Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu


KOMPAS.TV - Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin meningkat dan memicu kekhawatiran global.

Zulfan Lindan, yang baru saja dievakuasi dari Iran bersama sejumlah warga negara Indonesia (WNI), membagikan pengalaman langsung saat konflik memanas.

Ia mengungkapkan bahwa situasi yang paling mengguncang bukan sekadar suara bom atau rudal, melainkan kabar terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei.

"Kalau bagi saya bukan persoalan perangnya, bukan persoalan ada bom atau rudal. Yang mencekam buat saya adalah pembunuhan terhadap Ali Khamenei dan keluarga ya. Nah, itu membuat saya agak terganggu tuh batin saya," kata Zulfan Lindan dalam program ROSI, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga Militer AS Klaim Hancurkan 16 Kapal Penebar Ranjau Iran di Selat Hormuz | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/internasional/656549/militer-as-klaim-hancurkan-16-kapal-penebar-ranjau-iran-di-selat-hormuz-kompas-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/656553/full-kisah-evakuasi-zulfan-lindan-dari-iran-di-tengah-ancaman-rudal-as-israel-rosi
Transkrip
00:02Selamat malam saudara, Anda menyaksikan program ROSI dan malam ini giliran saya Tifal Solesa yang akan memandu diskusi.
00:10Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel dan Iran terus meningkat, dampaknya pun semakin meluas.
00:17Jalur pasokan energi dunia mulai terganggu, harga minyak melonjak dan ekonomi global ikut terguncang.
00:24Malam ini kami mengundang salah satu warga negara Indonesia yang ikut dievakuasi dari Iran.
00:29Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019, Zulfan Lindan.
00:36Juga bergabung bersama kami, pengamat ekonomi dari Political Economy and Policy Studies, Antoni Budiawan.
00:43Bapak-bapak sekalian selamat malam, apa kabar?
00:45Selamat malam.
00:46Terima kasih. Sudah datang dalam diskusi kali ini, terutama Anda yang sekali lagi kami undang, Pak Zulfan.
00:51Karena baru datang dari Indonesia bersama dengan warga negara lain, total 22 waktu itu, yang bergabung dalam plotter awal keberangkatan
01:00dari Iran ke Indonesia, baru datang dari Iran.
01:03Anda dalam berbagai kesempatan sudah menjelaskan prosedurnya, proses tahap demi tahap saat pemulangan Anda bersama dengan rombongan dari Iran ke
01:12Indonesia.
01:12Tapi yang mau saya tahu juga begini, orang awam berpikir bahwa kondisi perang itu mencekam, menegangkan, menakutkan, mengerikan, dan sejenisnya.
01:23Saat Anda mengetahui keadaan saat itu di tanggal 28 Februari saat konflik itu pecah,
01:32saya mau tahu nuansa kebatinan apa yang Anda rasakan saat itu.
01:37Kalau bagi saya ya, bagi saya bukan persoalan perangnya, bukan persoalan ada bom gitu ya, atau rudal.
01:49Yang mencekam buat saya adalah pembunuhan terhadap Alikamenei.
01:54Dan keluarga ya, nah itu membuat saya agak terganggu tuh kebatinan, batin saya terganggu.
02:04Apalagi setelah melihat subuh hari, orang-orang turun ke jalan itu jutaan di medan Engkelab, itu semacam monasnya kita ya,
02:15itu jutaan.
02:17Ya pertama kita nggak tahu apa ini, kenapa turun ke jalan, karena kan masih subuh.
02:23Tidak diberitakan, meninggalnya, terbunuhnya Syed Alikamenei kan.
02:29Baru kira-kira satu jam di depan TV itu ada tulisan,
02:33Inna lillahi wa inna ilahi raji'un,
02:35ya, telah Syed Alikamenei.
02:41Dan Anda disitu menangkap, oh ini kayaknya bakal besar nih.
02:43Ya, jadi ini udah nggak main-main.
02:46Kan, Syed pergi ke masjid, sholat subuh, disitu udah kumpul juga ratusan ribu orang,
02:56Pokoknya berteriak, ampus Amerika, mampus Israel, dengan bahasa Iran itu kan mahabrar Amerika, mahabrar Israel, kan gitu.
