Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik membuat harga minyak di sejumlah negara naik. Namun, hal ini tidak terlalu berpengaruh bagi Indonesia.

Pemerintah menyiasatinya dengan pembatasan pembelian BBM. Lalu, sampai kapan Indonesia bertahan?

Program ROSI mengundang Kepala Laboratorium Indonesia 2045 (LAB45) yang juga pernah menjabat Deputi Bidang Politik Hukum Pertahanan Keamanan dan HAM Kantor Staf Presiden 2016-2024, Jaleswari Pramodhawardani. Juga Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani.



Saksikan dalam ROSI episode Babak Baru AS-Israel VS Iran, Indonesia Aman? Tayang Kamis 2 April 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.



#iran #indonesia #usa

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/660640/full-konflik-as-israel-vs-iran-apa-strategi-indonesia-amankan-fiskal-hingga-bbm-rosi
Transkrip
00:09Sampai jumpa di video selanjutnya
00:31Sampai jumpa.
01:29Sampai jumpa di video selanjutnya
01:41Sampai jumpa di video selanjutnya
01:57Sampai jumpa.
02:34Sampai jumpa di video selanjutnya
02:48Sampai jumpa di video selanjutnya
03:21Sampai jumpa di video selanjutnya
03:51Sampai jumpa di video selanjutnya
04:21Sampai jumpa di video selanjutnya
04:24Sampai jumpa di video selanjutnya
05:21Sampai jumpa di video selanjutnya
06:00Sampai jumpa di video selanjutnya
07:52BBM tapi juga
08:22Sampai jumpa di video selanjutnya
09:19Sampai jumpa di video selanjutnya
09:38Sampai jumpa di video selanjutnya
10:15Sampai jumpa di video selanjutnya
10:46Sampai jumpa di video selanjutnya
10:48Sampai jumpa di video selanjutnya
11:41Sampai jumpa di video selanjutnya
11:46Sampai jumpa di video selanjutnya
11:47Sampai jumpa di video selanjutnya
11:56Sampai jumpa di video selanjutnya
12:01Sampai jumpa di video selanjutnya
12:02Sampai jumpa di video selanjutnya
12:07Sampai jumpa di video selanjutnya
12:17Tapi seperti kata Mbak Afia Liany tadi bahwa masyarakat itu penting untuk berjaga, bersiaga, bersiap-siap.
12:26Karena mereka juga punya mekanisme strategi kelangsungan hidupnya.
12:30Karena kalau misalkan dibiarkan seperti itu, mengambang, kita tidak tahu situasinya seperti apa.
12:37Tidak diajak bicara, ruang-ruang dialog mungkin dibukakan.
12:41Tetapi apakah hasil dialog itu dikonversikan menjadi kebijakan publik yang konkret, itu kan kita juga tidak tahu.
12:53Jadi hari ini harusnya dengan mencontoh kesiap-siagaan dan respons yang segera dari negara-negara tetangga kita lainnya
13:05seperti Singapura, Malaysia dan lain-lain.
13:07Bahkan Malaysia sampai bernegosiasi untuk bagaimana kapalnya juga bisa diberlalu, dilepaskan dari penyandaraan di Selat Hormus.
13:21Itu kan bagian dari, kita harus bergerak dengan prinsip yang kita miliki.
13:27Politik bebas aktif kita itu bukan mantra.
13:30Tetapi dia adalah rujukan kita bahwa ada prinsip-prinsip yang tidak bisa dikompromikan case by case.
13:38Itu yang harus kita lakukan.
13:40Nah dalam saat ini posisi kita ini serba tidak jelas.
13:45Misalnya tadi kita melihat di awal itu bahwa gugurnya tiga TNI kita,
13:52itu kan juga harusnya kita memberikan respons bukan sekedar pernyataan kecaman,
14:01tetapi apa langkah konkretnya.
14:03Pakistan tidak kehilangan prajurit, tapi dia masuk dalam ruang negosiasi perdamaian itu.
14:10Nah kita tidak ada, padahal prajurit kita gugur tiga orang.
14:13Ini yang jadi perhatian, apalagi tiga prajurit TNI kita gugur pada saat menjalankan misi perdamaian.
14:19Ini jelas mengelanggar hukum humanitar internasional.
14:22Tadi sudah disebutkan juga oleh Budhani bahwa kita sudah mengecam.
14:25Sudah dibawa juga ke forum UN bahwa UN harus menginvestigasi secara tegas,
14:31jangan ada excuse termasuk dari Israel.
14:34Tapi apa setelah itu, what's next setelah ini?
14:36Regarding the attack that took place yesterday, March 30,
14:40we can confirm today that UNIFIL forces were hit by Hezbollah explosive devices
14:48in an incident near Bani Hayan.
14:51We cannot accept these killings of peacekeepers.
14:56This is a grave loss to Indonesia.
14:59This is also a grave loss to all of us.
15:02Indonesia condemns in the strongest terms these heinous attacks
15:06against those peacekeepers serving with the UNIFIL on the 29th and 30th of March 2026.
15:14We demand that the perpetrators must be held legally accountable.
15:20Immunity must not become the standard.
15:23And attacks against peacekeepers must not be repeated nor tolerated.
15:31Perang Iran versus Amerika Serikat Israel juga melibatkan kekuatan proksi
15:35seperti Hezbollah dan dampaknya kini dirasakan langsung oleh Indonesia
15:38dengan gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon usai serangan Israel.
15:45Tapi masih imbah sih bersama Kepala Lab 45 Jeleswari Pramoda Wardani
15:49dan Ekonom Senior Indef Afiliyani.
15:51Dan ini kita dalam kondisi duka yang mendalam.
15:55Bagaimana tidak ada tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian kukur.
16:02Tadi kita sudah lihat tayangannya Indonesia mengecam di forum PBB.
