00:02Selamat malam saudara, Anda menyaksikan program ROSI dan malam ini giliran saya Tifal Solesa yang akan memandu diskusi.
00:10Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel dan Iran terus meningkat, dampaknya pun semakin meluas.
00:17Jalur pasokan energi dunia mulai terganggu, harga minyak melonjak dan ekonomi global ikut terguncang.
00:24Malam ini kami mengundang salah satu warga negara Indonesia yang ikut dievakuasi dari Iran.
00:29Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019, Zulfan Lindan.
00:36Juga bergabung bersama kami, pengamat ekonomi dari Political Economy and Policy Studies, Antoni Budiawan.
00:43Bapak-bapak sekalian selamat malam, apa kabar?
00:45Selamat malam.
00:46Terima kasih. Sudah datang dalam diskusi kali ini, terutama Anda yang sekali lagi kami undang, Pak Zulfan.
00:51Karena baru datang dari Indonesia bersama dengan warga negara lain, total 22 waktu itu, yang bergabung dalam plotter awal keberangkatan
01:00dari Iran ke Indonesia, baru datang dari Iran.
01:03Anda dalam berbagai kesempatan sudah menjelaskan prosedurnya, proses tahap demi tahap saat pemulangan Anda bersama dengan rombongan dari Iran ke
01:12Indonesia.
01:12Tapi yang mau saya tahu juga begini, orang awam berpikir bahwa kondisi perang itu mencekam, menegangkan, menakutkan, mengerikan, dan sejenisnya.
01:23Saat Anda mengetahui keadaan saat itu di tanggal 28 Februari saat konflik itu pecah,
01:32saya mau tahu nuansa kebatinan apa yang Anda rasakan saat itu.
01:37Kalau bagi saya ya, bagi saya bukan persoalan perangnya, bukan persoalan ada bom gitu ya, atau rudal.
01:49Yang mencekam buat saya adalah pembunuhan terhadap Alikamenei.
01:54Dan keluarga ya, nah itu membuat saya agak terganggu tuh kebatinan, batin saya terganggu.
02:04Apalagi setelah melihat subuh hari, orang-orang turun ke jalan itu jutaan di medan Engkelab, itu semacam monasnya kita ya,
02:15itu jutaan.
02:17Ya pertama kita nggak tahu apa ini, kenapa turun ke jalan, karena kan masih subuh.
02:23Tidak diberitakan, meninggalnya, terbunuhnya Syed Alikamenei kan.
02:29Baru kira-kira satu jam di depan TV itu ada tulisan,
02:33Inna lillahi wa inna ilahi raji'un,
02:35ya, telah Syed Alikamenei.
02:41Dan Anda disitu menangkap, oh ini kayaknya bakal besar nih.
02:43Ya, jadi ini udah nggak main-main.
02:46Kan, Syed pergi ke masjid, sholat subuh, disitu udah kumpul juga ratusan ribu orang,
02:56Pokoknya berteriak, ampus Amerika, mampus Israel, dengan bahasa Iran itu kan mahabrar Amerika, mahabrar Israel, kan gitu.
03:06Berarti ini, walaupun slogan seperti itu setiap hari, mulai anak kecil sampai orang tua udah setiap hari.
03:14Tapi ini sangat mencekam.
03:17Jadi, kita berpikir ini udah serius.
03:21Kemudian muncul tiga ulama mengeluarkan fatwa.
03:25Ya, bahwa kita akan meneruskan perang ini tanpa henti.
03:33Mereka yang memulai, tapi kendali berhentinya dari kita.
03:38Bukan mereka katanya.
03:41Jadi, mereka salah.
03:43Itu kata beberapa ulama itu.
03:46Dan nuansa kebatinan Anda itu sama juga dirasakan oleh warga negara kita yang lain,
03:51warga negara Indonesia kita yang lain yang ikut pulang ke Indonesia 22 orang.
03:55Beberapa ya, beberapa.
03:56Ceritanya gimana ke Anda waktu itu?
