Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden Prabowo Subianto menegaskan kasus penyiraman terhadap seorang aktivis Andrie Yunus sebagai tindakan terorisme yang harus diusut tuntas.

"Ya, pastilah. Ini terorisme, iya kan? Tindakan biadab harus kita kejar, harus kita usut, harus kita usut sampai ke bukan hanya pelaku lapangan, tapi apakah siapa yang nyuruh, siapa yang nyuruh, siapa yang bayar?" kata Presiden kala menjawab pertanyaan Najwa Shihab, Kamis (19/3/2026).

Ia menekankan pengusutan tidak hanya berhenti pada pelaku di lapangan, tetapi juga harus mengungkap aktor di baliknya.

"yang berseragam tidak akan dilindungi, tidak akan ada impunitas. Tidak akan," kata Presiden.

Prabowo juga memberikan jaminan langsung terkait penegakan hukum dalam kasus tersebut.

"Saya menjamin," tegasnya.

Prabowo memastikan aparat penegak hukum akan bekerja mengusut kasus tersebut hingga tuntas.

"Saya mau, saya minta diusut. Benar ya," kata Presiden menekankan komitmennya.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Joshua

Baca Juga APBN untuk Situasi Terburuk yang Mungkin Dihadapi di https://www.kompas.tv/kolom/658141/apbn-untuk-situasi-terburuk-yang-mungkin-dihadapi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/658154/aktivis-andrie-yunus-diserang-prabowo-tegaskan-usut-siapa-yang-nyuruh-yang-bayar
Transkrip
00:00Mbak Nana kayaknya giliran mau nanya.
00:01Silahkan.
00:04Udah langsung nyambar.
00:06Sebelumnya saya masih ingin menyambung dari Bang Faisal,
00:09tapi saya pindah haluan dulu Pak.
00:11Baru kemudian nanti mungkin kita bisa kembali.
00:14Bukan ekonomi, tapi isu yang juga luar biasa penting Pak.
00:19Aktivis kontras Pak, bernama Andri Yunus,
00:24disiram air keras, mengalami luka serius.
00:27Luka bakar hampir 20%.
00:30Kornea matanya sebelah kanan juga rusak.
00:34Kapolri sudah mengatakan mendapatkan instruksi langsung
00:37dari Pak Presiden untuk mengusut kasus ini.
00:40Dan saya juga ingin mengutip Menteri Koordinator Hukum,
00:42Menteri Bapak Pak Yusril, Komnas HAM, Komisi 3 DPR,
00:46semuanya menilai ini bukan sekedar tindak kriminal Pak Presiden,
00:49tetapi ini serangan terhadap demokrasi,
00:52serangan terhadap pembela HAM.
00:54Saya ingin tahu posisi Bapak, apakah setuju dengan penilaian itu Pak?
00:57Ya pastilah, ini terorisme.
01:01Iya kan?
01:02Tindakan biadab, harus kita kejar, harus kita usut.
01:06Harus kita usut.
01:09Sampai ke, bukan hanya pelaku lapangan,
01:12tapi apakah siapa yang nyuruh, siapa yang bayar.
01:16Termasuk apabila ternyata yang melakukan itu aparat negara, Pak?
01:21Ya jelas dong.
01:23Yang berseragam?
01:24Tidak akan dilindungi, tidak akan ada impunitas?
01:27Tidak akan.
01:28Bapak menjamin itu, Pak?
01:29Saya menjamin.
01:31Tapi sebaliknya, kalau ini yang provokator,
01:35yang bukan dari pemerintah, bukan dari aparat,
01:37jelas kita harus usut kok.
01:39Pola yang terjadi selama ini,
01:41kasus-kasus teror itu berulang,
01:44dan tidak pernah terungkap sampai yang memberikan perintah.
01:49Sebatas di pelaku lapangan.
01:51Spesifik Pak, saya mau menyebutkan.
01:53Ini yang terjadi selama setahun terakhir, Pak.
01:57Ada yang tadi Bapak sebutkan, Wartawan Tempo.
02:01Francisca Christi Rosana.
02:02Ada Tio Ardianto.
02:04Ada Ramon Doni Adam.
02:06Ada Firindian Aurelio.
02:07Ada Sheryl Anavita.
02:09Ada Iqbal Danami.
