Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 jam yang lalu
Sobat Suara, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang berjalan selama Bulan Ramadhan adalah sebuah Simbol Toleransi dan Kebersamaan

Di tengah-tengah bulan Ramadhan yang suci, Yogyakarta kembali menunjukkan keunggulannya sebagai kota yang penuh toleransi dan keberagaman. Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang diadakan selama bulan Ramadhan ini adalah contoh nyata bagaimana perbedaan dapat disatukan dalam harmoni. Festival ini menampilkan berbagai aspek budaya Tionghoa, dari tarian, musik, hingga kuliner, yang semuanya dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Toleransi adalah kunci dari kesuksesan Pekan Budaya Tionghoa ini. Masyarakat Yogyakarta dari berbagai latar belakang agama dan etnis dapat berkumpul dan menikmati festival ini bersama-sama. Ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu dan saling menghormati. Kegiatan seperti ini juga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini tidak hanya tentang perayaan budaya, tapi juga tentang membangun kebersamaan dan toleransi. Semoga festival seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. Selama Ramadhan ini, mari kita terus menjaga semangat toleransi dan kebersamaan!

#ImlekRamadan#ToleransiJogja#BudayaIndonesia#FestivalJogja
Transkrip
00:08Intro
00:19Halo Sobat Selara, kenalin aku Sosik di liputan spesial yang penuh makna dan super hangat kaki nih.
00:25Hari ini tepatnya di jantung kota Yogyakarta sepanjang jalan Meleboru dan juga kampung Ketandak penuh dengan warna merah dan juga
00:33lampiran warna-warni.
00:35Ya, ini dia perayaan tahun baru Imlek yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
00:40Bukan hanya kemeriahannya, tetapi ini dia semangat kebersamaan dan juga toleransi.
00:45Penasaran bagaimana keseruannya? Let's go!
00:50Tahun baru Imlek adalah perayaan tahun baru Tionghoa,
00:53sebuah momen penuh doa, harapan, dan rasa syukur yang menandai berakhirnya perayaan Imlek dalam penanggilan lunar.
00:59Menariknya Sobat Suara, di tengah suasana Ramadan ini perayaan ini tetap berlangsung dengan penuh saling menghormati.
01:06Jadwal acara disesuaikan agar tidak mengganggu waktu ibadah dan banyak pengunjung yang datang setelah berbuka puasa.
01:12Inilah wajah Yogyakarta yang sesungguhnya,
01:14di mana tradisi Tionghoa dan nuansa religius Ramadan berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
01:20Dari perayaan ini kita belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan,
01:24melainkan untuk dirayakan bersama.
01:38Nah Sobat Suara, kalau misalnya ngomongin tentang toleransi, maknanya memang selalu dalam.
01:43Setiap tindakan yang dilakukan selalu membawa keharmonisan.
01:46Kira-kira bagaimana sih pandangan dari umat muslim terkait dua perayaan besar yang berjalan dalam waktu berdekatan?
01:52Yuk kita dengar!
01:53Masjid sendiri sebagai tempat ibadah untuk umat muslim,
01:59kami menjaga ketertiban dengan tidak mengeraskan suara bacaan ketika saat sholat.
02:08Kalau misalnya Adhan pakai miklu, dan nanti misalnya sholat hanya menggunakan salam.
02:14Ini sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam surah Al-Kafirun,
02:17Lakum diin, hukum waliyadin, untukmu agamamu dan untukku agamaku.
02:22Maka kita di sini sebagai pengurus majid atau umat yang beragama harus saling menoleransi apa yang menjadi perayaan umat agama
02:32masing-masing.
02:32Untuk kegiatan khususnya kami mungkin setiap harinya menyediakan buka bersama lalu diikuti dengan kajian sebelum berbuka,
02:42kultum selasubuh, kemudian penyediaan makanan berbuka, dan kolaborasi dengan tim-tim dakwah yang ada di Indonesia.