03:59Mereka bilang, ini bakal panjang ini.
04:01Kita, apa, kita bertahan di sini atau kita pulang.
04:06Sampai mereka mengajak saya evakuasi mandiri.
04:11Ya kan, evakuasi mandiri tanpa lewat kedutaan.
04:13Oh ya.
04:14Tapi menghubungi konsulat, boleh nggak kalau ada upaya untuk evakuasi mandiri?
04:23Itu permintaan tanggal berapa, Pak?
04:24Meminta evakuasi.
04:26Hari Selasa itu, ya tanggal berapa itu ya?
04:29Saya lupa.
04:30Kita tanggal tiga lah.
04:31Tanggal tiga.
04:33Nah, tanggal...
04:34Oke, kata konsulat, boleh.
04:36Nanti kami kasih surat.
04:38Kan gitu.
04:39Rupanya ada, dari Kemenlu ada surat ke KBRI.
04:43Tanggal empat, ada form evakuasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia lewat KBRI.
04:52Ya, beberapa orang mendaftar.
04:54Itulah, 32 orang mendaftar.
04:56Karena mereka bingung, kan?
04:58Kalau, ya kalau biasa di politik kan nggak masalah, kan?
05:02Tapi kalau pelajar, ibu-ibu yang bekerja di sana, tentu nggak...
05:09Penerimaannya itu berbeda sama kita, kan gitu.
05:13Jadi mereka segera tanda tangan, ayo ikut pulang.
05:18Oke.
05:18Singkat cerita pemulangan.
05:20Dan saat proses pemulangan itu lewat Azerbaijan, ya Pak, ya?
05:23Ya, ya.
05:23Nah, sepanjang perjalanan 10 jam itu, korupsi kalau saya keliru, selama perjalanan panjang itu menuju ke Indonesia, ketakutan itu masih
05:31ada atau tidak?
05:32Atau yaudah memikirkannya, oke kita akan pulang, kita akan kembali ke Indonesia.
05:35Ya, ya, ya.
05:35Nggak ada lagi itu.
05:36Udah happy-happy di bis 10 jam itu.
05:40Padahal di bukit kanan, kalau kita dari Iran kan kanan landai.
05:46Sawah, pertanakan.
05:47Kiri itu kan bukit.
05:50Semacam gunung tapi nggak tinggi banget.
05:52Nah, ya kan, disitulah rudal-rudal itu disimpan.
05:57Berikut penangkis rudal kan.
06:00Nah, jadi memang kita nggak kasih tahu lah sama kebanyakan itu, takut nanti salah, apa, nggak siap mereka menerima itu
06:10kan.
06:10Jadi kita yang tahu beberapa orang diam aja.
06:13Oke.
06:13Nah, jadi perjalanan itu bagi sebagian yang diungsikan, dievakuasi,
06:22itu mencekam tapi sebagian nggak.
06:26Itu kan warga negara Indonesia.
06:27Tapi kalau yang saya pengen tahu juga soal kondisi warga negara Iran yang Anda lihat.
06:33Oke, saat konflik itu pecah tanggal 28 Februari, mereka berkumpul, menyuarakan sikap mereka atas serangan yang dilakukan AS bersama Israel
06:42itu.
06:43Tapi apakah dari mereka yang Anda lihat, yang Anda ketahui, ada juga warga negara Iran yang pengen keluar dari negaranya,
06:51melindungi dirinya, atau apapun itu alasannya?
06:53Ya, nggak ada.
06:55Karena bersama-sama kita itu, kita di imigrasi Iran, itu tidak melihat yang menyeberang ke Baku itu, ke Azerbaijan, itu
07:05ada warga negara Iran, nggak ada.
07:08Jadi, aneh juga ini buat saya. Tidak ada mereka yang mau keluar dari Iran.
07:12Alasannya?
07:13Ya, alasannya mereka sudah siap.
07:17Sudah siap apapun risikonya membela negara, membela pemimpin mereka.