03:06Berarti ini, walaupun slogan seperti itu setiap hari, mulai anak kecil sampai orang tua udah setiap hari.
03:14Tapi ini sangat mencekam.
03:17Jadi, kita berpikir ini udah serius.
03:21Kemudian muncul tiga ulama mengeluarkan fatwa.
03:25Ya, bahwa kita akan meneruskan perang ini tanpa henti.
03:33Mereka yang memulai, tapi kendali berhentinya dari kita.
03:38Bukan mereka katanya.
03:41Jadi, mereka salah.
03:43Itu kata beberapa ulama itu.
03:46Dan nuansa kebatinan Anda itu sama juga dirasakan oleh warga negara kita yang lain,
03:51warga negara Indonesia kita yang lain yang ikut pulang ke Indonesia 22 orang.
03:55Beberapa ya, beberapa.
03:56Ceritanya gimana ke Anda waktu itu?
03:59Mereka bilang, ini bakal panjang ini.
04:01Kita, apa, kita bertahan di sini atau kita pulang.
04:06Sampai mereka mengajak saya evakuasi mandiri.
04:11Ya kan, evakuasi mandiri tanpa lewat kedutaan.
04:13Oh ya.
04:14Tapi menghubungi konsulat, boleh nggak kalau ada upaya untuk evakuasi mandiri?
04:23Itu permintaan tanggal berapa, Pak?
04:24Meminta evakuasi.
04:26Hari Selasa itu, ya tanggal berapa itu ya?
04:29Saya lupa.
04:30Kita tanggal tiga lah.
04:31Tanggal tiga.
04:33Nah, tanggal...
04:34Oke, kata konsulat, boleh.
04:36Nanti kami kasih surat.
04:38Kan gitu.
04:39Rupanya ada, dari Kemenlu ada surat ke KBRI.
04:43Tanggal empat, ada form evakuasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia lewat KBRI.
04:52Ya, beberapa orang mendaftar.
04:54Itulah, 32 orang mendaftar.
04:56Karena mereka bingung, kan?
04:58Kalau, ya kalau biasa di politik kan nggak masalah, kan?
05:02Tapi kalau pelajar, ibu-ibu yang bekerja di sana, tentu nggak...
05:09Penerimaannya itu berbeda sama kita, kan gitu.
05:13Jadi mereka segera tanda tangan, ayo ikut pulang.
05:18Oke.
05:18Singkat cerita pemulangan.
05:20Dan saat proses pemulangan itu lewat Azerbaijan, ya Pak, ya?
05:23Ya, ya.
05:23Nah, sepanjang perjalanan 10 jam itu, korupsi kalau saya keliru, selama perjalanan panjang itu menuju ke Indonesia, ketakutan itu masih
05:31ada atau tidak?
05:32Atau yaudah memikirkannya, oke kita akan pulang, kita akan kembali ke Indonesia.
05:35Ya, ya, ya.
05:35Nggak ada lagi itu.
05:36Udah happy-happy di bis 10 jam itu.
05:40Padahal di bukit kanan, kalau kita dari Iran kan kanan landai.
05:46Sawah, pertanakan.
05:47Kiri itu kan bukit.
05:50Semacam gunung tapi nggak tinggi banget.
05:52Nah, ya kan, disitulah rudal-rudal itu disimpan.
05:57Berikut penangkis rudal kan.
06:00Nah, jadi memang kita nggak kasih tahu lah sama kebanyakan itu, takut nanti salah, apa, nggak siap mereka menerima itu
06:10kan.
06:10Jadi kita yang tahu beberapa orang diam aja.
06:13Oke.
06:13Nah, jadi perjalanan itu bagi sebagian yang diungsikan, dievakuasi,
06:22itu mencekam tapi sebagian nggak.
06:26Itu kan warga negara Indonesia.
06:27Tapi kalau yang saya pengen tahu juga soal kondisi warga negara Iran yang Anda lihat.
06:33Oke, saat konflik itu pecah tanggal 28 Februari, mereka berkumpul, menyuarakan sikap mereka atas serangan yang dilakukan AS bersama Israel
06:42itu.
06:43Tapi apakah dari mereka yang Anda lihat, yang Anda ketahui, ada juga warga negara Iran yang pengen keluar dari negaranya,
06:51melindungi dirinya, atau apapun itu alasannya?