02:54Sobat suara, saat ini suasananya nampak semakin ramai, gak cuman pameran kuliner tetapi juga ada pertunjukan suni.
03:02Dan ini bukan cuman sekedar pertunjukan tetapi juga perayaan identitas, warisan budaya, dan nilai-nilai kebersamaan yang terasa kuat di
03:09setiap sudut kampung Ketandan.
03:34Saya adalah Humas di Pekan Budaya Tionghoa Jogjakarta kali ini.
03:38Makanya itu kita pengen, gak cuman kita yang warga keturunan yang merayakan tetapi juga masyarakat juga ikut merasakan euforia, kebahagiaan,
03:48perayaan tahun baru, Imlek.
03:50Temanya adalah warisan budaya, kekuatan bangsa.
03:54Ini maksudnya kita ingin agar tidak hanya anak muda itu yang belajar tentang budaya.
04:01Budaya Tionghoa ini adalah budaya yang penuh seni yang tidak semua orang tua itu bisa mengajarkan kepada anak-anak mudanya.
04:12Di sini ada banyak tradisi yang bisa kita kenalkan, misalnya kalau kita pergi ke rumah budaya, itu ada upacara minum
04:19teh.
04:20Nah itu sangat jarang terjadi, itu orang bisa belajar bagaimana cara meminum teh, kemudian gimana cara menyajikannya.
04:27Nah total cara untuk meminumnya juga kita juga ada, jadi tidak sekedar kita bikin minum gitu, enggak.
04:33Kemudian ada lagi, ada banyak misalnya ada lomba-lomba itu, jadi anak-anak belajar untuk ada lomba pidato bahasa Mandarin,
04:41ada lomba, kalau hari ini ada lomba dance ya, ada lomba dance, sebelumnya ada lomba singing, bahasa Mandarin.
04:48Jadi mereka belajar untuk belajar bahasa yang orang warga keturunan Tionghoa gunakan.
04:57Tahun sebelumnya itu tidak ada namanya Ngabuburit.
05:02Nah kalau tahun ini ada Ngabuburitnya, Ngabuburitnya itu ada Ngabuburit Run, namanya Ngabuburan.
05:09Jadi kita lari, walaupun mereka pada puasa, ada yang puasa ada yang enggak, tetapi mereka ikut lari, lari 5 kilo
05:16gitu kan, keren banget.
05:18Kemudian ada juga Ngabuburit kesehatan, nah Ngabuburit sehat, itu ada Taichi sama ada kemudian Zumba gitu ya, ada Taichi ada
05:29Zumba.
05:30Kemudian ada lagi dongeng anak yang paling heboh pada tahun ini adalah adanya kita mengundang Gus Muwahid untuk memberikan Tausia.
05:40Ini luar biasa.
05:41Baru kali ini bisa kita mengundang seorang ulama besar untuk bisa datang ke sini.
05:47Sobat suara, juga kan aku sekarang ada panggung utama tempat pertunjukan budaya, mulai dari tari kreasi hingga tari modern.
05:55Nah, biar makin letak, aku ajak kamu ngobrol dengan salah satu pengunjung terhadap tan acara ini.
06:00Yuk!
06:01Setahun tahun udah pernah nonton sih kebetulan ya.
06:03Aca, hari ini kan ini udah Amin 2 mau selesai.
06:07Menurutku kesannya masih rame sih, Kak.
06:09Terus kebetulan saat ini kan bertempatan dengan berlomadon.
06:14Jadinya kayak sekaliannya buburit gitu orang-orang.
06:17Iya.
06:18Harapannya semoga tambah meriah aja sih, terus mungkin tetap toleransi sesama kali ya.
06:25Kebetulan banget bisa hadir buat acara Imlek-nya.
06:29Jadi kayak berdampingan sama buat ngabuburit sekalian, buat sekalian nunggol dan mahrib gitu.
06:35Kesannya walaupun kita semua berbeda-beda, walaupun perbedaan suku, perbedaan agama,
06:42kita tuh tetap satu Indonesia gitu.
06:44Jadi nggak ada perpecahan di antara kita.
06:58Terima kasih sudah menonton.
07:15Sahabat Selara, di malam yang penuh warna dan kehangatan ini menjadi butik bahwa perayaan budaya bisa menyatukan kita semua.
07:23Mulai dari gembala pelampuan pion, pertunjukan budaya hingga atraksi semi,
07:27bisa menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan terasa begitu kuat.
07:31Semoga kebahagiaan dan harapan menyertai kita semua.
07:34Aku Susi, pamit undur diri, sampai jumpa di liputan berikutnya.
07:38Gongsi Facay, selamat bernaikan ibadah puasa dan sampai jumpa!
07:45Terima kasih sudah menonton.
Komentar

Dianjurkan