00:00Saya ingat waktu saya taksiah dengan Bu Susi ke Bu Tri.
00:05Bu Susi bilang, jangan sedih ya Bu.
00:07Ya saya pasti sedih, tapi semuanya pasti ada tempatnya.
00:11Semua ada waktunya.
00:13Kapan harus bersedih, kapan juga harus melanjutkan hidup.
00:17Wow.
00:20Semua ada garis.
00:22Sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
00:26Yang penting bagaimana kita berterima kasih pada Tuhan.
00:32Dan bisa memanfaatkan kesempatan untuk bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.
00:38Jadi Bu, ini ada Mas Cepi, Mbak Nori, Mbak Lia.
00:41Sebenarnya putra-putrinya kan tujuh ya Bu ya?
00:44Tujuh.
00:44Banyak ya Bu ya?
00:45Banyak sekali.
00:47Kalau Bapak bisa nyebut kami Sabta Marga, pas dengan TNI.
00:51Sabta Marga.
00:52Nomor satu coba foto keluarganya mana, biar yang bisa.
00:56Saya berterima kasih apresiasi yang luar biasa.
00:59Bu Tuti baru dari Surabaya karena juga ada kedukaan, pulang pergi dan tetap komit datang di program Rosi.
01:06Terima kasih.
01:07Mas Cepi, Mbak Nori, Mbak Lia juga terima kasih.
01:10Ini ada...
01:11Nah, Bu Tuti, jadi nomor satu perempuan ya Bu ya?
01:16Iya.
01:17Nora.
01:18Mbak Nora.
01:19Nomor dua, Mas Cepi.
01:23Nah, pria yang sudah menjauhi kegelapan dunia.
01:28Insya Allah, maunya.
01:30Kelihatan dari rambutnya.
01:32Dari rambutnya saja baru.
01:33Yang kedua, yang ketiga Bu?
01:36Firman.
01:37Mas Firman.
01:39Pensiunan.
01:40Pak Polisi.
01:41Pak Polisi, dulu menjabat Kakor Lantas.
01:44Jadi cewek, cowok dua, mbak Nori nih.
01:52Lalu cowok lagi dua, ditutup sama ini.
01:57Jadi cewek dua cowok, cewek dua cowok.
02:00Artinya apa tuh Bu?
02:01Sabta marga.
02:02Sabta marga.
02:03Yang cowok dikawal terus sama yang cewek-cewek ya Bu?
02:06Betul.
02:06Makanya saya katakan, anak mama yang langang, ini penakut.
02:12Tanya dia, kenapa mam?
02:14Iya, kamu berada di antara perempuan-perempuan.
02:16Ini anak perempuan mama yang tiga nih, jagoan.
02:22Baru mau muncul kalau diawali dan diakhiri oleh anak perempuan ya Bu ya.
02:27Terus Mas Cepi, hari ini kita berbincang tanggal 9 April, gak terasa 10 April 40 harinya Pak Tri.
02:39So, apa yang berubah?
02:45Yang pertama kalau kita kangen, biasanya mau diskusi, bertanya, udah tinggal nginget-nginget yang lalu.
02:54Udah gak bisa ketemu lagi.
02:56Itu yang paling kerasa.
02:57Makanya lebaran kemarin mama bilang, ada yang kurang ya kayaknya gitu kan.
03:02Jadi yang paling terasa itu.
03:03Jadi pada saat kita ingin bertemu gitu ya.
03:12Jadi pesan saya sih sama adik-adik sama saya sendiri juga terutama.
03:16Juga mungkin kawan-kawan yang masih ada orang tua, masih ada ibu.
03:21Jangan inilah, jangan bosen-bosen untuk sering-sering ketemu gitu.
03:28Kerasanya tuh sekarang kok gitu.
03:29Jadi pada saat kita kangen mau ketemu, biasa kalau ada apa-apa kita diskusi gitu.
03:35Jadi kadang-kadang bukan kita apa ya, mengeluh atau berapa.
03:39Kadang-kadang kita nanya kan, Pak ini agak jalan gini, mah ini gini.
03:43Kadang-kadang ucapannya sederhana tapi kita tuh pulang dari situ tuh.
03:46Apa ucapan Pak Tri yang terasa sebenarnya sederhana tapi maknanya luar biasa dalam.
03:51Ini sebenarnya cerita apa yang memang sudah kami alami dari kecil lah.