06:53Ya, nggak ada.
06:55Karena bersama-sama kita itu, kita di imigrasi Iran, itu tidak melihat yang menyeberang ke Baku itu, ke Azerbaijan, itu
07:05ada warga negara Iran, nggak ada.
07:08Jadi, aneh juga ini buat saya. Tidak ada mereka yang mau keluar dari Iran.
07:12Alasannya?
07:13Ya, alasannya mereka sudah siap.
07:17Sudah siap apapun risikonya membela negara, membela pemimpin mereka.
07:23Jadi, aneh lah kalau kita lihat ya, rakyat Iran itu saya rasa memang aneh.
07:29Dalam pengertian, aneh positif ya.
07:32Jadi, mereka kalau ada boom, itu malah mereka nonton.
07:37Dan setelah itu tidak lari.
07:39Jualan lagi, cari teksi lagi, ke masjid.
07:43Jalan hidup normal saja?
07:44Normal saja.
07:45Sudah terbiasa itu.
07:46Sudah terbiasa. Saya pikir ini kewet juga negara ini, kan rakyatnya seperti ini.
07:51Jadi, kalau kumpul, mereka sebentar kumpul, perlu satu juta sebentar kumpul.
07:55Karena, masjid itu kan kalau kita di sini dua baris, bayangkan.
08:00Kalau di sana, biasa itu lima puluh ribu, seratus ribu, biasa.
08:04Jadi, kalau mau kumpulin satu juta itu gampang.
08:07Mau bikin revolusi itu gampang.
08:09Masjid di komando selesai.
08:11Oke.
08:13Mungkin di rakyat Iran, Pak Antoni, biasa-biasa saja.
08:17Tapi, yang bikin dakdikduk adalah warga global, warga dunia.
08:21Tak terkecuali kita di Indonesia.
08:23Dampak dari konflik yang sudah pecah lebih dari satu minggu ini.
08:28Bahkan, mau masuk ke minggu kedua.
08:31Anda pribadi, oke.
08:32Secara umum, kita paham apapun eskalasi global itu akan berpengaruh pada ekonomi di negara manapun termasuk kita.
08:38Tapi, Anda memperbayang nggak bahwa kondisinya akan sedemikian tinggi eskalasinya dan efeknya bakal sebesar ini, sedalam ini?
08:50Iya.
08:52Sebelum mendengar ini, Mas Julfan mengatakan bahwa mereka rakyat Iran atau pemerintahan Iran itu sudah siap untuk perang jangka panjang.
09:05Dengan segala risikonya itu.
09:07Itu waktu saya membagi dampak perang jiran ini kepada tiga kategori.
09:13Pertama adalah dampak terbatas.
09:16Konflik terbatas.
09:17Konflik terbatas itu saya perkirakan satu sampai tiga bulan.
09:21Lalu kemudian ada medium, tiga sampai enam bulan.
09:24Dan kemudian konflik berkepanjangan.
09:27Yaitu lebih dari enam bulan.
09:29Nah, kalau ini lebih dari enam bulan, satu sampai tiga bulan saja, kita punya dampak terhadap kita punya ekonomi ini
09:37sudah sangat besar sekali.
09:39Khususnya terhadap fiskal.
09:42Karena kita punya fiskal ini sangat rentan sekali.
09:47Pertama, bahwa defisit saat ini dirancang 2,68 persen, sudah mendekati 3 persen.
09:54Artinya apa?
09:56Artinya ruang fiskal itu sudah tidak ada lagi.
09:59Sudah sangat sempit sekali gitu.
10:01Dan risiko dari fiskal itu tanpa perang pun akan melewati 3 persen.
10:06Ya, contohnya adalah kalau seandainya penerimaan negara tidak terrealisasi.
10:15Kemungkinan tidak terrealisasi sangat besar.
10:18Karena penerimaan Januari dan Februari itu baru 11,4 persen dari total.
10:24Nah, berarti diperkirakan dengan rasio yang historical itu kurang lebih mungkin 90 persen.
10:36Yang kita bisa tercapai.
10:3890 persen shortfall jadi 10 persen.