16:05Sebelumnya Menlu juga sudah menyampaikan.
16:07Tapi mengecam saja mendorong investigasi tentu tidak cukup.
16:11Karena ini melanggar hukum humanitar internasional.
16:14Apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia?
16:16Langkah tegas apa yang bisa kita lakukan?
16:18Ya, dalam beberapa hari ini merespons kejadian tiga TNI kita
16:25yang gugur itu baik DPR.
16:28Misalkan kita sebut saja Pak Doli Kurnia dari Golkar misalnya.
16:33Terus kemudian ada kawan-kawan dari MPR juga.
16:35Sebetulnya sudah bereaksi keras terhadap ini.
16:38Bahkan Menteri Sugiyono juga sudah menyatakan dengan jelas
16:41kecaman itu berupa bagaimana melakukan deeskalasi
16:47dan kemudian kita ke meja perundingan.
16:50Nah pertanyaannya adalah mekanismenya seperti apa?
16:53Karena sejak sembilan hari sebelum peristiwa perang itu ketika kita menandatangani menjadi anggota BUP itu
17:01itu kan sebetulnya secara tidak sadar kita sudah menjerat diri kita
17:07untuk tidak memikirkan bahwa tanda tangan kita itu akan punya implikasi ke depannya.
17:17Jadi ketika perang itu terjadi dan Indonesia akhirnya di sana posisinya jadi sulit gitu ya.
17:25Apalagi ternyata kita tahu bahwa BUP ini kan Trump di dalamnya
17:31saya lebih senang membicarakan Trump ketimbang Amerikanya
17:34tapi karena semua keputusan segala satu itu Trump.
17:38Semua melihat itu dari pernyataan-pernyataannya dan lain-lain.
17:42Karena kita tahu juga hasil survei di Amerika juga sebetulnya mereka menolak juga soal perang itu.
17:48Jadi posisi kita serba salah.
17:51Kita yang dari tadi saya katakan bahwa kita tidak masuk ke meja perundingan
17:57di mana kita sebetulnya bisa satu meja dengan Pakistan, dengan Turki, dengan India, segala macam
18:07untuk membicarakan kita sebagai mediator tadi.
18:11Presiden Prabowo kan sudah sejak awal mengatakan bahwa kita perlu jadi mediator
18:15tapi sampai hari ini kita tidak ada di sana.
18:17Jadi saya rasa masuknya kita ke BUP itu jangan-jangan perlu untuk kita evaluasi dalam situasi sekarang ini.
18:25Apa yang bisa dilakukan bentuk evaluasinya dalam hal ini?
18:29Evaluasi apakah manfaat dari kita masuk BUP setelah situasi seperti ini.
18:37Kita tahu bahwa ternyata ketika kita setelah masuk BUP
18:42di mana kita satu meja dengan hal-hal yang secara prinsipil dulu kita tolak.
18:50Menginvasi negara lain.
18:52Kemudian kita bukankah di konstitusi kita bicara soal perdamaian.
18:58Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dan lain-lain.
19:01Sementara kita tahu bahwa pertama kali serangan itu diinisiasi oleh Amerika dan Israel.
19:07Dan kita duduk satu meja di sana.
19:08Dan kemudian mungkin implikasi dari kita di sana Iran melihat bahwa kita dalam bukan pihaknya.
19:15Oke satu, kalau meja perundingan yang kita punya sekarang terakhir di Dewan Keamanan PBB.
19:21Hasil investigasinya nanti bisa apa? Bentuknya apa? Bisakah mengikat?
19:25Sekarang kita kan tahu bahwa di Dewan Keamanan PBB pun sekarang juga sebatas kecaman juga.
19:31Investigasi paling maksimal.
19:35Nah tetapi apa yang harus dilakukan di Indonesia saya rasa saya setuju dengan apa yang sedang terjadi beberapa hari ini
19:44yaitu kawan-kawan DPR sebagian itu meminta pemerintah untuk mengevaluasi anggota kita BOP.
19:54Bahkan kalau bisa lebih tegas lagi kita menarik semua pasukan kita.
20:00Bisakah itu kalau secara legalnya kita berada di bawah naungan PBB karena mandatnya di bawah PBB juga kita mengirimkan pasukan
20:06ke Unifil.
20:07Itu bisa dilakukan. Bagaimana mekanismenya sesuai dengan tadi?
20:09Jadi itu dengan alasan bahwa ternyata keamanan dari pasukan kita sendiri juga tidak terjamin.
20:16Pasukan perdamaian itu kan tidak diperhadapkan dengan perang yang demikian itu dan kita tidak dipersenjatai seperti itu.
20:23Pasukan perdamaian itu kita tugasnya adalah menciptakan, menjaga dan kemudian memposisikan situasi agar situasi itu lebih kondusif.
20:39Tapi ini kan langsung berhadapan dengan situasi perang sesungguhnya yang kita tidak dipersenjatai seperti itu.
20:48Dan semestinya kita tidak diserang dalam kondisi sebagai peacekeeping forces di sana.
20:54Jadi sangat masuk akal kalau kita membuat keputusan bahwa kita menarik semua pasukan kita di sana.
21:02Dan jangan lupa sejak 57 itu kita paling besar mengirimkan pasukan perdamaian itu.
21:07Jadi bukan hanya sangat layak ya kita mengecam bahkan ketika kita menarik mundur pasukan itu karena tidak ada jaminan keselamatan
21:17bagi TNI kita itu sangat wajar.
21:21Dan ini kan berimplikasi juga artinya yang jelas tugasnya menjaga perdamaian saja tidak aman.
21:28Bisa kita baca bahwa ini ada uncertain situation yang tidak hanya soal ekonomi saja tapi juga soal keamanan secara lebih
21:36luas.