03:58Jadi mungkin mau cerita, kalau orang cerita, oh anak Pak Tri udah jadi ini, jadi itu tuh.
04:03Hal yang lumrah yang sewajarnya kita berbuat sesuatu untuk bisa apa namanya,
04:12menjalankan apa yang kita cita-citakan dan mengikuti apa yang dinasihatkan orang tua kan, Pak.
04:17Jadi kita tuh ada challenge lah sebagai putra-putri Pak Tri itu ya.
04:25Jadi bahasa sederhananya, apapun yang kita perbuat, kalau bagus, ya jelas aja anaknya Pak Tri.
04:33Nanti kalau kita ada yang salah, kok anak Pak Tri begitu sih?
04:37Karena Pak Tri bagaimanapun juga Panglima Abri pada waktu itu.
04:43Lalu kemudian Ajudan Presiden Pak Harto dulu, Panglima, Pangdam, Kepala Sepangkatan Darat.
04:51Semua jalur kemilitaran dilalui oleh Pak Tri, kemudian puncaknya Wakil Presiden.
04:57Jadi kalau anaknya agak kurang, pasti langsung.
05:01Oh begitu sih, tapi kalau agak lebih begitu.
05:03Jadi sebagai manusia kan itu membayangi.
05:06Mungkin pada adik-adik punya cerita masing-masing itu membayangi,
05:10tapi kita kan berjuang untuk supaya gimana ya menghadapinya gitu.
05:16Kita udah sekolah terbaik misalnya dapat ranking, tetap ada suaranya.
05:24Kita bisa masuk universitas yang bagus, ya jelas aja gitu kan.
05:27Nah tapi ada nasihat dari orang tua kami itu yang selalu mungkin berulang-ulang juga setiap kita ketemu ada yang
05:35gitu.
05:35Cuma kita ya bermanja-manjalah sama Bapak Ibu gitu ya.
05:40Jadi nasihatnya sama ya.
05:43Nah kalau kamu itu berjalan di jalan yang, eh teman-teman yang lain berjalan di jalan yang lurus dan datar
05:50-datar saja.
05:50Ya kamu harus berjalan di bebatuan kadang-kadang berlumpur.
05:55Ya pakai ransel lagi malah katanya gitu kan.
05:59Kalau kamu bisa sama-sama finish di tempat yang sama, insya Allah kamu lebih kuat.
06:03Wow.
06:04Jadi membuat kita ya.
06:06Itu suatu package mbak.
06:08Jadi orang bilang kita ada privilege pasti.
06:11Privilege kita bukannya fasilitas yang Bapak berikan boleh gitu.
06:15Bapak mbak setiap menjabat di satu tempat, bilangnya begini anak-anak saya apapun selama saya di sini.
06:26Jadi sesuatu udah dipagirin dulu mbak.
06:28Zaman itu ya?
06:29Iya.
06:30Zaman dimana sebenarnya anak pejabat berhak untuk dapat fasilitas apun.
06:35Walaupun Bapak mengakui, itu kan hak kamu mau cari kerja mau apa.
06:38Tapi Bapak tempat lain aja cari.
06:41Gitu kan.
06:41Jadi pesan Bapak apa? Jangan pernah kasih anak-anak saya sesuatu selama saya menjabat di sini.
06:49Jadi dibatesin gitu.
06:50Nah buat kita privilege-nya, kita sering ngobrol nih adik yang ngomong.
06:54Privilege kita tuh mbak, banyak orang bilang aduh alhamdulillah saya kemarin ketemu Patris, saya dinasihati, berguru, semua apa-apa gini.
07:00Kita alhamdulillah tiap hari mbak bisa ada akses.
07:03Itu privilege kita untuk ke Bapak, ke Ibu.
07:06Diskusi apa yang selama ini kita take it for granted gitu ya mbak ya.
07:10Buat orang-orang, aduh mas, Bapak meninggal ada meluk saya.
07:14Saya gak tau kalau saya mau nanya apa-apa kemana lagi.
07:16Ada yang meluk saya gitu mbak.
07:17Jadi saya sampe privilege kita tuh itu.
07:21Privilegenya adalah seorang ayah.
07:24Sebagai seorang ayah.
07:25Iya, jadi maksudnya gini, kan dengan jabatan Papa yang naik, orang kan nganggap bahwa Papa sibuk Papa apa gitu.
07:33Tapi enggak, Papa itu selalu present.
