Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan tetap melakukan blokade economy di Selat Hormuz dengan Iran.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt menyebut Trump belum menetapkan tenggat waktu untuk menerima proposal Iran selama masa gencatan senjata.

Namun Trump meyakini Iran berada dalam posisi yang lemah, karena Amerika masih melakukan blokade ekonomi di Selat Hormuz.

Baca Juga Analis Sepak Bola Bung Kus soal Trump Minta FIFA Ganti Iran di Piala Dunia: AS Tidak Boleh Mendikte di https://www.kompas.tv/internasional/664885/analis-sepak-bola-bung-kus-soal-trump-minta-fifa-ganti-iran-di-piala-dunia-as-tidak-boleh-mendikte

#trump #gencatansenjata #iran

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664901/trump-perpanjang-gencatan-senjata-tanpa-batas-waktu-dengan-iran-dan-tetap-blokade-selat-hormuz
Transkrip
00:03Presiden Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang kejahatan senjata dengan tetap melakukan blokade ekonomi di Selat Hormuz dengan Iran.
00:10Sekretaris Pers Gedung Putih, Caroline Leavitt, menyebutkan Trump belum menetapkan tengkat waktu untuk menerima proposal Iran selama masa kejahatan senjata.
00:20Namun Trump meyakini Iran berada dalam posisi yang lemah karena Amerika masih melakukan blokade ekonomi di Selat Hormuz.
00:33...set a timetable for the president. He has not done that and I won't. I know there's been some anonymous
00:39sourced reporting that there was maybe a three to five day deadline. That is not true. The president has not
00:46set a deadline himself. Ultimately, he will dictate the timetable. And again, he is satisfied with the naval blockade and
00:53he understands that Iran is in a very weak position and the cards are in President Trump's hands right now.
Komentar

Dianjurkan