21:36Jadi apa yang harus kita persiapkan Bu Afi?
21:38Ya yang pasti dari sisi bukan keamanan tapi juga ekonomi pastinya.
21:42Karena tadi salah satunya BOP kemudian kan posisi kita jadi seolah-olah di Iran ya dan kita juga pernah mengalami
21:49pada tahun 2023 mengenai kapal Iran juga ya.
21:52Jadi kan sekarang kapal kita tidak bisa masuk ya.
21:54Jadi terpaksa kita sekarang mau coba dengan Malaysia dengan Singapur.
21:57Tapi yang harus kita antisipasi adalah mereka juga pasti akan butuh yang namanya cadangan.
22:02Sehingga bisa jadi penolakan terhadap permintaan kita juga bisa terjadi.
22:07Jadi kita juga harus membuat worst skenario-nya ketika itu tidak ada lalu bagaimana dengan BBM kita gitu.
22:13Jadi maksud saya jangan meninabobokkan tadi lalu juga mengatakan semuanya gampang aja gitu.
22:19Jadi harus ada alternatif-alternatif yang disampaikan kepada publik maupun kepada dunia usaha sehingga membuat mereka tenang.
22:27Kalau sekarang kan pemerintah ngomong malah nggak tenang.
22:29Apakah benar gitu?
22:30Karena kan orang semua punya perhitungan ya.
22:32Jadi itu satu adalah dampaknya tadi ya di Selat Hormus itu kita belum bisa masuk kapal kita ya.
22:37Nah yang kedua adalah tadi bahwa pengusaha-pengusaha sekarang juga sudah mulai resah dengan gimana nih nanti faktor input.
22:45Jadi ini adalah saatnya sebenarnya bagaimana pemerintah mulai menyiapkan kebijakan terhadap substitusi import misalnya.
22:52Jadi pengusaha ini mulai merubah strategi daripada menunggu import tapi mulai kebijakan yang lain.
22:57Nah ini saya rasa ini suatu momentum bagus yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah.
23:02Jadi kita harusnya fokus pada domestik menurut saya.
23:05Jadi nah sekarang ini kan lebih banyak dari BBM aja gitu.
23:09Tapi domestiknya apa nih kebijakan itu belum ada.
23:11Bicara soal Hormus kita bedah satu-satu, Hormus ini kan jadi perbincangan di awal.
23:16Saat negara lain ditanya berapa cadangan BBM-nya kita punya cadangan energinya 21 hari ya.
23:22Nah yang kita harus pahami ini kan buffer sebenarnya ya.
23:25Jadi ibaratnya tabungan kita punya 21 hari ini kalau kenapa-napa.
23:30Kalau Selat Hormus ini 20% dari perdagangan minyak energi, apa yang bisa kita lakukan sebenarnya?
23:38Worst scenario yang kita harus siapkan itu apa?
23:40Sekarang ini pemerintah kan mencoba dengan B50 kan.
23:43Tapi seberapa jauh sebenarnya B50 ini juga ada di dilema.
23:46Karena begitu B50 ekspor kita CPO juga turun kan.
23:50Nah berarti nanti akan ada cadangan defisa kita yang berkurang.
23:54Nah di satu sisi apakah kita siap dengan B50?
23:57Dan berapa banyak gitu ya.
23:58Walaupun pemerintah mengatakan kita bisa dengan B50.
24:02Tapi kan orang masih bertanya-tanya orang kita apa namanya ininya aja untuk penampungnya aja kita belum banyak.
24:08Makanya kenapa kita cuma 20 hari?
24:10Karena kita gak punya drum-drum penampung yang dimana semua negara itu buat yang banyak.
24:15Nah kita baru mau buat nih.
24:16Nah baru mau buat kan berapa lama gitu ya.
24:18Nah jadi ini juga menjadi persoalan.
24:20Nah oleh karena itu selain tadi B50 yang disiapkan oleh pemerintah.
24:24Apalagi nih kan kita sebenarnya punya gas, punya PLTU gitu ya.
24:27Nah ini yang mungkin menurut saya selama ini garapannya masih lambat gitu.
24:32Nah ke depan ini harus menjadi prioritas utama karena sebenarnya sumber energi Indonesia itu banyak.
24:36Matahari misalnya.
24:37Tapi kan sekarang energi surya kan masih belum banyak gitu.
24:40Tapi itu pakai jangka panjang ya?
24:42Jangka panjang.
24:43Kalau yang pendek ya paling B50 yang paling mungkin gitu.
24:45Atau gas ya.
24:46Karena gas kita kan juga banyak diekspor.
24:48Nah untuk di dalam negeri sendiri yang gas rumah tangga kan belum jalan.
24:51Nah jadi memang kelihatannya untuk jangka pendek ini gak bisa berbuat banyak ya.
24:56Selain memang masih tergantung BBM itu sendiri.
24:59Nah makanya sekarang harus ada negosiasi-negosiasi tidak hanya mengandalkan misalnya Malaysia dan Singapur.
25:05Tapi juga berbagai hal.
25:06Karena ini yang sangat urgen buat Indonesia gitu.
25:09Nah negosiasi ini bagaimana untuk mengusahakannya Bu Dhani?
25:13Karena bicara soal ketahanan energi ini akan langsung berdampak untuk rumah-rumah tiap kepala keluarga yang ada.
25:19Ya begini sampai hari ini kita melihat bahwa mediator yang dimaksudkan oleh Pak Prabowo itu kan ternyata dilakukan oleh Pakistan,
25:31Turki, India untuk peran memediasi konflik ini.
25:39Bagaimana dengan Indonesia?
25:41Saya rasa sampai hari ini kita belum tahu apa yang terjadi di sini.
25:46Tetapi saya rasa hasil survei yang hari ini dirilis tentang legitimasi publik terhadap perang Iran-Israel dan Amerika ini.