02:10Damani.
02:11Ada Zainal Ariefi Mohtar.
02:12Latar beragang mereka, Pak Presiden, semuanya beragam.
02:15Tetapi kesamaannya adalah semuanya kritis
02:18menyampaikan pandangan di muka publik.
02:21Apakah Bapak bisa memahami ada kekhawatiran yang muncul
02:24bahwa ruang aman untuk bersuara menjadi semakin menyempit, Pak?
02:30Anda merasakan.
02:32Apakah dibandingkan dengan banyak negara,
02:34apakah kita batasi enggak?
02:37Ada yang merasakan.
02:38Coba lihat, kita batasi enggak.
02:40TikTok, fake news, hoax,
02:44kebohongan yang disiarkan tiap hari.
02:47Coba Anda lihat.
02:49Coba dibandingkan dengan negara lain.
02:50Karena yang terjadi adalah dampaknya yang kita lihat, Pak.
02:53Mereka yang bersuara kritis.
02:55Iya, tapi kadang-kadang ada orang,
02:57Mbak Nana, kita ini bukan anak kecil,
02:59kita sudah hidup lama.
03:01Kadang-kadang kan ada peristiwa yang justru dibuat seolah,
03:05Anda ngerti ya,
03:07itu namanya provokasi.
03:08Itu ada di buku, Mbak Nana.
03:10Ada di buku Intelligence.
03:12Ada itu.
03:12Itu namanya False Flag Operation.
03:16Iya kan?
03:17Melakukan aksi teror seolah yang lakukan orang Palestine.
03:21Tapi yang lakukan bukan orang Palestine.
03:23Yang lakukan Mossad.
03:25Itu terjadi.
03:26Ada paham ya?
03:28Jadi sama juga ini.
03:29Ini mau mengarah bahwa rezim kita otoriter.
03:34Sebetulnya spekulasi-spekulasi itu muncul karena ketidakadaan jawaban, Pak Presiden.
03:40Jadi kerap kali kasus-kasus yang terjadi ini berhenti begitu saja.
03:45Tidak terselesaikan.
03:46Sehingga kemudian muncullah begitu persepsi publik bahwa,
03:50wah kalau ini tidak selesai berarti ini ada unsur negara yang bermain dan sebagainya.
03:55Karena tidak ada jawaban, maka kemudian...
03:57Saya ingin menjamin,
03:58saya ingin membangun Indonesia yang beradab.
04:04Itu cita-cita saya.
04:06Saya ingin membangun pemerintah yang bersih.
04:10Saya ingin punya polisi yang bersih.
04:12Jaksa yang bersih.
04:14Intelligence yang bersih.
04:16Anda tahu, saya mau tanya.
04:18Sekali lagi ya.
04:19Saya ini korban juga.
04:21Tapi saya itu berpikir yang besar.
04:24Concern rakyat.
04:26Pangan, energi.
04:27Benar nggak?
04:28Dengan perang,
04:31harga pangan bisa naik.
04:32Tapi saya mau tanya.
04:33Ini bulan Ramadan.
04:35Harga pangan terkendali atau tidak?
04:39You know, I think we're doing a good job.
04:43Jadi, percayalah.
04:44Saya tidak akan mengizinkan hal-hal seperti itu terjadi.
04:47Itu yang ingin kami dengar, Pak.
04:50Percayalah.
04:50Saya dipilih oleh rakyat.
04:52Untuk membela rakyat.
04:54Tapi kita waspada.
04:56Saya minta diusut benar.
04:59Diusut sampai aktornya.
05:01Iya, sampai aktornya.
05:02Saya rasa pernyataan Pak Presiden sudah boleh.
05:04Soal yang itu ya.
05:05Dan berarti,
05:07Bapak tadi bicara secara tegas,
05:09tidak boleh ada warga
05:10yang diintimidasi,
05:12yang diteror,
05:12karena mengkritik pemerintah.
05:14Tidak boleh.
05:15Jaminan langsung dari Presiden Republik Indonesia.
05:18Kalau bonang ada,
05:19itu saya lakukan.
05:21Iya.
05:22Bapak,
05:23apakah memberikan tengkat waktu ke Kapolri, Pak,
05:25untuk pengusutan kasus ini?
05:28Iya,
05:28saya ini orang realistis,
05:30dan saya seorang yang adil.
05:32Dari segi kapasitas,
05:35kita biarkanlah mereka bekerja.
05:38Tapi tidak hanya
05:40Polri,
05:41banyak lembaga lain juga harus bekerja.
