Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Taufik Dwi Cahyono, anak kedua Try Sutrisno, mengungkap bahwa perjalanan panjang karier sang ayah yang panjang di hingga menjadi wakil presiden justru menjadi tekanan tersendiri bagi anak-anaknya.

Ia mengakui, ekspektasi publik terhadap anak seorang tokoh besar tidaklah ringan. Meski telah menempuh pendidikan terbaik dan meraih pencapaian akademik, bayang-bayang nama besar ayahnya tetap melekat.

Namun di balik itu, ada prinsip kuat yang ditanamkan oleh sang ayah mereka bahwa jalan hidup mereka tidak boleh sama dengan orang kebanyakan. Filosofinya mengajarkan ketahanan dan daya juang.

"Kalau kamu itu berjalan di jalan yang teman-teman yang lain berjalan di jalan yang lurus dan datar-datar saja, kamu harus berjalan di bebatuan. Kadang-kadang berlumpur, ya pake ransel lagi malah katanya gitu kan," katanya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa apa yang disebut "privilege" justru tidak pernah diberikan dalam keluarganya. Bahkan, sang ayah secara tegas melarang pemberian fasilitas kepada anak-anaknya selama menjabat.

"Setiap menjabat di satu tempat, bapak bilangnya begini anak saya, jangan pernah kasih anak-anak saya apapun selama saya di sini," katanya.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Fv7A7e4pCBg