26:00Di mana surveinya ini dilakukan oleh indikator politik, Saiful Mujani dan LSI.
26:08Ini menunjukkan bahwa 80,3 persen rakyat Indonesia dari seribu sekian responden itu mengatakan ketidaksetujuan dengan perang yang terjadi ini.
26:21Karena memiliki implikasi terhadap kehidupan mereka di jangka panjang.
26:27Yang kedua yang paling menarik menurut saya adalah 50,3 persen itu menolak BOP.
26:34Jadi masyarakat benar-benar menolak BOP.
26:37Menurut saya, saya membaca ini adalah sebagai modal.
26:41Modal memang bukan strategi.
26:42Karena pada kenyataannya, legitimasi publik itu tidak selalu berbanding lurus dengan legitimasi diplomatik internasional.
26:54Buktinya kita tidak melihat itu.
26:56Padahal saya melihat survei ini semacam legitimasi bahwa suara publik selama ini sebetulnya sudah terkonfirmasi dengan hasil survei hari ini.
27:07Bahwa pemerintah saya rasa penting untuk melihat suara publik ini.
27:14Bukan hanya sekedar dibukakan ruang-ruang dialog.
27:18Tetapi bagaimana mengkonversikan legitimasi publik, suara publik ini ke dalam keputusan, artis sektor keputusan yang dibuat oleh pemerintah dalam konteks
27:31internasional atau global ini.
27:33Karena masyarakat juga punya pengetahuannya sendiri.
27:35Masyarakat punya pengalamannya sendiri terkait dengan itu.
27:39Perang saya rasa betul tadi yang dikatakan Mbak Filiani, dia tidak saja berhenti di negara-negara terkait.
27:48Tetapi dia akan masuk ke dapur kita.
27:51Karena jangka panjang ini punya pengaruhnya ke sana.
27:56Nah masalahnya apakah kita setelah melihat seperti ini, tadi banyak sekali kita diusulkan untuk kembali ke meja perundingan.
28:10Itu bagaimana mekanismenya?
28:12Karena ini kita kan juga tersandra itu loh.
28:17Jadi di satu sisi kita masa publik menolak untuk masuk BOP.
28:23Sementara kita ada di sana dan kita tidak bisa berbuat banyak tentang implikasi di lapangan.
28:31Yang dilakukan di meja perundingan plus juga yang dilakukan kebijakannya untuk menghadapi situasi ini sudahkah tepat atau belum?
28:38Misalnya sampai sekarang disampaikan oleh pemerintah BBM tidak akan naik.
28:43Dipastikan tidak akan naik.
28:44Tapi sampai kapan?
28:46Dan juga subsidi-nya akan ditambah rencananya untuk BBM ini.
28:50Sampai kapan?
28:50Sekuat apa ruang fiskal kita untuk ini?
28:53Global sedang tidak stabil, geopolitik sedang bergerak, harga komunitas fluktuatis.
28:59Negara tangga kita, BBM udah naik gak kira-kira kan?
29:02Kita bisa menjaga harga BBM di level yang sekarang tanpa membahayakan APBN.
29:08Jadi tim kita itu jago, kita jago dibanding negara-negara tangga kita.
29:16Penutupan Slat Hormuz memicu kenaikan harga minyak dunia.
29:19Meski demikian pemerintah Indonesia tidak menaikkan harga BBM dan hanya membatasi pembelian.
29:23Lalu sampai kapan pertanyaannya Indonesia akan bertahan?
29:26Kita masih bersama dengan Kepala Lab 45 Jaluswari Pramodawardhani dan Ekonom Senior Indef Filiani, Bu Afi, juga Bu Dhani kita
29:35masih membahas ini.
29:36Tadi dari yang disampaikan Pak Purbaya dan juga rencananya kita akan menaikkan 90, menjadi 90 sampai 100 triliun untuk subsidi
29:44BBM.
29:44Sekuat apa sih ruang fiskal kita?
29:46Sampai kapan kita bisa bertahan?
29:47Ya, jadi kan sebenarnya kalau kita ada yang subsidi dan yang tidak subsidi.
29:51Harusnya yang tidak subsidi itu sudah otomatis normal.
29:53Itu kan juga mempengaruhi kenaikan harga loh, tidak hanya subsidi ya.
29:57Nah yang subsidi ini kemudian dikatakan sama pada saat Pak Erlangga menyampaikan itu 2 bulan akan dievaluasi kembali.
30:04Memang April ini, awal April ini belum kelihatan ada kenaikan.
30:07Tapi bisa bisa lihat, inflasi kita sudah 3,47.
30:11Artinya apa? Itu belum ada kenaikan.
30:14Nah kalau ada kenaikan kita tahu dong sekarang saja sudah berbagai negara sudah menaikkan ada yang 25%, ada yang 30%.
30:21Karena mereka bersiap-siap ketika harga sampai pada level tertentu, mereka sudah menyiapkan berapa kenaikan harga itu.
30:27Artinya apa? Mereka berhitung dengan pasti sesuai dengan anggaran negaranya gitu ya.
30:32Nah kita kan masih punya keyakinan nih, Pak Purwaya tadi kan juga mengatakan ya, bahwa tidak akan ada kenaikan.
30:38Nah itu sampai berapa tahan?
30:40Nah kalau kita lihat dengan kenaikan, sekarang kan kita pakai level 80 per barel kan.
30:44Kalau itu diperkirakan sekitar 100 sampai dengan 110, berarti kan ada kenaikan sekitar 20 dolar sampai 30 dolar.
30:52Per satu dolarnya itu kan 6,7 triliun, bayangkan itu berapa banyak.
30:56Kemudian kita juga belum menyiapkan terkait dengan subsidi itu, apakah memang sudah siap bahwa mobil yang itu tidak beli lagi
31:03di tempat lain misalnya.
31:04Nah kan belum siap, walaupun Pertamina katanya sudah menyiapkan, saya belum yakin sih gitu.
31:09Nah itu berarti kan ada orang moral hazard, membeli BBM terus-menerus kita juga nggak tahu.
31:14Bahkan sekarang di daerah, kalau Jakarta aman, tapi di luar daerah itu masih ada antrian-antrian.
31:19Nah ini kan juga harus kita jaga gitu, jadi kita juga mesti mengajak pemerintah daerah nih.
31:23Kadang-kadang kita lihat pemerintah daerah itu nggak diajak serta untuk mengatasi hal ini.
31:27Padahal yang bertanggung jawab terhadap masyarakat di daerah itu adalah pemerintah daerah gitu.
31:31Jadi menurut saya harus ada keterkaitan pemerintah pusat ini mengajak pemerintah daerah,
31:36karena ini akan membuat juga kepanikan di daerah gitu, kalau tidak diajak kepala daerahnya.
31:41Kenapa? Kepala daerahnya juga nggak tahu tentang hal ini gitu ya, itu satu.
31:45Nah yang kedua adalah selain tadi BBM tadi, menurut saya tadi bahwa yang tidak subsidi kan nggak mungkin disubsidi juga
31:51gitu.
31:52Itu lebih jebol lagi gitu ya.
31:53Nah artinya ini bisa berpengaruh terhadap dunia usaha, karena dunia usaha kan tidak menggunakan yang BBM.
31:58Artinya akan terjadi juga kenaikan-kenaikan dari sisi mungkin pangan yang tidak dianuan oleh pemerintah,
32:06terutama terkait dengan bahan pokok oke lah, tapi kan cuma tiga atau empat kan.
32:11Tapi di luar itu kan pasti ada kenaikan.
32:13Nah kan kita nggak pernah bicara tentang inflasi, nah itu adalah bicara tentang apa? Daya beli.
32:18Jadi menurut saya yang perlu dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah bukan sekedar subsidi BBM-nya,
32:22tapi bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat.
32:24Jadi mungkin perlu dibangun proyek infrastruktur atau apapun di daerah untuk kesempatan kerja.
32:30Kenapa? Ini harus menjadi bumper utama.
32:33Karena yang bahaya itu adalah kita subsidi-nya kita naikkan, tapi daya beli masyarakat nggak naik gitu.
32:39Bahkan makin turun. Ini berbahaya menurut saya.
32:41Kenapa? Social unrest bisa terjadi.
32:44Di mana masyarakat kita yang sudah menghadapi middle income itu sudah mulai makin tinggi kan.
32:51Nah ini bisa jadi makin naik lagi gitu.
32:53Jadi menurut saya ini yang belum diatasi atau belum pernah disampaikan kepada publik apa strategi-strategi tidak hanya sekedar BBM.
33:01Soal ini kalangan menengah sebelum ada krisis ini saja, sebelum ada perang ini saja sudah sulit.
33:07Rombongan hanya nanya Rohana, rombongan jarang beli, Rojali itu sudah kita lihat fenomenanya apalagi sekarang.
33:15Sebenarnya yang terdampak kan kalangan menengah juga.
33:18Ibaratnya tidak dapat subsidi tapi dibilang kaya juga enggak.
33:22Nah apa-apa sebenarnya yang harus perhatian lebih soal ini?
33:25Karena kan konsumsi kita kurang lebih, koreksi jika salah, 30% itu kan dari situ daya beli.
33:30Nah konsumsi itu dari kalangan menengah.
33:32Jadi kalau dibagi menjadi tiga segmen ya, segmen menengah atas itu cenderung mereka itu punya kontribusi 70%.
33:39Jadi artinya apa orang yang kaya ini tidak punya pengaruh terhadap inflasi tadi.
33:44Tapi yang kelas menengah tadi yang bermasalah itu jumlahnya hampir sekitar 70 jutaan.
33:49Tapi mereka tuh kontribusinya cuma 17%.
33:51Memang kecil, tapi kan itu menjadi kesenjangannya makin tinggi.
33:55Nah sedangkan yang bawah sisanya itu adalah sekitar 17 juga itu adalah orang yang dapat subsidi dari BPJS-nya maupun
34:02makannya.
34:03Jadi itu enggak masalah, itu hanya 25 juta.
34:05Nah artinya yang ini menjadi problem utama sekarang.
34:09Nah oleh karena itu tadi saya mau melihatnya adalah sekarang ini kan ada misalnya kayak program prakerja ya.
34:16Terus ada lagi program training-training gitu ya.
34:18Nah menurut saya ini bisa juga dilibatkan untuk sektor-sektor swasta menyerap tenaga kerja tapi pemerintah memberikan subsidi misalnya gitu.
34:26Nah itu kan lebih bagus subsidinya untuk itu.
34:28Untuk apa? Meningkatkan daya beli.
34:30Karena sekarang ini supply terhadap tenaga kerja itu besar sehingga apa?
34:34Orang yang punya skill aja harganya bisa murah.
34:36Bisa dibawa OMR sekarang gitu loh.
34:38Karena apa? Banyakan supply.
34:39Nah oleh karena itu mungkin alangkah baiknya untuk mengevaluasi berbagai pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang sebenarnya belum perlu saat ini ya.
34:48Kan kita banyak dong anggaran ketahanan misalnya apakah sudah perlu sekarang bisa disubsidikan ke sana.
34:54MBG apakah perlu sebesar itu.
34:56Saya rasa perlu dievaluasi untuk apa?
34:58Bumper perut orang dulu nih gitu loh.
35:00Nah kalau itu sudah dilakukan baru sisanya untuk yang lain yang sebenarnya sifatnya lebih long term.
35:06Nah yang penting ini adalah jangka pendek gitu.