05:44Lembaga lain,
05:46penegak hukum juga yang keluar ke Polisi.
05:48Iya, penegak hukum.
05:48Apakah Bapak terbuka
05:49dengan ide membentuk tim independen
05:52untuk membackup ini, Pak?
05:54Kita bisa pertimbangkan.
05:57Kita bisa pertimbangkan.
05:59Saya independen ya.
06:01Independen.
06:02Iya, jangan semua LSM-LSM
06:03yang sudah a priori benci
06:05sama pemerintah
06:07yang dapat uang dari luar negeri.
06:09Iya kan?
06:11Iya kan?
06:13Kalau Anda mau bicara
06:15apa adanya,
06:16saya juga bicara apa adanya.
06:18Iya kan?
06:19Tapi yang jelas,
06:20malam ini
06:21kami sudah mendengarkan langsung
06:23setiap dari Presiden.
06:24Presiden sangat boh.
06:25Begini,
06:26saya ingin menegakkan hukum.
06:29Saya ingin menegakkan hukum.
06:31Bagaimana kita
06:32menegakkan hukum
06:33kalau kita biarkan seperti ini?
06:34Kalau itu dari aparat.
06:36Dan saya ingin kasih tahu
06:38bahwa memang aparat kita
06:39ya banyak kekurangannya.
06:41Kita menemukan deep state.
06:44Kita menemukan
06:45ada dirjen-dirjen
06:46yang berani
06:48melawan menteri.
06:49akhirnya kita pecat kan
06:51banyak sekali dirjen-dirjen.
06:52Ada dirjen-dirjen
06:54yang merasa
06:54untouchable.
06:56Ada lembaga-lebaga
06:57yang merasa
06:58tidak boleh di audit.
07:00Ini sedang saya
07:01ini pekerjaan
07:02tidak ringan.
07:03Tapi kan saya tidak mau
07:06sedikit-sedikit
07:06mengeluh
07:07atau sedikit-sedikit
07:08mencari
07:09simpati rakyat.
07:10Ya ini pekerjaan saya
07:11saya dilantik
07:12untuk itu
07:12saya bersihkan.
07:14BUMN
07:14saya sedang bersihkan
07:20BUMN selama ini
07:21salah satu
07:23kebobolan kita
07:24paling besar.
07:27Jadi dari
07:28Ban Ani
07:29memang ini masalah Indonesia
07:30gitu.
07:31Di mana-mana.
07:33Iya kan?
07:35Jadi tapi
07:37percayalah
07:37bahwa tidak ada
07:38niat dari pemerintah
07:39apalagi yang saya pimpin
07:40untuk lakukan seperti itu.
07:42Come on!
07:42Apa sih?
07:44Benda nggak?
07:45Rakyat kita
07:46nggak bodoh.
07:48Saya mau ingatkan ya
07:49sampai hari ini
07:51rakyat yang di bawah
07:52itu dukung saya.
07:54Persis
07:55yang disampaikan tadi
07:56Pak
07:56Pak
07:57Dede.
08:00Iya kan?
08:00Kalau memang rakyat
08:01tidak suka sama saya
08:02bisa
08:03turun ke jalan
08:04rame-rame.
08:06Tapi mereka tahu
08:07kalau rusuh
08:08semua negara yang rugi
08:11mau ganti saya
08:12tunggu dong
08:132029
08:16jadi negara yang berabat
08:18berabat ya?
08:18Sabar ya?
08:19Iya sabar.
08:20Tapi yang saya lihat
08:22ya
08:22Ban Ani harus
08:23harus objektif juga
08:25ya
08:25sebagai
08:27seorang tokoh
08:30bahwa
08:35destabilisasi
08:36disinformasi
08:37itu bagian dari
08:40bernegara.
08:41Jadi ada negara-negara
08:43tertentu yang
08:43punya keahlian disitu.
08:46Resim change.
08:48Color revolution.
08:49Come on!
08:50Masa Anda
08:50nggak pernah baca
08:51nggak pernah lihat?
08:52Iya kan?
08:52Apakah Bapak membaca
08:54kritikan-kritikan
08:55yang dilontarkan
08:56baik oleh pengamat
08:57yang Bapak sebut
08:57tidak patriotik
08:58seperti tadi
08:59pertanyaan Mbak Eno
09:00atau dari
09:01orang-orang yang memang
09:03selama ini
09:04kritis terhadap pemerintah
09:05itu semuanya
09:05bermuara pada keinginan
09:07untuk resim change
09:07Pak Presiden?
09:10Tidak semuanya.
09:11Saya tidak pernah
09:12katakan semuanya.
09:13Tapi ada.
09:15Oh jelas ada.
09:17Jadi begini.