07:35Jadi akses ke waktunya Papa, akses ke pikirannya Papa, akses ke nasihatnya Papa, akses kadang-kadang diomelinnya sama Papa juga
07:43ya gitu.
07:44Akses ke becandanya Papa.
07:46Jadi Papa is very accessible.
07:47Itu privilege kita gitu.
07:49It's very apa ya.
07:51Walaupun gak hadir mbak, tau itu kita lagi ngapain, sekolah apa, lagi ngapa-apa, udah sampe mana itu artinya monitor
07:58gitu mbak.
07:58Jadi privilege menjadi anak seorang Bapak Trisu Trisno itu yang punya jabatan yang sungguh cemerlang di Orde Baru, bukan karena
08:08jabatannya.
08:08Tapi privilege-nya adalah hadir sebagai seorang ayah.
08:11Iya, betul. Jadi gak pernah saya merasa izin mbak ya, saya anak wapres, saya anak apa.
08:17Sampai saya pernah ditegur sama embassy waktu di Belanda mbak.
08:19Saya lulus, saya cuma ngundang teman-teman saya lulus.
08:22Embassy nanya, kok kami gak dikabarin bagian dikbut gitu ya.
08:25Kan saya perlu laporan juga mbak.
08:26Kita mikir ngapan mesti laporannya.
08:28Oh iya, kalau udah laporan seperti mahasiswa yang lain.
08:31Tapi maksud mereka, kan Bapak wapres gitu loh.
08:34Nah itu kami gak pernah mikir gitu mbak.
08:36Jadi privilege kami, kami selalu bersyukur dan bangga bahwa kami putra-putrinya Pak Trisu Trisno.
08:41Bukan putri wapres, bukan putri pangap, bukan putri wapres.
08:48Malah kalau orang mungkin nyangka ya, kalau kita apapun kan.
08:50Kita diajarin untuk tidak cari pembenaran atau ridoknya dari manusia lah.
08:58Kan Pak Pasol Naksitri gitu kan.
09:00Kalau udah sampai parah nih, fitnah dan apa-apa macam-macam.
09:05Menghapuskan dosa kamu.
09:06Ngangkat derajat kamu.
09:07Kalau kamu sabar, apa halah itu?
09:09Tenang lagi gitu.
09:10Itu bukan sebagai wapres mbak.
09:12Itu bukan sebagai pangap, tapi itu sebagai seorang ayah.
09:15Dan itu dari muda sampai sekarang kan, gak bisa-abis kan.
09:17Itu yang kita rasain ya.
09:19Ya, bermanya-manja aja sebenarnya gitu.
09:21Bagaimana apa-apa jabatan naik-naik itu, mungkin apa yang dirasa sama saudara-saudara sama.
09:27Itu gak ada bedanya mbak.
09:29Bu, luar biasa putra putri.
09:33Tapi siapa yang paling bandel diantara yang bertujuh, Bu?
09:36Yang paling bandel.
09:36Ini?
09:37Rata.
09:38Rata bandelnya.
09:39Ini mbak.
09:41Ini bandelnya begini, ini bandelnya begitu.
09:43Jadi gak bisa disamakan.
09:44Tapi semua memang begitu.
09:47Bikin kamar masing-masing rame.
09:50Bikin rumah kami rame.
09:54Jadi, ya dengan anak tujuh.
09:57Di rumah itu berisik semua sih, Bu.
09:59Sebenarnya di rumah itu berisik.
10:00Yang sebenarnya kalau mau dibilang paling diem itu mama sama Kang Iman ya.
10:04Jadi kalau kita udah ngomong itu sebenarnya gak ada yang dengerin.
10:06Semua ngomong.
10:07Itu pun dua bercanda terus, Iman.
10:08Ini siapa ngomong apa?
10:09Nanti mama sama Kang Iman gini.
10:11Enggak, tadi lu ngomong gini, ini ngomong gini, ngomong gini, oh oke gitu.
10:13Jadi sebenarnya ada yang dengerin.
10:15Siapa yang lebih galak?
10:16Pak Tri atau Ibu?
10:18Enggak.
10:19Mbak Nora.
10:21Sekejap-kejam Ibu Kota, lebih kejam Ibu Nora.
10:24Kakak pertama.
10:26Kan kalau Bapak Ibu pergi kan kepala sukunya Ibu Nora.
10:30Jadi adik-adiknya kalau apa itu dia yang, eh ini tugasnya.
10:35Sekejam-kejam Ibu Kota, lebih kejam Ibu Nora.
Komentar