35:08Jadi saya belum melihat adalah untuk kelas menengah ini apa sih programnya.
35:12Itu belum terlihat.
35:13Nah saya rasa itu paling penting untuk menghadapi situasi saat ini.
35:17Sementara yang dihindari tadi Bu Afi juga sudah mention jangan sampai ada gejolak sosial, social unrest dengan kondisi seperti ini.
35:24Bu Dhani bagaimana kita membacanya apa yang harus diantisipasi agar jangan ada gejolak sosial.
35:29Karena kalau sudah bicara meja makan, kalau sudah bicara perut, soal penghasilan isi dompet itu pasti akan sangat sensitif untuk
35:36masyarakat.
35:37Karena berdampak pada kehidupan, roda kehidupan.
35:39Ya saya rasa ini bukan langkah tunggal yang harus dilakukan.
35:45Tetapi ini pertama kita harus benahi dulu di domestik.
35:51Sembari kita juga mempertanyakan kembali apa sebetulnya manfaat kita masuk ke dalam BOP itu.
35:58Kenapa ini menjadi penting?
36:00Karena ini saya mencoba memahami bahwa ketika Pak Prabowo Presiden memutuskan untuk menjadi anggota BOP itu pasti punya pertimbangan untuk
36:14kepentingan yang lebih besar, kepentingan nasional Indonesia dan lain-lain.
36:17Mungkin waktu itu Trump dengan tarifnya, tarif Trump yang begitu besar untuk Indonesia dan negara-negara lain akhirnya Indonesia mungkin
36:31ingin mendekat kepada Amerika untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan yang terkait dengan tarif itu sendiri.
36:45Tapi pada kenyataannya toh kita juga tetap 19 persen misalnya seperti itu.
36:49Dan kemudian apa manfaat ketika kita masuk BOP dalam kaitannya dengan konflik ini?
36:57Ini kan kita tahu bahwa konflik ini kita tidak bisa memastikan sebulan dua bulan terjadi.
37:04Karena kalau melihat eskalasinya kita tahu bahwa sampai Trump 34 hari kemudian dia mengubah 4 kali ancamannya terhadap Iran itu
37:16kan menunjukkan sesuatu.
37:18Dan kalkulasi Trump dalam perang ini itu juga ekonomi karena dia juga latar belakangnya pebisnis.
37:25Lihat saja ketika dia mengancam Selat Hormuz 48 jam akan diserang dan lain-lain ternyata mundur lagi.
37:32Dan itu langsung harga minyak turun kan.
37:37Jadi dia memperhitungkan itu betul gitu.
37:39Jadi idiosinkratif Trump itu memang motif ekonomi gitu ya.
37:43Nah kita bagaimana melihat ini? Bagaimana kita memanfaatkan keanggotaan kita di BOP ini?
37:50Apakah dalam hari ini itu masih relevan?
37:54Ataukah kita perlu untuk mengevaluasi?
37:58Hal-hal seperti ini ingin dilihat masyarakat?
38:02Lalu posisi tawar apa yang bisa kita lakukan untuk berjuang juga demi kebijakan di dalam negeri,
38:07untuk kebijakan ekonomi di dalam negeri agar tidak ada gejolak sosial tadi?
38:13Sebetulnya kalau kita melihat tiga cabang kekuasaan ini harusnya kita DPR juga harus bergerak.
38:22Ini bukan sekedar masalah pemerintah saja, ini masalah bangsa.
38:26Ini punya efek domino jangka panjang.
38:31Pertanyaannya adalah apakah ketika kita memutuskan arsitektur kebijakan yang terkait dengan Indonesia di dunia internasional,
38:40itu kita memikirkan enggak jangka menengah atau panjangnya.
38:45Karena kalau jangka pendek, bayangkan kita sembilan hari setelah itu perang terjadi.
38:51Dan kita di posisi yang menginvasi yang pro terhadap itu.
38:58Kita dibaca seperti itu.
39:00Setidaknya Iran melihat kita seperti itu.
39:02Sehingga sampai hari ini kita tidak ada dalam meja perundingan itu.
39:06Dan pertanyaannya apakah bagaimana kita menciptakan mekanisme itu?
39:12Nah harusnya pemerintah memberikan itu, ini menjadi wacana yang terus dilipat gandakan untuk mungkin di-share ke publik,
39:22ke para akademisi, media, dan lain-lain.
39:26Ini masalah bersama, bukan hanya masalah pemerintah saja.
39:30Masalah DPR, masalah yudikatif, masalah masyarakat perlu tahu.
39:36Jadi strategi kelangsungan hidup ini harus milik bersama.
39:42Nah kalau kita tanya apa yang harus kita lakukan,
39:45saya rasa ini karena ini adalah sebuah kebijakan ya,
39:49harus pemerintah.
39:49Nah pemerintah harus menyampaikan.
39:51Dan bagaimana juga pemerintah menyampaikan ini ke masyarakat?
39:56Di awal tadi sudah kita bahas,
39:59jangan sampai didinabobokan masyarakat,
40:01oke gak ada apa-apa di luar,
40:03tapi negara-negara tetangga kita sudah lebih dahulu menyiapkan bekal.
40:08Nah bekal yang kita siapkan sudah siap atau belum?
40:11Misalnya WFH, apakah itu sudah bisa jadi satu kebijakan pintu masuk?
40:15Atau kita butuh kebijakan holistik apa sih sebenarnya untuk menghadapi kondisi perang yang tidak jelas
40:22kapan berakhirnya di tengah situasi yang uncertain, yang tidak pasti sampai saat ini?
40:27Dalam situasi global yang semakin tidak pasti, Indonesia dituntut tidak hanya reaktif,
40:31tapi juga bisa mengambil langkah yang taktis dan strategis.
40:34Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif,
40:37baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.