09:18Bagaimana Bapak
09:18membedakan itu Pak?
09:19Mana yang menurut Bapak
09:20memang ini
09:21sudah keluar jalurnya
09:22sudah
09:24saya ingat istilah
09:25Bapak makar
09:26waktu dulu
09:26bulan Agustus
09:28ada demo
09:28dan mana yang memang
09:29ya ini sesuatu
09:30yang wajar.
09:31Jelas waktu Agustus
09:32ya jelas makar
09:33dia mau bakar
09:35gedung DPR
09:36kantor gubernur
09:38kantor gubernur
09:40institusi pemerintahan
09:42mau dibakar
09:42dia semakar
09:43bikin kerusuhan
09:45bawa bom Molotov
09:48ya kan?
09:50Tidak ada
09:50LSM yang ribut
09:52soal bom Molotov
09:54banyak yang
09:55ada yang protes gak?
09:56Banyak Pak yang protes
09:57Banyak yang protes
09:58Ya come on
09:59sudah lah
09:59Banyak yang protes
10:00Jujur buka
10:00rukam jejaknya
10:01rukam di juturnya
10:02Tetapi dalam
10:03tahun satunya kita
10:04cukupkan dulu ya
10:05Gak, gak, gak, gak
10:05biar aja
10:06Biar aja
10:07Ayo silahkan
10:08Oh iya
10:11Gak apa-apa
10:11ini kesempatan
10:12bagi saya jawab
10:13Betul Pak
10:14Oh iya
10:14Ada yang ribut gak
10:15soal bom Molotov
10:16Banyak Pak
10:17Aduh come on
10:18Gak objektif
10:19Gak ada
10:20Ada yang ribut gak
10:22gedung DPR mau dibakar
10:23Banyak Pak
10:24Beritaan media juga
10:25banyak soal itu
10:25Gak ada
10:26Beritaan media banyak soal itu
10:27Banyak-banyak yang mengecapi
10:28Saya hormati itu
10:29Silahkan
10:30Tapi begitu
10:32bakar-bakar
10:33itu
10:35kriminal
10:36Iya
10:37Tapi
10:39kenyataannya Pak
10:41Rapusan yang ditangkap kemarin
10:42Itu kebanyakan justru mahasiswa
10:45Ada satu penelitian yang menyebut
10:47Terbesar sejak zaman reformasi
10:50Penangkapan yang terjadi
10:51Pada mahasiswa dan aktivis Pak
10:53Tetapi provokatornya
10:55Atau siapapun yang bertanggung jawab
10:57Aktor yang menyuruh dan sebagainya
10:59Itu tidak pernah terungkap
11:00Alih-alih dibawa ke pengadilan Pak Presiden
11:03Ya itu tantangan kita
11:05Kita harus cari
11:07Saya baru menjabat berapa tahun
11:09Satu setengah tahun
11:10Satu setengah
11:10Masih ada waktu untuk saya
11:12Membuktikan
11:13Kami tunggu pembuktian itu Pak Presiden
11:15Kami tunggu pembuktian itu
11:18Jumlah koruptor yang saya tangkap
11:20Berapa
11:21Come on
11:22Percaya
11:23Saya
11:24Sumpah
11:25Untuk membela rakyat saya
11:26Saya pertaruhkan jiwa saya
11:29Berkali-kali
11:30Saya tidak rela
11:31Saya tinggalkan
11:33Negara ini nanti
11:34Pada saat saya dipanggil Tuhan
11:35Saya tidak rela
11:36Ini jatuh ke tangan
11:37Maling-maling
11:38Bandit-bandit
11:39Saya tidak rela
11:44Baik Pak
11:45Cukup dulu
11:47Sebetulnya masih ingin panjang
11:48Cuma masih
11:48Tahun 2 ya
11:49Tahun 2 ya
11:50Karena masih ada Bang
11:52Bosman Mardigu
11:53Yang belum kebagian
11:54Saya mau menjawab itu dengan sangat gamblang
11:56Oh sangat gamblang
11:57Saya senang
11:58Apa saja
11:58Terima kasih
11:59Saya ingin menerima
12:01Pertanyaan terkait
12:02Tadi komunikasi
12:03Tapi
12:03Saya kira Pak Mardigu
12:05Belum
12:06Pak Mardigu
12:07Sudah nahan
12:08Siap
12:09Kalau ini orang baru
12:11Sabar Pak
12:13Kayaknya tadi
12:14Pak mengumpulkan semua
12:16Pertanyaan-pertanyaan
12:17Mau dirangkum
12:17Jadi semua pertanyaan
12:19Tidak apa-apa
12:20Silahkan
12:20Debat itu bagus
12:22Terima kasih Pak Presiden
12:24Ini undangan pertama
12:26Saya kesini
12:27Mudah-mudahan bukan yang terakhir Pak
Komentar

Dianjurkan