#trysutrisno #wapres #panglimatni

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/662307/tak-ada-privilege-anak-try-sutrisno-justru-dilarang-dapat-fasilitas-rosi
Transkrip
00:00Saya ingat waktu saya taksiah dengan Bu Susi ke Bu Tri.
00:05Bu Susi bilang, jangan sedih ya Bu.
00:07Ya saya pasti sedih, tapi semuanya pasti ada tempatnya.
00:11Semua ada waktunya.
00:13Kapan harus bersedih, kapan juga harus melanjutkan hidup.
00:17Wow.
00:20Semua ada garis.
00:22Sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
00:26Yang penting bagaimana kita berterima kasih pada Tuhan.
00:32Dan bisa memanfaatkan kesempatan untuk bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.
00:38Jadi Bu, ini ada Mas Cepi, Mbak Nori, Mbak Lia.
00:41Sebenarnya putra-putrinya kan tujuh ya Bu ya?
00:44Tujuh.
00:44Banyak ya Bu ya?
00:45Banyak sekali.
00:47Kalau Bapak bisa nyebut kami Sabta Marga, pas dengan TNI.
00:51Sabta Marga.
00:52Nomor satu coba foto keluarganya mana, biar yang bisa.
00:56Saya berterima kasih apresiasi yang luar biasa.
00:59Bu Tuti baru dari Surabaya karena juga ada kedukaan, pulang pergi dan tetap komit datang di program Rosi.
01:06Terima kasih.
01:07Mas Cepi, Mbak Nori, Mbak Lia juga terima kasih.
01:10Ini ada...
01:11Nah, Bu Tuti, jadi nomor satu perempuan ya Bu ya?
01:16Iya.
01:17Nora.
01:18Mbak Nora.
01:19Nomor dua, Mas Cepi.
01:23Nah, pria yang sudah menjauhi kegelapan dunia.
01:28Insya Allah, maunya.
01:30Kelihatan dari rambutnya.
01:32Dari rambutnya saja baru.
01:33Yang kedua, yang ketiga Bu?
01:36Firman.
01:37Mas Firman.
01:39Pensiunan.
01:40Pak Polisi.
01:41Pak Polisi, dulu menjabat Kakor Lantas.
01:44Jadi cewek, cowok dua, mbak Nori nih.
01:52Lalu cowok lagi dua, ditutup sama ini.
01:57Jadi cewek dua cowok, cewek dua cowok.
02:00Artinya apa tuh Bu?
02:01Sabta marga.
02:02Sabta marga.
02:03Yang cowok dikawal terus sama yang cewek-cewek ya Bu?
02:06Betul.
02:06Makanya saya katakan, anak mama yang langang, ini penakut.
02:12Tanya dia, kenapa mam?
02:14Iya, kamu berada di antara perempuan-perempuan.
02:16Ini anak perempuan mama yang tiga nih, jagoan.
02:22Baru mau muncul kalau diawali dan diakhiri oleh anak perempuan ya Bu ya.
02:27Terus Mas Cepi, hari ini kita berbincang tanggal 9 April, gak terasa 10 April 40 harinya Pak Tri.
02:39So, apa yang berubah?
02:45Yang pertama kalau kita kangen, biasanya mau diskusi, bertanya, udah tinggal nginget-nginget yang lalu.
02:54Udah gak bisa ketemu lagi.
02:56Itu yang paling kerasa.
02:57Makanya lebaran kemarin mama bilang, ada yang kurang ya kayaknya gitu kan.
03:02Jadi yang paling terasa itu.
03:03Jadi pada saat kita ingin bertemu gitu ya.
03:12Jadi pesan saya sih sama adik-adik sama saya sendiri juga terutama.
03:16Juga mungkin kawan-kawan yang masih ada orang tua, masih ada ibu.
03:21Jangan inilah, jangan bosen-bosen untuk sering-sering ketemu gitu.
03:28Kerasanya tuh sekarang kok gitu.
03:29Jadi pada saat kita kangen mau ketemu, biasa kalau ada apa-apa kita diskusi gitu.
03:35Jadi kadang-kadang bukan kita apa ya, mengeluh atau berapa.
03:39Kadang-kadang kita nanya kan, Pak ini agak jalan gini, mah ini gini.
03:43Kadang-kadang ucapannya sederhana tapi kita tuh pulang dari situ tuh.
03:46Apa ucapan Pak Tri yang terasa sebenarnya sederhana tapi maknanya luar biasa dalam.
03:51Ini sebenarnya cerita apa yang memang sudah kami alami dari kecil lah.
03:58Jadi mungkin mau cerita, kalau orang cerita, oh anak Pak Tri udah jadi ini, jadi itu tuh.
04:03Hal yang lumrah yang sewajarnya kita berbuat sesuatu untuk bisa apa namanya,
04:12menjalankan apa yang kita cita-citakan dan mengikuti apa yang dinasihatkan orang tua kan, Pak.
04:17Jadi kita tuh ada challenge lah sebagai putra-putri Pak Tri itu ya.
04:25Jadi bahasa sederhananya, apapun yang kita perbuat, kalau bagus, ya jelas aja anaknya Pak Tri.
04:33Nanti kalau kita ada yang salah, kok anak Pak Tri begitu sih?
04:37Karena Pak Tri bagaimanapun juga Panglima Abri pada waktu itu.
04:43Lalu kemudian Ajudan Presiden Pak Harto dulu, Panglima, Pangdam, Kepala Sepangkatan Darat.
04:51Semua jalur kemilitaran dilalui oleh Pak Tri, kemudian puncaknya Wakil Presiden.
04:57Jadi kalau anaknya agak kurang, pasti langsung.
05:01Oh begitu sih, tapi kalau agak lebih begitu.
05:03Jadi sebagai manusia kan itu membayangi.
05:06Mungkin pada adik-adik punya cerita masing-masing itu membayangi,
05:10tapi kita kan berjuang untuk supaya gimana ya menghadapinya gitu.
05:16Kita udah sekolah terbaik misalnya dapat ranking, tetap ada suaranya.
05:24Kita bisa masuk universitas yang bagus, ya jelas aja gitu kan.
05:27Nah tapi ada nasihat dari orang tua kami itu yang selalu mungkin berulang-ulang juga setiap kita ketemu ada yang
05:35gitu.
05:35Cuma kita ya bermanja-manjalah sama Bapak Ibu gitu ya.
05:40Jadi nasihatnya sama ya.
05:43Nah kalau kamu itu berjalan di jalan yang, eh teman-teman yang lain berjalan di jalan yang lurus dan datar
05:50-datar saja.
05:50Ya kamu harus berjalan di bebatuan kadang-kadang berlumpur.