40:40Kita masih membahas ya bersama Kepala Lep 45,
40:42Jaleswari Pramoda Wardhani dan ekonom senior indef Afiliani.
40:46Bu Afi, kan dalam membuat kebijakan,
40:48gak hanya kita lihat dari satu sisi saja pemerintah,
40:51tapi kita lihat juga ada banyak faktor, investor,
40:54dan juga bagaimana data sebenarnya dari lembaga pemeringkat internasional.
40:58Di mana posisi kita sekarang?
40:59Ya, jadi memang kita juga harus melihat dari sisi berbagai hal ya,
41:03termasuk kan Standard & Poor's sama dua lembaga rating ini kan mengatakan proyeksi akan menurunkan.
41:09Ya, itu artinya apa? Mereka belum punya keyakinan terhadap, terutama adalah fiskal,
41:14karena mereka ini banyak investor yang membeli obligasi pemerintah gitu ya.
41:17Nah, artinya apa? Artinya pemerintah tidak bisa hanya percaya diri bahwa kita udah bagus-bagus aja,
41:23gak akan mungkin di atas 3 persen.
41:24Tapi kan mereka punya hitungan tersendiri.
41:26Nah, oleh karena itu mungkin di sini adalah pemerintah perlu menyampaikan hal yang sebenarnya gitu.
41:31Karena kalau mereka persepsinya seperti itu, pasti mereka punya hitungan dong.
41:34Gak mungkin mereka mengatakan menurunkan itu tanpa hitungan ya.
41:37Karena apa? Dampaknya itu akan buruk.
41:40Kalau ini terjadi, pasti suku bunga akan naik lagi.
41:42Yang tadinya kita harap turun jadi naik, satu itu.
41:45Yang kedua, kalau mereka tidak percaya, mereka akan tarik dana asing.
41:49Artinya apa? Rupiah kita bisa melemah dan tugas BI-nya juga berat.
41:53Karena BI harus membeli obligasi pemerintah terus-menerus dan tidak hanya membantu pemerintah.
41:58Itu akan menyulitkan dari sisi kalau nilai tukar kita lemah,
42:02otomatis dong, kita kan 70 persen masih tergantung import dong.
42:04Otomatis harga jadi naik.
42:06Kalau harga-harga naik, ya masyarakat terkena dampaknya juga gitu.
42:10Jadi kita lihat dong, Malaysia tuh sekarang coba nilai tukarnya sangat kuat dibandingin kita gitu.
42:16Nah, oleh karena itu kita harus mengevaluasi apa yang memang dilakukan oleh lembaga retik itu harusnya kita dekati.
42:21Apa yang menyebabkan mereka membuat itu ya.
42:23Dan kita harus membuat polisi-polisi yang memang kita harus jujur apa yang diharapkan oleh mereka
42:28dan yang mereka lihat dari kita gitu loh.
42:30Sehingga kalau ini terjadi mungkin bisa memperbaiki juga.
42:34Karena tadi kan udah dari BBM, kemudian dari harga-harga, tambah lagi nilai tukar gitu.
42:38Nah, ini yang menurut saya harus diwaspadi oleh pemerintah juga
42:42supaya paling tidak ke depan itu kita sudah membereskan dari kebijakan fiskal dan moneter.
42:47Karena ini yang kena dua dampak ini, fiskal dan moneter gitu ya.
42:50Jadi itu harus jalan barengan, fiskal dan moneter.
42:52Tambah lagi satu sektorial. Jadi tiga polisi ini itu harus berdampingan menjadi suatu ekosistem
42:58yang membuat fundasi domestik kita bagus gitu.
43:01Jadi kalaupun ada perang, apa yang bisa kita lakukan di dalam itu menurut saya yang harus kita utamakan gitu loh.
43:07Jadi jangan cuma menenangkan saja di luar gini, kita tenang, nggak gitu.
43:11Tapi kita tenang dengan kebijakan yang seperti apa gitu.
43:14Termasuk kalau misalnya dalam jangka dekat ini selain subsidi WFH saja untuk menurangi konsumsi energi,
43:20itu nggak cukup, hanya untuk pintu masuk saja.
43:23Betul, menurut saya kalau WFH ini kan inginnya untuk energi ya,
43:26tapi itu seberapa besar sih itu nggak terlalu besar menurut saya.
43:29Jadi juga sistemnya harus diberesin.
43:31Kalau enggak, di satu sisi seolah-olah hemat, tapi pelayanan publiknya turun.
43:36Nah, kalau pelayanan publik rendah, itu juga mempengaruhi ekonomi kan.
43:39Nah, pelayanan ekonomi juga mempengaruhi dari sisi pendanaan gitu.
43:42Nah, ini menurut saya, apakah sudah siap dengan WFH?
43:45Jangan-jangan WFH itu tambah hari libur gitu ya.
43:47Padahal kan maksudnya pelayanan publik harus tetap ya.
43:50Seperti seolah-olah masuk gitu.
43:52Jadi saya belum melihat kesiapan pemerintah gitu.
43:55Kalau swasta sih saya rasa mereka ambil keputusan belum tentu WFH.
43:58Karena mereka masih melihat butuh orang untuk berdampingan.
44:02Cuman memang dari sisi transportasi umum yang menurut saya mungkin perlu diperbanyak ya.
44:07Supaya masyarakat itu bisa paling tidak transportasi yang biayanya paling tinggi sebenarnya gitu.
44:11Nah, kalau Bu Dhani sebenarnya apa yang masyarakat harus diberitahu secara gamblang biar kita bekalnya cukup dibandingkan yang negara-negara
44:19Asia Tenggara yang kondisinya lebih baik saja mereka sudah bersiap lebih awal.
44:23Ya, saya rasa pemerintah mungkin perlu jujur untuk menyampaikan situasi kini yang harus dihadapi bangsa ini.
