Eskalasi perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026 telah menyebabkan penutupan jalur vital Selat Hormuz.
Penutupan selat ini bukan cuma menyebabkan lonjakan harga minyak tapi juga produk petrokimia dunia.
Nafta, bahan baku utama pembuatan plastik (polietilena/PE dan polipropilena/PP), sekitar 60–70 persen pasokannya berasal dari kawasan Timur Tengah.
Indonesia sangat rentan terhadap guncangan ini karena masih mengandalkan impor nafta dalam jumlah besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor plastik dan barang dari plastik pada Februari 2026 mencapai US$873,2 juta.
Duh, ternyata bahan baku plastik seberpengaruh itu ya?
Komentar