07:23Jadi, aneh lah kalau kita lihat ya, rakyat Iran itu saya rasa memang aneh.
07:29Dalam pengertian, aneh positif ya.
07:32Jadi, mereka kalau ada boom, itu malah mereka nonton.
07:37Dan setelah itu tidak lari.
07:39Jualan lagi, cari teksi lagi, ke masjid.
07:43Jalan hidup normal saja?
07:44Normal saja.
07:45Sudah terbiasa itu.
07:46Sudah terbiasa. Saya pikir ini kewet juga negara ini, kan rakyatnya seperti ini.
07:51Jadi, kalau kumpul, mereka sebentar kumpul, perlu satu juta sebentar kumpul.
07:55Karena, masjid itu kan kalau kita di sini dua baris, bayangkan.
08:00Kalau di sana, biasa itu lima puluh ribu, seratus ribu, biasa.
08:04Jadi, kalau mau kumpulin satu juta itu gampang.
08:07Mau bikin revolusi itu gampang.
08:09Masjid di komando selesai.
08:11Oke.
08:13Mungkin di rakyat Iran, Pak Antoni, biasa-biasa saja.
08:17Tapi, yang bikin dakdikduk adalah warga global, warga dunia.
08:21Tak terkecuali kita di Indonesia.
08:23Dampak dari konflik yang sudah pecah lebih dari satu minggu ini.
08:28Bahkan, mau masuk ke minggu kedua.
08:31Anda pribadi, oke.
08:32Secara umum, kita paham apapun eskalasi global itu akan berpengaruh pada ekonomi di negara manapun termasuk kita.
08:38Tapi, Anda memperbayang nggak bahwa kondisinya akan sedemikian tinggi eskalasinya dan efeknya bakal sebesar ini, sedalam ini?
08:50Iya.
08:52Sebelum mendengar ini, Mas Julfan mengatakan bahwa mereka rakyat Iran atau pemerintahan Iran itu sudah siap untuk perang jangka panjang.
09:05Dengan segala risikonya itu.
09:07Itu waktu saya membagi dampak perang jiran ini kepada tiga kategori.
09:13Pertama adalah dampak terbatas.
09:16Konflik terbatas.
09:17Konflik terbatas itu saya perkirakan satu sampai tiga bulan.
09:21Lalu kemudian ada medium, tiga sampai enam bulan.
09:24Dan kemudian konflik berkepanjangan.
09:27Yaitu lebih dari enam bulan.
09:29Nah, kalau ini lebih dari enam bulan, satu sampai tiga bulan saja, kita punya dampak terhadap kita punya ekonomi ini
09:37sudah sangat besar sekali.
09:39Khususnya terhadap fiskal.
09:42Karena kita punya fiskal ini sangat rentan sekali.
09:47Pertama, bahwa defisit saat ini dirancang 2,68 persen, sudah mendekati 3 persen.
09:54Artinya apa?
09:56Artinya ruang fiskal itu sudah tidak ada lagi.
09:59Sudah sangat sempit sekali gitu.
10:01Dan risiko dari fiskal itu tanpa perang pun akan melewati 3 persen.
10:06Ya, contohnya adalah kalau seandainya penerimaan negara tidak terrealisasi.
10:15Kemungkinan tidak terrealisasi sangat besar.
10:18Karena penerimaan Januari dan Februari itu baru 11,4 persen dari total.
10:24Nah, berarti diperkirakan dengan rasio yang historical itu kurang lebih mungkin 90 persen.
10:36Yang kita bisa tercapai.
10:3890 persen shortfall jadi 10 persen.
10:41Nah, dengan shortfall 10 persen itu artinya defisit kita bertambah 0,5 persen tanpa ada pengurangan belanja.
10:50Itu dalam kondisi tidak ada perang?
10:51Dalam kondisi tidak ada perang.
10:53Kalau ada perang seperti sekarang?
10:54Nah, kalau ada perang seperti sekarang maka harga BBM di dalam negeri itu akan naik.