44:34Ini bukan bicara soal informasi yang harus diterima masyarakat tapi ini bicara soal kepercayaan.
44:43Jadi jangan sampai rakyat itu meraba-raba apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.
44:48Tiba-tiba untuk seminggu kemudian BBM main itu saya rasa itu bukan hanya mengejutkan tetapi buat masyarakat yang tidak memiliki
44:59kalkulasi sedetail itu dan merasa bahwa jaring pengaman itu ada karena pemerintah menjamin itu.
45:07Karena berkali-kali selalu dikatakan tidak naik bahkan Pak Purbaya mengatakan bahwa kita hebat Indonesia masih ini.
45:15Itu kan kata-kata yang sebetulnya apa namanya menenangkan tetapi di dalamnya itu ada bara yang siap membakar kalau kita
45:24tidak hati-hati gitu.
45:25Nah itu yang di dalam negeri jadi domestik itu menjadi penting sekali karena konsekuensi dari krisis energi global ini akan
45:34datang ke Indonesia.
45:36Kapannya itu tergantung bagaimana pemerintah mengorkestrasi kebijakan untuk rakyat itu seperti apa.
45:45Dan kemudian kita juga penting untuk membereskan hal-hal yang tadi itu yang membuat posisi Indonesia itu belum jelas.
45:52Yang daya tawarnya itu belum jelas. Indonesia itu punya modal yang luar biasa, punya kapital yang luar biasa.
46:01Dia anggota G20, dia memiliki 280 juta penduduk dan lain apa namanya terletak di urat nadi perdagangan internasional dan lain
46:16-lain.
46:16Tetapi kita ini bukan kekurangan kapasitas, kita bukan kekurangan modal tetapi kita belum memiliki kemampuan bagaimana kapasitas itu di optimal.
46:27Nah kalau Bu Afi yang lebih sederhana lagi dari rumah ke rumah, dari satu kepala keluarga ke kepala keluarga lain
46:37ini apa yang harus disiapkan?
46:38Bekal apa sih yang harus ada di kantong dalam kondisi seperti ini?
46:40Pertama adalah mungkin kita juga mesti melihat kembali kantong kita ya.
46:45Jadi artinya bahwa kita harus mulai bisa memanage keuangan kita ya.
46:50Kemudian yang kedua juga paling tidak sekarang ini kalau satu keluarga ya mungkin yang bekerja mungkin sekarang harus satu keluarga
46:57gitu ya.
46:57Jadi mulai memikirkan bagaimana skenario yang paling buruk kita tetap bisa survive gitu ya.
47:04Walaupun kita tidak perlu ketakutan tapi harus siap-siap lah gitu.
47:08Jadi saving harus ada ya.
47:10Kemudian ya BPJS kan semuanya sudah yang gak mampu ada.
47:14Tapi yang memang kelas menengah ini mungkin pemerintah perlu pikirkan mungkin dalam berapa bulan kalau ada masalah itu juga harus
47:20ada pembayaran kepada mereka.
47:23Misalnya untuk BPJS supaya kalau mereka sakit juga bisa ya.
47:26Kemudian kalau kita waktu COVID kan dalam tiga bulan mereka dapat misalnya uang saku.
47:32Nah saya rasa perlu dipikirkan. Jadi nanti juga harus siap-siap dengan perpu kalau seandainya dibutuhkan gitu ya.
47:37Nah paling enggak kalaupun gak terjadi gak apa-apa tapi paling enggak kita udah punya strategi gitu ya.
47:42Jadi kalau di dalam perbangga itu ada namanya manajemen resiko.
47:45Dalam manajemen resiko itu kita punya beberapa pilihan.
47:47Jadi kalau ada ini pilihannya ini.
47:49Kalau ada asumsi lain pilihannya yang lain.
47:51Nah kita ini belum punya itu.
47:52Selalu ketika ada sesuatu langsung statement pemerintah itu kayak seolah-olah ini bakal terjadi gitu ya.
47:58Nah harusnya tidak ketika itu belum terjadi kita harus punya pilihan-pilihan kebijakan.
48:03Nah mungkin kita harus merubah pilihan kebijakan kita.
48:06Jadi nanti juga ke depan tidak kepada rule based tapi juga pada principle based.
48:10Jadi semua itu gak diatur pada birokrasi.
48:13Tapi bagaimana bisa mengambil keputusan dengan cepat gitu.
48:15Kenapa kita bahas holistik dari sisi ekonomi, dari sisi juga keamanan, secara geopolitik.
48:21Agar judul kita ini semoga tanda tanyanya hilang.
48:24Babak baru Amerika Serikat Israel versus Iran Indonesia aman.
48:28Itu yang kita harapkan bersama.
48:29Kesiapan dari semua pihak.
48:30Dan ini masyarakat itu butuh kepastian.
48:33Kepastian.
48:34Jadi apa rencana pemerintah?
48:35Apa kebijakan yang dilakukan?
48:37Dan terutama komunikasi itu dilakukan secara ini.
48:41Apa namanya?
48:41Bukan malah menciptakan persoalan baru lagi.
48:45Kepastian untuk semuanya agar Indonesia aman di tengah ketidakpastian global.
48:48Terima kasih Bu Dhani, terima kasih Bu Afilyan yang sudah hadir di Rosy kali ini.
48:53Terima kasih saudara Anda telah menyaksikan Rosy.
48:55Kita jumpa lagi Kamis depan.
48:58Tetap di Kompas TV, independen terpercaya.
49:00Saya Friska Klarisa.
49:02Sampai jumpa.
49:03Terima kasih.
49:04Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:05Terima kasih.
49:06Terima kasih.
49:06Terima kasih.
49:06Terima kasih.
49:07Terima kasih.
49:08Terima kasih.
49:09Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan