00:00Lalu seperti apa saudara pola penanganan sampah oleh pemerintah kota Denpasar, Bali?
00:06Saat ini kita sudah bersama Gede Wira Kusumah, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kota Denpasar.
00:14Selamat pagi Pak Wira dengan DC di studio.
00:22Oke Pak Wira, ini kan dari informasi yang kita tahu bahwa TPA Suwung ya Pak ya, di Bali ini menerapkan
00:30sistem tidak menerima lagi sampah non-organik.
00:35Nah, maaf maksud kami tidak menerima sampah organik ya Pak ya?
00:42Nah, ini dari pemerintah Bali sendiri bagaimana solusi ini untuk menerapkan pengelolaan sampah yang seperti ini Pak?
00:51Ya, baik. Terima kasih. Jadi sebenarnya kunci utama adalah sampah di mana-mana di belahan dunia, itulah pemilahan.
01:00Teknologi maupun sumber daya yang ada itu akan sangat terbantu ketika di hulu,
01:05yaitu yang berbasis sumber baik di rumah tangga, di kantor, di usaha resmi, dan sebagainya sudah terpilang.
01:12Sehingga harapannya adalah apa yang kita siapkan di tempat penampungan sampah sementara maupun yang TPST terpadu ataupun TPA,
01:21itu akan lebih mudah karena sampah organik itu akan dikacah menjadi kompos,
01:27kemudian unorganik yang masih bernilai itu bisa dibawa ke bank sampah atau dikembalikan ke pabrik.
01:32Nah, jadi hanya kita mengelola residu.
01:35Ya, residu ini kalau kami berdasarkan pengalaman dan data, sampah organik kita itu adalah sekitar 60 persen.
01:43Kemudian unorganik yang masih bernilai adalah 35-40 persen.
01:47Hanya sisa residu 5-10 persen.
01:50Jadi kita bisa bayangkan kalau kita bersama-sama memilah dari hulu,
01:55itu utamanya kalau misalnya sampah organik itu bisa selesai di rumah atau di sumber,
01:5960 persen masalah sampah di perpoksi sudah selesai.
02:03Kemudian tinggal sekarang yang menyelesaikan 40 persen.
02:06Kalau apalagi masyarakat bisa mengolah yang unorganik masih bernilai dibawa ke bank sampah untuk disembalikan ke pabrik,
02:14berarti sisa 5-10 persen saja.
02:17Jadi sali sampah itu menjadi isu ya,
02:20terutama di Indonesia, di banyak daerah juga terjadi penumpukan,
02:24karena memang kapasitas tentok monahir sudah maksimal, tidak bisa lagi.
02:28Oleh karena itu, menjadi kewajiban bersama baik masyarakat maupun pemerintah.
02:33Masyarakat tugasnya adalah memilah supaya memudahkan seluruh sistem ini bekerja,
02:39baik dari TPS 3M, TPSC, tenaga yang ada, mesin yang ada,
02:44itu akan lebih mudah bekerja jika sudah terpilah dari hulu.
02:48Oke, terpilah dari hulu ya Pak ya, maksudnya kan ini dari rumah tangga sendiri begitu ya Pak ya?
02:55Dari rumah tangga, dari kantor, dari usaha, restoran, kafe, dan sebagainya, hotel.
03:00Oke, tapi apakah sebenarnya sudah dilakukan oleh warga kota sendiri ya Pak?
03:05Ya, berdasarkan kami kan melakukan survei.
03:07Dari 185 ribu warga di Netasar yang terdata, itu kami sudah survei sekitar 33 ribu.
03:14Nah, dari 33 ribu ini, datanya lumayan mengembirakan karena ada 83 persen yang sudah mulai memilah.
03:22Jadi, sebanyak 32 warga, 32 ribu warga yang sudah mulai memilah,
03:28dan 30 ribu atau 79 persen diantaranya sudah menggunakan komposting.
03:34Itu artinya trennya positif karena saya yakin warga Bali dan Denpasar juga sama-sama menyadari bahwa
03:41Bali itu adalah bertumpu pada pariwisata, sehingga permasalahan sampah ini menjadi tantangan tersendiri yang harus kita selesaikan bersama,
03:48mengingat pariwisata bahwa musuhnya adalah pengelola sampah yang tidak terkelola.
03:54Oke, dengan adanya kompost bag ini Pak ya, dan juga tong komposter ini,
04:01sebenarnya kalau misalnya kita mau lihat, seberapa efektifkah dalam mengelola sampah?
04:07Ya, seperti tadi saya sampaikan, sebenarnya sampah harian kita itu volumenya,
04:12kalau pengalaman saya dan berdasarkan data yang berapa kali saya cek,
04:16data dari DLHK kami, penelitian IPB, kemudian data dari penelitian di Swiss,
04:20itu komposisinya adalah 50-60 persen adalah sampah organik,
04:24yang masih bisa dimanfaatkan, dikelola sendiri di rumah,
04:27dengan komposting, dan itu akan menghasilkan tanah subur.
04:31Kemudian 35-40 persen itu adalah sampah anorganik yang masih bisa bernilai.
04:37Itu bisa dibawa ke bank kampah, dititipkan kepada pengulung,
04:41untuk dikembalikan ke pabrik, untuk di depan.
04:44Nah, hanya kita 5-10 persen ini yang memang tidak bernilai.
04:48Sampah anorganik yang tidak bernilai, seperti pemper, diapet,
04:51isu, yang seperti itu yang memang tidak ada yang mau mengambil,
04:55karena memang tidak bernilai.
04:56Kalau ini yang bisa disertekan di tingkat hulu, di tingkat rumah tangga,
05:00di tingkat kantor, ataupun usaha,
05:02tentu yang keluar dan sampai ke TPA itu hanya 5-10 persen.
05:07Jadi kita bisa bayangkan,
05:09kalau saat ini sampah harian di Denpasar itu 1000 ton,
05:12kalau kita bisa menyertekan 5-10 persen,
05:15berarti hanya 50-100 ton saja yang harus dikelola.
05:19Saya kira itu akan jauh lebih ringan bagi mesin yang sudah ada,
05:22bagi TPS 3R dan TPSP yang sudah menyimpan mesin dan tenaga.
05:26Karena rata-rata kapasitas TPS 3R itu 5-10 ton.
05:31Sedangkan saat ini sudah ada 20 TPS 3R.
05:35Jadi bisa selesai kalau memang misalnya seperti ini.
05:39Oke, berarti memang ini pengelolaan sampah sangat dijaga sekali Pak ya sekarang di Bali,
05:44karena juga untuk mempermudah proses dari daur ulang sendiri,
05:48kemudian juga mengurangi penumpukan sampah di TPA.
05:51Begitu ya Pak ya?
05:52Betul.
05:53Oke, kalau gitu.
05:54Bapak terima kasih atas waktunya sudah bergabung bersama kami di Kompas TV.
05:59Sehat selalu Pak.
06:01Terima kasih banyak Mbak Desi.
Komentar