11:00Harga energi akan naik.
11:02Dan sekarang sudah naik.
11:03Kalau internasional sekarang sudah mendekati lagi 100 dolar per barel.
11:07Nah, berarti itu akan menambah tadi sudah 3,18 persen.
11:13Perhitungan saya belum kalau PDB juga tidak tercapai.
11:17Itu bisa 3,5 persen.
11:19Dan kalau perang ini dampaknya itu bisa bertambah lagi sekitar 0,4 persen.
11:26Dampak dari subsidi.
11:29Jadi ini bisa menekati 4 persen kita punya defisit.
11:32Nah, bagaimana mengatasi itu?
11:34Kalau dengan perang, minimal itu kenaikan subsidi itu 0,4 persen kalau saya lihat.
11:40Sehingga masalah mitigasinya sekarang yang jadi PR.
11:43Karena dari beberapa negara sudah memberikan reaksi, bahkan mengeluarkan kebijakan atas efek dari perang ini terhadap perekonomian mereka.
11:51Masalah energi, stok cadangan minyak mereka dan semacamnya.
11:54Saya ambil contoh di Filipina saja bahkan sesederhana mengurusi waktu bekerja dari kantor pun diatur.
12:01Untuk menekan penggunaan minyak itu tadi yang pasti akan berpengaruh pada stok.
12:06Kemudian Singapura, Uni Eropa juga sudah mengeluarkan sikap dengan harapan ini bisa di-stop.
12:12Apalagi Uni Eropa kebutuhan untuk impor bahan bakar minyak yang lebih tinggi.
12:17Dengan posisi mereka yang terdampak perang ini pun juga akan mengaruh ke warganya.
12:23Kalau di kita, mitigasinya menurut Anda sudah cukup kuat atau malah kebalikannya?
12:29Nah, ini mitigasinya kita belum melihat sampai sejauh mana.
12:33Bahwa mereka bisa menyiapkan, mengurangi risiko-risiko, bisa membuat masyarakat menjadi lebih tenang.
12:45Dan bisa menyediakan jaring pengaman sosial atau apapun namanya itu, bisa mengurangi BBM dan sebagainya.
12:53Ya, kita ada bahwa Presiden sudah mengatakan segera untuk jalankan konversi LPG ke kompor listrik.
13:01Tapi itu kan jangka panjang gitu.
13:03Itu yang sederhana itu seperti kayak di Filipina, itu belum terjadi gitu.
13:07Bahkan kalau kita bicara, mendengar dari Menteri Keuangan, bahwa kita ini masih aman.
13:15Dan dijamin bahwa sampai dengan lebaran ini tidak akan ada kenaikan harga gitu.
13:20Tentu saja terkait BBM yang bersubsidi gitu.
13:24Kalau BBM non-subsidi ya memang sudah naik gitu.
13:27Tapi masalahnya bukan hanya satu bulan ini, masalahnya sampai berapa lama ditahan.
13:31Kalau yang tadi sebulan pun, berapa menaikkan itu harga itu.
13:35Nah, menurut saya pertama adalah bagaimana mitigasi risiko terhadap kita punya APBN.
13:43Dan kedua adalah bagaimana pengurangan untuk pengiritan penggunaan dari BBM itu sendiri gitu.
13:50Nah, sehingga kalau yang mau kita gali lagi lebih dalam nanti,
13:55perang AS-Israel versus Iran yang masih intens, eskalasi masih tinggi sampai dengan detik ini,
14:02memicu ketidakpastian global yang makin tak terbendung.
14:07Sebetulnya, posisi Indonesia ini yang disebut oleh Pak Presiden Prabowo,
14:11harus siap dengan segala ketidakpastian itu.
14:14Sudah betul-betul siap?
14:16Sudahkah kita betul-betul kuat menghadapi ketidakpastian global ini?
14:19Kita bahas sebentar lagi.
14:22Terima kasih.
Komentar