00:00Saya masih bersama salah satu warga negara Indonesia yang ikut dievakuasi dari Iran.
00:04Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019, Zulfan Lindan.
00:10Serta pengaman ekonomi, political economy and policy studies, Anthony Budiawan.
00:15Kalau mengutip artikel opini disampaikan Pak Khatib Basri di artikel opini Harian Kompas tanggal 11 Maret waktu itu Pak Anthony,
00:22yang menyebut ada tiga pilihan untuk kondisi yang ada sekarang ini di negara kita imbas dari konflik AS-Israel versus
00:29Iran ini.
00:30Antara menaikkan penerimaan, menambah utang, atau potong belanja.
00:36Untuk jangka pendek di momen kita lagi Ramadan dan Lebaran yang harusnya daya beli meningkat,
00:43ekonomi bisa tumbuh, bahkan sejak awal tahun pemerintah optimistis kuartal satu kita bisa 6% pertumbuhannya,
00:50mana yang paling bisa memungkinkan? Skenario mana yang paling memungkinkan Pak?
00:54Ya, jadi tulisan tadi kan secara konfirmasi bahwa kita akan melewati defisit 3%.
01:01Jadi bagaimana mengatasi mitigasi defisit 3% tadi?
01:06Ya cuma ada tiga cara, naikkan pendapatan, kurangin pengeluaran, atau nambah utang.
01:13Defisitnya tetap 4% kita nambah utang gitu.
01:16Nah, penerimaan negara menurut saya itu sulit sekali dilakukan dalam jangka pendek.
01:21Jangka panjang pun, sebenarnya Prabowo ini sudah mencanangkan pendapatan pajak itu kan naik menjadi 15%, 16%.
01:32Tapi kalau kita lihat 2025 malah turun gitu rasio penerimaan pajak terhadap PDB gitu.
01:39Nah, itu pertama. Dan otomatis penerimaan pajak ini akan naik kalau ada kenaikan harga batubara juga gitu.
01:49Jadi harga energi ini, minyak ini akan diikuti dengan harga-harga komoditas lain yang kita punya andalan ekspor kita.
01:58Sawit, batubara, dan sebagainya.
02:00Tahun 2022 kita punya pendapatan fiskal kita itu naik 40%, 38% sampai naik hampir Rp600 triliun gitu.
02:12Jadi itu masih dimungkinkan karena kita punya ekspor itu jauh lebih besar dengan batubara.
02:19Dengan kalau persentase kenaikannya sama ya, itu satu.
02:22Di luar dari itu, itu kita tidak bisa.
02:25Menurut saya sangat sulit.
02:26Jadi kita harapkan kita, ya itu, kenaikan komoditas.
02:31Masalahnya adalah ini akan membebani rakyat miskin.
02:34Inflasi akan semakin besar lagi gitu.
02:36Buat nolong mereka, apakah salah satunya dengan saran dari Syed Abdullah, Ketua Banggar DPR yang menyebut,
02:42memaksimalkan kebijakan untuk bantuan sosial produktif?
02:45Nah, itu salah satunya.
02:46Jadi memanjukan dari sosial, tetapi masalahnya kan itu memperbesar defisit lagi gitu.
02:52Nah, itu memperbesar defisit dan yang kedua tadi mengenai pengurangan belanja.
02:58Dan itu make sense dan harus kombinasi ke situ.
03:02Dan yang ketiga adalah mengenai kenaikan utang.
03:05Kalau kenaikan utang, itu berarti dia harus mengubah undang-undang.
03:09Mengundang-undang-undang yang paling cepat adalah dia harus mengeluarkan perpu.
03:13Seperti perpu 2020, ya, sewaktu pandemi.
03:17Sekarang ini perpu perang, kan gitu.
03:21Perpu konflik timur-tengah.
03:24Nah, di situ dia menaikkan 3% atau 4% atau berapapun.
03:28Salah satu, sewaktu saya bicara di forum buruh, itu juga saya mengusulkan bagaimana mitigasi terhadap buruh ini.
03:37Kalau sampai terjadi PHK dan sebagainya.
03:40Saya bilang ini harus ada mitigasi jaring pengaman sosial untuk buruh, misalnya 1% khusus untuk itu dan tidak boleh
03:48digunakan yang lain.
03:49Dan saya rasa itu mungkin masih bisa diterima oleh lembaga pemeringkat internasional karena ini adalah di luar kondisi yang normal.
04:00Dan itu bisa dilaksanakan dalam waktu cepat, menurut saya?
04:02Dan itu bisa dilaksanakan dalam waktu cepat sekali.
04:05Pak Zulfan, karena kondisinya sekarang warga was-was, gak tahu nih arahnya bakal gimana.
04:13Karena sekarang orang mikir, aduh makan kita hari-hari aman gak ya, waduh transport kat kisita hari-hari aman gak
04:20ya.
04:20Memastikan kondisi keamanan kita benar-benar stabil tuh, kita bisa berbuat apa ya Pak?
04:27Biasanya kan pemerintah itu melakukan langkah-langkah ya, meyakinkan rakyat kan sudah disampaikan oleh Pak Bahlil, misalnya BBM aman, Menteri
04:43Keuangan juga seperti itu, daya beli kita aman kan gitu.