10:41Nah, dengan shortfall 10 persen itu artinya defisit kita bertambah 0,5 persen tanpa ada pengurangan belanja.
10:50Itu dalam kondisi tidak ada perang?
10:51Dalam kondisi tidak ada perang.
10:53Kalau ada perang seperti sekarang?
10:54Nah, kalau ada perang seperti sekarang maka harga BBM di dalam negeri itu akan naik.
11:00Harga energi akan naik.
11:02Dan sekarang sudah naik.
11:03Kalau internasional sekarang sudah mendekati lagi 100 dolar per barel.
11:07Nah, berarti itu akan menambah tadi sudah 3,18 persen.
11:13Perhitungan saya belum kalau PDB juga tidak tercapai.
11:17Itu bisa 3,5 persen.
11:19Dan kalau perang ini dampaknya itu bisa bertambah lagi sekitar 0,4 persen.
11:26Dampak dari subsidi.
11:29Jadi ini bisa menekati 4 persen kita punya defisit.
11:32Nah, bagaimana mengatasi itu?
11:34Kalau dengan perang, minimal itu kenaikan subsidi itu 0,4 persen kalau saya lihat.
11:40Sehingga masalah mitigasinya sekarang yang jadi PR.
11:43Karena dari beberapa negara sudah memberikan reaksi, bahkan mengeluarkan kebijakan atas efek dari perang ini terhadap perekonomian mereka.
11:51Masalah energi, stok cadangan minyak mereka dan semacamnya.
11:54Saya ambil contoh di Filipina saja bahkan sesederhana mengurusi waktu bekerja dari kantor pun diatur.
12:01Untuk menekan penggunaan minyak itu tadi yang pasti akan berpengaruh pada stok.
12:06Kemudian Singapura, Uni Eropa juga sudah mengeluarkan sikap dengan harapan ini bisa di-stop.
12:12Apalagi Uni Eropa kebutuhan untuk impor bahan bakar minyak yang lebih tinggi.
12:17Dengan posisi mereka yang terdampak perang ini pun juga akan mengaruh ke warganya.
12:23Kalau di kita, mitigasinya menurut Anda sudah cukup kuat atau malah kebalikannya?
12:29Nah, ini mitigasinya kita belum melihat sampai sejauh mana.
12:33Bahwa mereka bisa menyiapkan, mengurangi risiko-risiko, bisa membuat masyarakat menjadi lebih tenang.
12:45Dan bisa menyediakan jaring pengaman sosial atau apapun namanya itu, bisa mengurangi BBM dan sebagainya.
12:53Ya, kita ada bahwa Presiden sudah mengatakan segera untuk jalankan konversi LPG ke kompor listrik.
13:01Tapi itu kan jangka panjang gitu.
13:03Itu yang sederhana itu seperti kayak di Filipina, itu belum terjadi gitu.
13:07Bahkan kalau kita bicara, mendengar dari Menteri Keuangan, bahwa kita ini masih aman.
13:15Dan dijamin bahwa sampai dengan lebaran ini tidak akan ada kenaikan harga gitu.
13:20Tentu saja terkait BBM yang bersubsidi gitu.
13:24Kalau BBM non-subsidi ya memang sudah naik gitu.
13:27Tapi masalahnya bukan hanya satu bulan ini, masalahnya sampai berapa lama ditahan.
13:31Kalau yang tadi sebulan pun, berapa menaikkan itu harga itu.
13:35Nah, menurut saya pertama adalah bagaimana mitigasi risiko terhadap kita punya APBN.
13:43Dan kedua adalah bagaimana pengurangan untuk pengiritan penggunaan dari BBM itu sendiri gitu.
13:50Nah, sehingga kalau yang mau kita gali lagi lebih dalam nanti,
13:55perang AS-Israel versus Iran yang masih intens, eskalasi masih tinggi sampai dengan detik ini,
14:02memicu ketidakpastian global yang makin tak terbendung.
14:07Sebetulnya, posisi Indonesia ini yang disebut oleh Pak Presiden Prabowo,
14:11harus siap dengan segala ketidakpastian itu.
14:14Sudah betul-betul siap?
14:16Sudahkah kita betul-betul kuat menghadapi ketidakpastian global ini?
14:19Kita bahas sebentar lagi.
14:22Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan