Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV Pemerhati Politik Luar Negeri Pitan Daslani mengatakan ada baiknya Indonesia mulai memikirkan pertahanan udara belajar dari konflik yang terjadi antara Iran dan Israel.

Menurutnya serangan udara Israel terhadap Iran menunjukkan betapa pentingnya sistem pertahanan udara yang kuat.

Pitan menjelaskan sistem pertahanan udara paling canggih yang dimiliki Iran, yakni S-300 buatan Rusia, juga dinilai sudah tertinggal dibanding sistem generasi terbaru seperti S-400.

Akibatnya, Iran lebih banyak mengandalkan peluru kendali dan drone untuk melakukan serangan balasan, sementara wilayah udaranya sendiri tidak sepenuhnya terlindungi.

Pitan menilai situasi ini seharusnya menjadi peringatan bagi Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas, baik di udara maupun laut.

Ia menyoroti bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki sistem pertahanan udara berlapis seperti Iron Dome, Patriot, maupun S-300 atau S-400.

"Kalau suatu saat wilayah udara kita diserang, bagaimana kita mempertahankannya?" katanya.

Lebih jauh, ia mengingatkan para pengambil kebijakan agar tidak menganggap hubungan baik antarnegara akan selalu bertahan selamanya.

"Jangan pernah menyangka negara yang sekarang berbaik dengan kita akan selamanya berbaik. Sejarah menunjukkan hubungan internasional bisa berubah. Iran dan Israel dulu pernah memiliki hubungan baik sebelum Revolusi Iran, tapi sekarang menjadi musuh bebuyutan," ujarnya.

Karena itu, menurutnya Indonesia perlu membangun kekuatan pertahanan secara lebih seimbang, tidak hanya berfokus pada kekuatan darat.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Lintang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/655527/iran-rentan-diserang-dari-udara-pengamat-ingatkan-indonesia-jangan-lengah
Transkrip
00:00Bagaimana Pak Pitan ini menilai efektivitas strategi udara Israel terhadap kemampuan militer Iran?
00:06Sebenarnya wilayah udara Iran itu praktikally dikuasai oleh Israel.
00:11Karena semua peralatan tempur udara itu dijam kan. Radarnya dijam gitu.
00:20Nah padahal misalnya pesawat F-35, stealth fighter F-35 yang ngebom ke Iran itu,
00:27dia kan altitudenya kan 50 ribu kaki. Jauh lebih tinggi daripada pesawat komersial terbang.
00:36Dari 50 ribu kaki baru dia pakai teknologi AI untuk menyasar target secara presisi yang sangat tinggi.
00:44Jadi wilayah udara Iran itu praktikally lumpuh. Angkatan udara ini tidak bisa berfungsi karena sudah dijam semua radarnya.
00:53Jadi tidak bisa. Nah ketika radar dijam, itu pesawat tempur hanya bisa dilihat dengan mata telanjang.
01:00Tapi terlalu jauh kan? 50 ribu kaki di atas awan-awan sana. Bagaimana kita ini?
01:07Kan itu masalahnya. Jadi memang kenapa jadi secara perimbangan kekuatan militer itu Iran tidak punya kekuatan angkatan udara
01:17yang cukup kuat untuk menghadapi Israel dan Amerika. Kenapa? Karena senjata paling canggih yang Iran meriki
01:23untuk angkatan pertahanan udara itu adalah sistem senjata S-300. S-300 itu yang buatan Rusia.
01:30Tapi itu sudah ketinggalan zaman. Rusia sudah bikin S-400. Jadi yang sudah tidak dipakai lagi dijual ke Iran.
01:37Tapi S-300nya kan dilumpuhkan semua kemarin. Dibombardir habis sistem persenjatanya.
01:41Sehingga praktis Iran itu sangat terbuka terhadap serangan udara.
01:49Sulit sekali dia untuk melakukan penyerangan udara. Itu sebabnya yaudah pasang badan saja,
01:56pakai peluru kendali saja, pakai drone saja. Tapi wilayah udaranya kan tidak terproteksi.
02:01Nah, kalau Iran saja seperti begitu, coba bayangkan bagaimana kalau wilayah Indonesia yang seluas ini,
02:12kita tidak punya sistem persenjataan udara yang kuat untuk menghadapi.
02:15Kalau tiba-tiba kita diserang bagaimana? Kita tidak punya Iron Dome, kita tidak punya Patriot,
02:21kita tidak punya S-300, S-400. Bagaimana mempertahankan wilayah udara kita?
02:25Saya mau katakan begini. Jangan, ini perlu didengar oleh para pengambil keputusan di pemerintahan ya.
02:33Jangan pernah menyangka bahwa semua negara yang sekarang berbaik dengan kita akan selama-lamanya berbaik dengan kita.
02:41Tidak. Tidak. Sekarang kita berbaik. Mungkin besok jadi musuh kita.
02:48Iran dengan Israel kan berbaik sebelum terjadi revolusi. Tapi sekarang jadi musuh berbulutan kan?
02:54Jadi jangan pernah kita menyangka semua negara yang sekarang kita ketemu jabat tangan,
02:59cipika-cipiki itu akan selamanya berbaik dengan kita.
03:02Tidak. Kita perlu pertahanan, mempertahankan wilayah kita.
03:05Udara dan laut harus benar-benar dijaga.
03:08Nah, selama ini kan pertahanan kita itu lebih terpusat pembangunan alutsisa itu kan lebih terpusat kepertahanan darat.
03:15Begitu kan? Tapi perang zaman sekarang ini perang di langit.
03:18Perang di dalam dasar laut, kapal selam.
03:20Jadi kalau kita hanya memperkuat pertahanan darat,
03:24sementara pertahanan udara dan pertahanan laut kita abaikan,
03:27kita sangat, apa ya, fragile menghadapi ancaman bila terjadi.
03:32Itu yang harus kita hati-hati.
Komentar

Dianjurkan