04:47Itu oke, tetapi bagaimana caranya bahwa aman itu di dalam realitanya itu betul-betul ada, jangan sampai bertentangan kan gitu.
05:01Misalnya BBM dibilang aman, sampai kapan?
05:05Antrian panjang.
05:06Antrian panjang.
05:07Ini kan orang was-was, kemudian kita bilang pangan aman, ya kan?
05:12Tapi orang beli beras susah, ayam susah, semua susah.
05:16Jadi panik lagi orang gitu loh.
05:19Nah jadi langkah-langkah ini yang harus diambil, jangan statement.
05:23Tapi realitanya juga dihadirkan di tengah-tengah masyarakat.
05:28Dan saat ini?
05:30Iya, saat ini kan kita bilang masih statement nih.
05:33Bagaimana caranya menghadirkan itu ada, nyata di tengah-tengah masyarakat?
05:39Iya kan?
05:40Tidak kesulitan mendapatkan barang, tidak kesulitan mendapatkan BBM.
05:45Iya kan?
05:46Itu yang kita harus, kita harus hati-hati gitu.
05:51Nah, makanya langkah-langkah ini kan sebenarnya jangan menteri yang menjelaskan.
05:58Tapi?
05:58Presiden langsung.
06:00Supaya lebih yakin orang.
06:02Kalau menteri ini bisa dibilang, wah ini cari muka sama presiden nanti ini.
06:06Korbannya rakyat kan gitu.
06:08Presiden langsung take over.
06:10Situasi gini gak bisa menteri.
06:12Orang gak confident.
06:14Harus presiden yang menyampaikan supaya rakyat lebih confident.
06:18Termasuk kemungkinan-kemungkinan apa yang diambil pemerintah
06:21kalau perangnya berkepanjangan yang bahkan bisa lebih 4-5 minggu
06:24melebihi apa yang dikatakan Trump waktu itu?
06:26Iya.
06:27Kan presiden yang tahu.
06:29Presiden bisa komunikasi sama Trump.
06:31Bisa komunikasi sama presiden Iran.
06:35Iya kan?
06:35Bagaimana nih sebenarnya sama Putin lagi yang katanya mau buat resolusi PBB misalnya.
06:43Dan itu kan upaya.
06:45Tapi walaupun keyakinan saya jauh dari memungkinkan ya.
06:51Karena Iran itu sekarang pokoknya kita jangka panjang.
06:58Yang menyerah itu bukan kita.
07:00Harus Amerika dan Israel yang menyerah.
07:02Nah kalau sudah ego-egoan seperti ini.
07:05Memberikan kepastian di tengah kondisi yang serba sulit ini.
07:09Ini bakal lebih menantang ya Pak Antoni?
07:12Iya.
07:13Iya.
07:14Jadi ya disitu.
07:15Bahwa tantangannya.
07:17Bahwa ekonomi ini akan pasti masuk kepada.
07:20Kalau strateginya saya sebutnya endurance.
07:24Ketahanan berlangsung lama.
07:27Itu ekonomi saya yakinkan bahwa potensinya besar kita masuk krisis.
07:34Dunia masuk krisis.
07:36Jadi bukan hanya kita saja gitu.
07:38Tapi kalau dibandingkan dengan 98 seperti yang ditakutkan beberapa orang?
07:41Bisa terjadi kalau eskalasi ini ke bidang moneter.
07:47Artinya begitu ekonomi drop.
07:52Fiskal defisitnya naik besar.
07:55Lalu terjadi capital outflow.
07:57Nah begitu terjadi capital outflow maka rupiah akan tergelincir.
08:02Sekarang sudah Januari-Februari aja sebelum perang sudah keluar 4,6 miliar cadangan devisa kita.
08:09Sudah turun 4,6 miliar.
08:11Nah kalau dia turun lagi sampai dan tidak ada masukan, tidak ada investasi, tidak ada itu.
08:18Itu bukan tidak mungkin bahwa tergelincir 10 miliar saya perkirakan itu akan bisa menjadi 18 ribu, 18 ribu lebih.
08:28Tapi singkatnya apapun yang terjadi, optimisme untuk ada perubahan itu masih ada?
08:33Pak Zulfan?
08:34Ya.
08:35Memperbaiki keadaan yang serba tidak pasti ini?
08:37Singkat saja.
08:38Saya selalu mengatakan bahwa di Indonesia ini sangat tinggi solidaritinya ya.
08:44Baik dari pengusaha, dengan pemerintah dan rakyat.
08:48Jadi sehingga itu bisa dikonsolidasikan.
08:52Baik.
08:53Kan kita bisa buat lagi Patriot Bond kan.
08:56Oke.
08:58Oke.
08:59Semoga tidak ada hal-hal drama baru lagi di tengah ketidakpastian ini.
09:02Pak Antoni, terima kasih.
09:04Pak Zulfan, terima kasih sudah bergabung bersama kami.
09:06Dan terima kasih juga untuk Anda sudah menyaksikan program Rosi.
09:09Saya Tifa Solesa, jumpa lagi pekan depan.
09:11Tetap di Kompas TV, independen.
09:13Terpercaya.
09:14Terima kasih sudah menonton.
Komentar