang sales-sales aja.
01:41Kalau inbu dari sales, kenapa, mbak?
01:43Minyak enggak ada.
01:44Pokoknya, tiap order kosong-kosong gitu aja.
01:49Selain minyak kita yang sulit didapat,
01:51pedagang juga mengeluhkan sepinya pembeli.
01:53Karena harga beberapa merek minyak goreng juga naik hingga Rp2.000 per liter.
01:58Kenaikan harga ini juga berimbas pada turunnya daya beli masyarakat.
02:02Tim Diputan, Kompas TV Malang, Jawa Timur.
Komentar

Dianjurkan