05:55Ya pakai ransel lagi malah katanya gitu kan.
05:59Kalau kamu bisa sama-sama finish di tempat yang sama, insya Allah kamu lebih kuat.
06:03Wow.
06:04Jadi membuat kita ya.
06:06Itu suatu package mbak.
06:08Jadi orang bilang kita ada privilege pasti.
06:11Privilege kita bukannya fasilitas yang Bapak berikan boleh gitu.
06:15Bapak mbak setiap menjabat di satu tempat, bilangnya begini anak-anak saya apapun selama saya di sini.
06:26Jadi sesuatu udah dipagirin dulu mbak.
06:28Zaman itu ya?
06:29Iya.
06:30Zaman dimana sebenarnya anak pejabat berhak untuk dapat fasilitas apun.
06:35Walaupun Bapak mengakui, itu kan hak kamu mau cari kerja mau apa.
06:38Tapi Bapak tempat lain aja cari.
06:41Gitu kan.
06:41Jadi pesan Bapak apa? Jangan pernah kasih anak-anak saya sesuatu selama saya menjabat di sini.
06:49Jadi dibatesin gitu.
06:50Nah buat kita privilege-nya, kita sering ngobrol nih adik yang ngomong.
06:54Privilege kita tuh mbak, banyak orang bilang aduh alhamdulillah saya kemarin ketemu Patris, saya dinasihati, berguru, semua apa-apa gini.
07:00Kita alhamdulillah tiap hari mbak bisa ada akses.
07:03Itu privilege kita untuk ke Bapak, ke Ibu.
07:06Diskusi apa yang selama ini kita take it for granted gitu ya mbak ya.
07:10Buat orang-orang, aduh mas, Bapak meninggal ada meluk saya.
07:14Saya gak tau kalau saya mau nanya apa-apa kemana lagi.
07:16Ada yang meluk saya gitu mbak.
07:17Jadi saya sampe privilege kita tuh itu.
07:21Privilegenya adalah seorang ayah.
07:24Sebagai seorang ayah.
07:25Iya, jadi maksudnya gini, kan dengan jabatan Papa yang naik, orang kan nganggap bahwa Papa sibuk Papa apa gitu.
07:33Tapi enggak, Papa itu selalu present.
07:35Jadi akses ke waktunya Papa, akses ke pikirannya Papa, akses ke nasihatnya Papa, akses kadang-kadang diomelinnya sama Papa juga
07:43ya gitu.
07:44Akses ke becandanya Papa.
07:46Jadi Papa is very accessible.
07:47Itu privilege kita gitu.
07:49It's very apa ya.
07:51Walaupun gak hadir mbak, tau itu kita lagi ngapain, sekolah apa, lagi ngapa-apa, udah sampe mana itu artinya monitor
07:58gitu mbak.
07:58Jadi privilege menjadi anak seorang Bapak Trisu Trisno itu yang punya jabatan yang sungguh cemerlang di Orde Baru, bukan karena
08:08jabatannya.
08:08Tapi privilege-nya adalah hadir sebagai seorang ayah.
08:11Iya, betul. Jadi gak pernah saya merasa izin mbak ya, saya anak wapres, saya anak apa.
08:17Sampai saya pernah ditegur sama embassy waktu di Belanda mbak.
08:19Saya lulus, saya cuma ngundang teman-teman saya lulus.
08:22Embassy nanya, kok kami gak dikabarin bagian dikbut gitu ya.
08:25Kan saya perlu laporan juga mbak.
08:26Kita mikir ngapan mesti laporannya.
08:28Oh iya, kalau udah laporan seperti mahasiswa yang lain.
08:31Tapi maksud mereka, kan Bapak wapres gitu loh.
08:34Nah itu kami gak pernah mikir gitu mbak.
08:36Jadi privilege kami, kami selalu bersyukur dan bangga bahwa kami putra-putrinya Pak Trisu Trisno.
08:41Bukan putri wapres, bukan putri pangap, bukan putri wapres.
08:48Malah kalau orang mungkin nyangka ya, kalau kita apapun kan.
08:50Kita diajarin untuk tidak cari pembenaran atau ridoknya dari manusia lah.
08:58Kan Pak Pasol Naksitri gitu kan.
09:00Kalau udah sampai parah nih, fitnah dan apa-apa macam-macam.
09:05Menghapuskan dosa kamu.
09:06Ngangkat derajat kamu.
09:07Kalau kamu sabar, apa halah itu?
09:09Tenang lagi gitu.
09:10Itu bukan sebagai wapres mbak.
09:12Itu bukan sebagai pangap, tapi itu sebagai seorang ayah.
09:15Dan itu dari muda sampai sekarang kan, gak bisa-abis kan.
09:17Itu yang kita rasain ya.
09:19Ya, bermanya-manja aja sebenarnya gitu.
09:21Bagaimana apa-apa jabatan naik-naik itu, mungkin apa yang dirasa sama saudara-saudara sama.
09:27Itu gak ada bedanya mbak.
09:29Bu, luar biasa putra putri.
09:33Tapi siapa yang paling bandel diantara yang bertujuh, Bu?
09:36Yang paling bandel.
09:36Ini?
09:37Rata.
09:38Rata bandelnya.
09:39Ini mbak.
09:41Ini bandelnya begini, ini bandelnya begitu.
09:43Jadi gak bisa disamakan.
09:44Tapi semua memang begitu.
09:47Bikin kamar masing-masing rame.
09:50Bikin rumah kami rame.
09:54Jadi, ya dengan anak tujuh.
09:57Di rumah itu berisik semua sih, Bu.
09:59Sebenarnya di rumah itu berisik.
10:00Yang sebenarnya kalau mau dibilang paling diem itu mama sama Kang Iman ya.
10:04Jadi kalau kita udah ngomong itu sebenarnya gak ada yang dengerin.
10:06Semua ngomong.
10:07Itu pun dua bercanda terus, Iman.
10:08Ini siapa ngomong apa?
10:09Nanti mama sama Kang Iman gini.
10:11Enggak, tadi lu ngomong gini, ini ngomong gini, ngomong gini, oh oke gitu.
10:13Jadi sebenarnya ada yang dengerin.
10:15Siapa yang lebih galak?
10:16Pak Tri atau Ibu?
10:18Enggak.
10:19Mbak Nora.
10:21Sekejap-kejam Ibu Kota, lebih kejam Ibu Nora.
10:24Kakak pertama.
10:26Kan kalau Bapak Ibu pergi kan kepala sukunya Ibu Nora.
10:30Jadi adik-adiknya kalau apa itu dia yang, eh ini tugasnya.
10:35Sekejam-kejam Ibu Kota, lebih kejam Ibu Nora.
Komentar

Dianjurkan